Semenjak itu, aku mulai menyeleksi siapa-siapa saja yang berhak tau tentang kehidupan pribadiku. Menjadi lebih selektif dalam berkawan, membuatku lebih merasa bahagia. Aku mulai tau caranya memblokir dan menghapus kontak dihpku, yang dulunya sangat anti sekaliku lakukan dengan alibi berbagai pertimbangan. Aku tidak pernah setengah² dalam pertemanan, saat aku mulai meletakkan percayaku semuanya akan aku upayakan. Sayang saat aku dititik terendah mereka seolah menghilang😂😂😂 Yang lebih lucu adalah janji yang terlalu tinggi, basa-basi-busuk yang membuat malas ingin peduli dalam diri semakin menjadi. Mungkin hari ini teman yang ku anggap saudara memang bisa dihitung jari, tapi aku tidak masalah dengan sedikit teman asal mereka tidak menjatuhkan (membicarakan keburukanku dengan orang lain, mengadu domba atas story yg aku buat, tinggi bicaranya sekalinya aku minta tolong nol besar pembuktiannya). Dari pada banyak teman tapi semuanya bermuka dua dan pintar cari muka. Ah...akupun jago seperti itu tapi tidak ku terapkan untuk orang² yg ku letakkan percayaku. Bicara kebutuhan semua orang punya kebutuhan cuma tinggal bagaimana saja kamu tau caranya balas budi, yang dulu aku pernah dengan sangat tulus menolong sekarang menjadi dosa jariyah yg ku dapat karna aku trus teringat atas kebaikan yg tak diingat sedikitpun atas apa yg aku upayakan. Minimal aku tidak pernah pamer nominal.. Yang lebih lucu adalah kamu seolah malas mendengar kisah asmaraku tapi kamu selalu bertanya ternyata kamu pula yang menghancurkan. Yang ku tau teman adalah mereka yg tetap mendukung tanpa mencaci, tanpa sok tau tentang bahagiaku, menerima atas pilihanku, saling ada...hal yg palingku benci di bentak!! Ah...hidup sering sekali mengajak bercanda. Terimakasih teruntuk kamu manusia yg tidak pernah membentakku, selalu sabar dengan sikapku, meluangkan waktu atas cerita²ku...terimakasih sudah menjadi pengingat dalam doaku atas namamu ❤ (di Lapangan Puma) https://www.instagram.com/p/CE7tyIVgO0U/?igshid=ickapvxtzksz