Dianganku saat ini, kugenggam erat janji Tuhan yang tak pernah ingkar. Kesana-kemari memasuki berbagai labirin dunia.
Senjaberlabu (Prasetyo widodo)
we're not kids anymore.

@theartofmadeline
art blog(derogatory)
🪼


★
RMH
AnasAbdin
Mike Driver
Cosmic Funnies
Xuebing Du
Today's Document
Stranger Things

pixel skylines
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
ojovivo
occasionally subtle
h
Game of Thrones Daily
seen from Ukraine

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from France

seen from Latvia

seen from Denmark

seen from Türkiye

seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Belgium
@senjaberlabu
Dianganku saat ini, kugenggam erat janji Tuhan yang tak pernah ingkar. Kesana-kemari memasuki berbagai labirin dunia.
Senjaberlabu (Prasetyo widodo)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
need a study bud :o
Dapet di wa, tanpa saya tau siapa penulisnya.
●Bolu Pisang dan Es Krim ●
"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.
"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.
Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.
Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.
Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.
Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.
Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.
Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.
Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.
(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.
Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.
(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)
(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)
(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.
(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)
(Siap, Mbak. Otw dibuat.)
(Berapa harganya?)
(50.000 Mbak.)
(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)
Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.
(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)
(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)
(Oke siap.)
Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.
Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.
Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.
Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.
Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.
Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.
Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.
Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.
Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.
Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.
Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.
(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)
Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.
Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.
Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?
Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.
Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.
"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.
"Kita pulang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.
Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.
Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.
Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.
Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.
"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."
"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.
"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.
Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.
"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "
Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.
"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.
Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.
"Asikkk." Dika bersorak, aku masih bergeming.
"Lo, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.
"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "
"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."
"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya.
"Iya, berapa harganya?"
"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."
"Ya sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.
"Ya Allah Bu ini kebanyakan ," ucapku.
"Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.
Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.
***
Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.
Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.
Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.
Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.
"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.
"Bagus dong, les dimana dia?"
"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."
"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.
"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.
Bu Tia terdiam.
Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.
"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.
"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."
"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."
"Lagi pengen aja."
Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.
Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.
***
Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.
Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.
Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.
Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.
Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.
Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?
Kepadamu yang kini singgah dihati. Tetaplah disini, berjalan beriringan bersama. memadu kasih yang tak pernah sirna. kepadamu yang tau arti saling menghargai. Tetaplah berdiskusi, walau emosi terus tersaji rapi.
Senjaberlabu
Semoga denganmu diri ini akan jauh lebih baik, lebih tertata, dan lebih mengerti tentang indahnya hidup.
Senjaberlabu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku tak akan pernah bisa jauh padamu, meski benar jarak kita katanya jauh. Namun tetap saja, fikiran dan rasaku hanya tertuju untukmu. Meski sibuknya pekerjaan menyertai, kerasnya belajar menuntut. Masih saja kamu yang ada didalamnya.
Senjaberlabu
Kelas
Adik tingkatmu dulu ternyata sekarang menjadi atasanmu di kantor. Kakak kelasmu yang terpaut 3 tahun dulu ternyata sekarang menjadi teman satu pengajian. Seniormu yang dulu sangat ditakuti ternyata sekarang menjadi rekan bisnis.
Tiba-tiba kamu menyadari bahwa sekat yang terbentuk karena perbedaan masuk waktu belajar kini sudah menghilang. Saat fase pendidikan itu selesai, kelas-kelas itu menghilang sudah. Mereka yang dulu kamu panggil Kakak/Senior, mereka yang dulu menghormatimu, sekarang sudah sama dengan dirimu. Dunianya sudah sama.
Dan ternyata kamu dihadapkan kembali dengan ‘kelas’ baru. Entah itu tingkat jabatan, tingkat penghasilan, atau lokasi tempat tinggal. Tapi hey sudah sadarkah kita kalau tataran kelas sosial yang dibuat oleh manusia memang tidak akan bertahan lama?
Mari kita lihat sejenak suasana Rumah Allah di Makkah sana. Niscaya kita akan melihat bahwa sungguh segala kelas sosial itu fana.
Bertahun-tahun kita terjebak dalam kefanaan tersebut. Yang masih SD, menganggap berseragam biru itu keren. Yang masih SMA, ingin segera mengecap kebebasan anak kuliah. Padahal, sebegitu berartikah? Hanya itukah 'naik kelas’ yang kita kejar?
Mari kita lihat sejenak Rumah Allah di Makkah. Niscaya kita akan semakin tersadar supaya tidak seumur hidup hanya mengejar 'kenaikan kelas’ di mata manusia. Di sana kita akan terhenyak oleh kenyataan bahwa apapun kelasnya di mata manusia, di hadapan Allah kita semua sama. Dengan beberapa helai pakaian putih, tidak ada lagi aksesoris maupun jabatan apapun yang dibawa, begitulah kita akan menghadapNya.
Iya kan? Kamu sadar tidak? Seberapa sering kita mengejar naik kelas di dunia ini–sebelum kemudian menyadari bahwa itu semua fana? Tapi seberapa sering kita mengejar akan naik kelasnya kualitas keimanan dan ibadah kita?
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
(Q.S. Al-Qashash : 77)
Sewaktu berdiri, dikerumunan banyak orang. Harum wangimu tercium di hidung, engkau kah itu Ayah?
Seandainya iya, kau berada disebelah mana.
Prasetyo widodo
Sore ialah waktu paling dramatis dalam hidup, pasalanya seluruh energi terkuras habis. Membekas suasana batin yang perlu di atur ulang. (Menyendiri dalam diam) mungkin patut untuk dilaksanakan, berteman bersama angin. Menatap langit dengan penuh penghayatan. Memikirkan apa yang kurang diwaktu pagi sampai sore ini. Sampai batin kembali berdamai dengan hidup.
Prasetyo widodo
Dulu aku paling suka, sangat suka berbincang-bincang membicarakan kejelekanmu. setiap saat dirimu melakukan kesalahan, aku selalu mencacinya. akan tetapi sekarang aku bosan dengan hal itu, ternyata akulah yang paling pantas untuk direndahkan dan dicaci, bukan dirimu.
Kesimpulannya ialah tidak ada manusia yang sempurna kelakuannya didunia, tinggal bagaimana kita menyikapi perlakuan sesama. baik ataupun buruk itu sudah menjadi kodrat, ambil sisi baik, lalu buanglah sisi kejelekannya. seperti itulah sifat para pendahulu yang. bijaksana
-Prasetyo widodo

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nak, bolehkan aku mengatakan sesuatu padamu. berhentilah sejenak mengejar dunia, jangan mencari yang lebih-lebih. sekedar cukup itu baik bukan ?
-Prasetyo widodo
Alasan utama aku masih memperjuangkan hidup ialah kamu, kamu yang kujanjikan kesejahteraan hidup.
prasetyo widodo
suatu hari ditengah kebisingan kota metropolitan, seorang pemuda mengenakan pakaian kerja. mengendarai motor kesayangnnya. menekan tombol starter, lalu menginjak perseneleng. semula netral menjadi gigi 1.
disusuri jalan setapak, menerjang angin yang menghembus kencang dari arah timur. sembari bernyanyi lirih dengan tempo nada yang didengarkannya melalui heandset tertempel ditelinga.
(bersambung)
Sepasang kita
kita diciptakan untuk saling melengkapi, tidak untuk membenci. aku diberi kelebihan serta kekurangan yang sangat berbeda.
Kau berhasil menjadikan orang lain nyaman bersamamu, akupun berhasil menjadikan orang lain tenang bersamaku. kau juga berhasil membuat orang disekitarmu berbahagia, akupun juga berhasil membuat orang lain disekitarku terdiam merenungi hari yang pahit.
Kita sebenarnya ialah dua hati yang bisa melengkapi, sudah sangat banyak pembuktian yang kita lakukan bersama. hasilnya positif, kita bisa berdamai atas banyaknya masalah yang menimpa kita berdua.
jadi tidak perlu melawan arus, sekuat-kuatnya kita menerjang tetap saja akan terbawa. jadi ikuti saja. tanpa memperpanjang permasalahan, seakan-akan dibuat rumit. padahal tidak.
Penulis : Prasetyo widodo
06 Januari 2019
Begitu bahagianya, ketika kau berucap dengan lembut. "Iya sayang" pertanda nasihat kau laksanakan.
karena, setiap laki-laki akan mengkhawatirkan wanita yang ada dihatinya, sebagai rasa sayang untuknya. bukan berniatan mengatur hidup yang dijalani, labih tepatnya yaitu sebagai kebaikan seorang yang dikasihi.
-Senjaberlabu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu dengan sangat. entah. aku hanya tak ingin kau sakit terkena angin malam.
Senjaberlabu
Semakin aku mendekat denganmu, berjanji memenuhi seluruh keinginan. disaat itulah jati diriku muncul sebagai manusia yang bertanggung jawab.
Prasetyo widodo