lagi lagi
Siang itu selepas rapat pukul 13:00 WIB aku merasakan desakan yang agak mengganggu di perut. Kelihatannya aku perlu ke kamar mandi, pikirku.Â
Setelah menuntaskan hajat di bilik kecil yang nyaman untuk memikirkan segala hal itu, aku langsung bergegas ambil wudhu untuk menuntaskan kewajibanku yang tertunda kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ya, aku harus segera sholat Dzuhur, wudhu lalu berangkat naik menuju mushola sementara yang berada di lantai 2. Kantorku sedang banyak di renov, ruang-ruang di atas banyak yang dibongkar, tak luput pula dengan mushola kecil pujaan semua jemaat di kantor yang ada di lantai-1 ujung selatan bangunan, sebelah kamar mandi ini sebenarnya. Mushola kini terlihat mangkrak, maka harus dipikirkan pengganti sementara tempat itu. Akhirnya diputuskan bahwa sekelumit ruangan di atas, harus disisihkan untuk mushola. Sisanya semua dilibas, rombak! bersamaan~
Perjalanan kesana agak membutuhkan energi untuk seorang ibu hamil tua seperti saya sekarang ini. Walau hanya dari kamar mandi bawah menuju ke tempat mushola, yang terdapat di lantai-2 ujung seberang dari bagian ini.
Selepas menjalankan sholat Dzuhur, saya niatkan tetap memakai kaos kaki. Semoga menjadi catatan amal saya, walau hanya untuk menutupkan kain ke ujung badan saya itu. Tidak mudah hlo menekuk tubuhmu yang mulai menggendut di center massa tubuh. Menjangkaunya perlu perjuangan apalagi menahannya untuk posisi sedemikan demi memasangkan potongan kaos kaki imut ini.
Hufft, selesai. Mari kita lanjutkan untuk berdiri. Kini tubuhku tak selincah dulu, yang bisa dengan fleksibel langsung merubah posisi dari duduk di tanah langsung menjulang naik ke posisi berdiri. No no, saya harus memusatkan tenaga ke tangan sebagai tumpuan, kemudian energi dipindah ke bagian pinggang untuk meranggeh naik. Haha, terlihat seperti orang tua. Tak apa, kalau kata teman kantor saya bilang, “Hamil itu merupakan salah satu jihadnya seorang wanita”. Inilah yang menguatkan saya, dan berusaha tidak mengeluh jika beberapa hal dari kehamilan terasa mulai mengganggu.
Aku mulai berjalan untuk meninggalkan mushola. Di ujung sana, ruang DLC, salah satu ruangan yang belum tersentuh renov. yang pada saat saya naik terdengar suara teman-teman yang sedang latihan bermusik kini telah senyap. Digantikan beberapa celotehan dan suara langkah kaki yang terdengar menjauh meninggalkan ruang.
Personil terakhir yang keluar dari ruangan, membuatku agak kaget. Dialah suamiku. Ada apa gerangan? Kenapa suamiku ikut kelompok bermusik. Beliau bukanlah orang penggemar musik, musiknya saja tidak uptodate, suaranya pun bukanlah hal yang bisa dibanggakan, ketertarikan pada memainkan alat musik? nol. Lalu apa?
“Ngapain mas?“ ujarku hanya memberikan bahasa tubuh serta membuat mimik ucapan agar tidak terdengar teman-teman yang sudah berjalan duluan turun ke bawah. Suamiku membalas dengan isyarat tubuh menunjuk ke dalam ruangan yang sekiranya bisa dimaknai “habis dari ruangan ini” kemudian beliau memberikan isyarat yang sama. Dia menanyakan apa yang sedang kulakukan di atas pada jam sekian. Terlalu siang untuk Dzuhur, dan terlalu cepat untuk Ashar. Kala itu pukul dua siang kurang beberapa menit.
Berhubung jarak ku dan beliau sudah dekat, dan teman-teman sudah meninggalkan kami jauh di tangga. Aku mulai leluasa bercakap dengannya.Â
“Ga di kunci dulu ruangannya mas?“ kataku mengingatkan. Sembari melihat si kunci yang masih tergantung. Suamiku segera menguncinya dan membawa anak kunci masuk ke sakunya.
“Kamu ngapain di sini?“ tanyanya singkat.
“Habis sholat“ jawabku jujur. Beliau melihatkan jamnya yang menunjukkan pukul dua kurang, beliau ingin memastikan kepada saya bahwa ini sudah sangat terlambat untuk melakukan sholat Dzuhur.
“Kan tadi aku eek dulu“ jawabku polos (bahasa kekanakan mulai aku gunakan kepada suamiku jika kami hanya berdua). Beliau sudah hapal, bahwa istrinya ini memang mengalami konstipasi sejak lahir XD apalagi dengan keadaannya yang hamil tua, si jabang bayi akan lebih menekan jaringan sistem pembuangan si ibu, belum lagi ditambah suplemen ibu hamil yang dikonsumsi memang sering memberikan efek samping konstipasi. Mendengar itu beliau mulai terdiam, menandakan puas akan jawabanku.
“Trus mas ngapain di sini?“ tanyaku.
“Bantu setting" jawabnya.
“Mas kan ga tau musik, dan mas juga buta nada“ kataku blak-blakan. Musik bukan passion beliau, lalu bagaimana beliau bisa membantu men-set alat musiknya? lebih ke-setting nada maksudku.
“Aku memang buta nada, tapi aku tidak buta instrumen“ katanya sambil menyunggingkan senyum simpul.Â
Mendengar jawaban simple darinya, aku merasa jatuh lagi kepadanya. Ya beliau selalu membuatku terkesan walau hanya dengan kata-kata simple yang tersusun rapi tapi sudah mewakili jawaban yang diinginkan. Aku tersenyum bahagia sambil kupandangi kilat jernih matanya. Mata yang indah, kata-kata bermakna yang menunjukan tingginya ilmu suamiku selalu membuatku terpana. Ya, lagi-lagi aku dibuatnya jatuh. Jatuh semakin dalam untuk selalu mencintainya dengan tulus ikhlas. Aku ingin selalu di sisinya sampai akhir hayatku. Berkali-kali aku memohon kepada Tuhan, agar suatu saat nanti. Jika salah satu dari kami harus dipanggil untuk menghadap-Nya terlebih dahulu. Aku harap itu adalah aku. Karena aku tidak mau merasakan kehidupan tanpa beliau. Suamiku.












