Siang itu, aku sedang menunggu seorang residen untuk meminta tanda tangan di poli mata sub bagian infeksi. Kupikir beliau akan kemari, karena beliau sedang bertugas di poli mata sub bagian ini. Karena poli sedang sepi, aku akhirnya menunggu sembari membaca.
Pintu poli terbuka, mengusik keasyikanku membaca. Seorang residen pria muncul bersama seorang pasien dari balik pintu. Sayang sekali, ia bukanlah residen yang sedang kucari. Aku hampir saja kembali melanjutkan membaca, tetapi kutunda. Ada peristiwa langka yang sangat berkesan berlangsung didepanku!
Residen itu menggandeng pasiennya masuk ke ruang pemeriksaan hingga memastikan pasien duduk dengan nyaman. Ia mendengarkan keluhan pasien dengan baik, memeriksanya serta memberikan penjelasan dengan ramah dan penuh perhatian.
Pesona ketulusannya terpancar jelas :“)
Hari itu pasien sangat banyak jumlahnya, tak seperti hari biasanya. Semua residen sibuk dan tampak suntuk, tampak ingin segera mengakhiri tugas ini segera.
Beliau tidak terburu-buru dalam melayani pasien, melainkan sangat prima dan tak terlihat lelah. Tampak jelas bahwa ia ingin memberi pelayanan terbaik untuk pasien. Padahal, jelas tampak masih ada setumpuk CM yang menanti kapan hasil pemeriksaan si pemiliknya ditulis.
Aku yang awalnya hanya memperhatikan dari ujung ruangan, duduk, akhirnya tertarik untuk bangkit dan memberanikan diri untuk izin belajar bersama dengan beliau.
Alhamdulillah, accepted! Hehe
Pasien berikutnya datang, dan beliau langsung menunjukkan banyak hal untuk kupelajari! Dek koass mbatin, “Masih sempet juga ya pak, ngajarin dek koass. Waah, luarbiasa pak!” Beliau juga sempat bertanya mengenai kesiapanku ujian, serta memberi saran apa yang penting untuk segera dikejar untuk dipelajari.
Lagi-lagi beliau memang luar biasa. Hampir semua pasien yang beliau periksa, keluar dengan ekspresi wajah yang terkesan dengan pelayanan beliau. Seorang pasien seumuran SMA bahkan curhat kepadaku bahwa ia sangat senang diperiksa oleh beliau dan ingin diperiksa lagi oleh beliau di kesempatan selanjutnya. Katanya, dokter ini sungguh berbeda dengan dokter lainnya, benar-benar melayani dengan sebaik-baiknya. Ganteng pula (oops).
Mungkin kamu bertanya-tanya. Mengapa beliau luar biasa? Dimana sisi luar biasa beliau? Bukankah sudah seharusnya dokter seperti itu?
Menjadi seperti itu sulit bagi seorang residen.
Di Kariadi, aku melihat realitanya, menjadi saksi bagaimana beratnya seorang kehidupan residen. Betapa berharganya waktu bagi mereka. Betapa sulitnya membagi waktu untuk keluarga, pekerjaan, belajar, bahkan istirahat.
Sedari pagi mereka sudah harus berada di Rumah Sakit untuk memfollow up kemajuan kesehatan pasien rawat inap, lalu bertugas di poli, belum memikirkan kegiatan ilmiah dan materi yang harus dikuasai, belum lagi jaga, serta memikirkan anak-istri dan orang tuanya. Sungguh berat kehidupan beliau. Tak heran jika kadang ketika sedang melayani pasien, mungkin mereka terburu-buru dan harus membagi fokus dengan hal lainnya. Tidak bisa melayani pasien dengan sebaik baiknya, mungkin bukan hal yang sengaja mereka lakukan.
Lantas, bagaimana dengan residen yang kuceritakan tadi? Mengapa ia tetap bisa melayani pasien dengan sebaik-baiknya?
Aku tidak tahu. Entah prinsip apa yang ia terapkan agar bisa selalu seperti itu. Atau mungkin ia punya kekuatan super… (errr)
Tak sengaja timeline line sore itu mengantarkanku pada postingan berikut,
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahan di dunia, pasti Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, pasti Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu [yang baik], pasti Allah memberinya kemudahan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah [masjid], membaca dan mempelajari al-Qur’an, niscaya mereka merasakan ketenteraman dan kasih sayang. Para malaikat berkerumun di sekeliling mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan semua makhluk yang berada di sisinya. Orang yang amal perbuatannya kurang sempurna, tidak bisa disempurnakan oleh kemuliaan nasab.” (HR Muslim)
Penggalan awal hadist tersebut mengajakku merenung.
Hey, Bukankah peduli dengan orang lain adalah pengalihan masalah yang indah? Sebutek buteknya kamu, setegang tegangnya kamu, tetaplah peduli pada orang lain. Jangan hanya fokus memikirkan permasalahanmu. Rasakanlah kesedihan orang lain itu, bahwa bukan hanya kamu yang memiliki masalah di dunia ini. Bantulah ia, maka Allah akan membantu menyelesaikan masalahmu.
MasyaAllah. Mungkin ini juga sumber kekuatan super residen itu.