Sebuah perjalanan menuju utopia.
Awalnya, berbekal sebuah peta yang kamu buat sendiri, kamu tahu harus mengarah kemana, apa yang harus kamu lakukan, dan apa bekal yang harus kamu bawa. Kamu sudah melakukan perjalan dengan penuh keyakinan bahwa kamu akan sampai tujuan dengan peta yang kamu buat sendiri.Â
Perjalanan itu berat, kamu sudah memperjuangkan apa yang kamu cita-citakan dengan sebaik mungkin. Namun..karena beratnya perjalanan itu, kamu merasa ingin menyerah saja. Kemudian, kamu ditawarkan oleh sebuah kelompok untuk diajak bergabung bersama. Imbalan yang dijanjikan merupakan hal yang kamu butuhkan. Yaitu, ilmu, dan bekal untuk melanjutkan perjalanan mu kembali di suatu saat nanti.
Alkisah, tiba-tiba kamu sudah sampai di sebuah kota antah berantah bersama kelompok tersebut. Pemandangan yang kamu lihat merupakah hal yang asing bagimu. Kamu tidak tahu ini dimana, dan kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu mencoba beradaptasi dengan mereka, mencoba memahami apa yang mereka butuhkan. Dan kemudian, kamu berhasil memberikan apa yang mereka mau, tapi kamu tidak mendapatkan apa yang kamu mau. Kota ini sangat nyaman, dengan segala kemudahannya.
Sekian waktu berlalu, kamu merasa tidak lagi cocok dengan mereka. Dan kamu memutuskan untuk mengambil jalan yang kamu yakini sebelumnya. Namun…entah kenapa ada yang berbeda. Mungkin karena proses adaptasi itu, yang mengubah hati dan pola pikirmu.
Kamu tahu rasa nya tersesat? Iya, mungkin rasa itulah yang kamu rasakan saat ini.
Waktu yang kamu gunakan selama tersesat ini, kamu pergunakan untuk mengembalikan akal sehatmu. Yang sebelumnya sempat luntur, karena terbawa arus yang sangat cepat oleh kelompok sebelumnya.
Sisi baiknya, kamu lebih siap menghadapi dunia yang kamu nilai berat di awal perjalanan mu.Â
Kamu menyadari bahwa, untuk kembali ke jalan yang ingin kamu tempuh, kamu butuh teman seperjalanan yang mampu saling mendukung cita-cita yang kalian sepakati bersama.
Di tengah perjalanan tersesat ini, kamu diketemukan oleh kelompok yang sedang berjalan, dan kamu diajak untuk bergabung bersama mereka. Apa yang mereka tawarkan jauh lebih besar ketimbang kelompok sebelumnya. Kamu tidak ingin hal kemarin terjadi lagi, dan kamu mencoba membuka kesempatan untuk berkenalan kembali.
Proses perkenalan ini berjalan dengan baik. Kamu sejalan dengan mimpi mereka.
Kamu tahu rasanya bahagia? Akhirnya kamu menemukan teman seperjalanan yang kamu anggap bisa diajak berjuang bersama meraih mimpi yang kamu anggap utopis sebelumnya.
Hei! Dan akhirnya kamu perlahan-lahan kembali kepada akal sehatmu. Yang kamu perlu lakukan sekarang adalah, bereskan hal-hal yang membuatmu lambat berlari. Dan segera wujudkan utopia mu. Sebuah utopia, akan tetap menjadi sebuah utopia apabila hanya diangan-angankan. It is worth to try, don’t you think?
My incoming episode : VP Product di sebuah company group di Indonesia. Umur 25 mengemban amanah sebagai VP? Bismillah.