Kegagalan dan Kesepian yang Menyergap
“Apakah aku harus berhenti? Kapan Tuhan memanggilku?”
Pertanyaan-pertanyan depresif itu memenuhi kepalaku di beberapa bulan terakhir. Rambut rontok dan jerawat yang muncul ketika bukan saat PMS membuatku sadar, aku tak baik-baik saja.
Aku kerap mengalihkan pemikiran tidak waras itu dengan terus-terusan melakukan rutinitas yang sama; menonton drama, film, anime, membaca buku, komik, menulis, menggambar, jalan-jalan. Semua hal sudah kulakukan.
Semakin aku sering memantau sosial media, mungkin aku jadi semakin membandingkan diriku dengan orang-orang yang kulihat. Aku adalah pecundang kesepian yang mencoba terlihat kuat.
Aku tidak tahu kenapa diriku begitu memikirkan pandangan orang lain yang bahkan itu adalah hal yang tak bisa kujangkau.
“Coba deh lakukan ini…Nggak perlu takut gagal…”
Aku sudah mencoba semua hal. Tampaknya keberuntungan belum ada di pihakku atau mungkin aku kurang berusaha keras? Entahlah. Tapi yang pasti, aku tidak pernah takut gagal. Gagal adalah makananku sehari-hari. Namun, hati kecilku mengatakan aku tidak ingin terlihat gagal meskipun kenyataannya aku tetaplah orang gagal.
Kenapa aku menyebut diriku demikian? Mungkin karena aku masih terkurung di kota kecil ini selama kurang lebih setahun. Tampaknya orang tuaku pun tidak begitu merestui jika aku pergi ke luar kota.
Jika memikirkan itu, rasanya aku ingin menangis dan berharap ada seseorang atau keajaiban Tuhan yang bisa membawaku pergi dari kota kecil ini.
Terkadang, aku berpikir, “Oh, mungkin salah satu alasan Tuhan membuatku tinggal di rumah bersama ayah ibuku adalah agar bisa lebih menghargai waktu bersama mereka.”
Aku selalu berusaha berbaik sangka pada setiap kejadian yang menimpaku. Mungkin setelah ini ada hal baik yang akan kutemui. Aku harus bersabar.
Kini, aku hanya pekerja biasa yang tinggal di kota kecil yang mengesalkan ini. Setiap sadar aku tinggal di kota yang jauh dari teman-temanku berada, aku ingin menangis.
Sebagai orang yang ekstrover, tentu keadaan untuk selalu tinggal di kamar ini membuatku tersiksa. Kalau disuruh mencari kawan baru di kota ini rasanya sulit. Apakah aku bisa menemukan orang-orang yang mengonsumsi media sepertiku?
Lagi-lagi aku akan merindukan orang-orang yang tinggal di kota itu meskipun realitasnya pun mereka tidak benar-benar dekat denganku. Aku merasa kedekatanku dengan kawan-kawanku di kota itu hanyalah perasaan semu. Aku tidak mempunyai kawan yang benar-benar selalu ada. Aku hanyalah backup friend. Pada akhirnya, aku hanya memiliki diriku sendiri.
Dewasa ini membuatku sadar bahwa aku tidak boleh berharap pada siapapun. Aku tidak boleh menggantungkan perasaan kepada kawan sekalipun. Yah, tentu saja. Kita sudah seharusnya menggantungkan perasaan kepada Tuhan, bukan?
Jika mengingat itu terkadang di rumah maupun di kota itu tak ada bedanya. Hanya saja kalau di kota itu ada banyak pengalihan perasaan melalui tempat-tempat yang belum pernah kujamah. Ada banyak kuliner yang bisa dicoba.
Awal tahun ini, aku mencoba menata hidupku. Namun, tampaknya keinginanku tak sesuai rencana. Aku kembali melenceng. Di bulan ketiga—sekaligus bulan Ramadan—aku berusaha menemukan diriku lagi.
Aku berusaha mendorong diriku berada di titik seharusnya aku berada. Aku berusaha menemukan diriku yang hilang dan mengajaknya ke jalan yang seharusnya.
Apakah aku bisa menjadikan tahun 2025 sebagai tahunku? Entahlah. Tapi kuharap aku bisa dan bisa menghilangkan perasaan negatif yang melingkupiku.