Untuk Kamu (1)
Hai, oom.
Gimana kabarmu?
Aku nulis surat ini waktu aku habis ngomongin soal “acceptance” sama Amel.
Sampai detik ini pun, kalau kamu mau tau kapan, ini salah satu malam di pertengahan Oktober yang gak terlalu dingin karena aku bisa buka jendela.
Jadi, sampai detik ini pun, aku masih sayang sama kamu.
Ini bukan ungkapan apa pun.
Aku nggak tau seberapa kuat aku berusaha ubah perasaan ini jadi netral, tapi gak bisa.
Pernah kucoba untuk ubah jadi benci, lebih gak bisa lagi.
Ada banyak hal di dalam memori kita yang buatku berharga banget.
Aku nggak pernah menyesali keputusanku untuk menjauh.
Tapi, kayaknya, sekarang kita harus bener-bener jauh.
Mudahan,
di suatu hari di hidupmu nanti,
kamu ingat kalau kamu pernah punya teman yang kalau masak ayam asam manis rasanya kayak bensin,
mudahan kamu masih ingat, kalo tempat duduk di tengah di tram jaman dulu, yang hadap-hadapan itu, sempat jadi teritorimu dan aku,
mudahan kamu ingat kalau ada temanmu yang pernah kamu dumelin walalupun kamu mau aja bawain barang belanjaannya yang berat,
aku akan mengingatmu,
sebagai salah satu dari sekian banyak hal baik yang terjadi di hidupku.
Terima kasih sudah mengajarkan sesuatu tentang bagaimana kita bisa mencintai seseorang sebesar itu.
Semoga kamu selalu bahagia.
Aku selalu senang kalo liat tawamu dari samping.
Tawamu itu melegakan.
Tanyalah pada siapa pun yang bersamamu nanti,
percayalah bahwa tawamu melegakan.
{Ditulis 16.10.2019 - 03.16 MSK}

















