Satu hal yang aku pelajari dari beberapa tahun terakhir, takdir itu bukan untuk dipertanyakan, tapi dijalani.
Tindakan atau terapi pengobatan sudah terbiasa untukku, terbiasa bed rest, terbaring lemah, rutin minum obat atau mengikuti terapi, sudah sering dialami sejak kecil. Namun entah mengapa, sakit 5 tahun terakhir ini, jadi hal yang terberat untuk Nahda.
Spekulasi ku karena sakit ini mengorbankan banyak hal, mengorbankan cita-cita, mengorbankan waktu lebih banyak, mengorbankan energi, tidak hanya diriku tapi orang lain juga.
Tapi sebenarnya, pengorbanan itu juga dialami pada sakit, operasi, tindakan, terapi sebelumnya. Tahun lalu, Nahda sadar, ternyata mempertanyakan takdir setiap harinya, yang membuat semua ini terasa berat dijalani
Kenapa rasanya nyeri banget ya Allah? Kenapa pendarahan lagi? Kenapa bisa diare lagi, kemarin aku jaga makan? kenapa harus operasi lagi? kenapa pemeriksaannya menyakitkan ya Allah? Kenapa aku harus menahan nafsu makan lagi ya Allah? Kenapa aku harus merasakan ini? kenapa aku tidak seperti orang lain? kenapa yang datang, sedih lagi? apa yang harus aku lakukan kali ini? Sakit ya Allah, Apa Allah benci dengan ku?
begitupula dengan lingkungan, baik keluarga dan teman, tidak berhenti bertanya dan membuat kesimpulan
kenapa ya da kamu gini terus? kamu kan sehat, makannya teratur. Kamu kan baik, kenapa mengalami ini? Kamu kan sempurna jadi istri dan ibu da, kok belum dapat pasangan juga? kamu banyak dosa deh kaenya? atau orang tua mu banyak dosa?
Nahda terlalu sibuk dengan titik hitam, padahal dunia ini luas dengan cahaya putih. Aku terlalu sibuk dengan pertanyaan, sampai aku lupa, hal itu cukup dijalani saja.
Perlahan - lahan, aku bisa mengenali kemampuan diri, aku mengenali karakter tubuh ku sendiri, aku mengenali kesanggupan diri, aku bisa tenang, jika ada hal buruk yang datang, bukan berarti seluruh dunia akan jadi buruk, jalani saja dulu, karena kesulitan datang bersama dengan kemudahan.
Aku belajar untuk bersyukur
Aku belajar untuk mengatakan i'ts okay, we can handle it.
Aku belajar, yaudah kalo capek istirahat, kalo selesai istirahat, kita beraktivitas lagi
Aku belajar untuk, gapapa diare, kita minum obat, lalu istirahat
Aku belajar untuk, tidak apa apa sakit, beberapa jam lagi bisa hilang sakitnya
Aku belajar untuk menunggu antrian, mengisi waktu menunggu dengan membaca buku atau review pekerjaan
Aku belajar mengisi waktu dengan mengamati orang lain, dan mendoakan hal baik untuk orang tersebut
Perlahan, aku belajar untuk menenangkan diriku sendiri, yang ternyata sangat berdampak untuk lingkungan ku
Ternyata, Allah sedang mengabukan doaku sejak dulu, Aku selalu berharap semoga kehadiranku, bisa menenangkan dan membahagiakan orang lain.
Terimakasih ya Allah, Semoga Allah mampukan Nahda untuk melewati ini semua