Pesan Dari Pap oleh Windry Ramadhina #TantanganMenulisWindry
Sewaktu Pap meninggal, dia memberiku tiga kata itu. Tanpa tiga kata itu, barangkali, aku tidak akan bertahan. Aku hampir tidak bertahan di permakaman, di antara kumpulan sosok-sosok tinggi hitam yang tersedu-sedu, di sisi Mam yang menggenggamku erat-erat. Kuku-kuku jarinya menyakitiku. Aku juga hampir tidak bertahan di rumah sakit, di tengah lorong yang berbau aneh, yang sepi, namun lamat-lamat memperdengarkan suara-suara dokter dan perawat yang tumpang tindih, yang bercampur dengan teriakan Mam. Dia, Pap, sahabat terbaikku. Dan, aku gadis kecil kesayangannya. Kami hampir tidak pernah berpisah. Sehari-hari, Mam bekerja. Dia baru pulang pukul delapan malam. Pernah sekali dia pulang pukul lima sore. Tetapi, itu hanya sekali. Pap yang menjaga rumah–dan menjagaku. Dia memasak untuk kami. Dia mengantarku ke sekolah setiap pagi. Dia menemaniku ke kamar mandi pada tengah malam–dia akan menyanyi di luar pintu agar aku tidak takut. Nah. Tentang tiga kata itu. Tentu saja, Pap tidak memberikan tiga kata itu secara langsung kepadaku. Dia terkena serangan jantung. Saat ambulans membawanya, dia tidak sadar. Dia tidak membuka mata hingga dokter dan perawat menyerah di ruang IGD. Tiga kata itu kutemukan di bukunya. Buku berkertas kuning dan bersampul cokelat yang kerap dia pakai untuk mencatat belanjaan. Di halaman terakhir, dia menuliskan banyak hal yang tidak urut, tidak pula bisa dirangkai menjadi sebuah kalimat. Dan, dia melingkari tiga hal. Koin. Bandung. Permisi. Disertai dengan tiga tanda tanya besar yang merah menyala. Kami suka misteri. Aku dan Pap. Selain itu, kami suka berpetualang. Pap pernah membuat peta harta karun dan aku bertugas mencari sesuatu yang disembunyikannya. Kupikir, tiga kata itu pun adalah permainan. Permainan yang disiapkan oleh Pap untukku–entah apakah dia tahu bahwa dirinya akan pergi tidak lama lagi. Kata pertama segera mengingatkanku pada kotak sepatu usang di bawah tempat tidur Pap. Dia punya sekumpulan koin tua. Uang-uang yang dia simpan sejak negara ini belum lama merdeka. Selepas permakaman, aku melongok ke bawah tempat tidur Pap. Ada sebuah amplop di antara koin-koin tersebut. Di dalam amplop, ada secarik kertas, sebuah pesan lain. Angka. Ini berhubungan dengan kata kedua, pasti. Bandung. Maka, aku lari ke perpustakaan rumah kami yang mungil. Aku naik ke sofa dan berjinjit menjangkau buku tebal besar di rak atas. Peta. Di halaman Bandung, aku menemukan coretan pensil. Lingkaran yang melingkupi sebuah daerah. Di salah satu sisinya, terdapat tanda panah. Sebuah petunjuk lokasi. Perumahan lama Tidak jauh dari rumah kami. Di dasar halaman, tertulis: jangan lupa mengucapkan, “Permisi.” Hatiku berdegup. Napasku berhenti di kerongkongan. Aku terbelalak kala menyadari sesuatu. Pap ingin aku pergi ke tempat itu! Ada apakah di sana? Apakah Pap ingin menunjukkan sesuatu kepadaku? Apakah ada hal yang dia tinggalkan untukku? Jawabannya jelas. Paling tidak, aku meyakininya. Kubawa peta itu. Kuambil secari kertas dari laci meja di bawah rak. Kutuliskan sesuatu untuk Mam. Kutinggalkan di pintu lemari pendingin di dapur. Lalu, aku naik ke kamarku. Aku menyambar tas ransel dan memasukkan barang-barang: jaket, stoples berisi uang receh tabunganku, cokelat, dan bonekaku–si Tedi. Setelah semua siap, aku keluar rumah sambil berlari. Yang kemudian kutemukan di tempat yang ditunjukkan oleh Pap adalah hal yang membuatku bertahan hidup tanpanya. Tetapi, bukan sekarang aku akan memberi tahu kalian. Itu cerita untuk lain kali. Saat kaki-kakiku menapaki jalan aspal, aku terus terbayang-bayang pesan yang kutinggalkan untuk Mam: aku pergi mencari Pap.












