Ya mungkin ini adalah postingan tiba-tiba diantara postingan gue mengenai persiapan S2 dan beasiswa gw sebelumnya.
But I couldn't handle this feeling and thought anymore.
Right at this very moment, my age is 29, in less than a year I will be 30.
It is really scary, I couldnt help myself saying this, atau berusaha positif menanggapi bagaimana situasi gue saat ini.
Di umur gw yang uda 29 ini, dimana gw ga benar-benar bisa menggambarkan kemana arah hidup gw kedepan, the least I can predict is I would be still working at my current company in Jakarta unless I decide to do something else.
Gue ga bisa pungkiri kalau sesekali gw dihinggapi rasa panik, gimana engga, gw uda 29, dan gw blm menikah dann terlebih lagi.. berkali kali gw bilang gw benci tinggal di jakarta, tapi tetap gw ga tau apa yang harus gw lakukan supaya gw bisa ga tinggal disini lagi.
Gw ga boong, majority of the time, gw benar-benar kesepian tinggal sendiri, gw berharap ada seseorang yg gw bisa kasih label 'sanctuary' untuk gw rehat dan melepas segala topeng didepan dia tanpa perlu dihakimi dan dianggap 'berbeda'..
Gw lelah terus berpura-pura bahwa gw bisa hidup dengan bahagia di kota orang ini, sampai hampir 10 tahun gw merantau di kota orang, gw masih menganggap diri gw asing, ga relevan bagi orang-orang disini. Gw kudet, ga ngerti apa-apa, serba clueless, bodoh, ga bisa mingle dengan baik, ga ngikutin tren, ga punya sense of joke yang sama dengan orang lain..
Yang bisa gw lakukan ketika gw uda overwhelmed dengan itu semua adalah (lagi dan lagi) menarik diri dari orang lain, mendekam di apartemen, memilih diam selama di kantor, tidak berusaha memicu percakapan apapun yang membuat gw salah mengartikan dan diartikan..
Di saat gw berharap bisa sedikit rely dengan teman-teman lama gw yang gw anggap dekat, tapi rupanya ketika gw initiate percakapan mengenai betapa lelahnya gw tinggal di jakarta, ga ada tanggapan yang menghangatkan hati dan meredakan pikiran-pikiran gw yang mumet ini. Kadang gw mampu berpikir mungkin mereka punya banyak hal berat juga yang harus dilewati.. tapi di saat momen terendah gw, yang makin hari makin sering ini, kadang gw berharap mereka sedikit care dengan apa yang gw lalui, bertanya dengan peduli dan belas kasih tanpa judgement apapun.
Belakangan gw semakin bertanya, selain kami cukup relatable dengan cara berpikir terhadap sesuatu, apakah gw dan mereka bisa dianggap teman dekat?
Gw tau lokasi kita yang berjauhan satu sama lain semakin menyulitkan untuk kita bisa leluasa untuk berkomunikasi satu sama lain, tapi again sisi gw yang drama ini juga berkali-kali berputar dalam pikiran "mungkin mereka juga lelah menghadapi gw, dan ga seharusnya gw mengganggu mereka", selain kadang-kadang gw jg berpikir kenapa mereka sejahat itu ga peduli dengan apa yang menjadi concern gw padahal gw uda berkali-kali membuka obrolan dengan problem yang sedang gw hadapi.
Gw makin terasa terasing, gw ga punya teman dekat di jakarta dan lagi teman-teman yang gw anggap dekat selama ini pun membuat gw berpikir apakah gw punya nilai didepan mereka.
Dan ga heran, kadang pikiran pendek gw mengintervensi dengan berharap ada seseorang dalam wujud pasangan yang bisa menemani gw melewati proses sulit ini dan sebaliknya gw akan senang juga menjadi orang yang bisa dia gantungkan untuk menceritakan keluh kesahnya dan merangkul di momen terberatnya.
Tapi setiap gw berpikir segala possibility gw bisa bertemu dengan seseorang yang tepat, rasanya chance untuk bisa ada di momen-momen itu hampir mendekati nol, kehidupan gw selama ini hanya berputar kantor dan apart, sesekali gw mengajak dan diajak ketemu orang, tapi minim, ga banyak, kadang gw kelelahan duluan dengan apapun yang gw lakukan selama seminggu di kantor dan memilih mendekam di apart atau sesekali ke cafe untuk melepas penat dan mencari suasana baru, dengan pola hidup gw seperti ini, seberapa besar chance gw ketemu orang baru? apalagi pasangan?
Kadang harapan gw bersisa di anggapan bahwa ada Tuhan yang menghimpun segala keajaiban di tengah situasi apapun yang manusia anggap 'mustahil', rasanya memikirkan tentang itu bisa bikin gw sedikit bisa berharap..
Sebenarnya momen gw untuk bisa S2 juga sebagai wujud untuk gw bisa ketemu lingkungan baru sambil gw menepi sejenak dan berpikir ulang, tapi ketika gw gagal dapat beasiswa LPDP ini, rasanya gw sedikit terpukul dan kalang kabut, gw bingung step apa yang harus gw ambil setelah ini.. atau mungkin lebih tepatnya, apa yang harus gw lakukan utk bisa bertahan satu tahun lagi di kondisi seperti ini..
Gw khawatir dengan segala ketidakpastian ini, sampai kapan gw akan sendiri terus? sampai kapan gw akan hidup di jakarta? sampai kapan gw punya hidup flat seperti ini? berjuang setiap hari untuk bisa menciptakan momen-momen berharga dan menyenangkan ditengah situasi monoton dan tidak menyenangkan ini.. terutama di pekerjaan gw sekarang.
I know, postingan ini hanya tumpahan perasaan tanpa ada konklusi dan pencerahan apa-apa..
Tapi gw lega bisa mengeluarkan ini, gw lega bisa jujur bahwa gw kecewa dengan diri sendiri, kecewa dengan teman-teman deket gw, clueless dan desperate dengan kondisi gw sekarang.. gw iri dengan mereka yang bisa sudah berada di kondisi yang gw inginkan..
Biarkan gw seperti ini sebentar, gw hanya lelah dan tidak bisa berusaha untuk menjadi dewasa walau gw uda di umur segini sekalipun..