Kian dekat ke pemahaman kian banyak simpang
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
todays bird

tannertan36
styofa doing anything
we're not kids anymore.
Claire Keane
Sweet Seals For You, Always
macklin celebrini has autism
d e v o n
NASA

★

@theartofmadeline
AnasAbdin
Not today Justin

ellievsbear

❣ Chile in a Photography ❣
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kaledo Art

Janaina Medeiros
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Thailand
seen from Brazil
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@kembangula
Kian dekat ke pemahaman kian banyak simpang

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita selalu marah jika sedang disakiti, namun tak pernah peka jika sedang menyakiti.
Kamu memang selalu berhasil buatku bersedih. Mengguncang hati dengan kalimat pedas mencekik. Aku tidak pernah meninggikan ego dan berkeras bahwa aku yang benar. Sebaliknya, aku mengalah. Siapapun yang salah, aku mengalah. Aku yang minta maaf. Mungkin ketika membaca paragraf di atas kamu mulai mencibir dan bergumam "memang kamu yang salah!!" tidak apa, terserah kamu saja. Sabar tak terbatas itu sifat Tuhan, aku manusia dan aku membatasi sabarku. Tapi entah denganmu, serasa Tuhan menularkan sabar tak terhingganya padaku demi menghadapimu. Jika saja sabarku masih sebatas manusia, mungkin kita sudah berada di jalan yang berbeda. Kamu dengan hidupmu, aku dengan hidupku. Lalu muncul lagi pertanyaan di kepalaku, mengapa kita bisa sampai sejauh ini, karena jodoh atau bodoh?
Malam Duka ke Tiga
Mataku masih bengkak, air mata terkuras tiga hari berturut-turut, namun kesedihanku tak juga surut.
Aku masih berduka,
Saat segelintir kawan mengelus pundakku, menyemangatiku, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, aku masih seperti tanpa nyawa. Aku menatap mereka, aku katakan bahwa semua tidak akan menjadi baik-baik saja. Sayangnya, aku tidak mampu mengucapkannya, kata-kata itu terhenti di lidahku.
Saat suatu hari aku menjadi sangat menjengkelkan, ketahuilah bahwa sesungguhnya ada banyak sekali yang ingin aku sampaikan, ada kata rindu yang tak mampu aku katakan. Ada rasa ingin bertemu yang tak tertahankan.
Hari ini, aku masih berduka setelah rindu dan harapan temu dicampakan begitu saja olehmu. Aku menemukan mereka tergeletak tak berdaya, cahaya nya hilang ditelan kesedihan.
limabelas ke-28
Selamat limabelas yang ke-duapuluh delapan sayang,
Time flies so fast.
Ini bukan tentang sudah berapa banyak angka yang kita kumpulkan, tapi bagaiaman cakapnya kita memahami, memaklumi dan mengesampingkan ego masing-masing.
Aku tidak menginginkan kehadiranmu disini, maksudku tidak apa jika kau masih harus disana. Aku hanya ingin kita akan tetap mesra seperti biasanya meski sebuah jarak berjumlah ratusan ribu mil ada diantara kita, meski mata tak dapat langsung bertatap seperti biasanya. Lalu, aku masih ingin kita tetap saling mengagumi satu sama lain, tidak mengakrabkan diri dengan mereka yang dekat, dan aku masih ingin memiliki rumah impian untuk keluarga kecil kita nanti.
Semoga jarak bukan halangan kita untuk tidak saling percaya. Terkadang aku lupa bahwa kau sudah beratus ribu mil jauhnya. Karena seringnya hati terasa lebih dekat, rindu menjadi perekat. Dan semoga jarak ini memperat rasa yang pernah terabaikan, merekatkan kepercayaan terhadap satu sama lain, dan mampu meyakinkan diri bahwa apa yang telah dijalani tidak berbuah sia-sia. Amin.
Salam,
kekasihmu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
enambelas: Khusus Untukmu
Kepada kakanda dipulau seberang,
Ini surat hari ke enambelas yang aku tulis khusus untukmu. Beberapa hari ini mungkin kau jengkel mengapa aku tidak pernah menulis tentangmu. Maaf, bukan aku tidak mau, namun kalimatku terlalu biasa dan kau berhak yang lebih daripada itu. Rasanya aku butuh prosa tingkat dewa untuk menjabarkan setiap detik bahagianya menjadi milikmu.
Kakanda, surat ini kutulis bukan hanya untuk memenuhi tantangan dihari surat bertema, namun aku sangat ingin memberi tahumu bahwa tidak ada yang membuatku lebih bahagia daripada melihatmu dalam keadaan yang baik dan suasana hati yang berbunga-bunga. Mungkin kalimat ini terlalu muluk, menye-menye dan berlebihan, tapi kau tau, aku menyayangimu. Apakah kau ingat dulu kita sempat berdebat mana yang lebih tinggi tingkatannya; sayang atau cinta? namun, sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu apa jawabannya, yang aku tahu kedua kata itu saling bergemuruh didadaku ketika memori tentangmu menggelitik kepala. Bagaimana denganmu, kau sudah dapat jawabannya?
Kau pasti sudah tahu, sudah sangat mengerti bagaimana susahnya terpisah jarak dan waktu. Dan asal kau tahu saja, aku tidak pernah mau menyerah atas itu. Tidak perduli sejauh apa deretan angka bertamengkan jarak itu ada diantara kita, tidak perduli sebesar apa pertengkaran dan getirnya kata pada beberapa malam, yang aku pahami kita akan selalu kembali berdamai dibawah lindungan rindu dan candu. Maka dari itu, kakanda, bertahanlah kepada apa yang sudah menjadi sebuah pilihan, yakini bahwa kita harus bisa menikmati beratus malam dibilik masing-masing, demi berjuta malam bersama setelahnya. I love you, always.
With love, live and life,
adindamu
Love or Be Loved
Mencintai atau Dicintai? Mana yang lebih baik?
Mencintai adalah sebuah perasaan mengasihi yang diwujudkan melalui pemberian perhatian, memberikan sebagian bahkan seluruh waktu luang, dan mengerti maupun memahami orang lain. Mencintai itu belajar untuk rendah hati, menerima segala kekurangan dan bersabar menghadapi hati yang terkadang diacuhkan.
Sedangkan Dicintai adalah perasaan terhebat yang harus disyukuri karena dengan dicintai kita mendapatkan perhatian, dimengerti dan dipahami oleh orang lain, namun banyak kekeliruan yang terjadi dalam fase dicintai. Terkadang dicintai membuat kita semena-mena terhadap hati yang mencintai, karena ketika dicintai, kita akan merasa sangat sempurna.
Seseorang yang aku kenal pernah menyatakan “salah satu hal tersulit yang dirasa tentang cinta adalah ketika diri terperangkap diantara dia yang dicintai dan dia yang mencintai.” Lalu keputusan apa yang harus kita ambil? Hidup dengan orang yang mencintai atau dengan orang yang dicintai?
Mencintai dan dicintai seharusnya menjadi satu paket dalam sebuah hubungan. Pada nyatanya dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, karena “Kita harus mencintai untuk dicintai”.
Sembunyi
kau tidak perlu bersembunyi dalam asa semakin lama disana semakin tidak ada yang perduli denganmu begitu denganku apalagi dia bagaimana kau bisa bertahan tanpa diperdulikan aku pun sudah letih mengajakmu dalam pembicaraan dia menganggap seakan kau hanya sebatas kata penyambung senyap namun kau bukan hanya sebatas kata bagiku kau memberi aku kekuatan, kekuatan untuk tetap menjaganya keinginan, keinginan untuk tetap mendekapnya menyampaikan berbagai rasa yang takkan pernah bisa terungkap aku mengerti harapnya dia tak ingin kau hanya menjadi kata, tumbuhlah lebih dewasa lagi aku tak punya cukup bekal untuk menjadikanmu gerakan nyaliku tak sampai di puncak cerita tapi aku tau, kau akan terus menyertai kami. karena kau adalah rindu yang tak akan pernah aku jauhkan
Jun
Dear Jun,
Maaf aku tidak bisa datang ke tempatmu hari ini, pekerjaan kantorku terlalu banyak dan aku harus menyelesaikannya hari ini juga. Alhasil aku hanya mampu menyuratimu kali ini, aku berusaha semampuku untuk tetap mengabarimu setiap hari. Sebenarnya aku malas menulis surat untukmu, karena jika ada surat yang datang kepadamu, aku adalah orang yang harus membacakannya untukmu, itu artinya sama saja aku membacakan suratku sendiri. Heuhehe. “tangaku terlalu kaku untuk menggenggam surat indah itu dan selang bodoh ini menghalangi pandanganku” alasanmu setiap kali aku menolak membacakan mereka untukmu. Kau tahu kebenarannya kan, aku tidak penah sungguh-sungguh menolak permintaanmu, aku tidak pernah bisa menolakmu. Aku selalu bisa melakukan apapun untukmu, selalu.
Maka dari itu berjanjilah padaku, Jun, kau harus bisa bahagia seperti kala itu. Tidak perlu mengingat apa yang dulu pernah terjadi padamu, sibukkan saja kepalamu itu dengan berpikir bagaimana caranya agar dapat terus semangat dan sembuh. Jangan kau tanyakan sampai kapan aku mampu menemanimu, jangan kau khawatirkan bahwa aku akan kerepotan menjagamu setiap hari dan harus membagi waktu kerjaku, jangan pernah khawatirkan hal-hal seperti itu, aku akan selalu ada didekatmu, susah ataupun senang, selalu. Maka dari itu berjanjilah padaku, Jun, kau harus bisa lebih kuat dari siapapun.
Your best,
me
Kisah (seperti) Ramayana
Ini surat ke duabelas dariku, ditujukkan kepadamu, kepada dia, atau kepada siapa saja yang merasa surat ini ditulis khusus untuk mereka.
Sampai kemarin, cerita tentang Ramayana masih jelas dikepalaku, bahwa Sinta sangat mencintai Rama dan membenci Rahwana yang menculiknya. Raden Rama Wijaya adalah Putera Mahkota Kerajaan Ayodya. Beliau memenangkan sayembara yang diadakan Prabu Janaka dengan tujuan mendapatkan sang Pangeran untuk mempersunting putrinya, Sinta. Sedangkan Rahwana adalah seorang Raja dari Negeri Alengkadiraja, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Sinta tetapi dengan Dewi Sri. Dalam penglihatan Rahwana, Sinta dianggap sebagai titisan Dewi Sri yang selama ini diimpikannya.
Dalam diam, Rahwana selalu memimpikan Sinta. Beliau selalu mencari cara bagaimana merebut Sinta dari Rama. Bukankah perbuatan Rahwana adalah perbuatan keji? Merebut seorang wanita dari kekasihnya. Rahwana gusar, menginginkan kehadiran Sinta didekatnya. Bagaimana Rahwana bisa setega itu ingin merebut Sinta dari Rama? Rahwana pernah melihatnya. Rahwana pernah melihat Sinta menatapnya dengan cinta. Mata Sinta sangatlah teduh, ayu khas wanita keraton. Tapi apakah itu sebenarnya hanya tatapan biasa dari Sinta dan diartikan berbeda oleh Rahwana? Rahwana, seorang Prabu dari Alengkadiraja tidak mungkin salah mengartikan tatapan itu. Beliau yakin, tatapan itu adalah tatapan Dewi Sri yang dititipkan melalui Sinta, dan tatapan itulah yang membulatkan tekad Rahwana merebut Sinta.
Lalu apakah Sinta akan menolak mentah-mentah sang Prabu ini? Bagaimana tega Sinta menolaknya, setelah Rahwana berhasil menculiknya ketika Rama sibuk berburu kala itu, Rahwana memperlakukannya dengan sangat lembut. Beliau memberikan makanan apapun yang Sinta mau, memberikan perawatan SPA ala putri Raja kepadanya. Hati Sinta tersentuh, ternyata seorang Prabu yang terkenal akan kebengisannya mampu bersikap lembut kepada seorang wanita yang dicintainya, dan rela menculiknya dari Pangeran yang memiliki hak penuh akan dirinya.
Lambat laun, Sinta mulai menyukai Rahwana, mengingat Rama yang tidak ada kabar sedang mencarinya atau tidak. Sinta khawatir apakah Rama sudah melupakannya, ataukah mungkin Rama sudah memenangkan sayembara yang lain dan merebut hati Putri yang lain pula? Pikiran itu berkecamuk dikepala Sinta, sampai akhirnya dia memutuskan menerima tawaran Rahwana untuk mempersuntingnya.
Yang barusan kau baca diatas, bukanlah cerita asli dari Rama dan Sinta. Itu semua rekayasa ku, terutama tentang Sinta yang jatuh cinta dengan Rahwana. Itu hanya perumpamaan, untuk menceritakan kembali tentang kisah sepasang muda mudi yang kekasihnya direbut oleh orang lain yang aku ibaratkan dengan Rahwana. Pesan ku, berjuanglah, bersikap baiklah dan cintailah perempuanmu, sehingga meski beribu Rahwana mencoba merebut hatinya, dia tidak akan pernah mempertimbangkan mereka.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
PERGI
Nyanyian debur ombak tak jua mampu menghapus dengungan, badai semalam tidak menghilangkan jejak kemurkaan. Semesta tak mampu menyembunyikan kepedihan, bintang sudah berusaha keras membuatmu tersenyum, tapi kau menyia-nyiakan usaha kerasnya.
Malam tak ingin pergi, seakan menampakan bahwa kau memang sedang dilanda sepi. Siang tak kunjung datang, seakan mereka sudah bekerja sama untuk menyudutkanmu
Jauh dari hidup. Jauh dari mati
Pikirkan lagi bagaimana cara kau pergi dari perih tanpa berjauh dengan diri. Aku tidak akan pernah membiarkan kau lari. Satu-satunya perpisahan yang aku izinkan adalah mati.
Dermaga Merah
8 Februari 2015 14:00 WIB
Tanggal ini, waktu ini, tepat seperti apa yang sudah kau janjikan. Di Dermaga Merah tepat seperti apa yang tertulis disuratmu satu bulan yang lalu. Setelah sekian lama tanpa kabar berita darimu, aku semakin kehilangan harapan dan ingin berhenti memikirkanmu. Namun sore itu ada sepucuk amplop putih pada kotak surat didepan rumahku. Aku tidak berharap banyak. Pada surat itu tertera namaku sebagai penerima dan namamu sebagai pengirim. Tubuhku gemetar, kakiku lemas menerima suratmu kala itu. Rasanya aku ingin melompat sampai ke awan, namun aku hanya diam dengan pipi memerah.
Berjuta alasan tentang mengapa kau tidak memberi kabar tepapar didalamnya, aku tersenyum. Entah alasan itu sungguhan, atau alih berdalihmu. Lalu kau menceritakan, bagaimana sibuknya urusanmu sampai tak sempat membalas suratku. Sibuk terbang kesana kemari mengurus masalah perusahaan, orang bilang itu namanya Business Trip. Terserah apa namanya, apa alasannya, selama kau tidak disini, aku tetap tidak suka.
Dermaga merah? Kenapa harus disini? Katamu, ini tempat pertama kali kau melihatku diacara pameran dua tahun yang lalu. Kau melihatku dalam balutan blazer dan rok dengan warna senada. Aku ingat, saat itu aku harus mengontrol lancarnya acara. Sayangnya, aku tidak ingat kau pernah menyapaku kala itu.
Tanggal ini, waktu ini, tepat seperti apa yang kau sudah janjikan. Di Dermaga Merah, yang kau sebutkan, aku sudah disini sejak satu jam yang lalu. Mondar-mandir, memasukan tangan ke saku, melipat tangan didada, sudah kulakukan apa saja supaya aku lupa jika aku sedang menunggu. Dua jam berlalu dari waktu yang sudah dijanjikan, kau tidak juga datang. Entah saat itu kau sebenarnya datang, tapi tak berani menemuiku. Atau ada alasan yang lain, aku tidak perduli. Baiknya aku pergi, berhenti menunggumu.
Jika kau pikir aku bukan orang yang sabar, kau salah besar! Selama ini, beratus senja sudah aku lewati dengan menunggumu, dan mengapa ketika menunggu hanya dua jam aku tidak bisa? Kau memenuhi kepalaku dengan harapan, harapan yang selama ini memang tidak bisa kau jadikan. Sesungguhnya siapa yang salah? Aku yang terlalu banyak berharap, atau kau yang sebenarnya tidak bisa diharapkan. Dan disini, di dermaga ini, aku berjanji bahwa aku tidak akan lagi menunggu siapapun.
Terima kasih kau sudah menyempatkan diri menulis untukku waktu itu. Ini akan menjadi surat terakhir yang aku tujukkan kepadamu, sungguh. Semoga kau baik-baik saja disana, dan sukses dengan hidupmu.
Tertanda,
Aku
Terlambat
Ohayō ,
Hai sayang, bagaimana kabar anak kucing yang sedang sakit kemarin, apa sudah mulai baikan? Maaf aku malah menanyakan kabar dia bukan kabarmu. Huehehehe.
Kamu tau, ini Sabtu dan aku masih harus bekerja. Iya bekerja. Tidak apa, lebih baik daripada aku harus cari kerja. Sayangnya, aku bangun terlambat pagi ini, tentu terlambat pula sampai dikantor. Tapi bukan karena obrolan kita yang sampai larut malam itu, tapi karena aku masih terlalu sayang untuk meninggalkan tempat tidur. Kasurku posesif sekali pagi ini, spreinya dingin dan aku berlindung didalam selimut, nyaman sekali rasanya. Apalagi kalau ada kamu disebelahnya, nanti saja kalau sudah halal. Huehehehe.
Jangan khawatir, aku tidak akan mendapat surat teguran karena terlambat sampai kekantor, mungkin hanya sampai Personal Interview. Jadi mereka akan sibuk menyajikan banyak pertanyaan, mengapa aku terlambat, bagaiamana aku sampai kekantor, tidur jam berapa semalam, sudah makan atau belum, dimana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa upss.. tidak sejauh itu pertanyaannya. Tidak apa sayang, aku tidak akan gugup menjawab pertanyaan mereka. Jawab saja dengan jujur, aku terlambat karena ini hari Sabtu dan sesungguhnya aku malas ke kantor.
Sampai disini saja sesi curhatku melalui surat, lain hari aku akan menyuratimu lagi. Semoga sabtumu menyenangkan, dan jangan lupa nanti malam ngapel kerumahku. Bye sayang, have a nice day!
Tertanda,
kekasihmu yang malas bangun pagi.
Merelakan
Aku melanggar janjiku seperti kau yang melanggar janjimu. Masih ingat perjanjian kita tentang tidak perlu saling menyapa satu sama lain ketika bertemu dan tidak perlu mengingat jika kita punya kenangan untuk dikenang? Lalu kenapa kau tersenyum dan menyapa saat itu? Apakah kau belum mampu merelakan? Lakukan seperti apa yang aku lakukan. Berjalan tegap, tanpa ragu, lurus dan tidak menoleh. Aku tidak mau menyakiti tengkukku hanya untuk masa lalu.
Dan aku melanggar janjiku, seperti kau yang melanggar janjimu. Aku berjanji tidak akan pernah menyuratimu, dimanapun atau apapun yang terjadi. Tidak akan gemetar saat kau berada beberapa mil disekitarku atau menundukkan kepala ketika bertemu denganmu. Jadi berhentilah memandangku.
Maaf bukan aku tidak menghargai segala usahamu, jerih payahmu untuk membahagiakanku, tapi kau melakukan kesalahan. Aku tidak perduli dengan kau yang pemarah, kau yang egois, tapi aku tidak suka kau meletakkan orang lain diantara kita. Tidak siapapun termasuk sahabatku sendiri. Berterima kasihlah aku tidak membunuh kalian berdua, aku masih sehat. Sayang jika hidupku yang indah dihabiskan untuk meratap dan bersedih akibat ulah kalian berdua.
Jai, apakah kau masih belum mampu merelakan? Tepati janjimu maka aku tepati janjiku.
Senja Kala Itu
Kepada senja kala itu,
Aku rindu senja kala itu, dimana aku masih bisa menyentuh punggungmu bahkan bersandar disana. Masih bisa memandang wajahmu dan mengusapkan jemariku dipipimu. Ingatan tentang harum tubuhmu pun masih segar sampai saat ini. Betapa aku merindukan senja kala itu. Memori yang indah sebagai penutup bab pada bagian buku ini.
Lalu bab baru tercipta dengan judul 'hubungan jarak jauh'. Kamu bisa menemukan buku berjudul seperti itu di toko buku mana saja, tapi bukan aku penulisnya dan ceritanya bukan tentang kita. Mungkin ceritanya mirip mas, namun bisa jadi lebih haru daripada kisah kita.
Tangan kananku terkadang suka menggenggam tangan kiriku dan ibu jari kanan mengusap lembut punggung tangan kiri, berharap itu kamu yang menggenggam.
Mengingat senja itu, aku sedikit banyak menyesal. Mengapa aku harus menemanimu membeli tiket saat itu? Kalau saja aku tidak berinisiatif menemanimu, mungkin kamu tidak perlu pergi segesa itu. Atau mungkin bisa saja kamu masih ada disini bersamaku? Atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi, entahlah.
Akhir-akhir ini jarak semakin menakutiku. Setiap malam aku bermimpi genggaman tangan kita hampir terlepas, aku terbangun dan menangis, seketika merasakan sepi yang selama ini aku abaikan. Pernah aku ceritakan padamu kalau aku kesepian, tapi kamu menganggap aku bercanda. Kamu tidak mengerti, kamu tidak memahami. Mungkin karena aku yang melebih-lebihkan bunga tidur itu, atau sebenarnya kamu yang tidak perduli. Bagaimanapun kita harus kuat mengindahkan jarak diantara kita. Meski sepertinya aku yang harus lebih banyak berusaha. Semoga kita bisa segera menghabiskan senja bersama lagi, mas.
Tertanda,
kekasihmu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Teruntuk Raksasa Alengka
Teruntuk raksasa Alengka,
Selamat malam tuan, ini aku Sinta. Maaf, suratmu baru sempat aku balas. Aku harap satu surat ini mampu membalas semua surat yang kau kirimkan kepadaku dimanapun aku berada. Aku tertegun ketika aku sudah sampai diujung dunia, pak pos masih datang menghampiriku, “ini dari kakandamu” ujarnya. Tanganku gemetar, tidak langsung ragap membuka surat darimu. Aku penasaran, apalagi yang ingin kau ceritakan padaku setelah hampir seratus delapan puluh delapan senja kita lewati sendiri-sendiri. Aku masih duduk di ruanganku, ketika bayangan tentang bagaimana ini semua berawal terlintas dikepalaku. Aku tidak menepisnya, malah semakin dalam ingin aku kenang.
Tidak pernah ada kata sengaja, namun Tuhan pasti sudah mengaturnya. Sore itu kau duduk disudut kafe, bersama abdi dalemmu. Masih ingat? Entah mengapa kau terlihat paling gagah diantara mereka, tapi jatuh cintaku tidak semudah itu. Kau melirik kearahku, lalu tersenyum. Aku tertangkap basah sedang mengamatimu. Bodoh.
Hari berubah dikuasai kegelapan, bintang sudah siap memantulkan cahaya agar bisa menerangi mereka yang suka pulang malam. Aku tidak pulang malam, aku sudah dirumah dari tadi sore. Aku sedang mendengarkan radio usang yang sudah lama sekali aku lupakan, entah mengapa aku ingin mendengarnya malam itu. Aku cari stasiun radio yang frekuensinya jelas, dan aku menemukan satu suara yang menggetarkan nafasku. Selintas, aku menerka siapa pemilik suara itu.
Satu minggu berlalu, suara itu masih terlintas jelas dipikiranku, atau lelaki gagah yang aku temui di hari yang sama saat aku mendengar radio. Malam itu aku harus bersiap menghadiri sebuah acara amal untuk korban bencana, aku datang sendiri tidak perlu bersama abdi dalem. Aku memilih duduk di bagian tengah, tidak ingin terlalu terlihat atau jadi pusat perhatian. Acara mulai dan seorang lelaki berbicara melalui mikrofon, “Tes. Tes. Selamat malam semuanya”. Hatiku mencelos, jantungku melonjak hampir lepas rasanya, aku ingat suara itu, aku ingat sapaan itu. Astaga! Orang yang duduk dikafe bersama abdi dalemnya dan orang yang berbicara diradio adalah orang yang sama! Astaga!
Setelah acara selesai, aku langsung beranjak, aku tidak sombong tuan, hanya saja aku tidak punya seseorang untuk diajak berbicara. Aku tergesa-gesa menuju ke kereta kuda, dan seseorang memanggil namaku, “Sinta!”. Seketika kakiku berhenti, lututku lemas, jantungku berdebar cepat. 'jangan coba-coba kau tersenyum', ujarku dalam hati 'aku bisa mati lemas melihat wajahmu'. Aku membalikkan badan, kau tersenyum.
“Sinta kan?”
Dasar kau bodoh, untuk apa aku berhenti dan menoleh jika aku bukan Sinta. Aku mengangguk dan tersenyum. Kau memperkenalkan nama dan pekerjaanmu, lalu dengan lancang menanyakan nomor ponselku. Dan Si Sinta yang jatuh cinta ini, memberikannya.
Aku terbangun dari tidur, sepertinya mimpiku indah sekali semalam. Aku bermimpi bertemu seorang rakasasa dari Alengka bernama Rahwana. Tidak lama setelah aku mengingat mimpi, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel ku:
maaf adinda, aku harus pergi dari Ayodya dan kembali ke Alengka. Aku janji menyuratimu setiap hari. -Rahwana
Kau memang hebat tuan, mampu membahagiakan aku dalam semalam, dan menghancurkan aku keesokan harinya. Kau meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku; mengapa kau tiba-tiba pergi? Mengapa malam itu kau memanggilku? Mengapa malam sebelumnya aku mendengarkan radio? Mengapa sore yang lalu aku duduk sendirian di kafe dan memperhatikanmu? Mengapa Rahwana?!
Kau memang menepati janjimu menyuratiku setiap hari, tapi aku tidak mampu menepati janjiku untuk menetap di Ayodya, maka dari itu aku harus pergi dan hidup layaknya orang biasa.
Sampai disini saja suratku tuan, kau tidak perlu menjawab pertanyaaan-pertanyaanku sebagai alasanmu membalas surat ini, karena aku pun tidak akan lagi mengirimimu surat. Semoga kau menjadi Raja yang baik di Alengka. Terima kasih.
Salam,
Sinta.
Entah Apa Selain Kamu
Aku terpaku dihadapan komputer lipat berharap sesuatu merasuki pikiran.Terdiam sambil memejamkan mata, mengerenyitkan dahi dan meletakan jari telunjuk diantara mata. Aku mencoba, berusaha menulis tapi tidak tentang kamu.
Ah! Sulit sekali rasanya! Semakin dalam lamunku merangkak, semakin kamu yang di ketemukan. Mana inspirasiku yang lain, semua pergi katanya diusir olehmu. Lalu apakah kepala ini hanya tentang kamu?
Aku berhenti sejenak dan berencana membuat segelas kopi. Sambil berjalan dengan enggan, kuletakkan tangan dipinggang dan satu lagi mengurut lembut tengkuk yang tidak terasa pegal. Sudah semalaman suntuk aku tunggu kemauan menulisku datang berkunjung, tapi sialnya tidak satu kalipun dia bersedia mampir. Sudah hampir fajar dan dia masih belum datang juga, lebih baik aku yang mencarinya. Menjelajah beberapa tempat yang belum pernah aku kunjungi untuk menulis, cafe-cafe baru sudah banyak berkembang disini, membuat pilihanku semakin sulit.
Malangnya bukan kemauan menulis yang aku temukan, malah beberapa pasang anak muda yang diselimuti asmara. Aku iri! Kadang aku hampir lupa bagaimana rasanya digegam tangan oleh seorang lelaki, bagaimana rasanya menyandarkan kepala dibahunya, dan ah.. sudahlah tubuhku gemetar diserang rindu.
Cukup lama kita tidak bertatap mata; yang aku maksud bertatap mata yang sesungguhnya tanpa dihalangi layar komputer lipat; tapi masih saja aku belum terbiasa. Terkadang mataku terasa panas jika teringat pada masa beberapa bulan yang lalu. Dan tidak disadari, bulir air mulai jatuh menyentuh pipi. Aku tidak menangis, aku hanya ingin melepaskan. Memang tidak selalu baik rasanya, setidaknya aku masih mengerti sedih dan sakit itu seperti apa.
Akhir-akhir ini kesepian yang bahkan lebih sering datang, menengok keadaaanku yang sepertinya semakin nyaman baginya untuk dijadikan sahabat. Yap! Aku dan kesepian sudah menjadi teman yang akrab sekali belakangan ini.
Akhirnya aku menyerah pada inspirasi yang hanya tentang kamu. Mungkin benar, aku tidak mampu menulis apa selain kamu, tidak mampu menyampaikan apa selain ‘cepatlah kembali aku rindu’.