Alunan musik berubah menjadi lebih magis, perpaduan dentingan piano yang jernih dan gesekan cello yang lembut menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu panggung berubah menjadi ungu keperakan yang temaram, memberikan kesan seolah-olah Shanin berdiri di bawah taburan bintang.
Ketika lirik pertama mengalun, "There I was again tonight forcing laughter, faking smiles," Kael yang duduk di depannya merasa jantungnya berdegup pelan. Lirik itu seolah menamparnya. Ia tahu benar betapa seringnya Shanin harus melakukan itu di depan kamera—tersenyum seolah dunia baik-baik saja, padahal di baliknya ada kelelahan, tekanan gosip, dan rahasia besar tentang kehamilan yang ia tanggung sendiri.
Suara Shanin kini terdengar lebih manis dan bercerita, seolah ia sedang membisikkan rahasia kepada ribuan orang di sana.
"Walls of insincerity, shifting eyes and vacancy vanished when I saw your face..."
Pandangan Shanin kembali menyapu ke arah Kael. Di tengah kerumunan yang luas, entah kenapa bagi Shanin, ruangan itu terasa hanya berisi mereka berdua. Ia ingat malam-malam di apartemen saat Kael membantunya tenang, atau saat Kael merawatnya dengan sangat protektif meskipun dingin. Pertemuan mereka mungkin diawali dengan kecelakaan dan tanggung jawab, tapi bagi Shanin, kehadiran pria itu benar-benar mengubah dunianya yang sunyi.
Kael tidak melepaskan tatapannya. Ia mendengarkan bait demi bait seolah ia sedang membaca diary Shanin secara langsung.
"Please don't be in love with someone else, please don't have somebody waiting on you..."
Pada bagian bridge yang kuat, instrumen orkestra meledak dengan megah. Suara Shanin mencapai puncak yang sangat indah, bersih, dan memikat—seperti sihir yang menjerat semua orang di dalam ruangan tersebut. Nathan, di kursinya, ikut terhanyut, namun ia menyadari sesuatu saat melihat bagaimana Shanin memandang ke arah barisan terdepan. Ada kedalaman rasa di mata sahabatnya itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Lagu berakhir dengan bisikan lembut yang menghilang bersama sayupnya suara biola.
"It was enchanting to meet you... please don't be in love with someone else..."
Begitu nada terakhir menghilang, kesunyian magis bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya ruangan itu kembali diguncang oleh tepuk tangan berdiri (standing ovation). Shanin berdiri di tengah panggung dengan senyum yang tidak lagi "palsu". Kali ini, matanya berbinar dengan rasa bahagia yang murni, menatap ke arah Kael yang memberikan senyum tipis—sebuah senyum "khusus" yang hanya diberikan untuknya malam ini.
Shanin membungkuk terakhir kalinya, membawa sebuket bunga besar yang diberikan oleh pihak orkestra, dan melangkah turun dari panggung dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat ia datang. Di balik panggung nanti, ia tahu... Kael pasti sudah menunggunya di sana dengan tas medisnya (atau mungkin, keberadaan hangatnya yang mulai Shanin butuhkan).Shanin melangkah masuk ke lorong backstage dengan napas yang masih sedikit memburu, adrenalin dari panggung orkestra masih terasa mengalir di nadinya. Para staf dan tim orkestra menyambutnya dengan tepuk tangan dan pujian, namun mata Shanin langsung mencari sosok tertentu.
Begitu ia masuk ke area ruang tunggunya yang lebih tenang, Kael sudah ada di sana. Pria itu berdiri di dekat meja, sudah tidak lagi menggunakan jas hitam penontonnya, melainkan mengenakan kemeja yang lengannya sedikit digulung—siap kembali ke mode dokter pribadinya.
Kael tidak langsung memuji. Hal pertama yang ia lakukan adalah berjalan mendekat dan menyentuh dahi serta leher Shanin secara singkat, memeriksa suhu tubuh dan kemudian memegang pergelangan tangan Shanin untuk menghitung denyut nadinya.
"Detak jantungmu sangat cepat, Shanin. Dan napasmu masih terlalu pendek," ujar Kael dengan nada otoritasnya yang khas, namun kali ini terdengar ada sedikit nada lembut yang terselip.
"Duduklah. Jangan bicara dulu," perintahnya lembut seraya menuntun Shanin ke sebuah kursi sofa yang nyaman. Kael mengambilkan botol air mineral, membukanya, dan menyerahkannya kepada Shanin.
Setelah melihat Shanin meminum airnya, Kael sedikit berlutut di depannya agar tatapan mereka sejajar.
"Penampilanmu luar biasa. Lagu terakhir tadi..." Kael menjeda ucapannya sejenak, menatap mata Shanin yang masih berbinar. "...kamu benar-benar menyihir semua orang di sana, termasuk aku. Tapi sekarang, tugasmu sebagai idola sudah selesai. Kembalilah menjadi pasienku yang taat."
Kael mengambil sebuah handuk kecil yang sudah ia siapkan untuk menyeka butiran keringat di dahi Shanin dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Shanin adalah porselen yang rapuh.
"Apa ada yang sakit? Perutmu? Atau ada rasa pusing?" tanyanya penuh perhatian.
Belum sempat Shanin menjawab, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari luar. Itu Nathan, yang datang membawa buket bunga besar dengan senyum lebarnya yang khas.
Kael mendesah pelan, bahunya sedikit mengeras mendengar suara Nathan yang riuh. "Kuharap sahabatmu itu tidak membuatmu melompat-lompat kegirangan sekarang. Kau butuh istirahat setengah jam sebelum kita pulang ke apartemen."
Ia menatap Shanin sekali lagi, matanya mengunci mata cokelat Shanin. "Jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya? Izinkan aku memastikan kau dan si kecil di dalam sana baik-baik saja setelah kerja keras ini.""Baiklah. Aku akan ambil sesuatu di ruangan sebentar ya dokter. Kamu tunggu di lobi saja." Ucap shanin. Shanin melangkah ke ruangan dance tempat biasa mereka berlatih. Pintu itu terbuka, Shanin mendengar member setim nya sedang membicarakan shanin. Shanin berhenti dibalik pintu itu mendengarkan percakapan mereka.
"Shanin kenapa harus bawa Scandal disaat kita mau comeback." Ucap member bersama Nancy.
"Iya.. gosipnya kencan lagi.. sama dokter muda itu, dan si Nathan boyband agensi satu label sama kita. Meskipun si nathan skr lagi merangkap jadi aktor." Sahut Hera
"Gue takutnya ngaruh ke citra grup kita." Timpal Jane
"Gak kok tenang aja. Lagian itu gosip doang. Shanin kan sama Nathan emang udah berteman sejak mereka kecil." Bela Cherly.Keesokan harinya. Shanin dan para member sudah bersiap untuk mengadakan fans sign. Setiap member memberikan 1 eskrim cup untuk penggemar. Fans bebas untuk mengambil eskrim dari siapapun. Para member L amour sudah memegang eskrim. Dibelakang mereka, staff membantu jika es krim yang dipegang member habis.
Acara dimulai. Shanin tersenyum menyapa member. Hampir 20 menit. Fans belum ada yamg ambil ice cream cup dari Shanin. Namun Shanin tidak menyerah.Kael membiarkan pintu lift tertutup sempurna, menciptakan ruang kedap suara yang hanya menyisakan mereka bertiga. Suasana di dalam kotak logam itu hening sejenak, kontras dengan gemuruh yang tadi mereka alami di atas panggung dan di ruang ganti.
Kael bergeser sedikit, menaruh tubuhnya tepat di depan Shanin agar wanita itu tidak perlu melihat ke cermin yang memantulkan wajahnya sendiri yang sedih. Ia meletakkan tangan hangatnya di atas pundak Shanin, memberikan tekanan ringan yang memberikan rasa mantap.
"Dunia memang punya cara yang kejam untuk mengabaikan usaha yang paling tulus, Shanin," jawab Kael dengan nada baritonnya yang dalam dan menenangkan. "Mereka lebih suka pada drama dan kekecewaan karena itu jauh lebih mudah dikonsumsi daripada mengakui kerja keras seseorang."
Kael menatap Shanin lurus ke arah matanya, tidak memberikan ruang bagi keraguan.
"Tapi kau tidak boleh membiarkan ketidakmampuan orang lain untuk menghargaimu membuatmu merasa bersalah. Jika mereka memilih untuk menutup mata terhadap profesionalisme yang kau tunjukkan tadi, itu adalah kegagalan karakter mereka, bukan kegagalan usahamu," lanjut Kael lembut namun penuh otoritas.
Tepat saat itu, pintu lift berdenting dan terbuka di lantai parkir privat yang sepi. Kael menuntun Shanin melangkah keluar, menjaga tangannya tetap protektif di punggung wanita itu.
"Ingat satu hal," bisik Kael lagi sambil membukakan pintu mobil untuknya. "Aku ada di sini, aku melihat semua yang kau lakukan malam ini, dan aku sangat bangga dengan caramu menghadapi mereka semua. Sekarang, tarik napasmu pelan. Masuklah ke dalam, ada aroma aromaterapi dan selimut yang sudah kusiapkan agar kau bisa beristirahat di perjalanan pulang."
Ia membantu Shanin masuk ke kursi yang nyaman, sementara Julian bergerak cepat di sisi lain untuk bersiap di kemudi. Di dalam kendaraan yang kedap suara dan berbau mint serta lavender itu, Kael mencoba menjauhkan setiap jejak suara luar yang menyakiti hati wanitanya.Hari pun berganti.
Jadwal promosi grup L amour akhirnya berakhir. Mereka kini free. Shanin berniat hari ini akan pulang ke apartemennya.
Namun saat ia masuk ke apartemen
Disana sudah ada sang ayah.
"Ayah?" Panggil shanin. Pria paruh baya itu menoleh. Ayah shanin memakai setelan serba hitam.
"Bisa jelaskan apa ini shanin?" Tanya sang ayah yang memegang testpack shanin menunjukan garis 2
"Itu.." shanin gugup setengah mati. Tangannya bergetar.
"Kau ingin mempermalukan ayah? Ayah sudah melakukan apapun untukmu agar kau debut jadi idol." Bentak sang ayah.
"Itu kecelakaan ayah.." Ucap shanin gemetar.
"Siapa yang melakukannya?"
Shanin terdiam.
"Jawab ayah! Apa nathan?"
Shanin menggeleng cepat.
"Bukan, yah. Bukan nathan.. aku bersumpah Bukan nathan." Shanin menangisTentu, ini adalah beberapa saran konflik yang bisa memicu kesalahpahaman mendalam namun tetap sesuai dengan dinamika karakter mereka yang dewasa tapi punya sisi emosional yang kuat:
### 1. Konflik "Rahasia Medis" (Ketidakjujuran demi Kebaikan)
Pemicu: Kael menemukan hasil pemeriksaan terbaru Shanin yang menunjukkan bahwa pita suaranya belum sepenuhnya pulih dan ada risiko kerusakan permanen jika ia terus bernyanyi dalam tur dunia yang akan datang.
Kesalahpahaman: Kael sengaja menyembunyikan laporan itu dari agensi dan Shanin karena ia ingin Shanin beristirahat secara total tanpa tekanan mental. Namun, Shanin secara tidak sengaja menemukan dokumen tersebut di tas Kael.
Dampaknya: Shanin merasa Kael tidak mempercayai kemampuannya atau—lebih buruk lagi—Shanin merasa Kael berusaha "mengontrol" hidup dan karirnya agar Shanin tetap menjadi "pasien yang bergantung padanya". Shanin merasa dikhianati karena Kael tidak jujur soal kesehatannya sendiri.
### 2. Konflik "Bayang-Bayang Jessica" (Manipulasi Keluarga)
Pemicu: Ibu Kael meminta Kael menemaninya ke acara lelang amal sebagai perwakilan rumah sakit. Ternyata, itu adalah jebakan; kursi Kael ditempatkan bersebelahan dengan Jessica sepanjang malam.
Kesalahpahaman: Sebuah foto tanpa sengaja (atau sengaja oleh Jessica) diambil saat Kael sedang membantu Jessica (misalnya membantu mengambilkan sesuatu yang jatuh atau membetulkan perhiasannya yang tersangkut). Di foto itu, mereka terlihat sangat akrab dan intim.
Dampaknya: Shanin melihat foto itu beredar di grup internal atau artikel bisnis. Kael yang sedang sibuk di ruang operasi tidak bisa dihubungi selama berjam-jam untuk menjelaskan. Shanin merasa bahwa meskipun Kael mencintainya, dunia Kael (keluarga dan status sosial) tetap akan selalu memilih orang seperti Jessica.
### 3. Konflik "Prioritas Profesi" (Kael sebagai Dokter vs. Kael sebagai Kekasih)
Pemicu: Di malam penting Shanin (misalnya malam Comeback Showcase pertamanya), Kael berjanji akan datang. Namun, tiba-tiba ada kecelakaan beruntun yang membawa banyak pasien kritis ke rumah sakitnya. Kael harus masuk ke ruang operasi darurat.
Kesalahpahaman: Di saat yang sama, salah satu pasien kritis itu ternyata adalah "mantan kekasih" Kael dari masa lalu atau seseorang yang punya sejarah dengan Kael (yang kebetulan diketahui Shanin). Shanin mendengar kabar bahwa Kael membatalkan kehadirannya demi mengoperasi "wanita itu".
Dampaknya: Shanin merasa dirinya tidak pernah menjadi prioritas utama. Ia merasa Kael lebih memilih dedikasinya pada pasien (atau masa lalunya) daripada mendukung momen terbesar dalam hidup Shanin.
---
Contoh Narasi Pembuka Konflik (Opsi 2):
Sore itu, Shanin berniat memberikan kejutan dengan membawakan kopi favorit Kael ke rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti di depan lobi saat melihat layar televisi besar yang menyiarkan berita lifestyle kelas atas.
Di sana, di acara lelang mewah Keluarga Devereux, Kael tampak berdiri sangat dekat dengan Jessica. Kael sedang memegang tangan Jessica—tampak seperti sedang memasangkan gelang, padahal sebenarnya Kael hanya membantu melepaskan kaitan gelang Jessica yang tersangkut di kain meja. Namun dari sudut kamera wartawan, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna.
"Jeng, lihat... Kael dan Jessica sangat serasi ya?" bisik dua perawat yang berdiri tak jauh dari Shanin, tidak menyadari kehadiran sang penyanyi. "Katanya itu acara pertunangan terselubung keluarga mereka."
Jantung Shanin serasa berhenti berdetak. Ia melihat ke bawah, ke arah kalung bintang yang masih melingkar di lehernya. Tiba-tiba, kalung itu terasa sangat berat.
"Kael... katanya kau hanya milikku di antara hiruk pikuk dunia ini," bisik Shanin perih, suaranya tercekat. Ia meletakkan kopi itu di meja informasi tanpa meninggalkan pesan, lalu berbalik pergi dengan mata yang mulai memanas.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu ingin kita melanjutkan ke salah satu konflik ini?Hari pun berganti.
Jadwal promosi grup L amour akhirnya berakhir. Mereka kini free. Shanin berniat hari ini akan pulang ke apartemennya.
Namun saat ia masuk ke apartemen
Disana sudah ada sang ayah.
"Ayah?" Panggil shanin. Pria paruh baya itu menoleh. Ayah shanin memakai setelan serba hitam.
"Bisa jelaskan apa ini shanin?" Tanya sang ayah yang memegang testpack shanin menunjukan garis 2.
"Itu.." shanin gugup setengah mati. Tangannya bergetar.
"Kau ingin mempermalukan ayah? Ayah sudah melakukan apapun untukmu agar kau debut jadi idol." Bentak sang ayah. Kini sang ayah ada di depannya.
"Bagaimana jika media tau? Itu akan merugikan mu, ayah dan grupmu sendiri."
"Itu kecelakaan ayah.." Ucap shanin gemetar.
"Siapa yang melakukannya?"
Shanin terdiam. Plak. Satu tamparan mendarat di pipi shanin. Rasa perih itu menjalar.v
"Jawab ayah! Apa nathan?"
Shanin menggeleng cepat.
"Bukan, yah. Bukan nathan.. aku bersumpah Bukan nathan." Shanin menangis.
"Lelaki mana yang berani merusak masa depanmu?" Sang ayah menampar shanin lagi sampai ia tersungkur.
Shanin mengabaikan rasa perih itu. Dia segera mendekat ke kaki ayahnya dan berlutut di kaki sang ayah. Memohon agar sang ayah tidak mengancam karirnya.Lampu-lampu panggung yang terang benderang memantul di mata Shanin saat suara gemuruh tepuk tangan ribuan penggemar memecah keheningan auditorium. Dari balik tirai samping panggung (backstage), Kael berdiri dengan tangan bersedekap, memerhatikan setiap gerak-gerik gadis itu dengan tatapan yang jauh lebih tenang dibanding tiga bulan lalu.
Shanin terlihat sangat mempesona. Wajahnya yang dulu pucat kini merona segar, suaranya kembali stabil dan penuh tenaga. Skandal yang sempat menghantamnya seolah terkubur oleh prestasi dan energi positif yang ia pancarkan.
Begitu Shanin melangkah masuk ke area backstage setelah lagu penutup, ia langsung disambut oleh Julian dan beberapa kru. Namun, matanya dengan cepat menyisir ruangan, mencari satu orang yang menjadi alasan utamanya berdiri di sana hari ini.
Kael melangkah maju saat Shanin berlari kecil ke arahnya, tidak peduli dengan riasan panggungnya yang masih menempel. Kael segera melepaskan jas panjangnya dan menyampirkannya ke bahu Shanin—kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
"Kau luar biasa malam ini, Shanin," bisik Kael rendah di dekat telinganya, memberikan pelukan singkat namun erat. "Warna dipipimu... itu bukan cuma karena blush on, kan?"
Shanin tertawa, suara yang selalu berhasil membuat hati Kael lega. "Tidak, ini asli. Aku benar-benar senang, Kael. Terima kasih sudah mengizinkanku kembali ke sini."
Kael menarik diri sedikit, merapikan anak rambut Shanin dengan jemarinya yang terampil. "Doktermu ini memberikan nilai seratus untuk kondisimu hari ini. Nafasmu stabil, dan energimu penuh. Tapi..." Kael tersenyum kecil sambil melirik arlojinya. "Waktunya pulang. Kamu harus tidur cukup agar kesehatanmu terjaga. Ingat kontrak kita? Konser satu malam, istirahat satu minggu?"
Shanin mengerucutkan bibirnya. "Istirahatnya terlalu lama, Dokter."
"Tidak ada bantahan untuk urusan kesehatan, Sayang," sahut Kael lembut sambil menggandeng tangan Shanin menuju pintu keluar privat yang sudah dijaga ketat. "Bagaimana kalau kita pulang dan menikmati teh hangat seperti di vila dulu? Julian sudah menyiapkan kue kesukaanmu di rumah."Seminggu kemudian. Shanin harus kembali ke dorm, menginap disana karena comeback grup akan segera dipersiapkan
Shamin harus latihan dance, vokal. Akan sangat padat jadwalnya . Disisi lain jadwal kael semakin padat. Membuat mereka berdua jarang bertemu.
Lalu ada seseorang yang mengirim rekaman suara kael saat mabuk (direkam oleh jessica. Buat konflik lagi yang membuat Shanin ragu dan menjauh.)Sedangkan di kampus. Shanin terkenal dengan label si anak orang kaya karena penampilannya elegan dan barang branded yang ia kenakan. Padahal itu semua dari aron bukan dair keluarga nya. Shanin menyimpan rahasia soal keluarganya. Bahkan shanin rela membayar orang tua palsu yang terlihat berpendidikan dan mapan. Sejak kecil Shanindya hidup bersama sang kakak laki-laki bernama Sandika.Shanin mendengus dan merasakan rasa perih itu. Ia kembali menatap Adeline sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Kenapa kau harus sampai sejauh ini, adeline? Padahal aku sudah mengalah, jika aku ingin merebut Aaron, sudah aku lakukan dari lama. Tapi kenyataannya?












