Dulu aku selalu berpikir, kelak aku akan menjadi wanita seperti apa ?
Apakah seperti nenek? wanita pekerja keras yang hidupnya jauh dari kesederhanaan, dipertemukan dengan kakek yang hidupnya tatkala jauh memilukan. Beruntungnya, meski dalam kesusahan Kakek selalu meratukannya. Hingga Nasib mereka berubah, hidup bahagia, saling merawat di usia tua, sampai mereka dipertemukan kembali disurga.
Ataukah seperti ibu ? Lahir dari keluarga yg sederhana, kedua orangtua yang memanjakannya, ikut melihat proses orangtuanya meraih kesuksesan hingga ia pun bisa menikmati hasilnya. Sayangnya, hidupnya tidak semulus itu, ternyata ujiannya ada di laki-laki pilihan keluarganya. Meski sedikit kesulitan, ia harus belajar menjadi kuat. Kadang ia berpikir, hidup sendiri mungkin jauh lebih baik, namun ego harus ia kesampingkan, mengingat kebahagiaan kedua anaknya jauh lebih penting.
Sebuah cermin lebar sudah ada didepan mataku, 2 kisah yang jauh berbeda. Apakah memilih kuat bersama saling menopang satu sama lain seperti kakek nenek, atau kuat bertahan sendirian seperti ibu ?
Tapi kembali lagi, kita tida bisa menebak takdir. Jalan seperti apa yang akan kita lalui, Awal seperti apa yang kita mulai atau akhir seperti apa yang akan kita temui.
Nenek dipilihkan jalan yang gelap dan berduri, namun prianya membawakannya obor agar tetap melihat jalan sampai menemukan cahaya terang.
Ibu dipilihkan jalan yang terang, namun ia dibuat bingung, prianya terus membawanya ke persimpangan jalan yang gelap.
Lalu aku memilih memulainya diatas jembatan, abu-abu. tak juga gelap tak juga terang. Entah seperti apa priaku akan membawaku ke jalan yang mana. Apakah ia membawa lampu ataukah pisau?
seperti apapun akhirnya, aku tidak akan menyesali pilihanku.