mengapa fajar menyingsing dalam warna yang begitu muram pada titik waktuku yang semestinya menjadi sebuah perenungan dan kesenangan?
bahkan mentari tak kuasa menembus gemawan awan yang pekat mengkungkung bumi yang berempati dalam kepura-puraan,
di saat yang sama nyanyian hening terdengar mendera udara sekitar, sesaat berkah dan sedih saling berjatuhan, membasahi bumi dengan kederasan sendu yang menguasai hari
aku meneriaki langit pagi dengan kata-kata yang membisu dan berirama lirih
lusinan detik kemudian terhenyak aku dalam sisa pendar bara api cemburu yang berkobar dahsyat semalam
aku menyapa puing-puing rasa yang menemani embun tampak berserakan tak karuan di pucuk pagi yang dingin
di ujung pemikiranku tafsir-tafsir liar benakku memandang keadaan ini sebagai bingkisan langit yang menertawai hariku yang menjauh dari harapan indah,
penyangkalan yang coba kutelisik tertelan kelabu yang mendominasi mimpi-mimpi yang kehilangan arah dan api,
rintik gemericik air pun meluncur perlahan tak terhindari menggantikan badai yang telah usai berlalu,
tak terpungkiri tenang datang mengikuti, mencoba redakan jiwa jiwa di muka bumi yang ternista gelisah,
namun jubah tebal yang kukenai terlalu sempurna untuk ketidaksempurnaan hening yang kunafikan,
dan nadi berdenyut meningkat cepat seolah tak mau terlipat waktu
atas firasat padang angin yang masih tersenyum sembunyi pada kumpulan awan pilu yang mengumpar bencana
inilah hadiah langit yang diam diam kupandangi dari balik kaca jendela kereta zamanku,
menawan hidupku pada pemikiran dalam dan benang benang keharuan semu yang hempaskan tangis sedu sedan
dalam isaknya, bulir bulir air mata terhimpun menjadi bengawan yang deras mengalir tak kasat pandang
meluncur menuju palung hati terdalam yang terkulai luka
mereka berbicara dan berinterupsi dengan keras ke arahku, seakan laksamana halilintar menghantam sadarku
memohon agar lekas kutarik dan kutata ulang perasaan yang lama berfatamorgama dan lekas menutup kran kegelisahan yang tak terbendung
sebelum mereka habis tiada sisa teruapkan hisapan awan yang melenyapkan harapan
mengantarkan api beku parsial dan menjadikannya hadiah manis baginya untukku
hadiah yang menjelma menjadi penderitaan tersedih atas pengulangan hari keluarnya aku dari perut ibu pada pengulangan yang seperempat, di jatah satu abad kehidupanku