Ketika sudah mampu tidak mengandalkan orang tua dalam mencari penghasilan, ada baiknya jika diberi batasan antara keinginan dan kebutuhan. Katanya demi masa depan, demi memenuhi hasrat kemewahan masyarakat untuk mempromosikan agenda kapitalis konsumtif. Kebutuhan sih bisa di-list dengan mudah tanpa perlu memikirkan cost yang harus dikeluarkan. Lain soal dengan keinginan, yang selalu berubah seiring berkembangnya zaman.Tapi, belakangan ini, saya pribadi sering mengalami sensasi misterius kalo sedang merenung sendiri. Ketika orang lain merasa sudah mampu dan mapan, mereka berhasrat ingin menikah, sedangkan saya malah ingin sekolah. Kuliah lagi maksudnya, ambil S2. Ketika yang lain memiliki banyak teman baru dan bangga akan kebersamaannya, saya malah menginginkan seorang rival. Rival itu semacam saingan, yang harus dikalahkan dalam sebuah kompetisi. Kompetisi yang bisa memacu adrenalin dan membuat saya termotivasi untuk mengalahkannya. Supaya tidak statis dan linear menjalani alur sekolah-kerja-menikah-punya anak-berkeluarga-foya foya-masuk surga, agak membosankan rasanya. Ketika merasa ahli dalam suatu bidang dan tak seorangpun rival yang bisa mengalahkanmu, itupun rasanya membosankan. Jadi intinya sih belakangan ini saya sedang mencoba beberapa hal-hal baru yang bisa membuat saya lebih serius. Saya lupa sejak kapan saya mulai merasa malas dalam menghadapi sesuatu yang sudah bisa dipastikan hasilnya. Saya butuh rival yang bisa memacu bakat dan kemampuan diri sendiri berkembang keluar 100 persen. Rival yang bisa membuat hasil kompetisi menjadi sangat sulit diprediksi. Gampang cari musuh, sulit cari teman, tapi yang tersulit adalah mencari rival. Seperti itu..
Dan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2, saya pikir modal finansial saja tidak cukup. Perlu kesiapan mental yang benar-benar kuat untuk menerima ilmu yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Yaa walau bagaimanapun gelarnya itu sih nomor 2, yang terpenting kan dedikasi untuk masyarakatnya. Saya tidak boleh seenaknya lagi mengambil keputusan seperti waktu kuliah S1. Beruntung saya bisa melewati semuanya pada saat itu, yang penting kan pengamalan ilmu yang didapat dan memberi banyak manfaat demi kemaslahatan umat. Bangga juga jadi S.IP (padahal mah teuing) :p