Ada datang, ada perpisahan...
Lucunya hidup, kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengenal seseorang, hanya agar suatu hari kita belajar bagaimana cara melupakannya.
Dulu, namamu adalah rumah. Tempat segala lelah pulang, tempat segala cemas menemukan tenang. Aku hafal caramu tertawa, caramu diam ketika kecewa, bahkan cara matamu berbicara ketika bibirmu memilih bungkam. Rasanya mustahil jika suatu hari kita bisa menjadi dua orang yang saling melewati tanpa menyapa.
Namun waktu adalah penulis yang tidak pernah meminta persetujuan tokoh-tokohnya. Ia menghapus perlahan, bukan dengan amarah, melainkan dengan kebiasaan yang berubah. Percakapan yang dulu tak pernah habis kini hanya menyisakan tanda baca. Sapaan yang dahulu ditunggu kini terasa seperti suara dari kehidupan orang lain.
Yang paling menyakitkan ternyata bukan perpisahan. Melainkan saat menyadari bahwa seseorang yang pernah tahu seluruh isi kepalamu kini tak lagi mengenal kabarmu. Kalian masih sama-sama hidup, masih menghirup udara di langit yang sama, tetapi telah menjadi dua semesta yang tak lagi memiliki orbit untuk saling bertemu.
Begitulah manusia. Datang dengan janji akan tinggal, lalu pergi sambil membawa sebagian diri yang tak pernah bisa diminta kembali. Kita menyebutnya kenangan, padahal yang tertinggal hanyalah jejak-jejak yang pelan-pelan memudar.
Mungkin memang tidak ada yang benar-benar abadi, selain perubahan. Bahkan rasa yang pernah diyakini akan bertahan seumur hidup pun bisa berubah menjadi cerita yang sulit dipercaya pernah terjadi. Foto-foto menjadi arsip. Pesan-pesan menjadi sejarah. Dan nama yang dulu paling sering kita sebut perlahan terasa asing ketika terdengar di bibir orang lain.
Barangkali menjadi asing bukanlah hukuman. Itu hanyalah cara hidup mengajarkan bahwa tidak semua yang singgah ditakdirkan untuk menetap. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan bahagia. Ada pula yang pergi agar kita belajar menerima kenyataan tanpa membenci kenangan.
Maka jika suatu hari kita benar-benar bertemu lagi, semoga kita tidak saling bertanya mengapa semuanya berubah. Karena jawabannya sudah lama ditulis oleh waktu: pada akhirnya, semua menjadi asing.









