Seribu Harap di Seribu Parit
Judul diatas adalah judul artikel gue yang dimuat di Trubus edisi November 2017. Donât worry, it didnt same. I wonât tell you about coconut scientifically, just concerning in my journey.
Pertama kalinya- dengan izin Allah- gue menginjakkan kaki di Pulau Sumatera!!!
Bukan Padang, bukan Medan guys, tapi Riau.
Iâm so excited, walaupun saat menerima tugas ini gue sempat ragu, yang dalam perjalanannya semakin ragu hahaha.
Ragu, kata beberapa peserta tur serta bapak yang mengundang, daerah yang dikunjungi masih jauh dari Pekanbaru, sekitar 8 jam.
Kenyataannya, gue hampir 12 jam naik bis dari Pekanbaru ke Kab. Indragiri Hilir (Inhil) bersama pengusaha kelapa dari berbagai daerah. Sepanjang jalan kebun, parit, hutan, dan gelap.
Ada yang muda, ada yang tua. Ada yang mabok darat, ada yang tidur terus.
Kabupaten Indragiri Hilir dengan Ibu Kota Tembilahan adalah daerah dengan perkebunan kelapa terluas di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Provinsi Riau. Daerah ini terkenal dengan julukan âNegeri Seribu Paritâ karena daerah ini terdiri dari perairan, sungai, rawa-rawa, dan perkebunan kelapa yang dipisahkan oleh ribuan parit. Tak dipungkiri, kelapa menjadi harapan hidup Inhil.Â
Sesampainya di Inhil, malam pertama disambut makan malam dan sambutan dari Bupati Inhil. Makanannya enak, dengan bumbu khas Sumatera yakni pedas, asin, santan.
Selanjutnya gue menginap di hotel harmoni, kota Tembilahan.
Beruntungnya gue sekamar sama akhwat asli Inhil yang kerja di Dinas bencana, Pekanbaru, namanya Putri Adelia. Ia memberi penjelasan tentang kotanya. Gadis keturunan Banjar - Bugis itu menemani gue dalam 5 hari trip. Makasih Putri!
Mulai dari jaga stand di festival, hadir seminar kelapa internasional, makan nasi khas Inhil yang peraâ macam nasi padang gitu pakai tangan, susah tapi seru!
Minum 1000 kelapa serentak, mencicip 500 makanan berbahan dasar kelapa,
Kabur saat pertemuan bisnis, jajan es kelapa di pinggir sungai, melewati pemukiman penduduk yang rumahnya khas rumah daerah. Gue lihat perahu perahu kecil, namun ternyata muat membawa 5 motor untuk menyebrangi sungai ke daerah sebrang. MasyaAllah.
Kami kabur karena ruangannya memang tidak muat, sedangkan menurut pengusaha muda yang udah cees sama gue (wkwk) âIntinya sama saja rit. Nanti malam aja, ada lagi small meeting di aula hotel.â
Hari terakhir yakni kegiatan trip ke Pabrik Cocomas dan Tanjung Pidada. Disana banyak rumah khas lahan rawa atau lahan gambut yakni rumah tidak langsung menyentuh tanah tetapi ada kaki sebagai penyangga rumah. Puncaknya, seluruh peserta menghanyutkan 2500 kelapa ke sungai/parit.Â
Menjelang pulang, ada beberapa masalah transport . Namun, gue bersyukur mendapat tawaran pulang duluan naik travel (patungan) bersama 6 orang peserta yang kemudian berpisah di Pekanbaru.
Hanya tinggal bertiga, kami sempat sholat subuh di Masjid Agung Pekanbaru, masuk pasar pagi dan lewat alun-alun Pekanbaru, makan sate rusa bersama penggerak diet keto di Pekanbaru. Barulah siang hari gue pulang ke Jakarta.
Berkah dari liputan itu ialah salah satu foto gue terpilih jadi nominator juara LIPI bulan Desember 2017! Gue diundang makan malam ke LIPI Jakarta serta menemani 2 rekan gue yang juara artikel sains dan ngeliat foto gue dipajang. Alhamdulillah.
Gue inget seorang teman kuliah pernah berkata, âKalau sudah niat, maju! Ikhtiar, doa. Lihat hasilnya, lancar kan?âÂ