>> Rabu, 22-07-2026 <<
Siomay - 7 K

@theartofmadeline
The Stonewall Inn

Discoholic 🪩
Fai_Ryy
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

titsay
cherry valley forever
I'd rather be in outer space 🛸
Today's Document
Claire Keane
trying on a metaphor
Show & Tell
untitled
occasionally subtle
Mike Driver

#extradirty
Monterey Bay Aquarium
Noah Kahan
Sade Olutola
ojovivo
seen from United States
seen from Finland
seen from Ukraine

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from United States

seen from Argentina
seen from United States

seen from United States

seen from Vietnam

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
@san-ihsaan
>> Rabu, 22-07-2026 <<
Siomay - 7 K

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
>> Selasa, 21-07-2026 <<
1. Americano - 6 K
>> Senin, 20-07-26 << 1. Surya - 36 K 2. Air Mineral 600ml- 3 K 3. NasPad - 14 K 4. Coffee Latte - 11 K 5. Coffe Filter Latte - 12 K 6. Air mineral 300ml - 3 K Tot: 79 K
Berhenti Menderita karena Skenario yang Hanya Ada di Kepala
"Kita melangkah terlalu jauh dalam berpikir (berprasangka) dan lupa bahwa takdir telah tertulis." — Mahmoud Darwish
Pikiran adalah anugerah terindah yang Allah berikan agar manusia dapat merencanakan, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Namun, ketika pikiran dibiarkan berjalan tanpa kendali, ia dapat berubah menjadi sumber kecemasan yang mematikan. Kita mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk, mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, bahkan menderita berkali-kali lipat karena skenario yang sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita sendiri.
"Ketahuilah, apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah melewatkanmu." — Hadits Riwayat Tirmidzi
Penyair Mahmoud Darwish mengingatkan sebuah tamparan keras: ada saatnya manusia melangkah terlalu jauh dalam berpikir hingga melupakan satu kenyataan penting bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Kita boleh merencanakan, tetapi hasil akhirnya tetap mutlak berada dalam ketetapan Allah. Ketika hati melupakan hakikat ini, pikiran akan terus berputar-putar mencari kepastian fana yang memang tidak pernah bisa dimiliki oleh manusia.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." — QS. Al-Baqarah: 216
Para sufi membedakan secara tegas antara berpikir dan berprasangka. Berpikir adalah menggunakan akal untuk berusaha sebaik mungkin, sedangkan berprasangka adalah membiarkan pikiran dipenuhi ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Yang pertama melahirkan ikhtiar yang produktif, sedangkan yang kedua hanya melahirkan kegelisahan yang melelahkan.
Banyak orang kehilangan ketenangan bukan karena kenyataan pahit yang sedang mereka hadapi hari ini, melainkan karena bayangan menyeramkan tentang masa depan. Mereka terus mengulang-ulang pertanyaan jebakan: "Bagaimana jika gagal?", "Bagaimana jika ditolak?", "Bagaimana jika semuanya hancur?" Padahal, mereka sedang menghabiskan energi berharga untuk menghadapi sesuatu yang belum tentu Allah takdirkan terjadi.
"Istirahatkan dirimu dari tadbir (mengatur-atur urusanmu). Apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak usah engkau sibuk ikut memikirkannya." — Ibnu Athaillah al-Iskandari, Kitab Al-Hikam
Islam sama sekali tidak mengajarkan kita untuk pasrah buta tanpa usaha. Justru, seorang mukmin sejati diperintahkan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, memeras otak, bekerja keras, lalu bertawakal. Tawakal bukanlah berhenti berusaha, melainkan berhenti merasa bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai ego kita agar hidup bisa terasa tenang.
Rezeki, umur, jodoh, dan hasil akhir dari setiap peluh yang kita teteskan berada dalam ilmu dan kehendak-Nya. Tugas mutlak kita adalah melakukan yang terbaik hari ini, bukan mengambil alih tugas Tuhan untuk mengendalikan hari esok.
Bukan berarti kita tidak boleh mempersiapkan masa depan. Perencanaan yang matang adalah bagian dari ibadah ikhtiar. Namun, setelah semua usaha maksimal dilakukan, jangan biarkan pikiran terus memutar kemungkinan-kemungkinan liar yang hanya menguras energi batin. Ada batas tegas di mana akal harus tahu kapan harus berhenti bekerja, lalu membiarkan hati mulai berserah total.
Orang yang benar-benar bertawakal tetaplah manusia biasa—ia bisa merasa sedih, takut, atau kecewa. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu. Ia memiliki jangkar keyakinan bahwa apa pun yang Allah tetapkan, meskipun terasa perih dan tidak sesuai harapan, pasti mengandung sejuta hikmah yang mungkin baru dipahaminya di kemudian hari.
"Suku cadang ketenangan itu bernama ridha terhadap takdir." — Mutiara Hikmah
Pada akhirnya, hidup kita tidak akan pernah menjadi tenang karena kita berhasil menebak atau mengetahui masa depan. Hidup menjadi tenang karena kita percaya kepada Dzat yang telah mengatur masa depan itu. Ketika keyakinanmu kepada Allah jauh lebih besar daripada ketakutanmu kepada kemungkinan-kemungkinan buruk, saat itulah hatimu akan menemukan tempat terbaiknya untuk beristirahat.
Sebab, cetak biru takdir telah berada dalam ilmu Allah yang maha luas sejak sebelum kita dilahirkan. Yang belum tertulis hanyalah bagaimana caramu menjalani setiap langkah yang tersisa: apakah dengan hati yang terus dicekik kecemasan, atau dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh disertai tawakal yang menenangkan?
Belajar
Segala sesuatu harus dipelajari, agar tak salah mengambil langkah. Tak cukup sampai situ, ia harus berjalan dengan amal. Yang terkadang terlihat mudah, pada kenyataannya tak semudah yang terlihat.
Maka dari itu, untuk setiap ilmu yang kita dapatkan, mintalah pertolongan Allah agar dimudahkan mengamalkanya
Karna sejatinya, itu yang akan menjadi hikmah atas setiap pembelajaran yang Allah sampaikan pada kita

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita sering merasa perlu menjelaskan diri, membela posisi, atau memastikan orang lain mengerti. Padahal, beberapa hal lebih baik dibiarkan berlalu. Tidak semua hal butuh respons. Tidak semua orang layak mendapat jawaban. Dan diam, juga adalah bentuk keberanian untuk tidak ikut bermain dalam dinamika yang melelahkan. Pilah mana yang penting, mana yang hanya sekadar bising.
Kesedihan bisa dibagi, kesabaran tidak.
Ada kutipan yang sempat lewat di linimasa, katanya, "kalau kamu lagi struggle kerja, ceritanya sama yang lagi kerja. Kalau lagi struggle skripsian, ceritanya sama yang lagi skripsian. Kalau udah nikah, ceritanya sama yang udah nikah." Dan seterusnya.
Kupikir itu menarik soalnya kalimat itu (kayaknya) lahir dari kesadaran bahwa orang-orang lebih gampang saling ngerti kalau ada di struggle yang sama atau di jalur kesabaran yang sama. Karena level understanding-nya nggak jauh beda, kemungkinan untuk disepelekan, disalahpahami, atau di-judge itu jadi kecil.
Ungkapan untuk empati sering banget kita denger, kayak, "I'm happy for you," atau "I'm sorry for you" dan semacamnya. Kita bisa marah untuk orang lain. Kita bisa ikut sedih atas nestapa orang lain meski kita nggak mengalaminya. Tapi kita nggak pernah bisa ikut bersabar atas ujian orang lain yang nggak sedang kita hadapi. Kita nggak pernah benar-benar bisa memikul beban ujian orang lain. Dan orang lain pun nggak bisa melakukannya untuk kita.
Karena nggak ada yang bisa melangkah menggantikan kaki orang lain, hal terbaik yang bisa dilakukan mungkin cuma menemani, menguatkan, dan mendoakan. Soalnya tetep aja, yang berdiri di garis depan mah, orang itu sendiri. Yang bernegosiasi dengan rasa pahit setiap malam dan bangun untuk melanjutkan hidupnya, tetap orang itu sendiri.
Kesedihan mencari telinga. Kesabaran menuntut punggung. Dipikir-pikir pahit dan getir. Mungkin karena itulah orang-orang yang sedang diuji terbiasa menengok ke belakang alias melihat orang-orang yang pernah sampai lebih dulu, "oh, ternyata bisa ya dilewati."
Bahkan kadang kalimat "sabar ya," bisa terdengar menyebalkan ketika keluar dari orang yang nggak sedang memikul ujian itu. Terlalu ringan untuk beban yang sedang berat-beratnya. Aku sampai sadar, betapapun seseorang jago akrobat diksi, perasaan getir dan pahitnya mah cuma bisa dijembatani oleh orang yang pernah di titik yang sama.
Yang bikin sabar kerasa makin berat juga karena sebagian besar ujian susah didekati/di-approach secara kognitif. Maksudnya, nggak bisa dijelasin dengan sebab-akibat yang rapi. Terlalu banyak variabel luar yang nggak bisa dikontrol dan dipelajari, belum lagi kalau ada hidden variabel. Terlalu banyak yang bahkan nggak kita tau harus mulai dipikirin dari mana. Logika juga udah cape duluan kali.. karena mentok di tengah jalan. Dalam beberapa momen, pikiran sampai nggak cukup kuat untuk menopang hati.
Terus apa yang bisa kita andelin di titik itu?
Iman emosional (ini mah terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya cenderung afektif juga fluktuatif. Kalau sering denger orang Sunda mah, bilangnya, "muntang ka Allah." Semacam.. kepercayaan karena ingin ditemani Allah aja. Entah kenapa, selalu ada rasa aman saat punya kebergantungan semacam ini, meski nggak paham, lagi di bawa kemana atau mau ditunjukkin apa sama Allah. Di sisi lain, iman rasional (ini juga terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya kognitif bukan berarti nggak guna. Itu juga justru jadi jangkar buat kita tetep waras.
Sebagai orang yang gampang marah/sedih untuk orang lain, aku akhirnya cuma bisa bayangin, "berapa lama ya orang ini udah sabar?" Soalnya si gue mah pasti bebeledagan. Misal hari ini gue day 1 bersabar, besoknya pasti bukan day 2, tapi ngulang lagi day 1 karena gagal sabar di hari pertama wkwk.
Lebih tinggi dari empati, aku ingin sekali menaruh hormat pada orang-orang yang tetap menghormati ketetapan dari Tuhannya, betapapun ujian itu terasa seperti menggenggam bara api. Karena kalau aku yang di posisi itu, belum tentu bisa.
Hormat juga berarti aku sadar batas bahwa perjuangan sebagian orang nggak minta ditafsirkan, apalagi dijadiin pelajaran cepat saji. Selain itu, juga berarti membiarkan seseorang memikul ujiannya dengan caranya sendiri, tanpa aku paksa masuk ke dalam kerangka pikirku.
Sejujurnya dengan ini, jadi ngerti struggle-nya Hajar. Pahit dan getirnya mungkin nggak kerasa heroik atau spektakuler seperti ibadah-ibadah aktif lainnya kayak perang atau dakwah. Tapi bayangin, di gersangnya hari-hari tanpa pengakuan, Allah sendiri yang menghargai kesabaran itu. Kalimat Hajar pun jadi nyata, "sungguh Allah takkan menyia-nyiakan iman kami."
Aku tahu, ke depannya, cepat atau lambat, struggle-ku juga akan semakin berat. Semoga Allah tetap karuniakan rahmat berupa ketenangan dan kesabaran di titik itu, meski akan ada banyak hal yang nggak masuk akal. Soalnya menurutku kesabaran adalah topik yang cukup susah didekati secara kognitif kalau aku belum ngerasain itu. Beda dengan hal-hal lain yang kupikir masih relatif mudah. Dan bahkan mungkin kalau udah ngerasain, aku nggak perlu lagi terlalu ngeteoriin sabar.
Untuk siapapun yang sedang diuji, dengan hormat, Giza ingin bilang, "seperti doa Ismail, mudah-mudahan Tuhan mendapatimu, serta kau mendapati dirimu sendiri, sampai akhir, termasuk orang-orang yang sabar. Dan mudah-mudahan pahala dan kebaikanmu memanjang di dalam waktu, seperti buah kesabaran Hajar."
Kalimat itu, mudah-mudahan berguna juga untukku jika diuji dengan yang lebih berat daripada hari ini.
Mari saling menjaga agar perjuangan orang lain tidak kita perkecil hanya karena kita tidak hidup di tubuhnya. Mari saling menyertai dan menjadi agen tawashou bilhaq wa tawashou bisshabr untuk satu sama lain. Lagi-lagi, dunia sudah kejam dan (selain Allah) kita hanya punya satu sama lain untuk selamat.
— Giza, menghormati perjalanan hidup manusia lain.
menutup babak
banyak orang bilang, butuh keberanian yang luar biasa untuk menutup satu babak dalam hidup kita. sebab, yang menakutkan dan mengkhawatirkan itu tidak hanya mengakhiri, tetapi juga memulai sesuatu yang baru. semuanya penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan pertanyaan, penuh dengan perubahan. di mana-mana, tentu perubahan menimbulkan ketidaknyamanan.
kadang keberanian itu perlu dipantik oleh sesuatu yang ada di luar. suatu kejadian besar, suatu pertanda yang nyata, atau sesuatu lain yang memaksa kita. mau tidak mau, suka tidak suka, terima tidak terima.
kadang keberanian itu datang tanpa aba-aba yang benderang. cukup berupa keyakinan yang bertambah-tambah setiap hari. cukup berupa kecenderungan hati. cukup berupa ketiadaan ketakutan dan kekhawatiran lagi.
tapi sini saya beri tahu sesuatu yang lebih mendasar. menutup babak memang memerlukan keberanian, tetapi melakukannya bukan indikator berani atau tidak. kadang tidak menutup babak justru memerlukan keberanian yang lebih besar. kadang, ketakutan, ketidakpastian, dan kekhawatiran justru lebih besar ketika kita bertahan.
kalau kamu punya niat menutup satu babak dalam hidupmu—dan memulai babak yang baru—yang lebih utama adalah bilamana Allah meridhoinya. bilamana jalan itu punya lebih banyak potensi manfaat dan lebih sedikit mudarat (ingat, menghindari mudarat lebih penting daripada mengejar manfaat). bukan hanya untukmu, tetapi juga orang-orang di sekitarmu.
kalau jalan itu adalah jalan yang Allah ridhoi, yakinlah bahwa keyakinan itu akan datang. tak perlu megah. tiba-tiba saja, suatu hari kamu terbangun dan meyakini, “sekaranglah saatnya.”
selamat menutup babak(-babak).
Menemukan kalimat indah dari Syekh Said Ramadhan Al-Buthi: "Sekalipun kau tidak disukai, kau hanya tidak disukai oleh manusia, lantas kenapa kau harus menderita? Sekalipun engkau dicintai, kau hanya dicintai oleh manusia, lantas mengapa kau harus sangat bangga?"
Maka cobalah menelisik hatimu kembali, lalu bisikkan pada jiwamu: "Wahai diriku, orang yang tidak menyukaimu itu hanya manusia—yang juga pernah lelah, juga luput pada prasangka. Esok ia bisa lupa, lusa ia bisa berubah, atau mungkin ia sendiri sedang terluka. Kenapa kau biarkan hujan kesedihan turun terlalu lama di rumah hatimu hanya karena tatapannya yang dingin? Dan ketika engkau dipuji dan dicinta, ingatlah mereka juga manusia; yang nafasnya pendek; ingatannya mudah kabur; dan cinta mereka bisa pudar sebelum matahari terbenam. Pujian mereka selembut kapas, tapi bisa terbang ditiup angin. Maka jangan kau jadikan suka dan benci mereka sebagai takdirmu; cukup jadikan hatimu seperti danau yang dalam nan tenang—riak dari batu yang dilempar manusia akan reda dengan sendirinya, karena dasarmu bukan di tangan mereka, melainkan di pangkuan Yang Maha Kekal. Cukup tersenyumlah, lalu kembalilah berjalan menuju Tuhan yang tak pernah lupa padamu."
Ponorogo, 12 Juni 2026. Hamba yang (semoga) selalu menjaga jalan pulangnya.
KEPUTUSAN PALING BERANI DALAM HIDUP
Akhirnya datang, keputusan paling berani yang ahrus diambil dalam hidup. karena memang keputusan itu akan menentukan arah hidupmu hari ini, esok, dan seterusnya selama kamu hidup.
Penentuan partner hidup! Untuk orang sepertiku, yang tidak begitu mahir terhadap dunia asmara, yang selalu kesulitan menentukan seberapa pantas dirinya untuk dimiliki oleh seseorang seperti sesiapa dan seseorang yang bagaimana? Orang sepertiku, yang cukup pendiam, pemalu dan tidak pernah tahu harus menemukan teman hidupnya, bahkan dengan cara-cara seperti apa yang harus dilakukan agar bisa memulai berkomunikasi dengan lawan jenisnya.
Orang sepertiku yang butuh banyak waktu dan keberanian hanya sekedar untuk memulai menyapa, bertanya, dan juga menyampaikan fakta terkait rasa yang dialaminya. Orang sepertiku, yang tidak tahu dirinya sendiri orang seperti apa dan harus menyandingkan diri dengan orang seperti sesiapa.
Orang sepertiku, yang selalu bilang iya, terhadap setiap tawaran dikenalkan teman hanya karena merasa tidak enakan, kasihan, dan iba. karena orang sepertiku, sungguh tidak mampu harus menerapkan kalimat "ambil kesempatan dan kepercayaan yang sudah diberikan" di situasi dan kondisi yang seperti apa. Dan akhirnya, datang juga. Waktu dimana aku harus segera mengambil keputusan paling berani dan paling menentukan dalam hidupku, sungguh aku kebingungan harus meminta tolong berupa pendapat atas keputusan yang kuambil.
Aku tahu ini hidupku, dan pada akhirnya aku juga lah yang akan menjalani setiap apa-apa keputusan yang sudah diambil, baik dengan atau tanpa pertimbangan pihak manapun. Tapi rasa takut dan sesal atas keputusan yang akan saya ambil, rasa-rasanya sudah menghantui setiap saat bahkan sebelum keputusan itu diambil.
Entah, sudut arah mana lagi yang akan kutatap dan hadap, demi melamunkan keputusan dalam hidup yang pengambilannya tidak menyertakan pendapat pihak manapun, bahkan orangtua. _______ *Sudah!! cukupi keluhkesahmu, mari mulai BERDOA.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sampai kebawa mimpi, meeki Mimpi yang aneh,
1. Malam sebelum tidur, mencoba memberanikan diri buat mengutarakan perasaan ke seseorang. Pada intinya ingin berkenalan lebih jauh lah.
2. Lanjut tidur
3. Mimpiin dia, dengan kondisi dia sedang di prosesi akad nikah, dan dimimpi itu ternyata aku penghulunya, dimana sebelum prosesi akad nikah, aku coba pastikan rukun nikah sudah terpenuhi (calon suami, calon istri, wali nikah, kedua orang saksi, dan sigat ijab-qobul).
4. Dan karena sebelumnya saya tidak tahu banyak tentang seluk-beluk perempuan tersebut.
5. Ternyata yang menjadi calon suami perempuan itu adalah ayah angkatnya sendiri.
Entahh apa arti mimpi tersebut,.
Arti baik
Arti tidak baik
Bunga itu tidak mekar dalam satu malam.
Ia tidak bangun pada suatu pagi lalu terus menjadi indah. Tidak. Sebelum itu, ada hari-hari yang panjang di dalam tanah. Ada waktu-waktu di mana tiada siapa nampak pertumbuhannya. Ada musim hujan yang melemahkan, ada musim panas yang mengeringkan. Namun akar itu tetap bekerja dalam diam.
Begitulah juga dengan manusia.
Kita selalu melihat hasil, tetapi jarang menghargai proses. Kita melihat seseorang yang tenang, lalu menyangka dia memang dilahirkan begitu. Kita melihat seseorang yang kuat, lalu menyangka dia tidak pernah hancur.
Padahal di sebalik ketenangan itu, ada malam-malam yang dipenuhi air mata. Di sebalik kekuatan itu, ada doa-doa yang dipanjatkan dengan suara yang bergetar.
Bunga itu tidak mekar ketika semuanya mudah.
Ia mekar setiap kali kau memilih untuk terus hadir untuk diri sendiri.
Pada hari-hari kau letih tetapi tetap bangun.Pada hari-hari kau kecewa tetapi tetap meneruskan langkah.
Pada hari-hari kau ingin menyerah tetapi memilih untuk bertahan sedikit lagi.
Ia mekar setiap kali kau berhenti mengejar apa yang bukan milikmu, dan mula menjaga apa yang Allah amanahkan kepadamu, dirimu sendiri.
Dan lebih daripada itu, bunga itu mekar setiap kali kau memilih Allah walaupun hati berat.
Ketika doa terasa lambat dimakbulkan. Ketika kehilangan masih menyakitkan. Ketika rindu masih belum reda. Ketika hidup tidak berjalan seperti yang kau rancangkan.
Namun kau tetap kembali, tetap mengangkat tangan.Tetap menyebut nama-Nya. Tetap membuka lembaran Al-Quran walaupun hati sedang kusut.
Tetap beristighfar walaupun kau sedar betapa banyak kekurangan diri. Kerana iman bukan tentang tidak pernah jatuh.Iman adalah tentang memilih untuk kembali, lagi dan lagi.
Dan mungkin suatu hari nanti, kau akan menoleh ke belakang lalu tersenyum. Kau akan sedar bahawa Allah tidak pernah tergesa-gesa membentuk kau.
Dia tidak menjadikan kau bunga yang mekar dalam satu malam. Dia menjadikan kau bunga yang akarnya kuat.
Bunga yang pernah dilanda ribut tetapi tidak tumbang. Bunga yang pernah kehilangan, pernah kecewa, pernah tersesat dalam kesedihan, tetapi tetap memilih untuk kembali kepadaNya.
Dan saat itu, kau akan faham.
Bahawa setiap langkah kecil yang kau sangka tidak bermakna, setiap doa yang kau ulang, setiap sujud yang kau panjangkan, setiap kali kau memilih Allah walaupun hati berat...itulah yang sebenarnya membuatkan bunga itu mekar.
ya Allah, sampaikan permohonan maafku kepada orang-orang yang pernah aku sakiti. bahagiakan mereka ya Allah. jadikan mereka lupa atas semua luka yang pernah aku tinggalkan di hatinya. bantu aku pula untuk memaafkan mereka. bersihkan hatiku, hilangkan segala penghalang antara doaku dan iya-Mu.
maafkan aku. maafkan aku. maafkan aku.
Broken Inner Child
Ada luka yang tidak lahir kemarin.
Ada rasa takut, rasa kosong, dan rasa tidak berharga yang ternyata tumbuh sejak lama. Sejak kecil, banyak orang belajar memendam perasaan, menahan tangis, dan berpura-pura kuat hanya agar diterima. Mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya merasa aman menjadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, luka itu ikut bertumbuh hingga dewasa.
Inner child yang terluka tidak selalu terlihat sedih. Kadang justru terlihat paling ceria, paling dewasa, atau paling kuat. Padahal di dalam dirinya masih ada anak kecil yang terus bertanya, “Apa aku memang tidak cukup untuk dicintai?” That’s why beberapa orang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan, takut mengecewakan orang lain, atau terlalu keras pada dirinya sendiri. Bukan karena mereka berlebihan, tapi karena ada bagian dalam dirinya yang belum pernah benar-benar sembuh.
Yang paling menyedihkan, banyak orang dewasa sebenarnya hanyalah anak kecil yang dipaksa bertahan terlalu cepat. Mereka belajar menyembunyikan luka di balik senyum, humor, dan kalimat “aku gapapa.” Padahal jauh di dalam dirinya, masih ada versi kecil yang diam-diam menunggu dipeluk, didengarkan, dan diterima apa adanya. Maybe healing begins ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas luka yang dulu bahkan bukan salah kita.
Written by Aftansa
Ego Yang Tak Mau Disalahkan:
Ustadz Fachruddin Faiz
Sering kali, manusia lebih condong mencari pembenaran daripada kebenaran. Inilah wujud ego yang enggan disalahkan, menolak untuk melihat kesalahan diri dan lebih memilih menyalahkan keadaan atau orang lain. Padahal, kesadaran akan kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan diri yang sejati.
Kita kerap menganggap dosa sebagai sesuatu yang jarang terjadi, padahal hakikatnya dosa bisa muncul setiap hari, bahkan setiap detik,baik melalui tindakan maupun pikiran yang tak terlihat. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi no. 2499).
Manusia memiliki dua sisi karakter: baik dan buruk. Yang membedakan seseorang bukan keberadaan keduanya, tapi bagaimana ia merespons godaan/ujian dalam hidup,apakah ia memilih jalan untik kebaikan atau tunduk pada hawa nafsu. Hidup ialah ujian terus-menerus, dan selama hayat masih dikandung badan, setan tidak akan berhenti menggoda. Namun Allah SWT bersumpah dalam hadits Qudsi:
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan terus mengampuni hamba-Ku selama mereka meminta ampun kepada-Ku.” (HR. Ahmad).
Para sufi mengajarkan dua langkah penting dalam perjalanan spiritual:
Takholi: mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela melalui taubat dan muhasabah.
Takhali: menghiasi diri dengan akhlak dan amal kebaikan.
Begitupun juga dengan Ilmu yang baik pun tidak akan membawa manfaat bila dibarengi dengan jiwa yang buruk. Seperti kata Imam Malik:
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.” (diriwayatkan dari nasihat Imam Malik kepada Imam Syafi’i).
Maka dari itu, bersihkanlah jiwa, perkuatlah kesadaran, dan jangan biarkan ego membutakan nurani. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling benar yang dimuliakan, tetapi siapa yang paling tulus dalam mencari kebenaran

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"تقف قلبك حتى لا تتكبر، وثقف عينيك حتى لا تحتقر الآخرين"
Didiklah hatimu agar tidak berbangga diri, dan didiklah matamu agar tidak memandang rendah orang lain
Kartini: 7 Langkah Lebih Maju di Antara Kaumnya
"Salah satu biografi terbaik untuk mengenal Raden Ajeng Kartini yaitu dengan membaca buku yang ditulis Pramoedya Ananta Toer yang judulnya 'Panggil Aku Kartini Saja'. Di tahun segitu nggak banyak orang mempermasalahkan tentang kelas sosial, tapi Kartini did that!"
Suatu ketika saat break kerja, saya membuka Youtube Shorts, lalu ada postingan video di mana dia lagi wawancara entah siapa, kayaknya salah seorang 'tokoh' di dunia literasi. Awalannya dia membahas Raden Soesalit, salah satu tokoh pergerakan dan anggota Partai Sosialis Indonesia which is he is on the left. Jujur, asing juga mendengar namanya. Tapi, ternyata beliau adalah putra dari Raden Ajeng Kartini.
Seorang gen Z yang apa-apa FOMO setelah melihat cuplikan video kurang dari 30 menit itu, akhirnya membaca karangan Pramoedya Ananta Toer itu. Lagi-lagi apa? Ya, lebih baik terlambat daripada tidak membaca sama sekali HAHAHA
Bab-bab awal-awal banyak bercerita tentang latar belakang Indonesia sebelum Kartini lahir, di mana saya cukup terkesima bahwa di tahun 1800-an, saat cultuurstesel penyebab paceklik di tanah Jawa menjadi awal sebuah tulisan di mana titik berat Kartini akan kepeduliannya terhadap rakyat. Tulisan apakah itu? Yap, Max Havelaar!
Terus yang mengherankan lagi, di zaman-zaman itu banyak para bangsawan tuh ternyata tidak berpendidikan, bahkan jadi bahan gujingan di kalangan bangsawan pula karena beranggapan bahwa mencicipi ilmu pengetahuan dari penjajah berarti meninggalkan Kejawaannya, kasarannya Londo Coklat! Untungnya... Kartini lahir di keluarga bangsawan yang kakek buyutnya sadar pentingnya pendidikan bagi keturunannya. Bayangkan saja, kalangan bangsawan yang dapat membaca bahkan bicara dalam bahasa Belanda hanya 4 se-Hindia Belanda, yakni Achmad Djajadiningrat dari Banten (ternyata leluhur dari aktor Lutesha), RM Tumenggung Kusumo Utoyo Bupati Jepara terdahulu, serta paman dan ayah Kartini! Benar-benar privilege yang Kartini pergunakan sebaik mungkin.
Bayangkan saja dengan privilege Kartini sebagai bangsawan, ia dapat mencicipi pendidikan yang 'mewah' bagi sebagian besar pribumi saat itu. Tidak hanya berhenti di situ, Kartini juga menempuh ilmu selama di rumah meski harus dipingit dan belajar hanya setara di kelas rendah, ketika kakaknya, Sosrokartono melanjutkan pendidikan tingginya di negeri Belanda dan menjadi sarjana pertama di Indonesia karena kejeniusannya. Lagi-lagi perempuan harus bekerja keras 2 kali lipat dibanding laki-laki untuk mengenyam baris-baris pengetahuan yang seharusnya pantas untuk didapat.
Namun, sebetulnya yang paling sedih adalah ketika ia banyak tawaran menulis untuk surat kabar Hindia Belanda, tapi dibatasi oleh ayahnya sendiri dan menganggap orang-orang di sekelilingnya berpikiran tidak-tidak tentang perempuan yang seharusnya tahu batas yang tidak ia langkahi yakni menjadi tenar karena pemikiran. Ya, lagi-lagi karena dia seorang perempuan.
Menariknya lagi, Kartini banyak menulis tentang kritik sistem feodal Jawa yang membuat manusia tidak setara dengan manusia lain hanya karena pangkat dan jabatan. Tulisannya ini juga yang menjadi ilham seorang Bung Karno ketika menulis pidato pembelannya yang paling fenomenal, Indonesie Klaagt Aan. What a plot twist! Kadang saya berpikir, apa yang Bung Karno lakukan bila Kartini hidup di masa Bung Karno melakukan gerak revolusi itu secara bersamaan?
Pemikirannya yang progresif itu pula diilhami tidak hanya dari ia membaca buku yang ditinggalkan kakaknya, Sosrokartono, tapi dari kunci semua tempat curhatnya, Estelle Zeehandelar, perempuan sosialis Belanda yang juga mempengaruhi sebagian besar pemikiran Kartini. Tidak hanya Stella, namun juga Nyonya Abendanon yang akhirnya menghimpun surat Kartini kemudian dijadikan buku fenomenal yang kita kenal sekarang, Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dari buku Pram itu, kita diajak untuk merasakan pergolakan perasaan Kartini tentang kepedulian kepada rakyatnya, ketika bangsawan kala itu tidak punya rasa pelayanan tinggi terhadap rakyat. Di masa itu ia memimpikan ketika suara rakyat didengar melalui satu kata: demokrasi, hal yang janggal dalam sistem feodal Jawa. Kartini secara sadar mengakui bahwa betapa ironis keadaan rakyatnya saat itu, sampai ia menulis artikel di majalah Hindia Belanda berjudul "Vergeten Uithoekje" atau Pojok Terlupakan. Dari karangan itu, Kartini bercerita tentang pengrajin ukiran Jepara di belakang gunung yang keadaannya memprihatinkan. Bisa di bilang saat itu, Kartini layaknya meng-endorse usaha rakyatnya agar lebih dikenal, terutama oleh kalangan Belanda.
Akhir kata, Kartini secara sadar mengetahui bahwa alat yang ia punya saat itu hanya lah bahasa, yakni bahasa Belanda, di samping keterampilannya pada bahasa Perancis. Untuk mengubah nasibnya dan nasib kaumnya saat itu, ia perlu bicara dalam bahasa jajahannya untuk memberi pengertian kepada kaum penjajah bahwa kaumnya mampu setara dengan kemajuan yang telah diciptakan oleh Belanda. Kaumnya pula tidak ingin menjadi rakyat tertindas, karena kemajuan tidak hanya diperjuangkan tetapi juga ditulis dan sebarluaskan. Meskipun ia tidak seperti Pandita Ramabai yang memperjuangkan bangsanya dengan berbicara melalui bahasanya, namun, Kartini dengan bahasa kaum penjajahnya sendiri, ia mampu 7 langkah lebih maju di antara kaumnya dengan memanfaatkan privilege yang ia punya, sumber daya, waktu, tenaga, dan kekuasaan. Keterbatasan bisa jadi senjata, bukan lagi alasan. Hingga akhir hayatnya pun, kebebasannya sebagai perempuan masih jadi barang langka sampai ia menikah dan menghembuskan napas terakhirnya🥀.