Ada sesuatu yang tak pernah selesai tentangmu, tentang kita. Seperti sebuah kalimat yang tiba-tiba terhenti di tengah paragraf, menyisakan ruang kosong yang terus memanggil untuk diisi. Aku merindukan kesempatan untuk menulismu kembali. Bukan sekadar dengan huruf-huruf yang terburu, atau kalimat yang terpotong oleh jarak, tetapi dengan hati yang utuh. Hati yang sejak awal hanya mengenal satu nama sebagai pemiliknya.
Aku ingin mengulang ceritamu di dalam kepalaku, menata kembali semua potongan kenangan yang pernah tercecer. Bukan untuk mengubah alur, bukan pula untuk menghapus luka, melainkan untuk memberi ruang yang lebih luas bagi semua yang pernah kita rasakan. Agar setiap tawa dan air mata bisa tumbuh bersama, tanpa tergesa, tanpa terpaksa, juga tanpa kehilangan maknanya.
Aku ingin setiap kata yang kutulis kali ini lahir dari keberanian yang tenang, bukan dari rasa takut kehilangan. Aku ingin membiarkan jemariku mengalirkan cerita yang tak lagi diburu waktu, cerita yang membiarkan kita saling menemukan lagi, perlahan, seperti senja yang selalu kembali meski telah berkali-kali pergi.
Pada setiap jeda, aku ingin mengulang kebenaran sederhana itu bahwa meski waktu berlari jauh dan dunia berputar ribuan kali, hatiku tak pernah berpindah rumah. la masih menetap di tempat yang sama, di genggamanmu, seolah ia tak pernah mengenal kata pulang selain menuju padamu. Karena bagiku, mencintaimu adalah satu-satunya kalimat yang tak pernah kucoret dari halaman hidupku. la tidak pernah kusalahkan, tidak pernah kutinggalkan, bahkan saat seluruh dunia seolah memintaku untuk berhenti.
Dan jika hidup adalah buku yang terus berjalan, maka aku memilih untuk terus menulismu di setiap bab, setiap paragraf, setiap titik dan koma. Sebab mencintaimu bukan sekadar pilihan, ia adalah caraku bernapas, caraku memahami dunia, dan caraku kembali pulang, setiap kali aku tersesat.