Annual Writing Self-Evaluation 2025
Seperti namanya, Annual Writing Self-Evaluation adalah bentuk evaluasi untuk tulisan-tulisan yang saya buat dalam satu tahun. Di sini saya bisa bangga, menyesal, sedih, kecewa, atau mungkin lega karena setidaknya---setidaknya---saya tetap menulis juga, dalam berbagai macam bentuknya.
Anyway! Evaluasi ini sudah saya lakukan sejak 2017, dan bisa dibaca di sini ya: 2017 / 2018 / 2019 / 2020 / 2021 / 2022 / 2023 / 2024
Baiklah, mari kita mulai.
List of Works Published This Year (Oldest-Latest)
Dalam Dirimu Nyala Mata Rakyat
Kala Inggris Hilang dari Dunia
Di Tengah Ketidaksempatan
Bagai Kelana Lebah Pekerja
Teruntuk Pemeluk Rubah Gurun
Lebih banyak dari tahun lalu yang (jeleknya) cuma 5.
Saya bangga sama ke-9 tulisan ini karena tumben-tumbennya saya menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memilih judul. Judul termasuk yang saya pertimbangkan matang-matang, dan bahkan bisa berpengaruh dalam perubahan jalan cerita biar judulnya cocok. (Ekstrem betul.)
Work You Are Most Proud (And Why?)
Saya bangga dengan, "Untukmu, Batavia," walaupun ada bentuk validasi dari luar: karena cerpen itu dapat penghargaan Best Factual Research. Soalnya, saya sebetulnya sudah lama pengin dapat penghargaan ini. T_T
Sejauh ini, yang selalu saya terima tuh penghargaan-penghargaan lain, entah itu Alternative Universe-lah, Adventure-lah, Hurt/Comfort-lah, bahkan sampai saya pernah dapat Crime/Mystery. Bukannya saya nggak senang (saya SENENG BANGET!), tapi sebetulnya tulisan-tulisan kesukaan saya itu yang berat di riset. Jadi ketika saya dapat penghargaan-penghargaan itu dan malah nggak dapat Factual Research, saya sempat berpikir, "Apa 'riset' itu sebaiknya nggak jadi komponen utama dalam tulisan saya ya, tapi diselipkan sebagai pendukung untuk genre lainnya aja?" Eh, dan ternyata kecantol juga Factual Research ini! Super bahagia.
Semangat yang saya bawa dalam tulisan, "Untukmu, Batavia," ini cuma pengin bilang, "Jakarta bukan untuk semua orang," ahahahah XD Saya selalu kagum sama orang-orang yang bekerja di Jakarta. Mungkin ini terlalu depresif sih, karena kemakan dengan nuansa "Jakarta keras," yang banyak bertebaran di media sosial. Di satu sisi, saya percaya kalau pasti ada orang-orang yang berpikir bahwa realitasnya nggak seburuk itu. Tapi di sisi lain, saya tetap pengin meneriakkannya aja. Jadi saya tarik garis sampai ke tahun 1860 ketika seorang Belanda bilang, "Batavia bukan untuk semua orang," karena dia dijangkit malaria begitu tiba. Seolah-olah kalimat itu bahkan valid 165 tahun yang lalu. XD
Work You Are Least Proud (And Why?)
Hmm. Saya nggak suka, "Bagai Kelana Lebah Pekerja," karena ... untuk sebuah tulisan pendek yang sekali-baca-lalu-tamat, saya TERLALU BANYAK pengin menyampaikan sesuatu. Di balik tulisan itu, dalam prosesnya saya pengin menghadiahkan tulisan itu untuk ulang tahun sahabat saya, jadi saya memang pengin menyelesaikan tulisan itu sebaik-baiknya. Hasilnya ... terlalu banyak yang ingin saya katakan, terlalu banyak cabang, terlalu banyak hal baru, sehingga, jadi sulit fokus.
Dalam tulisan itu, ada cerita tentang (a) rutinitas lebah pekerja, dan (b) pekerjaan peternak lebah, yang jadi judulnya. Saya menulis itu dari pengalaman saya main ke peternakan lebah---belum sempat saya ceritakan di sini. Harusnya, kalau mau pakai topik itu, konfliknya sederhana saja, genre-nya pun sederhana. Tapi, bodohnya adalah saya malah pakai karakter seseorang yang menyimpan dendam, seseorang yang punya trauma, bahkan ada konflik yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu sebelum latar waktu cerita ini ... T_T
Jadi, cerita ini tuh, dari awal udah "berat banget," DAN pembaca masih harus belajar soal lebah pekerja karena nanti resolusi konfliknya diambil dari analogi rutinitas lebah pekerja ini. MALES BANGET, KAN! Kebanyakan! Kepala jadi berasap. Saya bahkan males baca ulang. Sedih sih, karena apa yang saya susun dengan baik malah jadinya berceceran.
Favorite Excerpt(s) From Your Writing
(Sama seperti tahun lalu, semua nama akan kuganti jadi Makcik & Krosboi untuk melindungi privasi tiap-tiap tokohnya.)
Ke mana pun aku, hanya ada aku dan kemarahanku. [Di Tengah Ketidaksempatan]
Krosboi bermimpi menjadi sendirian, lagi, sebagaimana hadirnya ia pada sebelum semua orang. [Sejak Sebelum Dunia]
Aku ada di mana-mana, Makcik. Di setiap perlawanan yang kamu hadapi melawan kami, aku ada di sana. [Dalam Dirimu Nyala Mata Rakyat]
Share or Describe Favorite Comment(s) You Received
Pada akhir tahun 2025, saya berkenalan dengan seorang pembaca yang telah mengenali saya 10 tahun yang lalu. Mengutip kata-katanya, "Saya sebenarnya fans kamu 10 tahun yang lalu, kala kamu menulis soal [piiip], soal [piiip], terus yang [piiip], [piip], dan banyak [piiip]. Salah satu yang membekas, selain yang [piiip] itu adalah waktu [piiip]. Anehnya, walaupun sudah 10 tahun, saya tetap ingat alurnya karena tulisan kamu semembekas itu. Intinya, terima kasih sudah menulis."
Bayangkan, 10 tahun yang lalu. Waktu 2015-an. Dia bisa mengingat judul-judul tulisannya, bahkan bisa menyebutkan scene yang berkesan bagi dia.
Waktu saya baca pesannya, saya sampai diam lama banget, sambil merenung. Oh, ternyata begini ya, rasanya, betapa tulisan-tulisan kita tuh tersampaikan ke pembaca, saya batin gitu. :') Setelah itu, akhirnya kami berteman baik SAMPAI HARI INI! Dan semoga sampai seterusnya. Sejujurnya, saya jamin nggak akan cuma di tahun ini aja, tapi saya akan mengenang komentar ini seumur hidup saya. Setiap kali saya baca komentarnya, saya pasti semangat lagi!
Scene(s) or Character(s) You Wrote That Suprised You
Waktu saya nulis "Sejak Sebelum Dunia," saya nggak tahu akan dibawa ke mana ceritanya. Bukan pertama kalinya sih, saya menyerahkan alur pada karakternya. Tapi, siapa sangka kemudian ada bunuh-bunuhan di bawah laut? Nggak ada. Saya pun nggak menyangka. Jangan tanya saya. T_T
How Did You Grow Up As A Writer This Year?
Hampir semua tulisan saya ini saya dedikasikan kepada seseorang. Entah itu ulang tahun atau bentuk terima kasih. Rasanya, saya jadi sadar aja di tahun ini, kalau semangat menulis saya tuh nggak pernah tunggal dari diri saya sendiri, tapi juga ada orang-orang di sekitar saya yang menyemangati untuk terus menulis.
How Did You Hope To Grow Next Year?
Pada 30 Hari Bercerita, saya sudah mulai mengenali karakter utama novel saya secara utuh, Ayudisa, namanya. Jadi, saya harap saya bisa mulai menghadirkan dia dengan lebih baik di draf novel saya yang entah keberapa ini.
Who Was Your Greatest Positive Influence This Year As A Writer (Could Be Another Writer Or Beta Or Cheerleader Or Muse Or Etc)?
Ada seorang penulis yang bukunya sudah saya baca sejak kecil, dan baru hari ini, saya menyimak TEDTalk-nya, dan dia bilang, "Menulis adalah komitmen terpanjang saya." Rasanya saya sepakat. Saya kagum karena dia terus konsisten menulis, dan saya juga mau kayak gitu. Dengan segala bentuknya.
Anything From Your Real Life Show Up In Your Writing This Year
"Bagai Kelana Lebah Pekerja," sebagaimana yang sudah saya ceritakan sebelumnya, itu diambil dari pengalaman saya berkunjung ke peternakan lebah.
"Selama Usia Matahari," di dalamnya ada karakter yang pengin masuk jurusan Sastra, dan salah satu semangatnya tuh sebetulnya adalah semangat saya selama kuliah.
Any Wisdom You Can Share With Other Writers?
Hmm. Baca kata wisdom jadi keingat ini.
Tahun ini saya menamatkan Attack on Titan, dan saya baru benar-benar paham apa pentingnya motif tokoh utama dalam menggerakkan cerita. Saya suka dengar tips menulis bahwa tokoh utama itu harus punya motivasi, entah itu kebutuhan psikologis, rasa aman, cinta, aktualisasi diri, dan lain-lain, yang di awal cerita itu sedang tidak dia miliki. Nantinya, dia akan menghabiskan hari sepanjang cerita berjalan, untuk menemukannya, atau untuk nggak menemukannya.
Di Attack on Titan tuh saya baru sadar betapa motif tokoh utama ini penting banget. Mungkin karena saya nontonnya maraton ya, jadi saya mudah nangkap (dan kagum dengan) banyaknya tiap bagian cerita yang saling nyambung, dan semuanya itu bermuara pada (lagi-lagi) motif tokoh utama. Menurut saya ini keren banget huhuhu.
Any Projects You’re Looking Forward To Starting (Or Finishing) In The New Year?
Ah. Sebetulnya saya pengin bikin novel. T_T Tapi keinginan itu lagi nggak menggebu-gebu sekarang. Mungkin, saya pengin tetap menulis saja. T_T Tapi kalau bisa kelarin novel mah, boleh banget.
Yogyakarta, 14 Maret 2026 pukul 13.36 WIB.