Seperti biasa, aku kembali buat review sotoy setelah nonton film yang berkesan. Sejujurnya agak menyesal gak nonton film ini di IMAX, tapi kayaknya terlalu besar effort buat ke Summarecon wkwk, jadi milih buat ke Ubertos aja yang lebih accessible. Sebenernya mau review langsung setelah nyampe rumah karena ada banyak hal yang mau aku ceritakan, tapi malah keterusan yapping soal film ini sama adek, dan akhirnya jiwa introvertku meronta-ronta juga (note: terima kasih kepada bocil yang sudah mendengarkan hampir 2 jam dan ikut capek padahal dia gak pernah nonton filmnya wkwk). Berhubung masih nungguin album sountrack Wicked: For Good release di Spotify tengah malem, sepertinya lebih baik nulis reviewnya sekarang aja, mumpung dopaminnya masih tinggi 🙂↕️
Btw, setelah nonton dan terkesima sama Wicked part 1, aku berusaha nahan diri buat gak nyari tahu prediksi alur cerita Wicked: For Good dari Act 2 Broadway nya, biar bisa menikmati cerita For Good buat pertama kali. Emang ada banyak dugaan soal plot twist dan ‘rahasia’ yang udah dispill tipis dari part 1, tapi aku sangat berusaha buat gak baca spoiler lebih jauh, dan ternyata itu adalah keputusan yang sangat tepat. Jadi, buat yang tertarik nonton For Good, sebaiknya skip aja dulu review ini. Dan seperti biasa, buat yang gak tertarik juga silahkan lanjut scroll lagi, karena review ini emang tumpahan isi kepalaku aja. Ehehe.
Jadi mohon maaf, disclaimer dulu, kalau review kali ini bakal lompat-lompat, gak terstruktur, dan lebih cocok disebut ‘brain dump’ setelah nonton biar otakku gak panas. WKWK. Tapi, overall filmnya bagus kok! Sangat direkomendasikan buat nonton Wicked Part 1 dan For Good minimal sekali seumur hidup! Cuma 5 jam (doang) kok. Xixi.
Seperti yang aku ceritakan tadi, Wicked: For Good ini lanjutan dari Wicked Part 1 di tahun lalu, yang mengadaptasi drama musikal dari teater Broadway legendaris dengan judul yang sama. Versi musikalnya dibagi jadi 2 act, dan Wicked: For Good ini mengadaptasi Act 2 nya.
Bagian kedua ini punya latar 5 tahun setelah Glinda dan Elphaba berpisah di akhir film pertama. Elphaba dianggap sebagai penyihir jahat, sementara Glinda dibuat seperti ibu peri dan dijadikan ikon harapan oleh ‘penguasa’. Inti dari film ini sebenernya menggambarkan perasaan dilema kedua tokoh ini. Glinda yang sebenarnya gak punya kekuatan apa-apa tapi senang perhatian sejak kecil, berusaha melakukan apapun yang bisa bikin semua orang senang, tapi hati kecilnya merasakan kepalsuan. Elphaba yang merasa penguasa saat ini jahat, menyimpan banyak kebohongan, dan berusaha untuk menyadarkan seisi kota tapi selalu gagal, dan pada akhirnya sadar kalau semua yang dia lakukan percuma. Dia hanya ingin keadilan, kedamaian dan dicintai dengan tulus, yang gak pernah didapat sejak kecil.
Di film ini, semua karakter utama punya ceritanya masing-masing, pendalaman dan perkembangan karakternya sangat banyak. Memang jadi poin plus dan lebih emosional, tapi di sisi lain, hal ini malah bikin fokusnya makin terpecah. Masalah yang ada jauh lebih rumit dari film pertamanya. Lebih politis dan punya kritik yang lebih vokal, tapi di sisi lain juga kayak kehilangan arah dan terlalu terburu-buru. Oh iya, katanya act 2 aslinya punya durasi 1 jam, dan film ini punya durasi 2 jam lebih, tapi kerasa terlalu lambat dan cepat dalam waktu yang bersamaan. Ada banyak bagian yang dibiarkan tanpa penjelasan, tapi ada juga bagian yang bertele-tele.
Ditambah lagi, sepertinya sutradara dan penulis naskah berusaha banget buat bikin semuanya ‘terkoneksi’. Itu poin bagus sebenarnya. Berusaha buat nyambungin cerita Wicked dan cerita originalnya di The Wizard of Oz. Detail-detail kecil, asal-usul tiap karakter, pokoknya dibuat se-make sense mungkin. Tapi tetep aja ada yang terlewat. Mungkin di US, cerita Wizard of Oz udah jadi folklore yang semua orang tahu, kayak Malin Kundang atau Timun Mas kali ya. Tapi kan orang-orang yang bukan die-hard fans gak akan kenal siapa itu Dorothy, gimana latar belakangnya, kenapa ada jalanan dari batu bata kuning, kenapa tiba-tiba dia dateng, aneh banget rumahnya kebawa puting beliung dan bikin Nessa mati, terus tiba-tiba disuruh buat bunuh Elphaba. Semuanya ditampilkan terburu-buru, tanpa ngasih konteks buat penonton awam. Jujur aku juga agak ngang-ngong di bagian ini, tapi emang begitu jalan cerita versi musikalnya, jadi film ini gak salah. Aku nya aja yang kurang riset wkwk.
Oh iya, ada karakter yang kayaknya bisa diexplore lebih dalam, karakternya Nessa dan Boq. Bagian mereka terlalu singkat untuk emosi dan perubahan yang sangat besar. Tiba-tiba jadi gubernur, tiba-tiba bisa terbang, tiba-tiba jadi tin-man, tiba-tiba ketimpa rumah, aneh banget! Tapi ya gimana lagi, film ini beneran ngikutin alur Act 2 musikalnya, jadi gak bisa nyalahin siapa-siapa. Cuma, sepertinya dengan durasi yang cukup panjang harusnya bagian ini bisa digali lebih dalam lagi, gak terburu-buru kayak gini. Oya, sama dinamika karakter Glinda juga kerasa buru-buru, dari dia sebagai public figure, masih sayang sama Elphaba, kejepit di tengah, sampai mutusin buat ikut mengubah dari dalam, semuanya terlalu buru-buru. Untungnya ada lagu The Girl in the Bubble, jadi masih cukup smooth lah transisinya.
Terus, terus, ini gak penting sih, tapi aku baru tahu kalau sutradara Wicked itu sama kayak Crazy Rich Asians. Pantes aja scene nikahan Glinda mirip banget sama scene nikahan di film itu yang sangat magical. Waktu pertama liat scene itu langsung mikir, “lah kok kayak kenal ya”, turns out sutradaranya emang sama. Oalah, pantesan.
Lalu, bagian konklusinya juga sedikit disayangkan sih. Plot twist yang udah dibagun dari part 1 kurang dimanfaatkan dengan baik (menurutku). Ini spoiler, sampe akhir Elphaba gak tahu kalau The Wizard itu bapaknya. Padahal aku nungguin banget dua karakter ini sadar satu sama lain. Tapi ya mungkin itu emang yang terbaik ya. Paham sih, kayak, gak semua hal harus diketahui oleh satu sama lain. Ada rahasia yang memang lebih baik jadi rahasia aja gitu. Cuma, ya lagi-lagi, eksekusinya kurang enak. Aneh aja, penyelesaian buat Wizard, yang tiba-tiba (diusir) pergi setelah tahu kalau selama ini dia jahat sama anaknya sendiri.
Endingnya sebenernya bagus, tapi agak sebel aja sih wkwk. Akhirnya Elphaba dan Glinda beneran berpisah, for good, dalam artian menjadi lebih baik, untuk kebaikan, dan untuk selamanya. Dengan rahasia mereka masing-masing. Elphaba gak tahu soal bapaknya, dan Glinda gak tahu kalau Elphaba belum mati. Tapi itu emang keputusan terbaik buat mereka berdua. Elphaba yang akhirnya mendapatkan kedamaian dan cinta sejati, dan Glinda yang akhirnya mulai mencoba jadi lebih baik, bukan hanya pencitraan aja. Cuma, ya balik lagi, kerasa terburu-buru banget di akhir, jadi penonton seolah dipaksa buat paham banyak hal dalam waktu yang bersamaan, jatuhnya malah jadi overwhelmed. Terus, terus, Fiyero yang tiba-tiba hidup lagi, jadi orang-orangan sawah, jujur agak lucu sih, tapi lagi-lagi, emang ngikutin musikalnya, se-sakral itu emang ya.
Oya, terakhir. Ngomongin Wicked, udah pasti harus bicara soal soundtracknya juga. Dapat dipastikan banyak lagu yang masuk playlist sampe akhir tahun nanti 👍🏻
For Good, seperti judulnya, BAGUS BANGET! Cerita soal dua sahabat yang akhirnya harus berpisah, dan saling bilang kalau mereka bersyukur bisa ketemu satu sama lain. ‘Karena aku ketemu kamu, aku berubah jadi lebih baik. Walau kita pernah saling benci, tapi kamu beneran berharga buat hidupku’. Lirik yang paling aku suka, kata-kata perpisahan elphaba, ‘So much of me is made of what I learned from you, you’ll be with me like a handprint on my heart. And now, whatever way our stories end, I know you have re-written mine by being my friend’ 😭 Pencipta lagunya bener-bener genius! Apalagi lagu ini dibuat sekitar 20 tahun yang lalu, tapi masih relevan sampe sekarang, timeless!
Part ‘Thank Goodness / Couldn’t Be Happier’ juga bagus. Ariana beneran bisa nyampein perasaan dilema ‘harusnya aku bahagia loh, tapi kok ada yang salah, tapi harus tetep bahagia!’, apalagi setelah flashback scene Glinda kecil. Part ‘I’m not that girl (reprise)’ juga dapet banget, walau singkat, tapi rasa kecewa dan sedih karena batal nikah dan baru sadar ternyata selama ini fiyero dan elphie saling suka. Aku juga suka No Good Deed nya Cynthia, merinding banget sama emosi dia yang se-raw itu, yang akhirnya mikir, ‘kayaknya semua yang aku lakukan sia-sia. niat baik yang aku lakukan malah bikin masalah. ya udah aku jadi jahat aja sekalian’.
Ada 2 original soundtrack khusus buat film juga! No Place Like Home buat Elphaba dan The Girl in the Bubble buat Glinda. Keduanya bagus juga! Elphaba yang cerita soal ‘jangan pernah menyerah mencintai rumah’, relate banget sama kondisi wakanda sekarang btw. Glinda yang akhirnya sadar ‘popularitas dan kenyamanan yang dia rasakan selama ini ternyata dibangun dari gelembung yang penuh rasa gak peduli dan kebohongan, dan dia harus keluar dari bubble nya’.
Semua lagunya bagus, tapi minusnya di part Madame Morrible nyanyi, beliau actingnya bagus, tapi mohon maaf, kalo nyanyi kurang enak didenger, kurang ada penjiwaannya, ya emang bukan theater artist, paham kok 🥲
Terakhir, paling akhir, dan paling wajib dimention, acting pemain, khususnya Cynthia dan Ariana! Seperti biasa, bagus pake banget. Mereka bener-bener bisa ngegambarin pengembangan karakter masing-masing. Dari anak sekolahan, skip 5 tahun, dan jadi dewasa dengan karakter yang sangat berbeda. Semua adegan kerasa hidup, bahkan dari mikro ekspresi mereka. Suara emas mereka juga jangan ditanya. Make up mereka juga bagus banget, sangat meyakinkan! Beda banget dari zaman sekolah. Semua karakternya kelihatan banget udah dewasa dan gimana dunia ngerubah mereka. Elphaba yang semakin kuat dan jadi penuh kebencian sama Wizard, Glinda yang berusaha kuat tapi rapuh, dan semua karakter lain. Cuma ya, kalau lihat dari before-after, mereka kelihatan banget berubah jadi kurus drastis, yang terntu aja cukup concerning 😥
Intinya, untuk Part 2, film ini berhasil bikin penutupan yang baik. Walaupun ada banyak hal yang masih bisa ditingkatkan lagi, tapi udah berhasil nyampein pesan dari cerita secara keseluruhan kok, lebih menyentuh dan emosional juga. Soal kritik sosial. Tentang 'semua pilihan ada konsekuensinya', tentang mendewasa berarti harus siap mengambil keputusan. Tentang gak semua niat baik akan membawa kebaikan. Tentang menyadari kalau "gak semuanya harus diselesaikan dengan caramu. gak semuanya harus kamu. ada saatnya, memang hal terbaik adalah menyerah dan pergi". Tentang berubah, for good, ke arah yang lebih baik, untuk selamanya.
Kalau kata cine crib sih, “Wicked For Good itu gak jelek, tapi Wicked Part 1 nya aja yang terlalu bagus” 🤣
Rating: 8.5 batu bata kuning / 10 🫧💚🩷✨
Catatan: Sekian yapping soal Wicked. Ternyata selesai jauh lewat tengah malam, soundtracknya udah release di spotify satu setengah jam yang lalu, dan sekarang aku bener-bener capek, WKWK. Habis yapping sama adek lanjut nulis tuh ternyata menguras tenaga banget, jadi mari kita istirahat! Sampai ketemu di review sotoy selanjutnya (kalo ada).
Tambahan (terakhir banget): suka banget sama perubahan Elphaba, yang di akhir part 1 masih punya ambisi dan bilang "Unlimited", terus di akhir part 2 udah di tahap ngerasa perjuangannya udah cukup dan bilang "I'm limited". Pemilihan liriknya genius sih! Sekali lagi, Stephen Schwartz keren banget!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku suka frasa Latin ini. Frasa ini bisa diartikan juga kaya "berharaplah yang terbaik, tapi bersiaplah untuk yang terburuk."
Dan ini semacam prinsip dalam hidupku.
Kalau dipikirin lagi, ketika kita siap secara mental untuk menghadapi sesuatu yang buruk, maka setelah kejadian itu kita ga akan merasa sedih banget, ya sedih sih tapi seenggaknya kita ga akan tenggelam dalam pikiran negatif dan bikin semua terasa semakin menyakitkan.
Kayaknya sekarang aku lebih sering mampir ke sini buat yapping sotoy soal film atau series yang baru selesai ditonton ya? Dan sepertinya untuk kedepan juga akan begitu, haha. Kalau kehidupan lagi ramai, mungkin akan di-review juga kapan-kapan.
Oh iya, perlu 10 hari sampai akhirnya aku memutuskan buat mulai nonton episode pertama. Awalnya maju mundur buat nonton, soalnya kebanyakan orang ngasih review yang bagus tapi cukup traumatis. Ada soal cinta segitiga, dan persaingan 2 orang sahabat juga, kayak pernah denger. Karena lama-lama makin penasaran, akhirnya aku putuskan buat nonton juga, dan ternyata benar, selama nonton series ini aku gak berhenti mengumpat (wkwkwk istighfar). Satu episode gak bisa selesai dalam satu duduk, soalnya lebih sering berhenti di tengah, tarik nafas, nulis catatan (sambil teriak dalam hati). Dan akhirnya selesai juga nontonnya setelah 3 hari. Ada 15 episode, dan menurutku sangat cukup buat menyelesaikan cerita dua orang ini.
Seperti biasa, kalau tidak tertarik dengan review sotoy yang isinya lebih banyak lanturanku, atau tertarik buat nonton tapi gak mau baca spoiler, silahkan skip dan lanjut scroll aja, ya!
Judul korea dari series ini 은중과 상연 (Eunjunggwa Sangyeon), beneran punya arti literal, kalau series ini bercerita tentang 2 tokoh utamanya, Eunjung dan Sangyeon. 2 orang yang punya ‘hubungan’ rumit. Dibilang musuh, mereka saling peduli, tapi dibilang sahabat, mereka saling menyakiti.
Premisnya unik. Tentang seseorang yang tiba-tiba didatangi lagi oleh mantan teman lamanya setelah 10 tahun putus kontak, dan (dengan gak tahu malu) minta ditemani menjalani saat-saat terakhir hidupnya karena sedang sekarat.
Dari premis dan episode pertama, series ini langsung bikin aku penasaran, masalah apa yang bikin mereka putus hubungan, kenapa Eunjung kelihatan muak banget waktu Sangyeon tiba-tiba datang, dan banyak pertanyaan lain, yang pelan-pelan terjawab sepanjang series berjalan, yang bikin aku kesal, marah, tapi akhirnya mengerti dan sedikit mewajari apa yang dilakuin Sangyeon.
15 episode series ini menggambarkan perjalanan hidup 2 orang tokoh utamanya, Eunjung dan Sangyeon. Sepanjang series, kita diajak buat mengenal mereka dari kecil, gimana mereka ketemu pertama kali, satu kelas waktu SD, tiba-tiba hilang kontak dan ketemu lagi waktu jadi mahasiswa umur 20an, hilang kontak lagi dan ketemu waktu udah kerja di umur 30an, lagi-lagi putus kontak, dan akhirnya ketemu lagi di umur 40an. Rasanya mereka emang udah ditakdirkan untuk satu sama lain.
Cinta segitiga yang ternyata gak se-sederhana itu, yang menyakitkan buat mereka bertiga, dan cukup traumatis buat Eunjung yang bikin dia punya rasa insecure dan trust issue, sampai punya prinsip kalau gak yakin 100%, mending gak usah punya hubungan aja, memutuskan buat gak membuka hati sama siapapun. Ya karena dikhianati se-gitunya, wajar sih. Huhu.
Di episode 4, aku udah punya kesimpulan awal, kalau I will not be able to get along with someone like Sangyeon. Someone who always envious and possessive, who seems perfect and looks like they have everything, but deep inside has flaws they never want to show. Someone who makes me feel insecure, guilty, and at the same time pity her. Someone who makes me feel like a bad person.
Kayaknya aku emang lebih bias ke Eunjung, tapi emang! Setelah 4 episode itu, aku bisa simpulkan kalau Sangyeon itu tipe orang yang gak akan ngebiarin dirinya tenggelam sendirian. Kalau dia jatuh, semua orang harus jatuh juga. Pura-pura gak terjadi apa-apa, tapi sebenarnya punya banyak luka. Jahat. Tapi, mungkin dia juga mikir kalau semua orang jahat sama dia, dunia jahat sama dia.
Setelah ngikutin dinamika kehidupan mereka, aku rasa gak ada yang 100% benar dan salah di series ini. Semuanya sengaja dibuat abu-abu, sangat manusiawi dengan rasa egois, iri, dan insecurenya.
Ah iya, jadi ingat. Ada scene di film ini yang mengingatkan aku soal cinta dan patah hati pertama juga. Tentang menemukan sosok ideal, yang ternyata memang gak ditakdirkan untuk kita, dan mau gak mau harus mengikhlaskan.
Ada juga scene yang beneran kerasa personal, waktu Sangyeon bilang kalau rasa insecure dan depresi Eunjung itu gak valid, “Orang yang benar-benar rendah diri gak akan bicara kayak Eunjung. Orang yang asal bicara kayak gitu gak punya rasa minder”, dan ngucapinnya tepat depan muka Eunjung. Jahat bener. Sangyeon seolah bilang kalau orang ceria dan kelihatan gak punya masalah gak berhak buat ngerasa insecure dan rendah diri. Sangyeon itu emang realistis, tapi mulutnya gak dijaga. Pedes banget.
Aku bisa ngeliat diriku di Sangyeon, yang gak mau dianggap lemah, gak mau kelihatan susah di depan orang lain, merasa kesepian, memutus hubungan dengan banyak orang, tapi sebenarnya perlu bantuan. Tapi di sisi lain, aku juga sangat bisa ngeliat diriku di Eunjung, yang selalu merasa insecure dan khawatir soal banyak hal, clueless dan polos (polos sama bodoh beda tipis sih), yang suka mengambil keputusan sepihak dan terlalu terbawa emosi, memandang semuanya harus ideal.
Mereka saling menyakiti satu sama lain. Eunjung dengan rasa rendah diri dan kenaifannya, sementara Sangyeon dengan rasa sepi tapi ingin terlihat kuat dan selalu menutupi luka-lukanya. Eunjung 100% feeling yang responsif, dan Sangyeon 100% thinking dan defensif. Eunjung selalu merasa inferior dari Sangyeon, selalu merasa apapun yang dia usahakan akan selalu kalah dari Sangyeon. Tapi Sangyeon juga sama, selalu merasa kalah dari Eunjung, selalu merasa Eunjung punya semua hal yang dia inginkan, dan itu gak adil menurutnya. Mereka saling benci, iri, cemburu, tapi juga mengkhawatirkan dan peduli satu sama lain. Bener-bener hubungan orang dewasa yang kompleks.
Ada juga pengkhianatan yang jahat banget, dan alasannya gak make sense, “Aku berharap kamu hancur, sepertiku”, kayak, HAAH? Situ psikopat mbak?
Tapi akhirnya setelah semua cerita dari 2 sudut pandang terbuka, Sangyeon jujur kalau dia benci dan mengagumi Eunjung dalam waktu yang bersamaan. Semua hal yang Eunjung punya (yang dia gak punya), Eunjung yang membiarkan dirinya mencintai dan dicintai orang lain. Sangyeon cuma punya Eunjung di dunia ini, dan dia berpikir bahwa cara untuk menyakiti dan menghancurkan dirinya adalah membuat Eunjung sakit. Sungguh pola pikir yang sangat sakit, bukan??
Di akhir, Sangyeon akhirnya bilang kalau, “Semua akan lebih mudah kalau aku hanya mengagumimu saja, tanpa membenci. Di kehidupan berikutnya, aku akan jadi teman yang baik”, lalu aku mengumpat: HARUSNYA DARI DULU MBAK!!
Intinya, alur cerita dari series ini maju mundur tapi tetap enak buat diikuti. Ada plot twist juga, yang cukup bikin kaget. Penulisnya jago buat mainin perasaan penonton, seperti drama korea pada umumnya. Akting Kim Go-Eun dan Park Ji-Hyun bagus banget, bisa meranin karakter di 3 masa berbeda, dan semuanya akurat. Emosinya nyampe, bahkan cuma dengan tatapan dan mikro ekspresi. Wajib dapet baeksang tahun ini! Sinematografinya juga bagus banget, pengambilan gambar, grading, scoring dan soundtrack.
Salah satu drama terbaik yang aku tonton tahun ini!
Tapi series ini cukup ditonton sekali, gak usah rewatch, bikin sakit kepala!
Rating: 8.8 sakit kepala / 10!
Catatan: habis nonton series ini jadi makin tertarik buat nyoba kamera analog. Mari kita realisasikan tahun depan!
Akhirnya kembali lagi ke sini buat nge-review sotoy film yang berkesan buatku.
Sebenarnya film ini sudah aku tonton satu bulan yang lalu, dan tadinya mau langsung aku review hari itu juga, tapi ternyata perasaanku gak karuan dan akhirnya gak bisa cerita apa-apa soal film ini. Beneran, setelah film selesai aku cuma bengong, kayak ada yang mengganjal, tapi juga ada perasaan lega, yang susah aku gambarkan. Rasanya capek banget, tapi di sisi lain juga kagum sama cara Yandy Laurens menggambarkan rasa berduka, kehilangan, dan memaafkan.
Tadinya udah lupa buat nulis review, tapi setelah nonton podcastnya bang Radit sama Yandy Laurens, perasaan aneh itu dateng lagi, dan jadi kepikiran buat nulis review, tapi malah berakhir di draft (lagi). Malam ini, playlist OST film ini aku putar lagi, dan jadi inget kalau belum selesai juga nulis review sotoy tentang sore. Mari kita selesaikan, sebelum semakin lupa.
Seperti biasa, mungkin review sotoy ini bakal berisi banyak spoiler, jadi kalau gak mau kena spoiler, silahkan skip dan lanjut scroll aja. Kalau berminat buat nonton, lebih baik jangan baca spoiler apapun, karena semakin sedikit yang kamu tau sebelum nonton, experience nontonnya bakal semakin seru, beneran deh.
Seperti judulnya, film ini bercerita tentang Sore, seorang perempuan yang kembali ke masa lalu untuk bertemu Jonathan, suaminya yang meninggal di masa depan karena serangan jantung. Walaupun ada konsep time-travel, dibanding sci-fi, film ini lebih cocok dikategorikan sebagai romance fantasi. Jadi, gak perlu mikir soal teknis dunia paralel yang ribet kayak film-film marvel, cukup nikmatin aja filmnya dan perasaannya. Kalau pernah nonton Your Name, feel nya hampir sama, tapi ceritanya jauh berbeda. Sutradara film Sore juga mengakui kalau Your Name jadi salah satu film yang menginspirasi pembuatan film ini.
Buatku, film ini bukan tentang gimana caranya Sore berusaha mengubah Jo, mengubah takdir yang sudah terjadi. Tapi tentang gimana Sore belajar mengikhlaskan dan berdamai dengan duka. Film ini juga memberi pandangan baru soal memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Tentang bagaimana kita selesai dengan diri kita sendiri. Tentang menjadi dewasa dengan segala perasaan di dalamnya.
Aku gak pernah nyangka kalau kalimat "satu-satunya orang yang bisa mengubah diri jadi lebih baik hanya diri kita sendiri" yang udah sering didengar dari dulu bisa dibuat se-dalam dan se-bermakna ini.
Kalimat "Longing is good" juga beneran ngena banget. Seolah ngegambarin kalau ada perasaan rindu yang sangat dalam dan gak bisa digambarin oleh kata-kata, tapi bisa dirasakan dan menggerakkan hati untuk berubah jadi lebih baik.
Semua aktor dan aktris di film ini juga benar-benar tercipta untuk film ini. Acting Sheila Dara dan Dion Wiyoko bener-bener bisa menghidupkan cerita dan gak bikin bosen walau diulang berkali-kali. Tatapan mata Sheila beneran bicara, bisa banget ngegambarin capeknya dia terus-terusan ngulang waktu sampai putus asa dan hampir nyerah. Genius banget!
Soundtrack dan scoring film ini juga cakep banget, pas, gak berlebihan, tapi waktunya beneran tepat, bikin merinding. Semua lagu yang ada di film ini beneran punya peran dan makna masing-masing. Gak asal ambil aja, tapi kayak udah ditakdirkan jadi soundtrack film ini. Lagu Terbuang dalam Waktu juga bagus banget, dan ternyata makna lagunya dalam tapi beda jauh sama film Sore, tapi anehnya cocok juga. Kalau kata pencipta lagunya, lagu ini jadi punya dunia baru karena Sore.
Sinematografi nya juga bagus BANGET! Pemandangan indah di Kroasia, dingin dan magical nya suasana kutub di Finland, semuanya cantik! Semuanya beneran dipikirin matang-matang, dan gak ada shot yang sia-sia.
Walau banyak pertanyaan dan (katanya sih) plot hole, tapi buatku keputusan dibuat open ending bikin film ini jadi lebih bagus. Memang banyak hal yang lebih baik gak diceritakan. Dan kekurangan film ini udah ketutup sama keindahannya.
Harus banget film ini masuk BANYAK nominasi FFI tahun ini (bareng JUMBO wkwkw)!
Dari Keluarga Cemara, Jatuh Cinta seperti di Film-Film, Satu Kakak Tujuh Ponakan, dan Sore, semua film Yandy Laurens gak ada yang dibikin asal-asalan, semuanya kerasa tulus dan pesannya nyampe semua. Setelah film ini, aku jadi makin suka sama karya Yandy Laurens, dan sudah dipastikan gak akan pernah skip film-film beliau. Kalau bisa, nonton di hari pertama tayang biar gak kena spoiler!
Oiya, habis nonton Sore, jadi penasaran sama web series nya, dan malah jadi nonton web series Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode, dan ceritanya BAGUS BANGET! Agak mind-blowing dan bikin bengong, tapi keren. Makin ngefans sama Yandy Laurens.
Sekian review sotoy kali ini, akhirnya selesai juga, wkwkw.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Anggap yang terjadi di masa lalu itu luka, bisa sembuh, walau meninggalkan bekas dan gak bisa kembali seperti semula gak apa-apa. Yang penting kita bisa bangkit dan jadikan itu semua pelajaran hidup yang berharga."
Orang-orang hebat yang kamu kenal sekarang juga pasti punya cerita tentang kegagalan dan masalahnya masing-masing, tapi mereka bisa bangkit. Masih panjang perjalanan, masih banyak peluang yang bisa dicari, harus semangat.
— Pak Supri, dosen pembimbing (merangkap bapak dan konselor soal kehidupan) 🥲🙏🏻
Halo! Manusia sotoy ini mau #reviewsotoy series yang singkat tapi cukup buat ngasih banyak pelajaran, terutama soal parenting.
Cuma 4 episode, tiap episode durasinya 1 jam, tapi masalah yang diangkat cukup kompleks dan dekat dengan kehidupan sosial anak-anak gen alpha. Tentang cyber-bullying, bahaya internet, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dari hal yang kelihatannya sepele.
Premis ceritanya tentang Jamie, siswa kelas 1 SMP yang ditangkap atas tuduhan penganiayaan dan pembunuhan.
Setiap episodenya menggambarkan semua proses, dari 'grebek' rumah, interogasi dengan polisi, pencarian motif di sekolah, sesi interview dengan psikolog, sampai apa yang terjadi pada keluarga tersangka setelah kejadian.
Yang bikin kagum, series ini diambil dengan teknik one take untuk setiap episodenya. Kayaknya gak ada cut sama sekali, kalaupun ada, transisinya seamless banget. Walaupun one take, tapi blocking dan alurnya enak buat diikutin. Penonton bener-bener diajak buat hadir dan menyaksikan semua hal yang terjadi saat itu. Jadi kagum juga sama polisi inggris yang gercep banget nanganin kasus kriminal, gak kayak polisi konoha.
Acting semua karakternya juga bagus, terutama psikolog dan Jamie waktu lagi ngobrol berdua. Mimik wajahnya bagus banget buat nyampein emosi marah dan frustasi, emosi psikolognya juga bagus banget, gimana dia meregulasi emosi dirinya sendiri, tapi harus tetep profesional.
Series ini ngasih gambaran kalau, sadar atau nggak, karakter anak dipengaruhi oleh sifat-sifat dan kebiasaan orang tuanya. Walaupun rasanya si Ayah sudah berusaha mendidik anak dengan baik, kadang dia lupa kalau sifat-sifat buruk yang dilihat oleh anak juga memberikan pengaruh ke kepribadiannya. Bahkan pengaruhnya jauh lebih besar dari value apa yang berusaha orang tua tanamkan.
Di series ini, si Ayah berusaha jadi Ayah yang pekerja keras, meski punya anger issue, tapi berusaha membesarkan anaknya dengan kasih sayang, gak pernah meluapkan emosinya ke keluarga (tapi ke benda-benda sekitar). Si anak tanpa sadar punya sifat itu dalam dirinya.
Di series ini juga dijelaskan gimana bahayanya paham-paham atau ideologi radikal yang ada di internet. Tentang paham incel yang lama-lama berubah jadi radikal dan cenderung merendahkan dan membenci lawan jenis karena perasaan frustasi. Jadi makin sadar kalau perlu pengawasan dan bimbingan orang tua saat anak ber-internet. Sebenernya bukan pengawasan juga, tapi lebih tepatnya perlu ditanamkan value-value yang dirasa penting dari kecil, biar kebentuk fondasi yang kuat, sampai akhirnya si anak bisa menentukan sikap dengan bijak waktu terjun ke internet.
Intinya, series ini banyak ngajarin tentang parenting dan fenomena yang cukup berbahaya di kalangan gen alpha. Setiap episodenya digambarkan dengan sangat baik dan mudah dipahami.
Masih kagum sama teknis one take nya yang ciamik! Biasanya ngeliat scene one take yang durasinya 15 menit aja udah keren, tapi ini sampai 1 jam gak berhenti, salut sama kameramen dan sutradaranya! Wkwkwk
Rasanya udah lama banget gak nulis lagi di sini. Tulisan terakhir di bulan lalu akhirnya dibuat private karena rasanya terlalu personal aja buat dibaca orang. Tapi sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik kok, tenang aja. Lagi belajar buat gak keseringan oversharing juga sejujurnya.
Seperti biasa, aku kembali dengan #reviewsotoy karena habis nonton film yang berkesan. Film ini terasa jauh lebih berkesan karena memang sudah aku tunggu-tunggu dari 2-3 tahun yang lalu, waktu Bang Ryan cerita kalau lagi ngerjain project film animasi, dan makin excited saat teaser pertama keluar. Waktu keluar bioskop langsung nge-batin “Film yang dibuat dengan tulus dari hati emang beda ya?”
Disclaimer: Mungkin akan ada sedikit spoiler, dan cerita yang terlalu panjang, jadi skip aja disini kalau kepanjangan. Tapi dunia harus tau, film ini BAGUS PAKE BANGET!!
Premis filmnya cukup unik tapi juga familiar. Tentang seorang anak kecil bernama Don, yang dibully teman-temannya karena lelet, ‘aneh’ dan badannya yang gemuk. Lewat lomba pentas di festival, ia ingin membuktikan kalau dirinya bisa menang dengan membawakan cerita dari buku dongeng peninggalan orang tuanya. Dibantu sahabatnya, Mae dan Rusman (dan 3 kambingnya), Don berusaha untuk mewujudkan mimpinya, meskipun ada banyak permasalahan dan dinamika emosi yang terjadi. Mereka dibantu Meri, ‘anak dari dunia lain’ yang sedang mencari ayah ibunya.
Film ini mengangkat masalah yang kompleks dengan cara yang hangat dan sederhana. Lewat petualangan mereka, kita diajak untuk belajar menerima kehilangan, tentang persahabatan, meminta maaf dan memaafkan, mendengar, dan memandang suatu hal dari perspektif yang berbeda.
Ada banyak hal yang aku suka dari film ini. Memang, rasanya sangat subjektif, tapi aku benar-benar sangat menikmati film ini. Hal yang paling aku suka adalah: penggambaran karakter yang dibuat ‘abu-abu’, gak ada yang 100% baik, dan gak ada juga yang 100% jahat. Seolah mau menjelaskan realita kehidupan, yang membuat setiap karakter jadi terasa sangat hidup. Don yang riang, ceria walau dibully, tapi punya sifat egois juga. Atta yang digambarkan sebagai pembully, tapi ternyata baik, dan ada alasan di balik tingkahnya selama ini. Bahkan 'villain' di cerita ini juga punya alasan kenapa dia jahat. Perkembangan setiap karakternya dibuat dengan rapi dan enak buat diikuti.
Ada humor-humor receh juga, kayak mbak-mbak panitia datar yang kocak, atau jurus SAP! SAP! SAP!!
Momen sedih dan haru nya juga punya porsi yang pas. Cukup, tapi sangat berkesan.
Film ini beneran ngingetin sama masa kecil. Mirip film Upin-Ipin Misteri Kampung Durian Runtuh, Coco, dan film-film animasi lain yang aku suka. Familiar tapi dalam waktu yang bersamaan terasa baru juga.
Oh iya, soundtrack nya bagus-bagus dan bikin terharu semua! Suara Prince Poetiray dan Quinn Salman beneran magical banget!
Pokoknya amat sangat bersyukur bisa nonton film animasi Indonesia se-mengagumkan ini. Anak kecil dalam diri ini sangat terhibur dan rasanya dipeluk erat sama Don dan kawan-kawan 🥲
"Setiap cerita punya tokoh dengan porsinya masing-masing. Pencerita yang baik adalah dia yang bisa mendengar. Karena, sebagus apapun ceritanya, gak ada artinya kalau gak ada yang mendengarkan"
Film ini jadi bukti kalau kerja keras dan kolaborasi ratusan orang bisa membuat karya yang hangat dan mengagumkan 🥹
Some new year affirmations to ring in the new year! 🎉 I originally made this 5(!) years ago and am bringing it back this year so that I can have some rest. I hope this year, you can start the things you've always want to start and focus on all the good instead of only the negative. 💛
Disclaimer: ini review film animasi yang diadaptasi dari game. Mungkin bakal kerasa kurang relate sama sebagian orang, tapi gak apa-apa, karena buatku ini menarik. Mungkin ada spoiler juga. Jadi skip aja kalau gak tertarik 🙏🏻😀
Nonton Sonic udah jadi 'ritual' tiap 2 tahun sekali buat aku dan si bungsu. Kami selalu nonton film ini dari chapter pertamanya tahun 2020. Waktu itu tepat hari ulang tahun si bocil yang ke 9, aku ajak dia buat nonton film (dalam kondisi sadar dan berakal wkwk) untuk pertama kalinya. Tapi ternyata malah jadi rutinitas tiap 2 tahun sekali, dan semoga bakal dilanjutkan terus sampe dia gak mau diajak nonton bareng lagi 🥲 (ayo milking terus! sampe Sonic 10 kalo perlu hehe).
Awalnya gak ada ekspektasi apa-apa soal film Sonic. Waktu kecil pernah main game nya, tapi cuma sebatas itu, gak ngikutin sampe tau origin setiap karakter yang ada di game. Bahkan cuma tau Sonic sama Prof. Robotnic doang. Ngajak nonton film Sonic juga awalnya karena pengen ngajak adek nonton dan gak ada pilihan film lain yang ramah anak, tapi ternyata malah ketagihan (dan aku juga sangat menikmati filmnya, wkwk).
Oiya, agenda nonton Sonic yang ke 3 ini ternyata maju 4 bulan dari jadwal ulang tahun adek, tapi untungnya bertepatan sama hari terakhir libur sekolah, jadi masih ada momen yang bisa dirayakan lah ya.
Sonic 3, seperti namanya, ngelanjutin cerita dari Sonic 1 dan 2, tapi fokusnya tentu berbeda.
Di Sonic 1 penonton dikenalin sama karakter landak biru (Sonic) yang jatuh ke bumi, kehilangan teman, diburu sama Dr. Robotnik muda karena energinya luar biasa besar, gimana Sonic bisa survive dan akhirnya nerima kalau dia tinggal di bumi dan ketemu keluarga baru.
Terus di Sonic 2, Sonic ketemu sama temen barunya, Tails si rubah yang pintar dan punya banyak alat-alat, kayak doraemon. Di sini juga dikenalin karakter baru (Knuckles) yang awalnya jadi musuh tapi berakhir jadi temen Sonic. Di sini Dr. Robotnik mulai menggendut dan mulai mirip sama karakter di game.
Dan yang terbaru, Sonic 3, ada karakter baru yang dikenalin, Shadow. Landak yang mirip banget sama Sonic, bahkan punya energi yang lebih besar, tapi punya dendam yang sangat besar karna sahabat manusia nya mati. Di sini Dr. Robotnik mirip banget sama karakter game, ketemu kakeknya, yang ternyata kakek dari temennya Shadow juga. Spoiler, Dr. Robotnic di akhir film akhirnya bertaubat dan mengorbankan diri, katanya, "kalau aku gak bisa menguasai dunia, seenggaknya aku bisa menyelamatkannya".
Sonic 3 ini emang film untuk hiburan anak-anak. Tapi kayaknya film ini juga ditujukan buat orang-orang dewasa yang setia nungguin setiap chapternya. Ada banyak jokes receh asbun, yang tentu gak akan dimengerti bocah-bocah. Asisten Robotnik, Stone, juga kocak banget. Animasinya makin halus lagi dibanding 2 film sebelumnya. Background music nya juga sangat mendukung.
Gak mengecewakan setelah nunggu 2 tahun, dan gak bikin kapok buat nunggu 2 tahun lagi.
Film ini ngajarin tentang bekerja dalam tim, dan kenghargai satu sama lain. Kalau masalah yang besar bisa diselesaikan bersama-sama. Mora of a story lain dari film ini adalah there are no winners with revenge. Balas dendam gak akan bikin kita ngerasa jadi lebih baik. Pokoknya ngajarin hal-hal baik tapi gak rumit buat dipahami anak-anak.
Karena film anak-anak, banyak hal gak logis yang ada di film, sangat komikal juga, tapi gak mengurangi pengalaman menyenangkan dari petualangan mereka.
Oiya, terakhir, satu hal yang paling ditunggu dari film Sonic itu post credit scenes nya, yang selalu jadi teaser karakter apa yang bakal dikenalin di chapter selanjutnya. Dan itu udah cukup buat jadi pengikat antar chapternya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Halo, dunia. Udah lama (banget) gak nulis apapun dan dimanapun, rasanya berat aja buat memulai kembali. Bahkan udah satu minggu #30haribercerita cuma berhenti di niat aja. Gak mau janji apa-apa, tapi semoga bisa kembali lagi dalam waktu dekat.
Jadi mari kita mulai dari hal-hal ringan dan menyenangkan dulu. Tulis apa aja yang terlintas di kepala, dan mulai dari hal-hal favorit, nge-review sotoy (sambil ngasih spoiler dikit) film-film yang berkesan misalnya.
Ada banyak film yang berkesan buatku di tahun 2024. Salah satunya Wicked, film musikal yang sukses bikin merinding —saking bagusnya.
Jujur, awalnya gak begitu tertarik sama film ini. Waktu liat posternya, aku kira ini film adaptasi disney, tentang princess lawan penyihir dengan cerita yang klise. Tapi ternyata salah besar. Emang gak boleh suudzon dulu ya. Filmnya bukan adaptasi disney, tapi adaptasi dari drama musikal Broadway yang udah berusia lebih dari 20 tahun. Drama musikalnya sendiri diangkat dari novel tahun 1995, yang terinspirasi dari novel The Wonderful Wizard of Oz tahun 1900.
Waktu tahu ternyata drama musikalnya bisa bertahan se-lama itu (bahkan masih sangat relevan untuk saat ini), dan udah punya penggemar sebanyak itu, dapat dipastikan kalau ceritanya bakal sangat matang dan pesan yang dibawa sama film ini pasti gak akan mengecewakan.
Premis filmnya sangat menarik. Sesuatu yang terlihat baik dan sempurna oleh semua orang ternyata menyimpan rahasia buruk, dan sebaliknya, sesuatu yang dianggap jahat oleh semua orang ternyata punya niat baik.
Pernah gak sih kepikiran kalau sesuatu yang selama ini kita anggap jahat selama bertahun-tahun ternyata cuma orang baik tapi berbeda yang jadi korban framing dari para penguasa rakus dan bobrok aja? Ini adalah pertanyaan sekaligus kesimpulan setelah nonton film ini.
Film ini paket lengkap yang ngangkat tema berat tapi bisa dikemas dengan baik dan menyenangkan. Tentang dunia yang abu-abu, banyak diskriminasi, framing, politik, bersatu di tengah perbedaan, persahabatan, dan pengkhianatan.
Sebenarnya ini film yang nyeritain tentang asal mula penyihir jahat yang selama ini kita kenal sebagai Wicked Witch of The West. Tentang persahabatan 2 orang yang sangat berbeda, Elphaba dan Glinda. Yang satu terlahir berbeda (hijau, jelek, jutek, menakutkan), yang satu lagi sangat populer dan disukai semua orang (walaupun sifatnya menjengkelkan dan sangat self-centered).
Film ini ngasih gambaran soal beauty privilege yang beneran ada di sekitar kita, pokoknya kalo cantik mah bebas, wkwk. Tapi masing-masing karakter juga gak se-hitam putih itu. Mereka sangat manusiawi, yang punya sisi baik dan buruknya.
Pokoknya film ini bener-bener bagus pake banget. Cerita dan pesan yang dibawa udah bagus dari dulu. Ditambah lagi sama semua cast (bahkan figuran sekalipun) yang sangat all out, backsound, aransemen soundtrack, setting lokasi dan properti dibuat se-megah dan se-nyata mungkin, minim CGI, kalau ada pun halus banget. Pokoknya minim celah, dan kelihatan sangat tulus.
Oiya, ngomongin soal soundtrack, semua lagu di film ini gak ada yang gak enak, dan sangat berperan buat cerita! Salut banget sama pembuatnya, yang bisa bikin lagu-lagu sebagus itu 20 tahun yang lalu, dan masih sangat relevan sampai sekarang. Cynthia dan Ariana juga suaranya BAGUS BANGET, enak banget dikuping, bener-bener saling melengkapi, dan bisa nyampein emosi tapi gak berlebihan. Centil di lagu "Popular", se-hopeless romatic itu di lagu "I'm Not That Girl". Tapi gak ada yang ngalahin lagu "Defying Gravity" sih, didengerin berkali-kali tetep bikin merinding. Apalagi waktu Elphaba teriak lantang tapi merdu sambil terbang di akhir film, terus langsung blackout. KEREN BANGET!
note: cast versi musikal dan pencipta lagunya ternyata diundang ke Tiny Desk tahun lalu. Mereka bawain lagu-lagu hits, dan penciptanya ngejelasin inspirasi setiap lagu. Harus banget ditonton!
Mungkin reviewnya jadi bias karena aku suka film musikal, tapi beneran, ini film yang harus banget ditonton minimal sekali seumur hidup. Untuk setengah bagian (iya, ini baru bagian 1, bagian 2 nya bakal ada lagi di akhir tahun ini), durasi filmnya bener-bener lama banget, hampir 3 jam, tapi beneran bisa dinikmati. Akting Ariana yang centil polos tapi nyebelin juga bikin gak bosen nonton filmnya.
Pokoknya ini film adaptasi yang sangat ambisius dan sukses buat ngebawa drama musikal ke layar lebar. Emang masih ada kekurangan, masih bisa dipersingkat lagi, tapi sangat layak buat dapet banyak penghargaan. PASTI DAPET OSCAR LAH, AT LEAST 1 PIALA (harusnya lebih sih).
Gak sabar buat nonton Part 2 nya, Wicked: For Good. Denger lagu "For Good" dari musikalnya aja udah kebayang gimana bagusnya kalo dibawain sama mereka berdua nanti.
Rating: 9.5 sapu terbang /10 🧹✨️
Masih ngantri, Sonic 3, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, How To Get Millions Before Grandma Dies, The Wild Robot, apalagi ya, banyak juga ternyata. Belum seriesnya. Nanti lagi lah ya kalau sempat dan niat.
Kamu berharga dan layak mendapatkan hal-hal baik. Kamu punya banyak hal baik. Kamu memiliki kesempatan-kesempatan itu.
Hanya saja, mungkin selama ini kamu ketemu sama orang yang kurang tepat. Mereka yang terus menerus membuatmu merasa kurang, bersalah, dan merasa tidak berarti.
Hanya saja, mungkin selama ini kamu terjebak di tempat yang salah. Tempat yang terus menerus membuatmu merasa semakin merasa kecil, merasa kamu tidak bisa apa-apa, dan berujung pada hilangnya kepercayaanmu pada diri sendiri. Keraguanmu pada hidupmu sendiri semakin besar.
Kamu berharga. Kamu hanya butuh sedikit keberanian untuk pergi dari mereka dan meninggalkan tempat-tempat itu. Memang menakutkan, karena semuanya terasa samar di depan. Tapi lebih menakutkan lagi hidup dengan kondisi sekarang, seterusnya, selamanya.
(c)kurniawangunadi
Disclaimer: sebenernya gak terlalu menggambarkan kondisi selama satu tahun, soalnya bulan Juli mulai kena racun RC + Bernadya, dan cuma denger 2 artist ini aja sampe bosen.
Ternyata selama satu tahun ini udah denger lagu (seenggaknya lewat spotify) selama 34 ribu menit, atau seenggaknya satu setengah jam sehari. Belum termasuk nonton MV dan denger lewat youtube. Paling sering denger waktu lagi di perjalanan, nemenin bengong waktu kena macet, atau kalau lagi ngejar deadline, yang penting ada suara aja biar gak hening banget.
Kalau ditarik benang merahnya, tema playlist tahun ini kalau gak romance ya self-reflection wkkw. Mari kita breakdown satu-satu.
Oiya, kayaknya ini bakal jadi tulisan panjang yang sangat gak penting, bakal terlalu excited sampe kerasa kayak nerd lainnya.
Jadi kalau gak tertarik, skip aja ya!
Top Artist(s):
— Reality Club: Band indie yang unik dan gak butuh waktu lama buat suka sama mereka. RC harusnya gak di posisi pertama, tapi ada bulan-bulan yang beneran jadi cegil dan cuma denger album RC presents doang, sampe hafal semua liriknya. Beneran the same song(s) on repeat. Sekarang udah bosen, dan gak masuk playlist lagi 🙏🏻🙂. Oiya, kemarin skip konser mereka juga, karena setengah hati dan ternyata malah jadi lupa hari, kocak. Semoga bisa nonton konser mereka selanjutnya! Tapi serius, lagu mereka bagus, unik, dan bervariasi juga. Lagu favorit: “Four Summers” sama “Love Epiphany”.
— Bernadya: Semua akan Bernadya pada waktunya. Wkwk. Gak kaget kalau Bernadya ada di posisi kedua. Sebelum RC menyerang, dia duluan yang ada di playlist, satu album, on repeat! Masuk playlist wajib waktu karoke bulanan (suara jelek gak ngaruh wqwq). Dengerin setiap saat, waktu lagi jalan ke kampus, lagi ngerjain tesis, dan waktu lagi pengen refleksi dan nangis kapan aja padahal gak sesuai konteks (WKWK). Lagu favorit: “Apa Mungkin” sama “Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”
— Taylor Swift: Sebelum RC dan Bernadya menyerang, TTPD jadi penghuni tetap playlist on repeat, sampe bosen. Sempet jadi cegil yang bikin sheet yang isinya review setiap lagu di album TTPD wkwk. Terus akhirnya mutusin buat skip denger mbak Taylor 3 bulan, tapi ternyata masih di posisi ketiga ya, mbak? Mohon maaf posisimu kegeser, soalnya kamu terlalu oportunis dan tone-deaf sih, mbak 🥲 Tapi ternyata emang gak bisa lepas dari "this is me trying", "anti-hero", "you're on your own, kid", “i can do it with a broken heart” sama "all too well 10 min. ver" 🫡. Oh iya, sempet nonton film konsernya juga di bioskop, dan ASIK BANGET! Semoga kapan-kapan bisa nonton langsung, hehe 👍🏻
— BIBI: Padahal cuma familiar sama 2 lagunya BIBI, tapi ternyata masuk top 4. Awalnya suka banget sama soundtrack Our Beloved Summer yang “Maybe if” dan gak pernah keluar dari playlist beberapa tahun terakhir. Gak tau kenapa, tapi lagu ini kayaknya udah ngeganti posisi “back to december” dan “the man who can’t be moved” wakakak. Oiya, sesekali denger juga lagu “밤양갱” yang liriknya lucu. Warna suaranya unik, mirip BOL4.
— ECLIPSE: yang terakhir ini anomali sih. ECLIPSE, band fiktif drakor Lovely Runner, tapi lagunya oke juga. Lagu favorit: “Sudden Shower” sama “Run-Run”. Kalau band ini gak masuk list, kayaknya bakal diganti DAY6 deh wkwk.
— honorable mention: DAY6 yang lirik lagunya banyak yang depresif tapi upbeat wkwk. Tulus, seperti biasa, dengan lirik-lirik indahnya. Donne Maula, dapet piala citra dari lagu “bercinta lewat kata”, beneran musisi yang nulis dari hati! Belum sempet denger album barunya NIKI, katanya bagus juga. wave to earth, band indie korea yang bagus juga! Kayaknya tahun depan pengen explore band-band indie lebih banyak lagi deh. Sebenernya masih banyak musisi yang pengen dimention, tapi nanti jadi kebanyakan.
Top Song(s):
— Apa Mungkin: lagu Bernadya pertama yang aku denger waktu karokean sama anak-anak S2, dan langsung jadi lagu wajib setiap karokean selama beberapa bulan wkwkwk. Tiap nyanyi suka ngebatin sendiri, “kasihan amat mbak”. Bahkan ada playlist official di spotify yang judulnya “who hurt you, Bernadya?” WKWK.
— I Wish I Was Your Jokes: backburner versi agak explicit, tapi asik juga lagunya wkwk. Mungkin jadi top 2 soalnya ini lagu pertama di album RC Presents. Lirik favorit: “You’ll keep me in your back pocket, use me then you’ll ignore it, i don’t mind at all” 🥲
— Kata Mereka Ini Berlebihan: lagu sad girl (lagi). Sedih amat. Tapi sebenernya gak sesering itu juga aku denger sekarang. Wkwk. Lirik paling memorable: “Ingin sempurna di matamu, hanya itu yang aku mau. Namun tampaknya sempurna tak cukup, bila ternyata aku bukan yang kau perlu”.
— Am I Bothering You: sebenernya lagu ini bagus banget. Kayak fase awal naksir orang. Versi seneng sebelum lagu “You Let Her Go Again”. Vibe nya asik, dan rasanya jadi pengen jatuh cinta juga wakakak. Makin suka sama lagunya karena ada kristo sama lutesha di MV nya! Lirik favorit: “but then out of the blue, a spark or two seems to generate. And you with similar views, you know my heart did incinerate”.
— Anything You Want: lagu yang dibuat Chia untuk suaminya. Sederhana tapi maknanya dalem juga. Bucin banget, sampe bilang kalau, ‘gak apa-apa deh lagunya itu-itu mulu. Kalo kamu suka, aku juga suka’ WKWK. Lirik favorit: “We talk about everything, the important and the mundane. You know I think you know everything, but the night's still young, and there's still so much to gain”.
— Honorable mention(s): ada banyak sebenernya wkwk.
Idgitaf - “Berakhir di Aku”, “Semoga Sembuh”, sama “Takut” yang relate banget dan gak pernah gagal bikin sesenggukan kalau didenger waktu lagi gak baik-baik aja. Lirik “Semoga Sembuh” beneran hits different waktu itu, berasa dipeluk banget, dan ngingetin kalau aku gak sendirian. “Selamanya, kuingin kau selalu menyala. Redup tak apa —kehilanganmu ku takkan bisa”.
Love Epiphany! Harusnya ada ini di Top 5 wkwk. Lagu yang ngegambarin perjalanan cinta dan dinamika yang ada di dalamnya. Liriknya kayak bercerita, dan bilang kalau ‘ya udah, gak usah dibikin pusing, emang udah seharusnya gitu. suatu saat pasti bakal nemu end game nya juga kok’. Cocok buat drama musikal! Lirik favorit: “But don't worry about it. We're just as cluelеss as the rest. We're all just looking to connect, with no idea of what happens next —probably alone with nothing left”.
DAY6 - HAPPY: lagu upbeat tapi depresif banget wkwk. Sangat relate dengan manusia insecure yang lagi ada di quarter-life crisis wkwk. Lagunya tuh berasa kayak lagi ngobrol sama kakak laki-laki, yang ngasih validasi semua perasaan sedih dan bilang ‘gak apa-apa loh buat bahagia walau kamu masih jauh dari kata sempurna’ 🥲 Lirik favorit: “I just want to live simply and easily. Why is my day to day is incredibly difficult?”.
Bercinta Lewat Kata - Donne Maula: Harus banget masuk list! OST Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, yang BAGUS BANGET! Sangat layak dapet piala citra. Nyeritain kisah cintanya orang dewasa, yang slow pace dan sederhana, gak perlu adegan-adegan luar biasa kayak di film-film, yang penting cuma saling mengerti aja.
Daur Hidup - Donne Maula (lagi): tentang orang yang udah berdamai sama dirinya sendiri. Lirik memorable: “mati berkali-kali tapi bisa hidup lagi, konon jika selamat aku semakin hebat” sama “hai semua tangis dan tawa di depan mata, aku tak pilih kasih, kan kupeluk semua”
이영지 - Small Girl: ini juga cukup relate dengan manusia insecure ini wkwk.
LANY - live it down: “I'm sure it feels like this wound won't heal, and the shadow that you're livin' in is all that's real. But tomorrow is a story that's not written yet. So take a breath, and don't forget that people make rockets, they go to the moon. People make mistakes too”
OST HOME SWEET LOAN, SEMUANYA!
Sebenernya masih banyak lagi lagu dan musisi yang gak ke-mention, tapi kayaknya udah terlalu banyak deh WKWK.
Tahun ini beneran banyak hal yang terjadi, gak kehitung juga berapa air mata yang keluar tanpa bisa ditahan. Sebenernya kalau dipikir lagi, gak terlalu berat, cuma aku nya aja yang lemah 🙃 Gak heran kalau hampir semua lagu yang didengar tahun ini suasananya mendung.
Semoga tahun depan playlistnya lebih cerah lagi, ya!
Terakhir: Sesuai prediksi, tulisannya jadi terlalu panjang dan oversharing wkwk. Seru juga, sekalian nginget-nginget lagi apa yang udah dilalui satu tahun ke belakang. Kayaknya seru kalau bikin 2024 wrapped versi film (dan series), nanti deh kalau sempat (dan niat).
"Kamu kuat loh teh. Makasih ya. Ibu gak tau lagi kalau gak dibantu kamu kemarin, kayaknya ibu bakal capek banget"
— ceritanya, akhirnya pulang setelah ngurusin administrasi kepulangan dan habis jaga 2 adik yang baru selesai opname 5 hari. Capek, tapi ibu juga pasti sama capeknya. Jadi berusaha gak ngeluh sama sekali, dan berdoa jangan sampai ikut sakit juga. Terus tadi sore ibu bilang gitu. Gimana gak melow coba? 🙂
Rasanya dejavu.
Bulan ramadhan kemarin juga rasanya sama. Bawa 2 adik ke IGD karena yang satu demam tinggi, satunya lagi keringat dingin, dan ternyata mereka sama-sama positif DBD, si kaka dilanjut tipes.
Bedanya, waktu itu Ibu baru berangkat umroh. Rasanya berat banget harus jadi sosok kakak sekaligus wali buat dua pasien sekaligus. Jaga di IGD semaleman, nunggu kamar kosong, mindahin barang-barang dari IGD ke kamar sendirian, dua kali, ke dua kamar berbeda. Jarak kamarnya juga cukup jauh, 5 menit jalan kaki, dan aku harus jaga mereka berdua, di bulan puasa.
Harus bolak-balik 2 kamar, berasa sa'i. Sahur dan buka puasa seadanya. Nangis di kursi deket mushola malem-malem karena capek sampai ketiduran sebentar. Sebenarnya, yang paling bikin sedih bukan capeknya, tapi ngerasa harus berjuang sendirian aja, rasanya semuanya kerasa lebih berat waktu ibu gak ada. Sampai akhirnya sepupu-sepupu dan uwak dateng dan bilang, "kalau ada apa-apa bilang aja, kamu gak sendirian" 😭
Sekarang kondisinya jaaaaaauh lebih baik.
Sebenernya yang namanya sakit tentu bukan hal yang baik, tapi rasanya bersyukur karena kondisinya gak seburuk waktu itu.
Ada Ibu, jadi bisa gantian jaga, dan bisa gantian istirahat juga selang sehari. Dibawain makanan setiap hari. Walaupun tetep harus bolak-balik 2 gedung (kali ini lebih jauh), tapi yang paling bikin seneng, berhasil ngelobby suster, dan akhirnya mereka berdua bisa satu kamar di 3 hari terakhir, jadi gak harus capek bolak-balik gedung lagi. Gak melow lagi. Kayaknya susternya kasihan liat aku yang muter kayak gasing. Baru istirahat di satu kamar, udah ditelfon lagi buat ngurusin kamar lainnya. Wkwk.
Mungkin karena udah pernah ngerasain yang lebih berat dari ini, jadi udah cukup berpengalaman. Tetep capek sih, tapi gak secapek waktu itu.
Dengan kejadian ini (yang amit-amit, jangan sampai keulang lagi) aku jadi makin sadar kalau Ibu itu peran yang sangat luar biasa berat, dan aku gak akan bisa bertahan sejauh ini kalau ibu gak ada.
Sehat-sehat terus ya, bu.
Soalnya, mau kelihatan sekuat apapun, tetep aja aku cuma anak kecil yang gak bisa apa-apa tanpa ibu.
Gak terhitung berapa banyak orang baik dan inspiratif yang aku kenal selama hidup di dunia (yang gak terlalu baik) ini. Dari sekian banyak orang baik itu, aku selalu bersyukur bisa kenal sama manusia satu ini.
"Tau gak, Faz? Sadar atau nggak, ada banyak bukti kalau emang ada 'sesuatu' di diri kamu yang gak bisa dijelasin sama kata-kata. Aneh tapi beneran terjadi. Setiap hal sederhana yang bisa dilakuin semua orang, kalau kamu yang buat rasanya beda aja. Kamu bisa menginspirasi orang lain se-effortless itu. You born that way. Dan itu bukan salah kamu."
—"kalau kamu yang insecure dan ngerasa gak berguna aja bisa bikin dampak kayak gini, apalagi kalau kamu bener-bener percaya dan sayang sama diri kamu sendiri? bisa bayangin gak betapa hebatnya dampak yang bisa kamu buat?"
Ini yang aku syukuri dari pertemanan low-maintenance yang satu ini. Dia itu sahabat yang sangat berbeda tapi juga sangat mirip denganku pada saat yang bersamaan. Aneh sebenarnya, tapi rasanya memang seperti itu.
Dari dulu aku selalu kagum dengannya yang gak pernah mau menyerah, selalu mengutarakan dan mengusahakan keinginannya. Selalu konsisten dan total dalam melakukan semua hal. Selalu ingin belajar. Bisa tegas dengan prinsipnya. Cara dia memandang dunia juga unik. Dia juga sangat kuat dan bisa bertahan sejauh ini.
Selalu ekspresif dan jujur sama perasaannya, walau terkadang malah terlalu ekspresif dan terlalu jujur sampai gak sadar kalau apa yang dia lakukan bisa membuat orang lain gak nyaman. Bukan hal buruk, tapi berlebihan juga bukan hal yang baik, kan?
Gak terhitung berapa kali dia bilang kalau aku sangat menginspirasi dan sangat hebat meski aku merasa sebaliknya. Tapi, kalau bisa dibilang, aku juga banyak terinspirasi darinya. (Pasti dia geli kalau aku bilang kayak gini, tapi beneran loh sar!)
Aneh juga.
Padahal kami gak pernah satu kelas, beda SMA, beda jurusan, jarang bertemu, tapi sepertinya dia adalah salah satu teman yang paling mengerti soal perasaan dan pikiranku, bahkan saat aku sendiri gak bisa memahaminya.
Dia adalah salah satu teman langka yang bisa mengingatkan kalau aku salah, dan bisa ngasih argumen logis saat aku gak bisa berpikir rasional.
Jadi ingat. Kami pernah bertengkar dan gak tegur sapa beberapa hari karena hal sepele, tapi sepertinya itu juga yang membuat kami bisa jujur dan akrab sampai saat ini.
Kami sama-sama tahu dan paham kondisi masing-masing, gak pernah menuntut apapun, tapi selalu ada obrolan panjang setiap bertemu. Obrolan yang membuatku semakin bersyukur bisa bertemu dengan orang sehebat dia (wkwkw beneran hebat tau, sar!)
Aku bangga karena kami berdua sudah sama-sama mendewasa. Pikiran bocah yang selalu mengedepankan ego juga sudah berubah jadi pikiran rasional dan bisa memaklumi banyak hal. Cara mengatasi masalah pun sudah semakin dewasa.
Jadi terharu 🥲
Intinya, aku selalu bersyukur bisa kenal dan dekat dengannya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Halo! Lama gak cerita di sini, tapi kabarku baik kok. Masih hidup, aman terkendali. Oh iya, FYI, The Wild Robot B-A-G-U-S! Kalau sempat (dan niat) nanti aku buat review sotoynya (itu juga kalau ingat).
Sekarang mari kita tinggalkan jejak sebentar dan cerita soal ujianku kemarin.
Jadi, semuanya berawal dari kebiasaan mamak-mamak pada umumnya yang nge-forward info pendaftaran CPNS ke anak-anaknya, begitu pula mamaknya Faza.
"Dicoba aja kalau ada yg cocok", kata Ibu. Mungkin khawatir kali ya anaknya belum kelihatan progress apa-apa. (Iya, tau kok. Semua orang khawatir, apalagi aku sendiri 🙂). Akhirnya mulai cari tahu formasi mana aja yang mungkin cocok dengan jurusan S1.
Ternyata nyari posisi yang cocok tuh sesusah nyari jodoh ya. Wkwk. Tapi beneran. Giliran ada yang pas, penempatannya di IKN. Ada lagi yang pas, ada syarat TOEFL. Ada juga syarat bebas buta warna. Sampai akhirnya nemu formasi yang sesuai jurusan, jadi analis standardisasi, tapi ternyata formasinya cuma 1 orang, dan peluangnya sangat kecil.
Karena masih setengah hati, pendaftarannya aku tunda dulu, dan (seperti biasa) daftar di detik-detik terakhir. Inget banget waktu itu hujan gak berhenti dari pagi, dan berhenti sebentar jam 9.30 malam. Aku berniat buat nyari fotocopy yang masih buka dan bisa print-scan-dan jual materai. Kalau nggak nemu ya udah, gak jadi daftar. Untungnya fotocopy di bawah kost masih buka, dan akhirnya bisa daftar di detik-detik terakhir.
Pas foto yang dipakai juga sebenarnya gak sesuai ketentuan, karena pakai foto ijazah S1 yang diganti backgroundnya pake PPT. Jadi gak berharap banyak kalau bisa lolos seleksi administrasi. Tapi ternyata lolos juga. Pengumumannya lebih lambat dibanding kementrian lain, dan pengumuman tanggal tesnya juga lebih lambat lagi. Tapi masih ada 2 minggu kurang untuk persiapan tesnya.
Aku baru tahu kalau tes CPNS bentuknya kayak gitu. Ada 110 soal, yang terdiri dari Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum, dan Tes Karakteristik Pribadi, dalam waktu 100 menit. Waktu coba ngerjain TO online ternyata cukup keteteran juga. Aku jadi sadar kalau kemampuan reading comprehension dan manajemen fokusku sekarang beneran memburuk. Apa gara-gara terlalu lama di internet, sering scroll medsos dan jarang baca buku ya? Mari kita biasakan baca buku dan menulis lagi mulai sekarang. Semoga bisa, wkwk.
Dan akhirnya waktu tes datang juga. Aneh aja rasanya ikut tes yang harus pakai seragam, kemeja putih, kerudung-celana-sepatu serba hitam, berasa jadi anak sekolahan yang lagi mau UN. Prosedurnya juga cukup ketat, harus datang 90 menit sebelum tes, dan pesertanya lumayan banyak. Kayaknya 1 sesi ada sekitar 250 orang. Beneran kayak ujian anak sekolah.
Waktu awal-awal ngerjain tesnya agak ngeblank, rasanya buat baca soal aja harus diulang-ulang, dan jawabannya juga mirip-mirip. Kayaknya memang salah strategi, jadi banyak waktu yang kebuang buat baca soal. Malah soal-soal hitungan aku kerjakan terakhir, bikin panik dan akhirnya gak fokus. Ya sudah, jadikan pelajaran saja.
Akhirnya dapat skor akhir 430, gak jauh beda dari skor TO ku yang terakhir, tapi masih di bawah target. Targetku sampai ke 450 atau 500 kalau mau aman. Waktu nilai keluar akhirnya cuma bisa nyengir aja.
Ya pantes gak dapet nilai sesuai target, orang usahanya aja minimal. Gimana mau dapet hasil maksimal coba? 🙃
Tadi aku penasaran dan nyari skor kandidat lain, dan ternyata sejauh ini sudah ada 3 orang yang nilainya di atas 430, itupun masih ada tes terakhir tanggal 11 nanti. Jadi dapat dipastikan aku gak lolos. Ya sudah, mari kita coba lagi lain kali.
Nilai segitu untuk percobaan pertama gak buruk-buruk banget lah ya. Anggap aja pengalaman pertama, jadi punya gambaran dan dapet banyak pelajaran yang bisa diambil buat tes selanjutnya.
Pelajaran dari tes kemarin:
Siapa tahu tahun depan beneran berminat daftar.
Berlaku juga buat kehidupan keseluruhan.
Pertama: Luruskan Niat
Beneran deh, segala sesuatu itu bergantung sama niat. Kalau niatnya cuma buat main-main ya usahanya juga gak akan maksimal. Kalau niatnya cuma buat nyenengin hati orang tua apalagi, malah rasanya terpaksa buat ngejalaninnya. Harus bener-bener punya tekad yang kuat dan niat yang bener biar bisa menikmati semua prosesnya.
Kedua: Jangan Deadliner
Kata orang, “gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan”. Sebenarnya gak sepenuhnya setuju dengan statement ini, tapi memang ada benarnya juga. Intinya kita harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin, semampu kita, masalah hasilnya berhasil atau gagal sudah urusan yang di atas. Kata “gagal mempersiapkan” di sini mungkin lebih mengarah ke persiapan yang belum maksimal (atau malah usaha yang dikeluarkan sangat sedikit). Kalau usaha kita sudah maksimal tapi tetap gagal ya sudah, gak akan ada penyesalan, karena memang tidak “gagal mempersiapkan”.
Persiapan yang maksimal butuh waktu. Semuanya butuh proses dan waktu yang gak sedikit. Walaupun menjadi deadliner sepertinya sudah jadi kebiasaan (buruk) ku, tapi sudah seharusnya aku mulai mengurangi kebiasaan ini. Dari sekian banyak waktu yang ada untuk bersiap, ya gunakanlah sebaik mungkin. Ada ratusan orang lain yang sama-sama berjuang meraih hal yang sama. Dengan persiapanmu yang singkat apakah sudah layak untuk disebut “berhasil mempersiapkan?”
Mari kita persiapkan keberhasilan itu 🫡
Ketiga: Buat Strategi
Seperti berperang, ujian juga perlu strategi. Urutan pengerjaan soal, sampai cara menyelesaikannya secepat mungkin. Gimana cara tahu strategi yang tepat? Sering latihan. Semakin sering berlatih, kita bakal semakin paham kelemahan dan kekuatan diri kita.
Dari tes kemarin aku sadar kalau harus mengasah lagi skill membaca cepat dan memahami konteks pertanyaan. Setelah tes aku sadar kalau sepertinya soal-soal panjang tentang kepribadian dan wawasan kebangsaan gak perlu dibaca seluruhnya. Cukup cari jawaban yang paling sesuai dengan konteks dan tema soal. Jadi gak perlu bolak-balik baca soal yang akhirnya malah jadi gak fokus. Harus pintar-pintar ngatur waktu juga, tapi harus tetap tenang dalam saat yang bersamaan.
Ini semua bisa dilatih dan strategi yang sesuai bisa diperoleh kalau apa, teman-teman?
Yak, betul.
Kalau sering latihan dan mempersiapkan dengan matang 😀
Bukan begitu, Faza? 🙃
Terakhir: Berserah
Kalau semua usaha sudah dikeluarkan, hal terakhir yang bisa dilakukan hanya berserah. Percaya kalau apapun hasilnya pasti itu yang terbaik. Kalaupun gak sesuai dengan harapan, artinya kita dapat pelajaran. Pasti akan ada jalan lain yang lebih baik dan menunggu untuk diusahakan.
Berserah loh ya, bukan pasrah. Berserah artinya kita sudah berusaha semampu kita, dan menerima apapun hasilnya. Kalau pasrah berarti kita belum berusaha dan akhirnya menyerah.
Jangan lupa berdoa. Se-bagus apapun usahanya, kalau Allah gak mengizinkan ya gak akan tercapai. Minta doa orang tua dan orang-orang terdekat. Berbuat baik sama semua orang. Kita gak tahu doa siapa yang dikabulkan, kan?
———
Terakhir banget. Ini apresiasi buat aku yang sudah mencoba dan berusaha. Mungkin ini bukan usaha terbaikku. Niat dan doa nya juga masih kurang. Tapi setidaknya sudah berani mencoba. Kita gak akan pernah tahu rasanya kalau belum mencoba, kan?
Terima kasih sudah mencoba.
Jadikan ketidakberhasilan (gak mau nyebut kegagalan wkwk) sebagai pelajaran. Skor segitu untuk percobaan pertama sudah baik, kok. Kita coba lagi kapan-kapan.