Di atas langit Rumania, mata yang tajam seperti elang terpejam dengan tidak akan pernah kembali melihat, suara lantang yang berteriak membela keadilan tidak akan pernah kembali bersuara, meninggalkan negeri yang amat dicintai dengan serangkaian konspirasi yang panjang dan melibatkan banyak orang.
Seorang pria berdarah Arab yang begitu vokal mengkritik pemerintahan dan berjuang membela HAM, dipaksa bungkam. Saat itu, tanggal 7 September 2004, Indonesia kehilangan seorang aktivis yang sangat berjasa bagi orang banyak. Munir, begitu orang-orang menyapa namanya, adalah sesosok laki-laki yang berbadan kurus dengan nyali besar yang tersimpan di jiwanya.
Bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia merupakan awal kiprahnya di Jakarta . Banyak kasus yang beliau tangani, seperti kasus kerusuhan di berbagai daerah, mempersoalkan kembali pembunuhan massal di Tanjung Priok, Jakarta, pada 1984 dan yang menjadi sorotan media nasional dan internasional adalah kasus penculikan aktivis dan mahasiswa pada 1998 yang ia tangani.
Pada awalnya ada seorang ibu dari korban penculikan -yang hingga kini belum ditemukan – datang kepada Munir mengeluhkan bahwa tidak ada lembaga yang mengurusi korban penculikan yang hilang. Berdasarkan keluhan tersebut, Munir membentuk lembaga khusus untuk mengurusi kasus penculikan yang dinamai Kontras. Lembaga yang namanya merupakan akronim dari “Kontra Soeharto” ini berada di bawah payung YLBHI. Semangat Munir semakin menggebu ketika lembaga itu didirikan.
Semakin Munir bersemangat, para petinggi militer semakin gerah oleh tindak-tanduk Munir. Hingga akhirnya ia dibungkam dengan arsenik yang melebihi dosis kekebalan tubuh manusia. Pollycarpus Budihari Priyanto menjadi orang yang melancarkan pembunuhan dengan hukuman penjara selama 14 tahun. Hingga saat ini kasus pembunuhan Munir pun menjadi tanda tanya besar siapa dalang dibalik kejahatan itu. Hukum seolah tumpul. Membiarkan otak dibalik kasus itu berkeliaran dengan bebasnya.
Tidak hanya itu, saksi-saksi kunci dalam kasus itu pun tewas secara tidak wajar. Bahkan sebelum tewas, mereka diancam dan diteror oleh seseorang yang mungkin adalah dalang dari bungkamnya aktivis Munir.
Sungguh ironi ketika lapisan hukum tidak dapat menyelesaikan kasus tersebut. Ketidakadilan seakan menghampiri mereka yang berjuang membela hak asasi manusia dan kebenaran. Dan kekuasaan serta amanah yang dipercayakan oleh rakyat disalahgunakan oleh mereka yang serakah. Mereka yang hanya memikirkan perut mereka sendiri tanpa memikirkan banyaknya perut kosong yang seharusnya mendapatkan hak untuk diisi.
Begitu kah cara penguasa berkedok pemimpin menyembunyikan kejahatannya? Dengan membungkam kebenaran diatas rasa ketakutan? Lalu merendahkan diri sendiri dengan menjalankan cara yang kotor?
Sebelas tahun yang lalu segelintir orang mengibarkan bendera karena merasa telah memenangkan pertarungan. Merasa puas karena kekuasaan yang mereka punya dapat membungkam siapa saja yang dirasa menganggunya. Hingga waktu terus berjalan, para penguasa mencuri, membuat tameng lalu berusaha melindungi diri sendiri dengan cara apapun.
Begitu pula dengan apa yang terjadi di tahun ini. Hukum menjadi dilema tatkala dua lembaga penting terjerat hukum atas dugaan tindak kejahatan yang mereka lakukan. Menjadi polemik yang cukup membuat rakyat gusar karena aksi “Balas Dendam” dilakukan guna mempertahankan posisi masing-masing.
Menimbulkan persepsi serta opini yang sangat beragam di kalangan masyarakat. Dan kini opini publik tertuju pada satu lembaga yang menangani korupsi yaitu KPK. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan mendukung #SaveKPK demi bebasnya Indonesia dari korupsi. Beberapa pemimpin KPK dilaporkan dengan masing-masing kasus di masa lampau. Pun dengan rekening gendut yang dimiliki oleh Komisaris Jenderal Budi Gunawan yang kabarnya menyeret 10 nama petinggi Polri. Serta polemik mengenai pencalonan Kapolri yang kini masih menunggu keputusan Presiden.
Entah kejahatan yang dilakukan oleh para komisaris KPK ini memang terbukti benar atau tidak, rakyat masih menunggu perkembangannya kasus ini. Kami berharap masalah itu dapat cepat selesai sesuai dengan prosedur, dan kami sangat menginginkan orang-orang bersih yang berada di dua lembaga itu.
Korupsi, yang mencuri uang rakyat dan pembungkaman yang berupa teror, pembunuhan yang merampas hak hidup seseorang merupakan watak koruptif kekuasaan. “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa”, dikutip dalam buku Goenawan Mohammad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi.
Melawan lupa pada tindak-tanduk penguasa negeri yang pernah melukai pemegang kekuasaan terbesar di negeri ini, rakyat. Terutama kejahatan korupsi di berbagai sektor. Betapa akan sangat bermanfaat ketika uang yang dikorupsi itu digunakan untuk membantu rakyat kecil yang memang pada hakikatnya memiliki hak dilindungi oleh negara.
Hal-hal tersebut membuat kepercayaan rakyat akan pemerintahan menjadi luntur. Tak hanya itu, tidak sedikit rakyat yang menjadi apatis terhadap politik. Ulah para pelaku politiklah yang menyebabkan politik menjadi pembicaraan berat dan sering kali dihindari. Terutama bagi para generasi muda yang nantinya akan menggantikan posisi mereka untuk mempertahankan negeri ini.
Masih ingat dengan tahun 1998? Masih tergambar jelas bagaimana perjuangan mahasiswa membela kebenaran atas nama rakyat?
Betapa pelik perjuangan mereka untuk mewujudkan reformasi. Dihantam, diculik, dipenjara tidak membuat mereka menyerah. Rasa nasionalisme mereka tumbuh bersama mereka yang berjuang memerdekakan Indonesia. Air mata, darah, dan nyawa mereka berikan untuk bangsa ini. Sudah sepatutnya generasi muda untuk tidak apatis terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Juga menjadi generasi yang cinta tanah air dengan segenap hati dan tidak menjadi generasi yang memiliki watak koruptif. Semoga generasi muda saat ini bisa lebih mensyukuri apa yang sudah diperjuangkan oleh para terdahulunya dan meneruskan perjuangan mereka.
Karena mereka yang berjuang membela kebenaran atas dasar kemanusiaan dan kepedulian mereka terhadap negara mungkin akan sela lu dalam bahaya, karena kapan saja mereka bisa diancam dan dibungkam. Tetapi mereka yang mencoba berusaha membungkam juga akan selalu dalam bahaya, karena kami memilih untuk terus berjuang membela kebenaran, sekali pun dalam bahaya.