SOeharto dan oom Ben
menterjemahkan salah satu bab dari tulisan oom Ben yang berjudul â Exit Soeharto : Obituary for Mediocre Tyrantâ. Dikarenakan setelah mencari beberapa referensi dari murid oom Ben (saya cuma fans tidak pernah bertemu muka :D) ,juga menggoogling beberapa referensi dan  tidak mendapatkan yang berbahasa indonesia (dengan EYD), maka dengan kemampuan keminggris alakadarnya, saya mencoba menterjemahkannya dengan tujuan pendidikan. semoga bermanfaat bagi yang membaca. salam
Bapak Pembangkrutan
Rahasia dari segala-rahasia kegagalan presiden soeharto, kegagalan stabilitas keamanan, kegagalan industrialisasi-, kegagalan finansial, kegagalan moral, kegagalan (menjadi) orangtua (semua anak-anaknya malah jadi monster atau sebut saja nonentitas), bahkan kegagalan politik-perlahan terkuak sedikit demi sedikit. ironi dari cerita Soeharto adalah bahwa ia akhirnya dijatuhkan oleh kekuatan-kekuatan yang justru telah membuat kediktatorannya berjalan selama itu. Pada awal 1990-an, ia telah dibujuk (tepatnya dipaksa) oleh Washington untuk 'membuka' Indonesia agar lebih terbuka akan masuknya modal finansial global. Saking banyak dan cepatnya aliran uang yang masuk (sebagai akibat dari pinjaman investasi luar negeri) mengakibatkan sejumlah bank baru sengaja dibentuk untuk mengambil keuntungan dari situasi menguntungkan ini. Ini juga mengindikasikan pada saat itu Soeharto sebenarnya masih berkuasa dikarenakan ia mendapat tambahan waktu (dari Washington). Indonesia sudah menjadi importer minyak mentah, dan hutan secara besar-besaran telah hilang dijarah. pembangunan industri lokal sangat lemah, dan sistem pendidikan sudah rusak sejak bertahun-tahun. Ketika 'Krisis Asia' pecah, Indonesia benar-benar terpukul sangat keras dibanding negara lain. Dalam beberapa minggu saja rupiah jatuh hingga empat-lima kali nilai tukarnya. Puluhan bank bangkrut. Jutaan orang kehilangan pekerjaan mereka. Utang nasional begitu membengkak. Antek-antek pendukung-nya selalu menyebutnya sebagai âthe Father of Development (Bapak Pembangunan) tetapi pada awal tahun 1998, titel itu dipelintir dengan pahit menjadi Bapak Pembangkrutan. Ditambah ,Tidak ada yang lebih menyakitkan saat situasi terpuruk ini ketika ditunjukkannya Foto-foto yang memperlihatkaan sang Diktator yang terlihat pesakitan, dibalik mejanya, sementara Capo(boss) dari imf, lengan bertolak pinggang, berdiri di belakangnya,memberikan ultimatum secara simbolis (seperti mengejek)  Apa yang sebenarnya Soehartio lakukan (ketika itu) ? Pemikiran-pemikiran yang menyebabkan Soeharto mundur  pada tahun 1998 dapat dirumuskan dalam dua cara berbeda. Yang pertama adalah BUDAYA. Suharto tidak punya bakat sama sekali menggugah bangsa atau rakyat ketika berpidato - hampir selalu dengungan tentang cara pemerintahannya disampaikan melalui pidato yang membosankan, penuh-statistik belaka, hingga candaan klise-nya dituliskan untuk dia oleh birokratif Indonesia, yakni (biasanya) oleh Sekretariat Negara. Seperti yang John Roosa katakan, tidak ada yang ingat satupun ungkapan (Quotes) menarik dari Suharto selama tiga puluh tiga tahun dia berkuasa. (Siad Barre? Franco?) . Kemungkinan ia bahkan sama sekali tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahasa Indonesia, yang mana akhirnya ia harus pakai juga di akhir masa remajanya(saat indonesia merdeka). Kadang-kadang, secara tidak sadar, terutama ketika dia marah. hanya beberapa jiwa pemberani yang bisa mengejek bahasa Indonesia aksen Jawa  yang kental, memakai tatanan bahasa serta moral klis khas Jawa. Pernah suatu kali, ia marah oleh kritik salah satu mahasiswa mengenai istrinya(ibu Tien Soeharto) yang dituding memiliki banyak 'PROYEK', ia berseru bahwa ia akan âgebukâ siapa saja yang berani mengkritik istrinya. Gebuk adalah Jawa untuk 'Memukul hingga babak belur seseorangâ. Pada kesempatan lain, secara pribadi mengalamatkan kepada kelompok penjilat ambisius yang menjalankan Liga Pemuda Nasional-nya, banyak dari mereka non-Jawa, ia mengejutkan pendengarnya dengan uraian (yang diluar topic) panjang tentang makna mistis dari nama-nama untuk huruf dalam alfabet Jawa ( Sekretariat Negara memastikan dialog ini tidak pernah dipublikasikan). Diakhir kediktaranynnya Suharto tergoda untuk membantu seorang wartawan berpengalaman yang akan menulis otobiografinya sebagai Ghost writer.tapi Apa yang keluar dari halaman buku hanya berupa penjelasan kebencian, -kebencian semua orang yang berpikir dia bodoh, tidak berpendidikan, pemula dalam dunia mistis ,sering dimanipulasi oleh para pembantunya, dan sebagainya. Motif utama dia adalah selalu tentang 'saya, dan hanya saya, yang memutuskan segalanya'. Tapi rancunya, itu menyiratkan bahwa dia mengklaim bahwa-BENAR-yang pada tahun 1983 ia lah yang secara pribadi memerintahkan untuk mengeksekusi ribuan preman . Buku itu nyaris tidak dipublikasikan ketika Suharto berpikir kali kedua dan memerintahkan penarikan buku itu,-suatu kasus langka(juga lucu) dari seorang diktator yang  melarang bukunya sendiri. Faktanya, dia seorang Jawa Tulen, secara diam-diam, selalu berkonsultasi dengan para dukun dan ahli astrologi dan berziarah ke situs mistis, goa, kuburan dan sebagainya. Pada akhir 1997, terguncang akan keadaan finansial yang kolaps, Suharto menyatakan kepada media bahwa Ia telah bersiap lengser keprabon dan menjadi seorang Pandito.. Kata-kata Jawa klise ini  diambil dari hikayat lama raja-raja Jawa dan bahkan lebih dari pewayangangan kuno,yakni berdasarkan kisah Mahabharata dan Ramayana. kaprabon Lengser dapat diterjemahkan sebagai 'turun tahta tahta', sementara Pandito berarti penasehet(mistik) besar. Akibatnya, Raja diraja, di usia tua, mewariskan kerajaan untuk penggantinya dan menjalanka hari tuanya sebagai penasehat terhormat dan Konselor. Kemauanya ini diterima dengan senyum pahit di antara banyak musuh-musuh mudanya, yang tidak lagi percaya sepatah kata pun darinya. Faktanya, dia kemungkinan bermaksud menjadi seperti itu, setidaknya pada saat itu. disini Suharto,seperti apa yang telah lama dicurigai banyak orang, bahwa dia menganggap dirinya sebagai seorang raja, dan mungkin benar-benar mengharapkan memainkan peran kunci lebih lanjut seolah-olah sebagai manusia Bijak untuk apapun yang terjadi selanjutnya di indonesia. Â
Father of bankruptcy Â
The secrets of the ultra-secretive Presidentâsecurity failure, industri- alization failure, ďŹnancial failure, moral failure, parental failure (all his children  either monsters or nonentities),  even political failureâcame oozing out bit by bit. For the irony of Suhartoâs story is that he was ďŹnally undone by the forces that had made his long dictatorship possible. In the early 1990s, he had been persuaded by Washington to âopen upâ his coun- try more widely to global ďŹnancial capital. A lot of fast money ďŹowed into a plethora of shady new banks created to take advantage of this sudden bonanza.  By then Suharto  was living on borrowed time. Indonesia  had become a net importer  of oil, and the forests were largely gone. Local industrial  development  was weak, and the education system had been decaying for years. When the âAsian Crisisâ broke out, Indonesia  was hit harder than any other country. Within a few weeks the rupiah lost four- ďŹfths of its exchange value. Dozens of banks went bankrupt.  Millions of people lost their jobs. The national  debt climbed  dizzyingly. His  toad- ies had long ďŹattered him with the title of Bapak Pembangunan (Father of Development)  but  by the beginning  of 1998,  bitter  local wits had turned  it into Bapak Pembangkrutan (Father of Bankruptcy). Nothing more  cruelly demonstrated this Waterloo than  the photos  of the hag- gard dictator at his desk while the capo of the imf, arms akimbo, stands behind him, ultimatum symbolically in hand. What was he to do? The thinking  that led to Suhartoâs stepping  aside in 1998 could be formulated  in two quite  separate  ways. The ďŹrst is cultural. Suharto  had no oratorical gifts whatsoeverâalmost  always he scrupulously  droned  his way through  tedious,  statistic-ďŹlled, clichĂŠ- ridden  speeches  written for him,  in bureaucratic  Indonesian, by the State Secretariat. As John Roosa has pointed out, no one remembers a single phrase Suharto coined in thirty-three years in power. (Siad Barre? Franco?) Probably he did not even think in Indonesian, which he had had to acquire in his late teens. Occasionally, however, he would let his guard down, especially when he was furious. A few braver souls would mock his Indonesian for its Javanese accent, imported Javanese gram- mar  and Javanese moral  clichĂŠs. Once, enraged  by student  criticisms of one of his wifeâs more extravagant âprojectsâ, he blurted out that he would gebuk anyone  who dared  to criticize her. Gebuk is Javanese for ââbeat the hell out of someoneâ. On another occasion, privately address- ing the group of ambitious  toadies who ran his National Youth League, many  of them  non-Javanese, he astounded  his  listeners  with a long digression  about the mystical meanings of the names  for the letters in the Javanese alphabet (the State Secretariat made sure this curious rant was never published).  Late on in his dictatorship  Suharto was seduced into helping  an experienced journalist  ghost-write his autobiography. What blazes out from  the pages is burning resentmentâresentment of all those  who thought  he was stupid,  uneducated, a mystical nov- ice, manipulated by his aides, and so on. The central  motif is âI, and only I, decided everythingâ. But rancune led him uncharacteristically to claimâcorrectlyâthat in 1983 he had personally ordered the execution of several thousand small-time thugs.7 The book was barely out when Suharto had second thoughts  and ordered its recall, a rare case of a dic- tator banning  his own book.  .  In fact he was Javanese to the bone, secretly consulting shamans and astrologers, and visiting magically powerful caves, tombs and so on. In late 1997, shaken to his core by the ďŹnancial collapse, Suharto let it be known to the press that he was prepared to lèngsèr kaprabon  and become a pandito. The Javanese words are a kind of clichĂŠ drawn from the old Chronicles of Javanese kings and from the even older shadow-play reper- toire, based on the Mahabharata and Ramayana. Lèngsèr kaprabon can be translated as âabdicate the throneâ, while pandito means Great (Mystical) Sage. In effect, the Great King, in old age, passes the kingdom  to his successor and ends his days as a Revered Sage and Counsellor. This utter- ance was received with bitter mirth  among  his many young enemies, who believed not a word of it. In fact, he probably meant it, at least at that moment. For Suharto  here let slip what many had long suspected,  that in some moods he thought  of himself as a monarch,  and maybe really expected to play a key further role as the Wise Man of whatever-next
P.S:âExit Soeharto : Obituary for Mediocre Tyrantâ adalah tulisan oom ben sepanjang 32 Halaman yang ditulisnya ketika presiden Soeharto meninggal dunia. jika ada kawan-kawan membutuhkan tulisannya versi bahasa inggris, sila googling sendiri ato hubungi saja saya
MAKASSAR 12:51 AM , 27 AGUSTUS 2016 Â Â








