Udah lama banget gue pengen nulis ini, secara kejadiannya aja Desember 2014, tapi entah kenapa belum pernah kesampaian.
Desember 2014 silam, gue menjadi salah satu panitia acara charity natal di suatu panti asuhan di BSD. Singkatnya, beberapa minggu sebelum natal, kita meminta anak-anak itu menuliskan apa yang mereka inginkan untuk hadiah natal, lalu mendekati waktu natal kami kesana lagi untuk memberikan hadiah yang mereka minta, dan juga menghabiskan waktu bersama.
Dalam prosesi pembagian hadiah, nama-nama satu persatu anak dipanggil untuk mengambil hadiah mereka dari Santa Claus. Namun ada seorang anak kecil (perkiraan gue sekitar 1-2 tahunan) yang bernama Bene, yang mungkin kurang mengerti bahwa ia harus mengambil kado saat namanya dipanggil, atau juga takut dengan sosok Santa Claus, jadi ia hanya duduk terdiam dengan ekspresi wajah yang menunjukkan sedikit ketakutan saat namanya dipanggil dan semua perhatian tertuju kepadanya, menyiratkan agar mengambil hadiahnya.
Maka gue mengambil inisiatif untuk menggendongnya dan menemaninya mengambil hadiahnya. Setelah itu, dia bener-bener ngga mau lepas dari gue. Nempel banget dalam gendongan gue, jadi yaudah, gue gendong terus juga.
(Shit, di bagian nulis ini gue nangis haha, gue teringat akan how it felt like a really intimate moment)
Lalu jam makan siang datang, jadi gue bawa Bene ke meja makan dan duduk di sebelahnya. Ada pengasuh dari panti asuhannya yang nyuapin gitu.
Terus ada anak perempuan yang sudah lumayan besar (perkiraan gue sekitar 6-7 tahun) yang memerhatikan gue dan Bene sambil dia makan.
Ngga lama kemudian, dia bertanya kepada gue â(Kamu? Kakak? Mbak? Tante? Gue lupa sih jujur dia manggil gue apa, tapi pertanyaan ini ditujukan ke gue) mamanya Bene?â
Dia memandang gue dengan pandangan penuh takjub.
Di situ gue terpaku diam, bingung awalnya. Refleks pertama gue adalah tersinggung karena gue pikir, âemang gue terlihat setua itu?â
Lalu, gue lupa juga antara pengasuh atau temannya, menjawab bahwa gue adalah salah satu kakak-kakak dari acara natal yang sedang berjalan.
Setelah itu pandangan takjub yang tadinya terpancar jelas di wajah anak perempuan itu perlahan sirna dan tergantikan oleh ekspresi kecewa, dan bingung.
Gue baru terpikir lagi - astaga, apakah dia dan anak-anak panti asuhan lainnya memegang kepercayaan bahwa orang tua mereka akan datang suatu hari untuk menjemput mereka?
Itukah yang terlintas di pikiran anak perempuan itu? Bahwa akhirnya, Bene sudah dijemput ibunya kembali?
Menurut gue, terkadang memiliki harapan itu suatu hal yang baik. Tapi gue ngga yakin bahwa di skenario ini, bahwa hal itu yang terbaik.
Hati gue rasanya selalu remuk menjadi berkeping-keping tiap kali gue membayangkan bahwa dia, bangun tiap harinya dengan harapan bahwa orang tuanya akan datang untuknya. Apa yang akan terjadi pada suatu hari nanti ketika ia menyadari bahwa penantiannya selama ini sia-sia?