Ada bayangan saat kecil dulu. Bersama kakakku, kami sepedaan ke sawah, tempat yang sejak jadi tempat paling sering dikunjungi karena merupakan mata pencaharian orang tuaku. Saat itu, kakakku menunjukkan sebuah sarang burung. Di dalamnya, ada beberapa burung pipit yang masih kecil. Kakakku memanjat pohon tempat sarang tersebut bersemayam. Setelah mengambilnya, dia menunjukkannya kepada.
Kami pun hendak membawa sarang tersebut pulang untuk dirawat dan dijadikan peliharaan. Akan tetapi, tiba-tiba kami merasa iba kepada burung kecil-kecil itu. Kami merasa bagaimana nanti ketika induknya datang dan tiba-tiba kebingungan mencari anaknya. Entah mengapa tiba-tiba muncul rasa itu. Akhirnya kakakku pun mengembalikan burung-burung dan sangkarnya itu ke tempat semula.
Beberapa tahun berselang, tiba datang Ramadan tahun 1440H/2019 masehi. Iya, tahun ini. Aku dan beberapa temanku mencoba mengisi sedikit waktu romadhon dengan mengkhatamkan sebuah kitab dalam sebulan. Kitab tersebut berisi beberapa hadits dan cerita-cerita hikmah yang pernah yang berkaitan dengan hadits tersebut. Dalam kitab tersebut, cerita hikmah terkadang berasal dari sahabat nabi, ulama-ulama, atau cerita yang didengarkan oleh penulis dari gurunya. Kitab tersebut berjudul al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah.
Dalam kitab tersebut, ada sebuah cerita tentang ‘Rahmah’. Cerita yang diawali oleh Sayyidina Umar yang melihat seorang anak sedang bermain dengan sebuah burung. Sayyidina Umar yang kasihan dengan burung tersebut pun akhirnya membeli burung tersebut kemudian melepasnya. Diketahui bahwa burung yang dilepaskan itu adalah burung ushfur.
Berasal dari nama burung tersebut, pengarang kitab, Syekh Muhammad bin Abu Bakr, pun mendapat laqob ushfur. Namanya terkenal dengan sebutan al-ushfur. Kitab yang dikarangnya pun diberi nama sesuai cerita awal dalam kita.
Pada 16 Ramadan atau bertepatan pada 21 Mei 2019, istriku sedang berjuang melahirkan seorang buah hati dalam kandungnnya. Dia berjuang tanpaku dengan segala kekuatannya. Rasaku, ingin pulang segera untuk menemaninya. Tapi apalah daya, aku hanya bisa menunggu kabar dan sesekali melihat wajahnya dari panggilan video. Kabar yang luar biasa pun terdengar hari itu juga. Lahir seorang putri jelita dari seorang rahim perempuan yang mulai pertama kenal denganku tidak pernah bercerita sedikitpun tentang keburukan orang lain.
Lahirnya putriku langsung mengingatkan pada kitab yang saat itu belum khatam kukaji. Kitab itu sudah lama kucari. Akhirnya, setelah diskusi dengan bapak, istri, kakak, dan keluargaku lainnya, kami beri nama putri kami USHFURY Hamidah.
Nama ushfury diambil dari nama kitab yang pada saat itu aku coba untuk khatamkan. Ushfury berasal dari bahasa arab yang berarti burung pipit. Beberapa minggu berselang, aku teringat dan baru sadar bahwa dulu aku juga pernah punya cerita burung puput saat aku pergi ke sawah dengan kakakku.
Hamidah? Aku tidak pernah bertujuan agar namanya mirip denganku. Akan tetapi, nama ini merupakan nama pemberian dari bapakku. Tafa’ul beliau saat memberi namaku pun menjadi alasanku untuk memberi nama Hamidah. Aku bertafa’ul dengan dengan hal yang sama dengan yang dimaksudkan bapakku.
Ushfury Hamidah, semoga jadi perempuan yang sholihah, nduk. Jadilah perempuan penuh hikmah seperti yang ada dalam kitab tersebut.