Throwback
Aku tak tahu apa yang sesungguhnya sedang ada di dalam fikiranku kini mengenai masa depanku kelak.
Jika aku kembali mengingat masa itu, pada saat awal SNMPTN aku memilih masuk ke kedokteran hanya karena aku lebih menyukai biologi dan sangat tidak menyukai kimia apalagi fisika. Dengan upaya yang cukup gigih, akhirnya aku dimudahkan olehNya untuk menjadi mahasiswi FK UNPAD.
Awal masuk dunia perkuliahan, aku sangat tertarik untuk menjadi seorang aktivis yang banyak menjalin relasi kesana kemari, hingga membuatku menjadi anggota di divisi Hubungan Luar BEM FK dan aktif di dalamnya. Tapi, jauh sebelum itu, aku ditemukan dengan sepasang teman bernama Charles dan Suhe yang sangat aktif dan ambisius di dunia penelitian, dan aku ingat betul mereka bertanya padaku di tangga turun C4 setelah pulang Mabim "Bung, lo nanti mau ikut organisasi apa?", terus aku jawab "ya BEM lahhh... kalo lo apa?". Terus mereka bilang "kita sih fix mau daftar SRC, lo ga tertarik?". Terus aku jawab "ga ah, males banget gue kalo sama yang research2 gitu... ngebosenin, ga asik". Tapi kemudian selang beberapa waktu, ada pengumuman kalo mahasiswa baru harus ikut lomba menulis PKM-GT tingkat fakultas yang diadakan oleh SRC. Terus yaudah kan aku ikutan aja dan waktu itu ide aku adalah bikin permen yang bisa menurunkan obesitas, dan pembimbing aku bilang "pokoknya kalo sampe kamu juara, kamu harus produksi permennya dan saya akan jadi konsumen pertama". Dan ternyata aku dapet juara 1 *bangga*, ya walaupun sampe sekarang permennya gapernah aku produksi sih, mager... wkwkwk
Nah, gara gara dapet juara itu, aku selalu dihipnotis kang Todia sama kang Aang buat masuk SRC dan dijejelin cerita2 menarik tentang dunia penelitian. Hingga akhirnya, *karena aku memang sangat mudah tergoda dengan rayuan* aku mendaftarkan diri juga buat masuk SRC dan mengikuti pendas nya sampai akhir.
Setelah aku masuk SRC, aku jadi "ketagihan" sama dunia penelitian dan aku justru lebih aktif di SRC daripada di BEM, dan pada akhirnya aku mengundurkan diri dari BEM di tengah jalan untuk aktif dan fokus di SRC. *Well, sebenernya aku aktif juga di SCORE CIMSA (organisasi yang berbasis research exchange -- yang notabenenya memang tentang dunia penelitian juga), tapi ini bukan topik utamanya wkwkwk*
Jadi pada tahun kedua dalam masa kuliahku, aku aktif di SRC dan SCORE CIMSA. Sebagai aktivis, aku selalu berputar otak bagaimana caranya supaya aku bisa memajukan penelitian di FK UNPAD dan menggabungkan SRC dan SCORE CIMSA yang konon katanya berselisih dari tahun-tahun sebelumnya. Dan jawabannya adalah aku menjadi ketua SCORE CIMSA dan Charles/Suhe jadi Ketua SRC *ya walaupun pada saat itu aku masih berkeinginan untuk jadi ketua SRC karena aku lebih cinta, tapi aku akhirnya mengalah karena aku satu2nya penerus dan pembenah SCORE CIMSA pada saat itu*. Okey, dan rencanaku berhasil, yes! Aku jadi ketua SCORE CIMSA dan Charles jadi ketua SRC, dengan Suhe sebagai wakil ketua bidang akademik dan aku sebagai wakil ketua di bidang kekeluargaannya *emang ya dari dulu aku maruk jabatan banget wkwkwk*. Dan sejak saat itu aku merasa punya dunia baru, keluarga baru, yang sampai saat ini masih menjadi teman terbaik ku : BIAN6LALA *sebuah genk yang terdiri dari 10 manusia absurd yang kalo di luar kalem2 aja tapi kalo udh kumpul pada liar semua wkwkwk*. Selain aku, Charles, Suhe, ada juga Hanum, Maryam, Alifa, Vera, Chibi, Wawan, Ocan. I still loving them till now :"
Okey, karena aku adalah tipe orang yang akan mencintai sesuatu ketika lingkungannya membuatku nyaman, akhirnya sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi Peneliti sejati. Aku jadi sering nulis esai ilmiah buat lomba lomba, yang hingga akhirnya berkat sertifikat juara lomba lomba itu, aku bisa jadi Mawapres 2 Unpad dan membuatku makin makin lagi cinta sama dunia penelitian. Bahkan dulu aku sampai berfikir aku tidak akan melanjutkan koas, betapa inginnya aku langsung melanjutkan S2 dan S3 hingga mendapat gelar Profesor.
Tapi apa daya, pembimbingku, dr. Intan, selalu mengingatkanku tentang apa harapan orang tua ku terhadap masa depanku. Ya, orang tua ku membiayaiku kuliah di FK ya supaya aku menjadi dokter, dan aku tidak akan bisa jadi dokter jika aku tidak ikut koas. Akhirnya aku putuskan untuk menyelesaikan koas dan di sumpah untuk menjadi dokter yang akan mengabdi sepenuh jiwa untuk masyarakat.
Karena selama masa koas aku tidak menyentuh dunia penelitian sedikitpun, aku menjadi rindu terhadap penelitian dan tepat juga aku mendapatkan tawaran untuk menjadi asisten penelitian di departemen mikrobiologi dan juga menjadi penulis buku di bidang biomolekuler. Tapi sayang, ternyata keputusan yang aku ambil itu justru membuatku menjadi jengah dan enggan masuk lagi ke dunia penelitian. Entah karena bosan, atau karena ada suatu peristiwa traumatik saja di dalamnya. *dan fyi, selama 6 bulan menjadi asisten penelitian, tak ada sedikitpun uang yang aku dapatkan karena betapa terbatasnya dana yang dialirkan untuk penelitian dan pengalaman baru yang aku dapatkan pun tak sebanding dengan lelah yang aku rasakan -- mungkin ini yang membuat aku jengah dengan dunia penelitian*. Tapi setidaknya dari pengalamanku menjadi asisten penelitian, aku jadi tau betapa bokbroknya dunia penelitian di Indonesia. Anggaran penelitian di Indonesia itu sangat minim, jadi bagaimana negeri ini bisa berkembang? Dan bagaimana bisa peneliti di Indonesia bisa sejahtera seperti negara lainnya? Itu juga mungkin yang membuat aku sedih dan tak ada semangat lagi untuk menjadi peneliti.
Hingga akhirnya aku mulai ambil tawaran jaga klinik untuk pertama kalinya dan aku merasa senang karena bisa mendengarkan banyak keluh kesah pasien pasienku dan aku bisa mengedukasikan apa yang aku tau *mungkin juga karena pada dasarnya aku adalah tipe pendengar, jadi aku sangat antusias untuk dengar cerita orang*. Dan bonusnya, setelah pulang jaga aku bisa dapat uang secara instan, yang bisa aku pakai untuk jajan dan juga membelikan sesuatu untuk bapak ibuku. Rasanya senang sekali aku bisa memberikan itu kepada mereka, walaupun tak seberapa, tapi itu seperti imbalan dari investasi yang mereka berikan untukku selama ini.
Setelah masa itu, kini aku menjalani program internship dokter. Aku mengenal banyak orang orang baru, pandangan baru, dan tawaran menarik untuk masa depanku nanti. Misalnya, menjadi dokter perusahaan, atau jadi pegawai non PNS di puskesmas DKI Jakarta, atau jadi dokter PTT di pedalaman, atau ya sekolah lagi buat jadi dokter spesialis.
Semua masukan itu saat ini membayangi pikiranku. Entah mau jadi apa aku nanti. Apalagi aku juga akan menjadi seorang istri yang akan mengikuti dimanapun suami bekerja. Misalnya aku mau jadi dokter di jakarta tapi suamiku tidak di jakarta, tidak mungkin aku sanggup untuk long distance marriage. Terus kalau misalnya aku mau jadi dokter ptt di pedalaman, jika sesuatu terjadi pada keluargaku, aku tidak bisa ada di dekatnya, apalagi kedua orang tuaku sudah mulai sakit sakitan, tak akan tega aku meninggalkannya. *aku berfikir, apakah benar jika seorang anak lebih memilih mengabdikan untuk orang lain dibandingkan untuk orang tuanya sendiri? Karena jika sesuatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi dan aku tak di sisinya, aku pasti akan sangat menyesal seumur hidupku*. Pun, itu alasan aku tak bisa segera menikah dengan seseorang di Bali sana, ya karena aku tidak bisa meninggalkan keluargaku untuk saat ini. Hal ini juga sebenarnya mengurungkan niatku untuk melanjutkan S2 di luar negeri. Hingga aku berfikir, mengapa aku ditakdirkan untuk menjadi dokter jika kondisi akhirnya seperti ini? Mau jadi apa aku setelah selesai intership ini? Apakah kemudian aku tiba tiba dipertemukan dengan orang yang bekerja di jakarta dan memintaku untuk menemani tinggal bersamanya hingga aku bisa menjadi bekerja dan juga berada dekat dengan keluarga? Semua itu masih teka teki yang hingga saat ini tak bisa ku pecahkan sendiri. Aku tak ada ide dengan nasibku setelah ini. Semoga Dia memberikan jalan yang terbaik untuk aku dan keluargaku nanti. Amin









