Setidaknya masih ada keringat yang bisa dibasuh. Masih pula ada air mata yang bisa diusap.
Masih ada lelah yang disyukuri. Masih ada hari esok untuk berjuang kembali.
Monterey Bay Aquarium

hello vonnie
taylor price

Origami Around
sheepfilms

shark vs the universe
🩵 avery cochrane 🩵
noise dept.

Kiana Khansmith
macklin celebrini has autism
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
🪼

blake kathryn

titsay
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle

#extradirty
wallacepolsom
seen from Ukraine
seen from France

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Russia

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Australia

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from Moldova
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Vietnam

seen from Vietnam
seen from Malaysia
@ruangsandar
Setidaknya masih ada keringat yang bisa dibasuh. Masih pula ada air mata yang bisa diusap.
Masih ada lelah yang disyukuri. Masih ada hari esok untuk berjuang kembali.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
sorry for coming into your life, I think I ruined it.
31.
Mau sampai kapan menutup diri? Bersembunyi dari balik sunyi, menepi dari riuhnya isi bumi.
Aku kepada aku, di derasnya rintik hujan.
Hujan, 10.52 | 7 Februari 2020.
tulislah :)
it's october, kamu hebat, dan kamu masih hidup. Kamu keren!!!
PS jangan bundir
"Gak usah bicara soal cinta, kamu gak akan ngerti."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Kesembilan: Ersa & Raya
Pipinya memerah, pandangnya terpaku, tangannya bergetar.
"Malam ini kamu cantik sekali." Ujarku
"Yang cantik itu kota ini, coba kamu lihat deh" Ia mengalihkan perbincangan.
Lalu ku kulihat sekelilingnya, dari kerlip bintang hingga sorot lampu peron jalanan, sein motor-motor yang berbelok, lalu suara klakson mobil, ada pria berdasi berjalan di trotoar pinggir jalan raya, ada wanita yang menunggu bis trans.
Kemudian ku lihat wajah Raya yang polos sedang menyeruput teh kesukaannya dalam cup plastik bening hingga bisa ku lihat tinggal seperempatnya lagi.
Ia adalah perempuan yang senang menjemput angin malam, senang melihat kerlip lampu jalan, melihat terang sinar rembulan, oleh karenanya wajahnya memancarkan keindahan malam, teduh, tapi mampu menyinari dengan penuh kasih sayang.
Ersa & Raya Eps. 9 | Kita tak hanya sekedar saling menggagumi, kita saling mencintai
Pada Akhirnya,
Pada akhirnya, setiap baris ceritaku masih saja berpagut tentangmu. Setiap marahku akan kembali lagi pada manjanya sikap-sikapmu.
Pada akhirnya, aku menemukan tempat pulangku, berupa rumah sederhana, penuh kenyaman dan kebahagiaan.
Pada akhirnya, semua rasa khawatirku masih saja berkutat denganmu. Suaramu, masih menjadi teman tidur favoritku, dan muara rinduku masih saja berada di dekatmu.
"Aku selalu memukul rata rindu dan luka menjadi satu kata, yaitu bahagia."
Munafik memang, tapi tak apa, asal itu denganmu, semuanya tak akan pernah sia-sia.
@badutcerdas — 5 Juli, 2020
Ternyata lelah tak berhenti di rumah, mereka tetap hadir di antara sela waktu yang pernah ku katakan telah punah.
Indah ya, setelah hujan reda, terhirup aroma-aroma tanah yang menguap ke udara, pelangi menampakkan wujudnya dalam bentuk paling sempurna. Lalu kita melihat para muda mudi saling memadu cinta di kursi-kursi taman pinggir kota, mereka saling beradu tatap, saling sentuh hidung, saling bergenggaman erat, ada yang sedang tersedu, tersipu malu, adajuga yang dirundung rindu.
Catatan Kedelapan: Ersa & Raya
Di matamu, ku lihat terang sinar rembulan yang menyejukkan.
Di pipimu, ku lihat tetes-tetes embun mengendap bagai memelukmu erat.
Di bibirmu, ku lihat kata paling indah yang pernah terucap.
Di keningmu, tertulis jelas namaku yang mengisyaratkan kamu milikku.
Pada raut wajahmu, hanya ada pandangku.
Pada lekuk tubuhmu, hanya ada pelukku.
Pada sela jarimu, hanya ada genggamku.
Pada langkahmu, hanya ada jejak-jejakku.
Tak akan ada orang lain lagi yang menyentuhmu, pandang dan telingamu hanya akan terkunci padaku. Tak akan ada suara bising knalpot atau sirine ambulance di jalan raya, hanya akan ada suaraku saja. Tak akan ada kerlip lampu peron kota di selasar ibu kota, hanya ada aku menatapmu penuh harap.
Ersa & Raya Eps. 8 | Menata malam di wajah cantikmu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Ketujuh: Ersa & Raya
Kami duduk berdua di sudut kamar, menerawang ke udara lewat jendela kedua dekat lemari warna coklat tua. Malam ini indah, setelah seharian diguyur hujan, kini awan-awan menyingkir dan langit menghadirkan pesonanya.
Seraya berkata pada Raya dengan suara yang sering dia olok-olok karena macam orang yang capek sebab beratnya mengeluarkan suara.
"Ra duduk di sini sebentar yuk. Sambil menikmati seduhan teh hangat dan biskuit-biskuit rasa coklat biar aku ceritakan bagaimana aku mulai menyukai terang sinar rembulan, kerlipan bintang malam, dan dirimu."
Lihatlah
Cobalah kau lihat terang lampu jalanan, ia tak pernah mengeluh untuk diacuhkan saat sinar matahari datang. Lihatlah daun-daun kering yang perlahan jatuh ke tanah, ia tak pernah takut untuk terjatuh karena tahu ada yang lapang untuk menerimanya.
Cobalah kau lihat tetes-tetes hujan yang menebar aroma kesejukkan, ia tak malu untuk berlinang. Lihatlah pelangi yang datang saat badai reda, ia indah meski tiba sesudah bencana.
Cobalah kau lihat wajahku, maka yang akan kau lihat adalah segala isi hatiku untukmu, sebab aku tak bisa menyembunyikan perasaanku padamu, aku tak bisa berpura-pura untuk tidak merindukanmu setiap hari, karena aku menyukaimu, karena aku jatuh hati padamu.
Ersa & Raya Eps. 7 | Lihat
Catatan Keenam: Ersa & Raya
Ra bila nanti kita bertemu, berjanjilah untuk menceritakan segalanya padaku, tentang bagaimana jalanmu mengarungi semesta, terbang melintasi jagat raya, hingga caramu mendaki gunung tertinggi di dunia. Ceritakan saja semuanya, apapun itu, karena aku senang, aku senang mendengarkanmu bicara.
Lalu aku akan memandangmu, akan memandangmu, akan terus memandangmu, karena ada kebahagiaan di setiap raut wajahmu. Teruslah begitu, jangan berhenti, aku masih ingin melihatmu. Maka, akan kusimpan potretmu kala ku melihatmu tersipu malu-malu. Aku ingin terus melihatmu.
Aku akan memperhatikan caramu tersenyum, caramu mengkerutkan dahi saat kamu kebingungan memilih menu. Aku akan mengabadikanmu pada puisi-puisi terindahku, pada catatan dari jurnal-jurnal terbaikku, karena aku jatuh cinta, aku jatuh cinta padamu, dalam diam, dalam hening, dalam sepi yang merasuk setiap hari, setiap waktu. Aku jatuh cinta padamu tanpa berkata, tanpa bicara, tanpa harus berisik.
Kini malam mulai menyerbu pupil mataku. Malam ini mari kita bertemu di mimpi yang sama, sebab di sana kamu tak perlu berkata tentang perasaanmu, karena aku tahu, aku tahu isi hatimu, dan biarkan mimpi menjadi tempat di mana giliranku berkata dengan leluasa bahwa aku mencintaimu, dan yang paling penting aku tak mengharapkannya untuk terbalaskan, tapi hanya memastikan bahwa cintaku padamu betul-betul tersampaikan.
Ersa & Raya Eps. 6 | Ceritakan segalanya
Selamat Tinggal Bandung
Selamat tinggal kota seribu kenang, penuh cerita bunga-bunga, hingga biru kelabunya dunia.
Selamat tinggal hangatnya pagi Cicadas, selamat tinggal kemacetan Jalan Ahmad Yani, selamat tinggal jingga petang kota kembang, selamat tinggal kerlip bintang dan sinar rembulan dari balkon lantai dua.
Selamat tinggal terang lampu jalanan, debu debu pinggir trotoar, beserta nyamannya taman-taman. Selamat tinggal tukang sate yang lewat setiap malam, hingga cuanki yang mangkal depan gang.
Selamat tinggal seribu satu kebahagiaan, bersama sejuta impian dan suka duka perjalanan.
Aku pamit, semoga ada waktu kembali bersua kembali dengan tempat-tempat terbaikmu. Ijinkan aku mengenangmu dalam setiap mimpi-mimpi indahku.
Catatan Kelima: Ersa & Raya
"Ra, bila nanti ada masa di mana sepi mulai merasuki hari-hariku, ijinkanlah ku sandarkan kepala ini di bahumu. Aku ingin memelukmu layaknya aku memilikimu seutuhnya."
Saat malam gelap menatap langit bersama, aku dan Raya seringkali mulai bergantian bercerita, tentang bagaimana masa depan akan tiba di depan mata, tentang bagaimana hidup bersama dengan tujuan yang sama.
Semoga, gelap dunia malam ini tak lekas dibasuh cahaya. Aku masih ingin menikmati indahnya terang rembulan bersamanya, aku masih ingin terduduk diam berdua sambil mengusap lembut rambutnya.
Ra, ijinkan aku memeluk tubuhmu, merekatkan genggamku pada kedua tanganmu, megusap lembut rambut hitammu, mengecup pelan keningmu, karena sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu pada setiap lekuk tubuhmu.
Maka ajaklah aku bercerita terus, tanpa jeda. Tetaplah bicara dan jangan berhenti, aku berjanji takkan pernah menyelamu, karena aku senang, aku senang mendengarkanmu bercerita, tentang apa saja, tentang segala hal.
Lalu pada setiap waktu luangku, aku akan menulismu, akan terus menulismu, mengabadikanmu pada setiap momen-momen indahku, pada setiap terang lampu jalanan, pada setiap debu-debu yang berterbangan, hingga pada setiap semerbak harum bunga-bunga yang bersinggungan.
Ersa & Raya Eps. 5 | Kamu abadi
Catatan Keempat: Ersa & Raya
Kita sedang berjalan menyusur selasar Ibu Kota, menjemput malam berteman jingga langit petang Jakarta. Awan-awannya bergerak ditiup angin, burung-burung gereja menari-nari melintas jalan raya, kupu-kupu putih berterbangan di taman-taman melingkar bunga-bunga merekah warna merah muda.
Aku menggenggam tangannya tepat sebelum lampu peron kota menyala menyambut malam. Angannya bersinar menyentuh raga, hatinya paling terang sejagat raya.
Ia berjalan melompat-lompat di sisi trotoar-trotoar jalan, tangannya merentang menjaga keseimbangan. Raya senang menari-nari di bawah lampu jalan, tubuh mungilnya melingkar-lingkar, kaki kecilnya berputar-putar, tarikan simpul di pipinya berbinar-binar.
Sesekali ia melihat ke belakang, ke arahku. Ia cemberut, ia tersenyum, ia mengajakku berlari, ia mengejarku, dan aku mencintainya. Aku mencintai cara ia mengisyaratkan bahwa ia mencintaiku pada setiap bahasa tubuhnya.
Kemudian ia mulai bercerita tentang rekaman memorinya saat kita pertama berjumpa, saat tiga tahun lalu bertemu dalam jumpa tanpa sapa. Ku bingkai ingatan paling indah yang pernah tercipta.
Raya sering mengoceh terlalu lama. Sampai malam tiba, ia terus bercerita sambil duduk di kursi taman berdua tentang bagaimana ia menyukai sentuhan angin yang menyejukkan, kerlipan bintang malam, dan seduhan teh yang menghangatkan.
Saat malam tiba dan gelap menyelimuti semesta, Raya seringkali hadir sebagai satu-satunya sinar yang menerangi dunia. Bila malam gelap dibasuh cahaya bulan, maka pelita itu bermuara di matanya, tatap mata Raya sering kali berbinar, berkelipan layaknya nyala bintang.
Ersa & Raya Eps. 4 | Rekam memori Raya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Ketiga: Ersa & Raya
Untukku, Raya adalah wujud nyata dari kata cukup. Ia menarik, tapi seringkali ia malu-malu, sering juga wajahnya memerah menahan malu. Ia menyejukkan, andai saja kalian bisa lihat senyumnya, senyum Raya adalah senyum paling indah sejagat raya. Ia lucu, seringkali ia bertingkah konyol seperti anak kecil. Raya adalah segalanya untukku, ia adalah duniaku.
Saat melihatnya rasa ini tak pernah berubah, masih tercetak jelas debar dalam dada yang menderu saat pandangan kita saling beradu. Sejak pertama berkenalan dengannya hingga saat ini sudah ada sepetak ruang di hatiku yang hanya untuk merindukannya setiap waktu.
Raya itu duniaku
Ia adalah apiku. Ia adalah lahar panas gunung berapiku, ia adalah bara dari arang-arangku. Ia adalah merahku, menyala di antara gelapku, menarikku, memelukku, menghangatkanku.
Ia adalah airku. Ia adalah rintik-rintik hujanku, ia adalah tetes-tetes embun pagiku. Ia adalah ombak samuderaku, menyapu pesisir bibir pantaiku. Ia adalah genangan danauku, ditumbuhi ikan-ikan bermadu asmara, tempat mereka beranak-pinak.
Ia adalah bumiku. Ia adalah tanahku, ia adalah kerikil-kerikil jalananku, ia adalah debuku. Ia adalah batu pijakanku, batang pohon sandaranku, memanjakanku, hingga menyejukkan hatiku.
Ia adalah langitku. Ia adalah putih awan-awanku, ia adalah burung-burung dara di antara birunya udara. Ia adalah biruku, ia adalah kelabuku, ia adalah hitamku, ia adalah jinggaku, memberi kesan di setiap hariku.
Ia adalah padang pasirku. Ia adalah panasnya udaraku, ia adalah hausnya dahagaku. Ia adalah butir-butir pasir Saharaku, ia adalah indah oasisku, ia adalah fatamorganaku, khayalan tingkat tinggiku.
Ia adalah bukit-bukit tinggiku. Ia adalah hijau rumputku, tumbuh dari tanah-tanah suburku. Ia adalah hutanku, pemberi kehidupan semua makhluk hidupku. Ia adalah gunung-gunung Himalayaku, menunggu didaki sampai puncak tertinggiku.
Ia adalah segalanya untukku
Ersa & Raya Eps. 3 | Raya adalah duniaku
Catatan Kedua: Ersa & Raya
Hari ini wajahnya pucat pasi. Bibirnya kelu, tak dipulas gincu warna merah lagi. Badannya lemas, tapi ia memaksakan berdiri di antara kakinya. Ia meneteskan air matanya, Raya menangis.
Hatinya hancur, berkeping, berserakan, tersapu angin. Angannya seketika rapuh tak menyatu lagi. Ia ditinggalkan kekasihnya.
Aku pergi, dan memang harus pergi, aku merantau ke kota sebelah. Keadaan memaksaku pergi, tak tega sebenarnya melihat Raya sendiri.
Di peron stasiun kota aku berpamitan, ia menamparku, ia memukulku dengan kepalan tangannya, lalu ia memelukku, tersedu-sedu, ia memohon untuk diberi satu jam lagi.
"Sejam lagi aja Sa, tolong sejam lagi aja, tolong Sa!"
Tapi waktu tak akan menungguku untuk satu jam lagi, aku terpaksa pamit melihat ia memeluk kedua lututnya di antara sela-sela jendela gerbong kereta kedua.
Aku tahu ia marah, ia kecewa. Melihat Raya dengan tetes air matanya, seperti melihat langit dengan tetes rintiknya. Oh, aku sungguh mencintainya.
Ku gantung bingkai potret paras senyum Raya di antara kedua jendela kamar indekosku, ia nampak tersenyum bersama masuknya cahaya jingga sang surya saat petang tiba. Tuhan, parasnya paling elok sedunia, senyumnya paling manis sejagat raya, nyaman sorot matanya paling memanjakan setata-surya. Sekali lagi, aku sungguh mencintainya.
Malam pertamaku sendiri di kota seberang terasa sepi. Tapi sepi pun sudah teramat mengerti bahwa durasi malam terlalu panjang untuk kunikmati sendiri, maka ia hadirkan kerinduan di antaranya. Malam ini aku rindu.
Kami pun bersua lewat suara, aku menelponnya di malam hari, sesaat sebelum ia terlelap, ku dengar suaranya tersedu nampak seperti sedang menahan tangis.
Di akhir kalimat perbincangan, akupun bertitip pesan padanya.
"Ra, pastikan malam ini aku hadir di setiap kerinduanmu. Aku ingin masuk ke mimpimu lewat sayup-sayup angin yang menyelinap di antara sela-sela jendela kamarmu.
Ra, malam ini aku rindu. Aku menyayangimu di antara kerlip bintang di langit malammu."
Ersa & Raya Eps. 2 | Pamit