Little Story about Hapiness
Cerita ini aku tulis ketika aku mengukur seberapa bahagia hidupku setahun ini.
Banyak momen membahagiakan tahun ini, diantaranya selesai skripsi, selesai kuliah S1, lulus sebagai sarjana, punya teman2 membahagiakan selama kuliah, menempuh pendidikan ke luar negeri, hidup di luar negeri, dan lain-lain.
Ya banyak momen selama 1 tahun akhir ini, banyak keputusan yang diambil banyak pula pencapian.
Akan tetapi momen paling membahagiakan yang ada padaku tidak pada saat-saat yang aku sebut di atas.
Momen itu terjadi dengan tidak terduga dan sangat tidak terencana.
Ketika itu ada sebuah acara nasional di Yogyakarta (yogya atau jogja), aku menjadi peserta, dan sudah jadi rutinitas tahunan. Sejenis pertemuan mahasiswa se-Indonesia, tapi khusus untuk mahasiswa Hubungan Internasional.
Ya, kebetulan di Universitas Gadjah Mada, universitas mimpiku untuk belajar disana, tapi Tuhan berkehendak lain nampaknya :)
Acara berlangsung 5 hari, senin sampai Jumβat. Ya begitu sibuknya acara itu, sampai aku tak sempat berpikir apa-apa. Aku tidur di kamar yang menurutku tidak pas, dan tidak nyaman karena sangat sempit dan sudah ada 3 orang disitu, 2 tepat tidur, 3 mahasiswa Universitas Airlangga(termasuk aku) dan 1 mahasiswa Universitas Udayana. Yah tidak mungkin kalau kami tidur berdua-berdua.
Dengan kondisi itu aku berkata pada panitia, namun nampaknya panitia tidak punya solusi. Sampai suatu ketika ada sahabatku, dari Universitas Muhamamadiyah Yogya lewat dan menghampiriku. Yah, dia menyapaku dan kita ngobrol sejenak karena lama tidak bertemu. Lalu, aku bercerita tentang masalahku. Dan ternayata, kamar dia kosong, karena delegasi Universitas Muhamadiyah Yogya tidak ada yang tidur disitu kecuali dia. Sebuah kebetulan, dan saya beruntung, kemudian segera saya pindah. Kebetulan juga dia akan menjadi pimpinan dalam pertemuan ini, dan saya mantan pimpinan dalam pertemuan ini. Selain itu saya juga dianggap senior di pertemuan ini, karena rajin datang hampir 4 tahun saya tidak pernah absen.
Rencananya kita akan banyak berbicara tentang kelanjutan pertemuan ini. Isu-isu yang mengemuka, dan sesuai permintaanya dia meminta tips, saran dan cara-cara menjadi pemimpin yang baik, yang bisa mengarahkan sidang dan sebagainya.
Kembali pada momen membahagiakan, mungkin itu pertemuan akhir dari masa-masaku aktif dalam pertemuan nasional ini. Yah, aku sudah semester akhir kala itu dan banyak kolega-kolegaku sudah pensiun semua.
Ya, sudah menjadi kebiasaan, dalam pertemuan itu, ada cerita cinta lokasi, cinta situasi atau apalah namanya. hehehe. Aku juga mengalaminya.
Namun sangat sedikit yang berhasil. Ya otomatis, aku juga mengalaminya sebagai manusia biasa dan lelaki normal. Di pertemuan ini aku juga tertarik pada seorang wanita. Menarik pandanganku ketika dia berjalan di hadapanku, karena dia panitia hahahaha.
Namun, itu bukan momenya, aku gak akan banyak bercerita tentang itu. Setelah acara ini mendekati akhir, aku tidak mengikuti acara penutup yakni jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Jogja. Mungkin, karena bosan dan aku sudah sering sekali mengunjungi Jogja :)
Namun, itu justru hikmah yang dapat kupetik. Yah ketika agak kesal karena bangun kesiangan. hahaha
Tiba-tiba handphone berdering, sesuatu hal yang tidak terduga ketika βdiaβ membalas pesanku. "Dia" mengatakan βdimana? habis ini aku kesitu. Tunggu ya.β Mendadak wajahku menjadi sumringah dan sangat bahagia. Kebetulan itu masuk waktu makan pagi sekitar jam 08.30, aku berencana mengajaknya makan kalau dia tak mau aku jadi ikut berwisata ke jogja. Tapi aku bangun kesiangan, oleh karena itu aku kesal karena belum ada konfirmasi dari βdiaβ dan aku berpikiran pupus sudah harapanku bisa bertemu denganya.
Namun, ternyata βdiaβ merespon dikala kebuntuan terjadi. Ya, aku dengan sigap mandi dan melihat sekitarku yang isinya teman-teman se-Indonesia lagi tidur. Diantara mereka adalah mahasiswa Universitas Paramadina dan mereka buronan panitia karena mereka berhalangan hadir untuk mempertanggungjawabkan acara semacam ini tahun yang lalu. Universitas Paramadina adalah tuan rumahnya. Ada juga legenda Universitas Muhamadiyah Yogya yang namanya segedhe Gunung di Jawa Timur.
Aku berusaha untuk berpenampilan yang bisa diterima olehnya. Ya setelah siap aku keluar dengan penuh rasa gugup, aku berkeringat lebih banyak dari biasanya. Hmm, aku melihat βdiaβ duduk di sofa. Yah, sangat menawan, sekian lama tidak bertemu, mungkin sekitar 1 tahun. Aku segera menghampirinya dan mengajaknya makan.
Satu sifat yang aku suka darinya, adalah selalu tertarik dengan hal baru, "dia" mulai tertarik dengan ponselku yang pada saat itu memang masih baru. "Dia" mulai fokus pada ponsel itu, mulai membuka-buka, melihat-lihat apa saja yang ada di dalam.
Setelah itu kami berdua makan dan aku mengenalkannya dengan teman-teman se-indonesiaku yang ada di kamar. Ya banyak pertanyaan yang dilemparkan kepadanya. Hahaha
Momen membahagiakan ini berlanjut dengan perjalan ke Malioboro dan kami berjalan menyusuri Malioboro, berhenti sejenak di Mirotha Batik. "Dia" mulai melihat-melihat barang-barang yang ada di situ. Lalu kami beranjak meninggalkan mirotha, βdiaβ mengajakku ke tempat kesukaanya, ARTEMY.
Di tempat ini, adalah waktu yang paling aku nikmati. βDiaβ berbicara tentang banyak hal, tentang rencananya semester depan, tentang tugas akhirnya dan tentang banyak hal lain.
Pembicaraan ini bagiku sangat berkesan karena mungkin ini satu-satunya momen aku bisa keluar dengan dia hanya berdua saja. Setelah itu kami mencoba mencari makanan khas Jogja, yah Gudeg. Kebetulan itu didekat artemi, dan kami makan. Lalu setelah itu, aku ajak dia berjalan kembali dan akhirnya momen itu berakhir di hotel tempatku menginap. "Dia" berpamitan padaku dan akhirnya dia pergi.
Mungkin tidak lebih dari tiga jam aku keluar denganya, tapi itu berkesan. Cukup bagiku, aku tidak meminta lebih. aku akan mengingatnya sebagai arti dari kebahagiaan.
"Karena dia satu-satunya dan tak tergantikan"













