Tepat pukul 13.00 aku duduk menunggu seseorang, ya seseorang disini. Tempat ini sebenarnya tempat umum yang biasa orang datang kemari, hanya berbeda denganku. Aku disini bukan menunggu kendaraan, melainkan menunggu seseorang. Tidak biasa bagi sebagian orang menunggu seseorang di halte, biasanya mereka bertemu di kafe, restoran terkadang  juga di mall. Tapi, bukan masalah bagiku karena dimanapun tempatnya yang terpenting adalah pertemuannya.
      Sudah 15 menit aku menunggu Kean di halte ini karena isi sms dia yang mengatakan bahwa dia akan telat selama 15 menit. Aku mencoba sabar karena ini berita penting yang harus aku sampaikan padanya. Lalu lalang kendaraan seolah menatapku dengan penuh tanda tanya âsedang apa kamu disana hanya duduk tanpa memberhentikan saya dan beranjak pergi saja?â. Pikiranku tetap fokus pada Kean, ya Kean seorang laki-laki tampan yang aku kenal di sebuah perkumpulan. Tidak sia-sia aku mengenalnya saat kemarin karena di bagitu baik, tidak semua orang aku pandang sama seperti Kean. Sudah lebih dari 15 menit, perasaanku tidak karuan karena aku takut dia lupa akan janjinya.
      âOh Kean, pangeranku ternyata kamu datang jugaâ, aku bergumam seraya berjingkrak senang. Terlihat sesosok tampan di sebrang sana dengan kuda gagah menghampiri ku. âAlviiiii, udah lamaâ, tiba-tiba Kean sudah berada di sampingku dan membuyarkan lamunanku. âEngga koâ, ku lemparkan senyuman termanisku padanya agar dia membalasnya lebih dari senyumanku.
âoh iya, sori ya. Tadi aku abis ada kegiatan duluâ
âNgga apa-apa ko, oh iya duduk aja yuk. Aku Cuma mau ngobrol bentar aja koâ
âAda apa Vi? Ko buru-buru sih? Aku kan kangen kamu, udah lama ngga ketemuâ, Kean menatapku sangat lekat
âAku juga kangen kamu kokâ, aku pura-pura tersenyum pada Kean karena aku takut dia sangat kecewa dengan berita yang akan aku sampaikan.
âAda apa Vi? Cerita dong, masa mau diem-dieman giniâ, dengan wajah bingung
âAku Cuma mau pamitan aja ko Ke, maaf aku ga bisa tepatin janji sama kamu. Bukannya aku ingkar, tapi aku harus berangkat ke Bandung besok. Sori Keâ, dengan mantap dan berat hati ku lontarkan maksud sebenarnya pada Kean.
âOh gitu ya, jadi senin kita ga bisa maen? EmmmmmâŚ.â, Kean hanya terdiam bingung, akupun jadi bingung karena kata-kata spontan yang aku lontarkan ini sangat konyol sehingga aku bodoh dibuatnya.
Kean menatapku sangat dalam tapi aku malah kaku, Â ângga apa-apa kok Vi, lain kali kita bisa main bareng lagi. Ya mau gimana lagi, itu kan urusannya lebih penting daripada mainâ. Oh Tuhan, dia masih bisa tersenyum di kala aku seperti ini, dimanakah perasaan dia? Konyol, benar-benar konyol. Aku seperti badut dengan dandanan lucu di mata dia, karena dia memberikan senyuman lepas yang terlihat sangat jelas dari sorot matanya.
â Iya Ke, maaf ya. (sambil mengeluarkan surat kecil) ini buat kamu Ke, biar kamu inget aku terusâ
âMakasih Alviâ. Ku lihat jam ku yang terpasang di tangan kananku, dengan berat aku pamitan pada Kean untuk yang terakhir kalinya, â Aku pamit ya Ke, maaf kita Cuma bisa ngobrol sebentar. Nanti aku kabarin lagi kalau udah di Bandungâ. Kean hanya tersenyum padaku, di tengah kacaunya hati ini karena takut akan perpisahan ini. âHati-hati ya, Viâ, kata-kata terakhir yang Kean katakan padaku tanpa ada tambahan makna ataupun kata lainnya yang mengiringi kepergianku. Ku lihat langkah mantap Kean berbalik memunggungiku, aku hanya bisa berteriak dalam hati saja âKe, aku harap kamu berbalik badan dan mencegah aku pergiâ. Tapi apalah daya, dia tetap pergi dengan sepucuk suratku di tangannya. Halte ini bukan tanda pertemuanku dengannya dan pergi dengannya, tetapi pertemuanku untuk berpisah dengannya.