Sebatang rokok di sela jarinya.
Mata sendu, memandang kehidupan di luar jendela.
Bayangan tubuhnya terlihat dari kaca.
Rambut panjang menutup dada.
Kulit putih tubuh montok tak berbusana.
Tak sedikitpun ia peduli pada mata yang meliriknya dari luar jendela.
Dunianya, sudah ia anggap bak muntah hewan melata.
Memangnya siapa yang akan peduli?
Pada kehidupannya yang tercemar, siapa yang bersimpati?
Ia mendongak menatap langit kelabu.
Ia ingin keluar, berdiam di bawah guyur hujan.
Membersihkan dirinya dari liur dunia.
Ia lelah, hati dan jiwanya telah lama gersang.
Apa yang kini ia lakukan, tak ada yang bertanya 'kenapa'.
Mereka hanya melempar tatapan hina, tak ada yang bertanya 'kenapa'.
Wanita tak berbusana ingin keluar saat itu juga.
Berdiri, merasakan setidaknya sedikit saja simpati yang langit berikan.
Ia ingin menari di bawah hujan, seperti ia kecil dulu.
Seperti dulu, ketika ia dihampiri Ibu yang cemas sambil membawa sebuah payung dan bertanya,
Wanita yang selalu bertanya, "Nak, apa ada yang sakit?"
Wanita itu, kini hanya perindu.
Ia hanya ingin kembali ke masa lalu.
Ia ingin mengadu, "Ibu, dunia jahat kepadaku!"
Ia ingin berteriak, terisak hingga wanita tua itu kembali padanya.
Tuhan lebih sayang padanya.
Ia telah di jemput dengan cinta.
Menyisakan 'Si anak' yang kini bertarung sendiri pada kerasnya dunia.
Hujan turun, mengguyur kota.
Wanita tanpa busana, hanya tetap duduk di tepi jendela.
Menyambut hujan dengan ikut meneteskan air mata.
Hatinya yang ia kira telah tandus, ternyata masih menyisakan air kepedihan.
Yang meluap karena dipancing tetesan hujan.
Ia, wanita yang terjebak pada permainan dunia.
Adakah yang ingin datang dan bertanya,