Refleksi di Tengah Pandemi
Dalam kondisi saat ini, saya mendapatkan banyak sekali cerita dari orang lain terkait keadaannya dari sisi orang yang bekerja; pekerjaan yang hilang, pemutusan hubungan kerja secara tiba-tiba, gaji yang dipotong, dll. Dan juga, dari sisi orang yang memiliki usaha; betapa berat hatinya harus merumahkan karyawannya, bisnisnya yang tiba-tiba drop, penjualan yang terhenti, bahkan ada yang harus gulung tikar.Â
Dalam keadaan seperti ini. Kita akan belajar mengenai empati. Kita tidak bisa melihat dan menilai sesuatu hanya dari satu perspektif, misal betapa jahatnya para pemilik usaha yang merumahkan karyawannya. Kalau kita tidak bisa mengenal dan menyelami betapa beratnya menjadi pemilik usaha yang setiap bulan harus mengatur strategi agar keuangan selalu cukup untuk membayar gaji, operasional, dll. Kita tidak akan pernah mencapai titik empati.
Setiap dari kita saat ini menjalani peran-peran sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Posisi kita saat ini, menunjukkan bahwa hanya sampai di situ kapasitas kita. Kalau mau naik, maka tingkatkan kapasitas yang kita miliki.
Ini sekaligus menjadi bahan refleksi bagi kita anak-anak muda, di tengah kondisi saat ini. Saat kita kebingungan mau ngapain, kerja apa, dsb. Kita menjadi tahu betapa besar ketergantungan kita kepada sesuatu yang lain, kita menjadi tak berdaya jika tak ada hal tersebut. Kita harus belajar untuk menjadi individu yang mandiri, setidaknya kebutuhan dasar kita seperti pangan bisa kita penuhi sendiri tanpa harus mengandalkan gaji dari pekerjaan.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengeksplorasi keterampilan kita. Mumpung, tidak ada yang menyuruh-nyuruh untuk segera daftar kerja, menanyai apa yang kita kerjakan, berapa gaji kita, kapan menikah, dsb.
Momen ini, bahkan mungkin momen lebaran yang penuh dengan pertanyaan klise akan hilang. Kita tahu, kondisi ini tidak akan berlangsung selamanya. Maka, manfaatkan momen ini untuk melakukan hal-hal yang selama ini hanya ada di dalam pikiranmu.