Harusnya saya posting ini di hari kedua. Jangan ditanya kenapa saya posting cerita hari kedua di tanggal 3.
Iya, saya lupa. Telat. You name it.
Baru saja mulai ikut tantangan menulis rutin tiap hari, hari kedua langsung gagal. 😂
Sebegitu sulitnya kah saya untuk konsisten.
*memandang langit-langit*
Lalu gimana? Ya nggak gimana-gimana. Di tulis saja, kemudian posting hari ini, tidak ada hukuman karena telat, atau akan di bully sama warganet yang mulutnya terkenal ajaib itu. Toh tidak ada yang peduli. Dan rasa-rasanya saya memang sering berkata begitu pada diri sendiri,
"Nggak ada yang peduli, Kuh." .
Sebuah mantra yang saya ucapkan hampir setiap hari, baik ke diri saya atau ke orang lain. Biasanya tiap kali sibuk memusingkan sesuatu, terutama akan hal-hal sepele.
"Aduh pipi gue tembem banget di foto ini"
"Aduh kok bisa-bisanya typo"
"Aduh kok ngeblur sih fotonya"
Padahal nggak ada yang peduli.
Nggak ada satu pun orang yang bakal membahas kenapa pipi saya tembem di meja makan keluarganya, sampe menjadi obrolan bersama pasangannya sebelum tidur, atau menjadikannya tema penelitian tugas akhir. Nggak ada.
Ditengah-tengah hiruk pikuk dunia kecil di genggaman tangan kita, setiap orang sibuk memamerkan dirinya masing-masing. Sebaik mungkin, sebagus mungkin. Padahal nyatanya tidak ada yang pernah begitu peduli.
Tiap orang sibuk mencari pelarian dari masalah hidupnya masing-masing. Sekedar berempati, mungkin. Tapi jangan terlalu berharap mereka akan ikut peduli dengan masalah kita.
Jadi mulai sekarang harus gimana? Ya nggak gimana-gimana. Terserah kamu, saya nggak peduli.
#masihkurus
3 Januari 2020
*Arsip keikutsertaan #30haribercerita yang gagal di hari kelima













