Diantara langit keruh, ku terdepak ditempat suci maha kekal teratur, tersiksa dan rapuh. Kepolosan bukanlah jaminan akan borgolku, ya, semakin mengikat bagai rantai jiwa yang mengekang batin dan nurani. Kekang-kekang dengan manisnya pujian dan cacian yang hampir kudengar tak ada bedanya. Bintang keberuntungan sudah menyerah, pergi ke ufuk tuk tahan malu. Kesempatan kedua sudah sirna hilang kedalam bumi, mengurung dan terbiarkan meleleh oleh lahar. Dan bocah lelaki hanya menunggu detak jantung berhenti diangka 12, ya, tepat tengah malam. Dan batas-batas sudah pergi terpinggirkan oleh kemunafikannnya yang sangat bangga merdeka lantangkan. Dan dia yang maha mendengar, ku tak tahu apakah dia mendengarkan, aku hanya ingin dia mendengar, jika di beri kesempatan, biarkan aku melihatmu wahai yang maha melihat. Ku ingin bercerita betapa bersyukurnya ku masih diberi ujian hingga terasingkan, dan bertanya apakah begitu sayangnya engkau kepadaku hamba yang teramat sekecil hamparan debu, hingga terus menerus dihujani ujian beban hidup seperti ini. Jika aku tak kuat tolonglah aku hambamu ini yang masih khianat dan mangkir. Dan biarkan ku menangis sendiri diantara dosa-dosaku. dipojok yang kusam dan kotor. dan ingatkan aku untuk segera menebus dosa yang teramat banyak ini. Terima kasih aku hanya ingin curahkan segala apa yang telah engkau berikan kepadaku. Dan aku tahu diri aku bukanlah makhlukmu saja di dunia fana ini,















