yang kita khawatirkan
saya kira, setelah lewat fase quarter life crisis, tidak akan ada lagi yang saya khawatirkan. ternyata, kekhawatiran itu tidak pernah hilang, dia berganti bentuk.
dulu khawatir akan apakah saya bisa menyelesaikan skripsi, menjadi sarjana seperti harapan orang tua, sekarang khawatirnya apakah saya bisa memanfaatkan ilmu dengan sebaik-baiknya, tanpa menghakimi orang lain.
dulu khawatir akan siapa jodoh saya, kapan saya akan menikah, sekarang khawatirnya apakah saya bisa menjadi istri yang cukup melayani atau tidak.
dulu khawatir akan apakah saya akan merintis karier, memiliki penghasilan sendiri, sekarang khawatirnya apakah penghasilan yang adaโentah dari diri endiri atau dari suamiโbisa dikelola dengan berkah, bisa cukup memenuhi kebutuhan.
dulu khawatir akan apakah saya bisa menjadi ibu yang baik, bisa masak atau tidak, mau setrika baju atau tidak, sekarang khawatirnya bisakah saya memenuhi kebutuhan emosional anak saya.
dulu khawatir akan apakah saya bisa menjadi teman yang asyik, sekarang khawatirnya apakah saya bisa menjadi tetangga yang baik.
dulu khawatir akan apakah saya bisa membeli barang a b c d, bisa ke tempat e f g h, sekarang khawatirnya apakah pengeluaran itu cukup bermanfaat, apakah yang saya beli akan rusak.
ternyata kekhawatiran itu terus ada, hanya bentuknya saja yang berganti-ganti. saya pikir, justru kekhawatiran-lah yang membuat kita mau bergerak, berupaya, dan bertumbuh.
mungkin, yang perlu kita lakukan adalah mengganti kekhawatiran itu. berani melangkah, menjadi lebih dewasa. tentunya, sambil menyadari bahwa kita tidak sedang berkompetisi dengan siapa pun, kecuali dengan diri sendiri.
ternyata, kekhawatiran itu selalu ada. mungkin, yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kekhawatiran selanjutnya: dengan belajar, dengan bersabar.
ternyata, kekhawatiran itu selalu ada. mungkin, yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap rasa khawatir yang ada hari iniโdan tidak lari menghindarinya.
sepertiโฆ menikah yang tidak akan menyelesaikan masalah โmerasa kesepian dan tidak kuat sendiriโ jika kita belum bisa mengisi dan menguatkan diri.
sepertiโฆ berpenghasilan yang tidak akan menyelesaikan masalah merasa kekurangan jika kita belum bisa mengelola keuangan dan bersyukur.
jangan lari dari yang kita khawatirkan. kalahkan dia. sebab setelah itu, akan ada kekhawatiran lain yang menunggu untuk dikalahkan.

















