Hari minggu pagi biasanya saya bangun agak siang. Namun hari ini, lima menit sebelum jam 7 badan sudah sadar, mata terbuka, saya akhirnya bangun. Di jam 7 biasanya ada berita olahraga di tv. Saya buru-buru beranjak ke depan tv dan menyalakannya. Jam menunjukkan sudah 7 lewat, namun berita olahraga yang saya tunggu tak kunjung mengudara. Ada breaking news tampaknya. Dan ternyata itu adalah berita berita duka, peristiwa mengerikan telah terjadi, tragedi perih nan duka. 187 suporter Arema meninggal dunia (berdasarkan berita pada saat tulisan ini dibuat) akibat kerusuhan sesaat setelah pertandingan antara Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan tadi malam.
Saya masih tidak percaya ini nyata. Semalam saya menyaksikan pertandingan ini di depan tv sampai selesai. Tidak ada firasat bahwa akan ada kerusuhan. Kekalahan memang dituai tuan rumah Arema, namun saya pikir suporter sudah dewasa dalam menerima kekalahan. Tapi kenyataannya tidak begitu. Suporter tuan rumah marah atas kekalahan dari rival dekat nya. Mereka turun dari tribun dan hendak menuju ke bench pemain dan ofisial. Beruntung kedua tim sudah berhasil masuk ke dalam ruang ganti.
Polisi akhirnya bereaksi dengan mengejar para suporter, memukul, menendang dan tololnya menembakkan gas air mata. Pukulan dan tendangan hanya melukai, namun gas air mata membunuh ratusan orang. FIFA sendiri dalam SOP yang disusun dalam penanganan kerusuhan pertandingan sepakbola, dengan jelas melarang penggunaan gas air mata. Bukan tanpa sebab, gas air mata membuat kerumunan dipaksa menghirup gas selain oksigen dan menimbulkan kepanikan. Inilah yang terjadi di Kanjuruhan. Polisi dengan kebodohan tingkat akutnya, menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Suporter yang tanpa gas air mata pun kondisinya sudah berdesak-desakan, karena stadion ini ternyata dipenuhi oleh 40 ribuan orang sementara kapasitas manusiawinya hanya 20 ribuan. Dengan gas air mata orang-orang kehilangan oksigen, akal sehat memudar, akibatnya mereka lari ke satu arah, ke satu pintu terdekat dan saling injak sehingga ratusan meninggal dunia.
Sungguh tragedi yang menyesakkan. Pada satu titik menyaksikan kabar ini, saya ada pada kondisi mental yang begitu terpukul. Saya begitu mencintai sepakbola. Dari kecil, usia SD sampai SMA saya adalah penonton sepakbola. Di masa SMP dan SMA obrolan saya dan teman sekolah adalah sepakbola serie A atau tim nasional. Menginjak usia kuliah saya hijrah ke Makassar dan menemukan sepakbola di depan mata kepala saya sendiri, saya menyelaminya, terlibat di dalamnya dan mencintainya sepenuh hati.
Saat ini di usia lebih 30 tahun, sepakbola adalah teman saya, ia punya efek terapeutik padaku saat minggu yang saya lalui berjalan keras dan membuat stress. Jika junkie bersandar pada crystal meth untuk kebahagiaannya, di situasi tertentu sepakbola juga memberikan efek yang sama kepadaku. Memberikan kebahagiaan dan ketentraman.
Saya belum pernah mengalami sepakbola yang sesedih dan semengerikan ini. Semoga ini jadi yang terakhir.
Saya harap teman saya tidak akan pergi terlalu lama. Namun jika harus ada tumbal lagi, saya rela untuk tidak punya teman lagi.
Watubangga, 2 Oktober 2022