Tentang ruangan ber-AC, dan manusia yang dikata cocok di dalamnya.
Ada dua kesempatan ketika seseorang berkata begini kepada saya, "Kamu cocok di AC, ya." Yang mana fakta yang mana asumsi saja, saya nggak tahu. Saya cuma diam saja (di kedua kesempatan itu), dan menjalani hidup, tapi ya kepikiran juga.
Iya po?
Kalau manusia di dunia dikategorisasikan hanya pada antara cocok AC dan tidak cocok AC, tanpa memasukkan aspek budaya, lingkungan, tempatnya bertumbuh, gender, dan lain-lain, maka bukankah sebuah "kesimpulan" demikian itu melewatkan banyak hal dalam prosesnya?
Saya suka jawaban panjang saat menjawab soal matematika. Setiap siswa diminta untuk menuliskan diketahui, ditanya, jawab setelah membaca soal yang diberikan. Ada sebuah soal mata pelajaran Matematika di SD, yang saya tentu saja sudah lupa soalnya kayak gimana, tapi saya cuma bisa nulis diketahui dan ditanya saja HAHAHA, dan saya tetap dapat nilai padahal saya nggak jawab apa-apa. Ada apresiasi dalam prosesnya.
jadi seharusnya, sebelum seseorang mau menyimpulkan apakah saya cocok di ruangan ber-AC atau tidak, seharusnya mengenal saya lebih jauh dulu.
Akhir-akhir ini, saya baru sadar bahwa saya lebih dekat dengan brainstorming outloud daripada silent brainstorming. Kalau saya punya sebuah rencana atau mimpi, saya pengin membaginya kepada seseorang. Ya, padahal baru berencana saja. Tapi nggak apa-apa. Selama ini, saya tumbuh dengan kenyamanan itu. Yaelah dulu saya sampai ngabis-ngabisin salah satu stabilo kuning paling pertama saya untuk saya tulis gede-gede "SMP X", "SMA Y", "Kampus Z" di setiap halaman buku catetan SD saya kayak bikin watermark gitu lo, itu kurang "berteriak" apa?
Karena saya lebih menyukai proses daripada hasil, saya seringkali nggak peduli pada apa yang akan terjadi nantinya, yang penting saya terus berusaha. Yang penting saya nggak kehilangan diri saya. Yang penting saya masih melakukan hal-hal yang saya suka. Ini yang masih membuat saya harus belajar banyak, karena ada kalanya saya melewatkan kesempatan atau menolak ajakan karena terlalu takut dengan apa yang akan terjadi dalam prosesnya, padahal ya belum memulai apa pun.
Sejak masuk SMA yang bukan SMA impian yang saya tulis jadi watermark buku catatan, saya hanya berani berbagi ke orang-orang terdekat saya saja. Sekalipun saya terlalu terluka untuk kembali sanggup nulis mimpi di tembok atau buku catatan, tapi ya bagaimanapun juga, itu tetap berbagi. Terus kalau dikata, "Kamu kok nggak pernah bikin rencana selanjutnya mau ngapain?" oleh seseorang dengan kriteria salah satu dari dua ini: (a) tidak cukup dekat yang saya bisa berbagi dengan nyaman, atau (b) cukup dekat yang saya bisa berbagi dengan nyaman tapi kok nanyanya di tempat terbuka yang ada orang lain dalam kategori (a), saya kan, jadi bingung jawabnya gimana. Akhirnya saya diam saja.
Ada orang-orang yang saya sangat peduli pada bagaimana pendapatnya terhadap saya, sampai-sampai saya mau memakan energi untuk melakukan klarifikasi. Atau menjelaskan sesuatu tentang diri saya, bahkan setrivial apa pun itu. Seperti kenapa saya pesennya selalu minum panas atau, ya, kenapa saya seolah-olah tahan di AC. Bahkan walaupun klarifikasinya sesederhana bilang: enggak kok, gitu. Enggak kok, saya nggak cocok di ruangan ber-AC. Penginnya bilang begitu.
Tapi saya masih punya PR untuk melawan kekhawatiran yang tahu-tahu muncul, "Hei, bukankah kamu berbagi terlalu banyak?"
Minggu ini, saya menjalani 3x swab karena saya menyanggupi sebuah pekerjaan (singkatnya, freelancer) untuk menjadi notulis dari rangkaian kegiatan yang lokasinya di hotel. Seluruh peserta harus swab sebelum-sesudah kegiatan. Bonus yang menyenangkan adalah, satu kamar hanya untuk satu orang(!). <3
"Bonus" yang nggak menyenangkan adalah, saya di ruangan AC terus-terusan. Karena pelatihannya di ruangan semacam aula, dan (tentu saja) ber-AC. Saya duduk menjauh dari AC tapi ya tetep saja kan, dingin. Di hari pertama saya pakai jaket, tapi jaket saya ketebelen dan saya ditempatkan di situasi serbasalah kalau pakai jaket sumuk kalau lepas dingin, kayak mau masak mi instan (kalau satu sedikit, kalau dua kebanyakan). Alhasil hari kedua dan ketiga enggak.
Entah kenapa, ruangan ber-AC bikin saya lupa kalau saya haus. Saya nggak mau saya lupa karena saya pengin suka minum air putih banyak-banyak.
Lalu, ruangan AC bikin saya---tentu saja---kedinginan. Saya ingat ketika SMP, ruang kelas saya ada AC-nya. Saya dan teman saya sampai selimutan jaket karena dingin poooooolll yaallah, tangan saya sampai putih, sampai harus digosok-gosok padahal harus nulis. Sudah begitu, siang-siang panas di perjalanan pulang.
Saya lupa apa yang membuat akhirnya saya nggak jaketan lagi di ruangan AC, tapi, mungkin, itu karena saya terbiasa.
Kata Antichthon (2016), kelebihan manusia adalah bisa terbiasa.
Jadi, jawabannya?
Satu yang saya tahu, saya pengin jalan-jalan. Kecuali ada AC berjalan/portable di masa depan, perkataan saya ini tidak bisa dibantah: saya tidak cocok di ruangan ber-AC, karena saya ingin saya suka jalan-jalan. Kesan yang ditangkap soal saya cocok di AC berarti mengabaikan keinginan saya ini. Soalnya, kalau jalan-jalan, saya tidak bisa ada di ruangan ber-AC.
6 Februari 2022. Tertambat di draft.
Saya ingat, dulu saya tidak mau post ini karena GAK JELAS, NGAPAIN NGOMONGIN AC. XD Tapi sekarang, saat saya baca ulang, kesannya lucu. XD Apalagi, empat bulan setelah tulisan ini jadi (Juli 2022), saya diterima jadi pegawai tetap di kantor yang mengharuskan saya selalu di ruangan ber-AC, dan sekarang jadi dipaksa terbiasa sampai-sampai di suhu ruangan pun saya merasa kepanasan. Hayo, jadinya suka AC atau enggak? Apakah ini akan diklarifikasi suatu hari nanti? XD














