Sushi Pertama dari Papa & Gadis Kecil yang Bermimpi
Bulan ini jadi bulan penuh titik balik dalam kehidupan saya. Sebuah e-mail masuk di pukul 16.27, saat saya sedang olahraga dan bersiap menjemput anak-anak. Enam bulan bersama keraguan, rasa cemas, dan tanda tanya yang tak berujung. Khas manusia yang suka bertanya-tanya pada setiap skenario yang telah dibuat oleh Tuhan. Dua puluh enam tahun silam, Papa pernah mengajak saya ke salah satu restauran sushi autentik di Terminal 2 Soekarno-Hatta. Saat itu, Papa masih bekerja di Cengkareng. Rumah kami ke Cengkareng sangat dekat, karena kami tinggal di rumah dinas. Oh, kembali lagi ke sushi. Hari itu saya ingat makan maguro nigiri (tuna mentah dan nasi). Tahu apa yang terjadi? Saya memuntahkannya karena tidak kuat amisnya, haha.... Tidak lama kemudian, Papa saya mencoba mengajak saya lagi. Kali ini berbeda. Sebelum makan, saya celupkan sedikit ke soyu. Enaknya.... sampai hari ini saya masih ingat rasanya. Masih ingat restaurannya yang bahkan sudah tidak ada sejak entah kapan karena silih berganti. Masih ingat sosok Papaku, teman makan makanan Jepangku setiap tahun.
Halo Pa, anakmu kali ini berhasil mewujudkan mimpi besarnya sejak hari kita makan sushi autentik itu. Apakah Papa lihat?


















