is family just a blood business?
siang ini aku deeptalk sama suami, itu pun gak disengaja. dia lagi break wfh, dan aku lagi belajar istilah-istilah dalam keuangan sampai tiba-tiba, randomly, aku inget masa lalu aku, dan aku cerita tentang sexual abuse yang pernah aku alamin dan tiba-tiba nyambung ke how my family treated me back then.
waktu itu aku kabur dari rumah karena mikir: mungkin semuanya bakal baik-baik aja kalo aku gak di rumah, bahkan mungkin semuanya bakal baik-baik aja kalo dari awal aku gak lahir.
i was kinda having suicidal thoughts but my husband (still boyfriend at the time) existed and he supported me for everything. dia gak pernah bujuk aku buat ngelakuin hal-hal negatif, termasuk kabur dari rumah, jadi pembangkang (because i was already rebel before i met him), atau apapun itu. keputusan aku semua adalah murni keputusan aku sendiri. jadi, suicidal thoughts itu alhamdulillah gak pernah kesampaian, tapi aku tetep menghilang dengan kabur.
waktu bapak meninggal, aku depresi. aku sudah bisa maafin bapak tapi bapak gak pernah sempat maafin aku, dan keluarga juga menyalahkan aku atas kematian bapak. kakakku nangis sesenggukan seolah dia adalah anak yang paling kehilangan.
aku adalah anak yang jarang menunjukkan emosi aku ke orang rumah, bahkan cenderung menutup diri. karena waktu aku menunjukkan emosi aku, orang rumah bakal marah, kesel, atau bahkan bilang, "gak usah deh sok-sokan menghakimi diri sendiri. kalau salah ya salah aja, gak usah cari empati." waktu aku ngadu bahwa ada yang abuse aku, aku malah dibilang murahan, padahal aku kira orang itu bisa dihukum, padahal aku kira keluarga aku bakal tolong aku.
kabar negatif tentang aku (yang gak benar) terdengar bahkan ke seluruh keluarga besar. aku bahkan pernah difitnah nikah siri sama kakak sendiri, dan apapun yang aku lakuin adalah salah dan kekanak-kanakan.
aku tanya suami, "wajar gak sih kalau aku kabur dari rumah? atau aku emang sebenernya salah?"
suami aku orang yang subjektif. kalau aku salah, dia pasti bilang aku salah, begitupun kalau aku bertindak terlalu jauh tentang sesuatu, entah itu tentang keluarganya, atau tentang keluarga aku. dan dia jawab, "kalau aku jadi kamu, kayaknya aku udah bunuh diri sih."
waktu itu mereka gak pernah cari aku.
rasanya aku kepingin cut off diri sendiri.
i take a look back, apa yang sebenernya aku lakuin sampai keluarga aku sendiri memperlakukan aku kayak gitu. apa ada dendam? apa mereka marah tentang sesuatu yang aku lupa? but instead i found that they treated me badly even when i was a little kid.
waktu itu, kalau gak salah aku masih kelas 3 SD. keluarga aku masih rutin lebaran bareng sama keluarganya temen mamaku. kami berangkat ke sumedang, bapak waktu itu punya mobil VW kombi. aku di kursi tengah, duduk sama 2 kakakku. waktu itu karena aku masih kecil, aku gak bisa diem, cicirihilan, istilahnya kalau dalam bahasa sunda. yah, anak-anak yang lagi seneng banget karena diajak jalan-jalan pada umumnya lah, ya. waktu kami sampai di sana, orangtuaku turun duluan. sambil cari sepatu, tanganku ditarik kakakku dan aku dibentak, "kamu centil banget, sih! bisa diem gak?!" aku lupa setelah itu kejadiannya apa atau respon aku apa. tapi hal-hal kayak gitu dan sejenisnya masih aku inget sampai sekarang karena berbekas.
mungkin aku yang salah. karena usia kami terpaut sangat jauh, (bahkan dari kakak terakhirku, beda usia kami 11 tahun), mungkin mereka gak nyangka bakal punya adik baru. mungkin sebelum si "adik baru" muncul, mereka sudah sempurna dan bahagia. mungkin aku mengacaukan semuanya.
aku gak pernah minta dilahirkan, tapi kalau bisa balik lagi ke jaman dulu, aku berharap banget mamaku menggugurkan aku waktu dulu. maaf karena aku mengacaukan semuanya.
my family is better off without me.