Alhamdulilah hari ini berkesempatan untuk coba olahraga baru yang lagi kekinian banget yaitu Pilates! Sebenernya udah lama tau dan kepengen coba tapi akhirnya baru bisa hari ini. Sejujurnya aku tidak banyak berekspektasi karena olahraga ini punya konotasi negatif. Dibilang Fomo lah, ga bakar kalori, cuma Flexing aja, dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa hati ini seperti terpanggil untuk mencoba.
Berawal dari obrolan singkat dengan teman kerja suami, kami membuat janji untuk coba kelas pilates yang pertamakali (karena kalo barengan lebih semangat daripada sendirian). Terus akhirnya coba, pagi hari di akhir pekan agar lebih kondusif titip anak-anak ke suami. Oh btw suamiku sangat support aku ikut olahraga ini. walaupun terbilang pricey tapi dia mau membiayai sekaligus mengurusi anak-anak sarapan dan mandi di pagi hari. Berkah rezekinya yaaa sayang💕aamiin.
Ok kembali ke cerita. Janjian pilates jam 7.15 actually is not a big deal. Menu masakan besok sudah ku persiapkan dengan matang supaya paginya tinggal sreng sreng sebentar. Tapi entah kenapa saking excitednya aku sampai tidak nyenyak tidur. Terhitung 2x terbangun untuk memastikan aku tidak terlambat bangun 😝 padahal sudah pasti suamiku membangunkan untuk sholat Subuh seperti biasanya.
Pagi hari pun tiba, aku siapkan 3 menu makanan beserta nasi dan cemilan untuk keluargs. Jam 6 pagi semuanya sudah rapi. Lanjut mandi dan bersiap siap untuk berangkat. Jam /7 berangkat dengan ojol dan tiba jam 7.12 karena bingung mencari tempatnya 😅
Akhirnya aku tiba di lokasi dan langsung mulai kelas. Aku merasa sangat bersemangat sekaligus gugup karena belum paham apapun. Untungnya, arahan yang diberikan cukup jelas dan aku bisa mengikuti gerakan demi gerakan dengan cukup baik.
Flash back sekitar 15 tahun yang lalu, sebenarnya aku sudah pernah mencoba yoga. Olahraga ini sudah terbilang fancy ketika itu dengan biaya Rp300. 000 per 4x pertemuan. Ketika itu aku masih SMA dan ibuku yang membiayai karena disarankan dokter untuk memperbaiki tulang punggungku. Ya, saat itu aku di diagnosis Scoliosis dengan kemiringan 27° ke arah kanan. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, namun diagnosa tersebut diketahui ketika aku sudah berusia 18. Harapannya, tidak terjadi perburukan karena pertumbuhan tulang akan berhenti di usia tersebut. Jadi saran dokter adalah jangan membawa beban yang berat di punggung dan perbanyak olahraga perbaikan postur seperti yoga dan renang.
Walaupun kelas yoga tersebut hanya aku ikuti satu bulan tapi cukup membekas di ingatan. Dalam kurun 15 tahun terakhir aku sempat on off coba yoga via instruktur online dan hari ini pun aku berharap gerakan pilates yang aku lakukan bisa berpengaruh positif pada postur tulangku yang bengkok.
Kemudian gimana kesan pesannya? Cukup menyenangkan! The most important is I feel so happy doing this sports. It's not like yoga who imitate doing Buddhism worship, Pilates has a real equipment that stretching my body right. Ga heran banyak yang merasa lebih kencang dan muda setelah mengikuti pilates. Sebab dalam 1jam pertemuan saja aku sudah merasa otot perut dan paha begitu kencang.
Yang aku syukuri adalah, aku punya suami yang sangat peduli pada kebahagiaanku. Meski menurutku ini sangat mahal tapi baginya tak jadi masalah. Dia bersedia memfasilitasi kelas selanjutnya jika itu memberi pengaruh baik.
Aku yakin laki laki sepertinya akan selalu dijaga dalam naungan Allah Ta'ala dengan rezeki yang berkah. Karena aku tau semua ini dia lakukan dengan ikhlas dan senang hati. Allahumma baariik 🥰😍😘
Jadi, siapa nih yang mau coba? Memar memar sedikit after exercise gapapa lah yaa.. Yang penting ada video dan kenangan indah setelahnya. Tidak hanya itu, badan dan pikiran juga semakin sehat dan kuat untuk menjalani peran terbaik yang sudah Allah rancang. Aamiinn insyaAllah