(Ternyata) Aku Baik-baik Saja
Selepas kamu pergi, 'rumahku' sempat terasa asing. Tapi tidak lama, karena aku pelan-pelan bisa mengenal diriku sendiri, dalam versi lebih baik.
Hei, hampir lima tahun kamu tinggal di 'rumahku' dan kita bersama-sama menikmati ruang demi ruang di dalamnya. Awalnya, kita berbincang di teras luar. Agar nyaman, kuubah susunan kursi agar pas untuk dua orang. Tidak lama, kita mulai kedinginan dan mencari ruangan hangat. Maka aku ajak kamu ke ruang tamu untuk melanjutkan ngobrol sekaligus kenal keluargaku. Waktu berlalu, interaksi semakin nyaman sampai lupa sudah harusnya makan. Aku kenali kamu dengan dapur sederhanaku, berikut meja makan kecil dengan satu kursi dan kulkas yang tidak terisi penuh. Biar nyaman, kita pindah ke lantai sehingga tak lagi aku makan di meja makan. Kamu juga pernah kuajak ke kamar tidurku. Membaui pengharum ruanganku, melihat parfum dan buku diary kelas 5 SD-ku yang tersimpan dalam laci lemari.
Selepas kamu pergi, aku sempat jetlag selama beberapa minggu karena dipaksa menjalani hari-hari dalam rumah yang entah kenapa terasa canggung. Letak kursinya, lukisan di pigura yang menghias ruang tamu, hingga harum ruangannya, tak lagi bisa aku nikmati. Tapi dalam proses yang membingungkan itu, akhirnya aku bisa mengenal rumahku dalam versi lebih baik.
Aku yang sempat mencari-cari orang yang dapat memberi telinga di saat aku punya masalah, kini memilih berdoa sambil mengadu, menangis bahkan marah bersama Tuhan. Aku yang sempat ngotot bahwa parfum paling enak hanyalah rose essentielle bvlgari, kini punya alternatif lain dengan note rose yang lebih menenangkan. Aku yang sempat menghindari Jogja keras-keras, kini disuguhi semesta cara lain untuk menikmati sudut-sudutnya.
Tapi aku masih Seva, yang mungkin sebagian daripadaku pernah kamu kenal. Aku masih suka pizza hut dengan pinggiran keju yang tumpeh-tumpeh. Masih candu dengan lagunya Sal Priadi. Masih suka jutek dan sotoy di saat kerja, lalu menyesali diri di malam sebelum tidur. Masih suka homesick padahal seminggu yang lalu baru pulang dari Palembang.
Hidupku ternyata baik-baik saja tanpa kamu. Makasih ya, sudah memberi jalan aku bisa menemukan diri sendiri dalam versi yang lebih baik. Sampai kita ketemu di lain waktu, dengan kondisi masing-masing yang lebih baik ya. GBU















