Sebaik-baik bahagia, ialah yang terayakan dalam sunyi. Alhamdulillah.

⁂

Discoholic 🪩

Janaina Medeiros
Sade Olutola

shark vs the universe

Kiana Khansmith
noise dept.
ojovivo

Kaledo Art
trying on a metaphor
Show & Tell
TVSTRANGERTHINGS

titsay
YOU ARE THE REASON

@theartofmadeline
sheepfilms
I'd rather be in outer space 🛸

roma★

DEAR READER

seen from Iraq

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Taiwan
seen from Germany
seen from India

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from Mexico

seen from Türkiye

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from India
seen from Belgium
seen from Türkiye

seen from Singapore
@eternalgoldenbraid
Sebaik-baik bahagia, ialah yang terayakan dalam sunyi. Alhamdulillah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Teruntuk Tuhan yang Tersayang, ajarkanku untuk bisa tidur nyenyak.
Dalam siang hari bolong di akhir pekan ini, pada laman muka media sosial instagram, saya melihat seorang kawan membagikan video bergambar deru ombak gelap dengan angka 402 di depannya. Di belakangnya sayup-sayup terdengar suara musik dengan lirik yang kurang lebih terdengar seperti ini:
Gelap yang harus menuntunmu Menembus kelam lebam tanpa udara Mencari celah Terasing tak berjejak di permukaan Arafura
Potongan lagu itu rupanya ciptaan kelompok musik Theory of Discoustic asal Makassar. Lagu yang berkisah tentang operasi senyap KRI Macan Tutul di Laut Aru pada 15 Januari 1962, dalam rangka perebutan Papua Barat dari Belanda.
Dalam sejarah masa sekolah dulu, kita pernah mendengar bahwa KRI Macan Tutul membiarkan dirinya remuk ketika dihantam Hr. Ms. Evergreen, tapi tindakan mereka berhasil menyelamatkan dua kapal laut lainnya dari gempuran sekutu. Hanya sedikit yang selamat dari berjibaku di perairan yang berada antara Papua dan Australia ini. Sisanya, sekitar 30 orang menemui ajalnya, termasuk komandan kapal, Komodor Yos Sudarso. Sebelum bertempur, beliau berteriak, "Kobarkan semangat pertempuran!" kepada para awaknya, mengisyaratkan bahwa mereka tidak hanya akan menghadapi manusia, tetapi juga kematian.
Apa yang coba dibagikan TOD di dalam potongan lagu berjudul Arafura dalam album La Marupe ini adalah sebuah karya yang berangkat dari arsip. Dalam suasana duka pasca tenggelamnya KRI Nanggala-402 di laut utara Bali, pada Sabtu lalu, mereka membangkitkan kembali ingatan kolektif pendengar tentang pengorbanan Angkatan Laut Indonesia.
Ada dua hal yang menarik bagi saya dalam karya ini. Pertama, meskipun berangkat dari arsip, TOD dengan Arafura-nya tidak bertindak sebagai etnomusikolog atau sejarawan yang mendikte pendengarnya atas sejarah masa lalu yang adiluhung. Warna musik mereka alhamdulillah tetap post-rock, lirik dengan diksi berdasarkan fakta yang mereka dapatkan apa adanya, dibalut sentuhan melodi elektronik. TOD mengakomodasi khazanah folklore dengan cara sewajarnya indie rocker masa kini.
Kedua, kisah yang ditampilkan tidak menyampaikan pesan heroik penokohan, tetapi tentang nilai penting dari sebuah fenomena: kematian. Komposisi musik mereka terasa padu menggambarkan bagaimana mereka, sebagai orang Makassar, memandang sejarah, kehidupan serta alam semesta. Dalam lirik Arafura umpanya, mereka melihat kematian sebagaimana masyarakat Sulawesi, khususnya Toraja, memaknainya sebagai pintu kedamaian abadi. Dalam sebuah tulisan di dalam blog website mereka, TOD menuliskan sebuah kalimat manis, "Kematian memang sebuah keniscayaan, jika kita bisa memilih dengan cara apa dan bagaimana kita ingin mati maka itu jadi sebuah keberuntungan. KRI Macan Tutul dan para awaknya yang mati memilih untuk tenggelam dan meresapi keheningan di dasar Laut Aru."
Itulah yang bisa kita dapatkan dari Arafura karya musik ciptaan TOD; keheningan atas peristiwa masa kini sekaligus ingatan atas peristiwa masa lampau. Dengan musik, arsip dapat dikomposisi sebagai penjahit ingatan dan kejadian, sebagai modal untuk membangkitkan kepekaan diri atas nilai-nilai yang terus kita hadapi hari ini, kemarin, dan mungkin di masa yang akan datang.
25 April 2021
Sejarah Itu Dimulai dari Depan Rumah
Dua tahun lalu saya bertemu dengan arsip arsitektur kamp interniran Jepang, objek yang jauh dari jangkauan pengetahuan dan ingatan saya yang sungguh terbatas. Dari susunan koran-koran lama di perpustakaan nasional, berlanjut ke internet, akhirnya saya menemukan sebuah desa bernama Kesilir. Saya tidak pernah tau di mana dan seperti apa bentuknya. Tetapi kumpulan sketsa arsitektural tentang Desa itu tidak dapat membendung rasa penasaran saya. Saya harus ke sana, dalam hati, dan saya harus menuliskannya.
Sebagai seorang sejarawan cum arsitek amatir, yang dapat saya lakukan hanya nekat. Dari satu teman ke teman lainnya, akhirnya saya tiba di desa ini, pada hari yang sama saat ini, di tahun 2019. Saya cetak kumpulan arsip, berkeliling menyambangi rumah warga, lalu menemukan satu per satu saksi yang masih hidup. Saya catat apapun yang saya temukan, tanpa tau ke mana arah cerita bergulir. Hingga akhirnya saya balik ke Jakarta dan belum menghasilkan apa-apa.
Seorang profesor pernah berkata kepada saya: jikalau kamu tidak bisa menuliskan sejarah yang kamu ketahui, sejarah itu akan berhenti di kamu. Untuk itu saya meyakinkan diri bahwa semua hal yang saya temui harus jadi sesuatu, bagaimanapun kualitas hasilnya. Kemudian muncul ide untuk membuat pameran kecil di Desa Pesanggaran (sebutan Kesilir saat ini) pada tahun berikutnya, setelah saya cukup informasi tentang desa ini.
Arsip-arsip lama dicetak, ditempel dengan sederhana, dan dicocokan dengan ingatan warga. Tujuan saya cuma satu: mendengarkan. Sebab saya percaya, penceritaan yang baik lahir dari proses mendengar yang baik. Lantas di penghujung malam malam di akhir acara, Mas Hakim, teman dari Jember yang menghubungkan saya dengan teman di Pesanggaran pertama kali, berucap dengan santai: Sejarah itu dimulai dari depan rumah. Sebab, di dalam sejarah selalu ada arsitektur. Kita melihat rumah, itu adalah bagian dari sejarah hidup keluarga kita. Begitu pula lingkungan kita, dan seterusnya.
Sejak saat itu benda arsip yang saya pegang, yang semula saya kira sangat jauh di luar jangkauan ingatan saya, menjadi sangat dekat. Gambar-gambar arsitektur dalam sketsa seorang tahanan interniran bernama Warmer Johan pada dasarnya adalah rumah tradisional Jawa, yang sangat lumrah saya temui sekalipun bukan di sini. Bermodal gambar-gambar itu, mudah sekali memantik ingatan teman-teman dan warga di Pesanggaran.
Hingga tahun ini, kali ketiga saya ke sini, saya bertemu lagi dengan teman-teman baru, saudara-saudara, dan saksi-saksi yang meluaskan kembali narasi sejarah yang saya temui.
Misalnya, tak pernah terbayang sebelumnya, seorang keturunan Belanda sangat fasih menuturkan sejarah Banyuwangi Selatan dari babad tanah Jawa. Pak Gatot membawa saya pada tafsiran akulturasi budaya di perkebunan. Seperti tumbuhan yang ada di perkebunan Kesilir, varietasnya berganti seiring dengan kultur tanam masyarakat yang menghuninya, dari tegalan, menjadi tebu, kopi, lalu kini buah-buahan. Arsitektur di wilayah Pesanggaran pun lahir dari perkawinan "tabrak lari" budaya tradisional oleh tatanan kolonial dalam waktu singkat. Hasilnya, seperti rumah Pak Gatot: bentuknya Belanda, ruang-ruangnya Jawa. Saya belum pernah melihat ada rumah Belanda yang memiliki pawon dan sumur, lalu orientasinya sangat bergantung pada kosmologi Jawa.
Lebih dari narasi di atas, saya mulai percaya, bahwa arsip dan arsitektur menjadi jalan untuk membuka ingatan yang ada di depan rumah.
I don't know what I am doing and why I keep doing it
Yogyakarta, Jember, Banyuwangi, March 2021

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Estetika Motor Klasik, Beban Guna dan Citra
Hari sudah kadung siang saat saya dan Mas Ayos beranjak ke Kla-X alias Klaten. Dengan sepeda motor bebek, mulanya kami bertujuan menyambangi sebuah tempat yang mungkin tidak penting bagi orang lain: Tugu Motor Klasik Jogonalan. Dari sekedar berselancar di internet, dijadikan karya pameran, dibawa presentasi ke Belanda, kini, saya baru benar-benar menyaksikan objeknya secara langsung.
Tugu itu berdiri semenjana di ujung sebuah gang desa, persis di depan bengkel tambal ban yang sedang tutup. Tingginya hanya berkisar 3 meteran, pedestalnya dari beton, disambung struktur besi di atasnya, lalu sebuah motor Yamaha V75 lengkap dengan pelat nomor, tabung oli, dan tanki bensin dikunci ke struktur besi itu.
Meski tampil banal di tepian jalan raya desa, namun, berdasarkan informasi dari berita-berita di internet, sebetulnya tugu ini punya nilai yang cukup berarti bagi warga lokal. Ia dibuat oleh komunitas pecinta motor klasik yang menyumbangkan sebagian dana kas kolektifnya untuk pembuatan tugu, termasuk untuk objek motor yang digunakan. Bahkan katanya mesin motor itu masih dapat berfungsi dan masih dipanaskan secara rutin setiap pagi.
Estetika found object memberikan kesempatan kita untuk melacak relasi dan imajinasi kolektif masyarakat terhadap produk material yang bernilai bagi mereka. Di samping itu, juga bagaimana subkultur komunitas warga turut berperan membentuk identitas kawasan. Hal ini tentu menjadi sebuah pelajaran menarik, di saat sebagian besar tugu hadir untuk menanggung beban ingatan masa lalu yang dititipkan kepadanya; harus historis, objektif, dan (biasanya) memegang imajinasi otoritas, tugu ini justru lahir dari imajinasi komunitas.
Setelah puas mengambil gambar-gambar tugu itu, kami berniat melanjutkan perjalanan ke Tirto Umbul, sumber mata air di Klaten yang dijadikan kolam renang umum. Di jalan, tiba-tiba, kami dikagetkan lagi dengan sebuah objek arsitektur gereja yang wajahnya sangat mencuri perhatian di pinggir jalan, Gereja Santa Maria Asumpta, rancangan arsitek Y. B. Mangunwijaya a.k.a. Romo Mangun.
Gereja ini penuh kejutan. Dari luar, saya pikir tata ruang dalamnya akan berorientasi formal mengikuti arah fasad bangunan. Di bagian dalam, altar justru diletakan di sudut, berundak, dan melingkar. Kursi-kursi jemaat dihadapkan ke arah sudut itu. Dari pintu masuk yang tersembunyi, pengunjung langsung berhadapan dengan lubang-lubang cahaya, dari celah antara dinding dan atap, maupun dua sisi yang terbuka. Lantai jemaat dibuat berundak ke arah belakang, seperti menyusuri sungai yang alirannya datang dari arah berlawanan dari tempat kita berdiri.
Soal material jangan ditanya, Romo pasti mengulik sampai ke detail terkecil, sebuah kualitas yang jarang sekali kita temui pada karya-karya kiwari. Material diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa penyeragaman dan "penaklukan" industri. Bekisting cor dari bilah bambu tertinggal pada balok-balok dan kolom struktur utama. Selain itu, kaca-kaca yang sudah mulai pecah meninggalkan kesan bahwa tak ada lagi yang bisa menggantikannya, selain kontrol ketat saat mengerjakannya.
Di belakang, bangunan baru berdiri menjulang panjang, untuk kebutuhan kantor dan rumah Romo yang baru. Jelas, kualitas itu jauh dari bangunan gereja utama. Lantai keramik, dinding batu tempel, dan acian standar saja. Meskipun berusaha bermain detail, tapi jelas terlihat seragam antar bagiannya. Para pengurus seolah-olah sudah tak punya waktu dan keahlian untuk menuangkan imajinasinya pada bangunan yang baru.
Dari kedua objek yang saya temukan dalam perjalanan singkat ini, ada kesamaan di antaranya. Keduanya menggambarkan pembauran guna dan citra, cerminan hubungan individu maupun kelompok yang menghidupi objek di dalam daur hidup objek itu sendiri. Identitas penciptaan awal telah melebur melalui lapisan waktu baru yang membaurkan bentuk dan makna, sejalan dengan proses praktik sosial dan spasial sehari-hari. Dengan begitu, sekalipun dibuat dengan sepenuh tenaga, sebetulnya karya Romo Mangun kembali ke fitrahnya, menjadi sebuah objek yang semenjana, seperti Tugu Motor Klasik di pinggir jalan desa. Siapa lagi yang mampu merawat bangunannya, selepas Romo pergi dan para pengrajinnya juga tiada? Mana yang perlu kita rawat: bangunannya atau relasi imajinasi kita padanya?
Seperti kata Romo Janu, seorang arsitek yang bertanggung jawab pada gereja Santa Maria Asumpta hari ini yang saya temui ketika masuk ke sana, "Coba dikritik aja bangunannya, mumpung Romo sudah tidak ada. Kalau beliau masih ada, pasti beliau marah." Benar juga, pikirku. Romo Mangun nambah-nambahin pikiran aja.
Sepeda Baru
Tidak ada yang spesial di awal pekan lalu, kecuali sepeda. Secara resmi sepeda ini sepeda ke-delapan yang pernah saya punya. Sepeda lawas, direstorasi ulang di bengkel dekat rumah yang baru saja saya temukan dua bulan lalu. Setiap orang tentu punya cerita personal tentang sepeda, dan saya pastinya berbeda. Kalau tidak salah ingat, dari semuanya, hanya satu sepeda yang benar-benar beli baru, yang saya beli dari hasil tabungan bekerja beberapa tahun. Sisanya saya dapat di tukang loak, dirakit dari sparepart bekas, atau hibahan dari orang lain.
Sepeda pertama saya dapatkan setelah beberapa tahun berhasil naik yang roda dua. Saya belajar pakai punya si mbak, yang ada roda kecilnya di samping roda belakang. Mula-mula saya lepas rodanya sebelah. Pelan-pelan semakin percaya diri. Saya dorong pedal sedikit lebih kencang, pegang dua setang dengan stabil, sepeda meluncur kencang. Seperti sulap, gravitasi tidak membawa kaki saya turun ke bawah. Saya takjub. Secara resmi saya bisa naik sepeda roda dua.
Ayah membelikan sepeda roda dua pertama seharga seratus lima puluh ribu di tukang loak. Sepeda bmx warna merah marun dengan sticker wimcycle di framenya. Senang bukan kepalang saat itu. Sepeda ikonik dengan logo si mbek yang muncul di iklan televisi setiap hari, akhirnya saya tunggangi betulan. Meskipun noda karat sudah berkumpul di sudut-sudut pertemuan antar bagian, tak jadi masalah. Bagi saya, kala itu, ia seperti motor satria baja hitam.
Sepeda itu sadelnya bisa ditinggikan. Ada semacam batang tambahan yang bisa diberi pengganjal karet dari bagian ujung frame atas. Dengan diganjal begitu, kaki jadi semakin sulit jejak ke tanah. Tapi kalau ada polisi tidur, jangan direm, saya juaranya. Sandaran bokong jadi empuk. Kalau harus menurunkan kaki, dorong tubuh sedikit ke depan kelar dari pedal. Dengan posisi berdiri menghimpit frame, saya bisa berhenti sempurna. Sama seperti anak-anak lain, kadang, gelas air mineral dihimpitkan di antara garpu rem, keluar lah suara seperti motor. Di kenyataan ini bmx, di alam pikiran saya mengendarai honda 250cc dengan angka 46 di punggung. Mirip Valentino Rossi.
Sepeda kedua saya lagi-lagi bmx, yang dirakit dari toko sepeda pinggir jalan di Bandung. Om Simon bilang ke Ayah, kalau merakit lebih murah. Selesa beli, Ayah bilang sama saja. Saya tertawa.
Warnanya silver metalik ala panji milenium. Kabelnya warna biru, senada handgripnya. Sepeda itu saya beri nama si biru, meskipun warnanya abu-abu. Saya pakai sekian tahun sampai karat merenggut seluruh tubuhnya dan saya tidak bisa pakai lagi. Kadang, dengan tambahan jalu belakang, saya bisa bonceng teman. Suatu hari saya pakai ke warung koh Anton di komplek. Bapak tetangga bilang awas sepedanya jangan taruh sembarangan, nanti hilang. Saya jadi percaya diri: berarti sepeda saya keren ya?
Sepeda ketiga merk Aleoca warna biru. Kalau tidak salah produksi Spanyol. Saya panggil dia Ale. Kali ini bukan BMX, tapi MTB klasik dengan frame yang agak canggung. Ini sepeda pertama saya yang dilengkapi gigi multispeed. Shifternya model putar di handgrip, bukan pakai tuas. Saya pakai dia setiap hari main ke lapangan basket, dari kelas 1 sampai 3 SMP. Yang saya bingung, si Ale ini rasanya berat sekali dikayuh. Setiap berpapasan dengan sepeda orang, saya pasti ketinggalan. Waktu itu saya berpikiran kalau saya yang kurang tenaga. Ternyata saya salah. Sepeda juga punya teknologi yang membuat kayuhan jadi ringan.
SMA saya jadi anak vespa. Boro-boro naik sepeda, naik angkot saja sudah mulai malas. Hari-hari saya habis di sekolah untuk main basket dan latihan tinju. Tentu sepeda-sepeda itu hanya mangkrak di gudang. Akhirnya dikasih ke Mas Budi, tukang yang suka bantu-bantu di rumah.
Setelah kuliah, saya ambil waktu magang 6 bulan di dekat rumah. Saya digaji 800.000 setiap bulan. Uang itu saya tabung sebagian, hingga pada bulan-bulan keempat dan kelima saya memutuskan pergi ke Pasar Rumput untuk beli sepeda. Kali ini saya tidak mau salah lagi. Sepeda saya harus enak, ada gear multispeed, sistem suspensi, dan rem cakram.
Setibanya di sana, saya jalan kaki iseng dari satu abang-abang ke yang lainnya. Di depan sebuah ruko, terparkir sepeda masih tokcer, merknya Pacific Invert LXwarna hijau hitam. Saya coba kayuh, lumayan asik. Saya naksir. Si abang menawarkan harganya 2,1 juta. Gila, pikir saya. Saya kira sejuta sudah dapet sepeda bagus. Berani-beraninya dia nawar segitu. Saya tawar 1,5 dan kami deal di 1,6 juta. Sepeda itu saya bawa pulang.
Grupset Shimano Tourney. Saya pakai sepedaan setiap hari dari kantor magang ke rumah. Tapi, senior saya di kantor, Mas Eka, juga naik sepeda, Polygon Heist 5.0. Waktu itu ia beli dari temannya seharga 3,5 juta. Saya heran, sepeda Pacific yang saya kira sudah bagus, masih kalah jauh di jalanan. Sepeda dia dikayuh sedikit majunya jauh betul ke depan. Ternyata, grupsetnya yang Deore, memang lebih loncer ketimbang sepeda saya. Sejak itu saya mulai paham tipe-tipe grupset dan spesifikasi sepeda.
Sepeda Pasific saya pakai juga setelah balik kuliah di Surabaya, sisa dua semester. Saya tidak kirim motor ke sana, karena saya pikir naik sepeda cukup. Karena marak pencurian sepeda di parkiran kampus saya, sepeda itu saya parkir di depan sekretariat himpunan. Toh saya setiap hari ada di sana. Sepeda itu saya pakai kemana-mana juga di Surabaya. Main ke Klenteng Pantai Kenjeran, sendirian keliling sampai nyasar untuk menghapus sedih karena nilai TA yang tidak dapat A. Juga saya pakai untuk kerja di kantor Ordes. Sepedaan di Surabaya itu menyenangkan. Lalu lintasnya rapih, lampu merahnya manusiawi. Jadi, musuh satu-satunya hanya becekan hujan.
Karena siap-siap pulang ke Jakarta, sepeda itu niatnya saya jual. Kebetulan Adi Garbha, teman asal Bali, mau bersepeda dan menanyakan harganya. Saya iseng-iseng menawarkan 2 juta rupiah. Eh dia mau. Syukurlah, tabungan saya balik. Dan saya berniat membeli sepeda baru di Jakarta.
Ternyata, kerja di Jakarta waktu itu lemburnya bukan main. Saya berangkat pagi dan pulang tengah malam. Akhirnya, ketimbang beli sepeda baru, saya nyicil motor. Sebetulnya bisa saja naik sepeda, tapi saya belum familiar dengan lingkungan tempat kerja saat itu. Saya harus melewati jalan-jalan ke arah Jakarta Barat, yang belum saya jamah sebelumnya. Niat punya sepeda baru terpaksa diurungkan.
Kesempatan bersepeda lagi baru datang setelah saya resign. Saya beli Polygon Premier 5.0, cakram hidrolik, shimano accera, dan suspensi depan. Warnanya hitam orange doff. Saya iseng-iseng main ke track JPG, ketemu komunitas bapak-bapak MTB, diajak masuk-masuk ke dalam hutan. Ah, mantap. Ini rute bersepeda yang saya cari. Setiap hari Minggu pagi saya rela bangun subuh untuk nerabas hutan bambu, perkampungan, jalur drop, tanjakan curam, dan jalur-jalur menantang lainnya.
Karena kemana-mana naik kendaraan umum, saya pikir perlu sepeda satu lagi, yang bisa dilipat. Ternyata di dunia ini ada benda bernama Da Bike, sepeda lipat Dahon keluaran awal 90-an. Saya suka bentuknya, framenya berbentuk trapesium siku-siku, rodanya kecil. Saya beli lewat marketplace, COD sama orangnya di Stasiun Depok lama, dan langsung saya lipat bawa pulang. Karena ketagihan saya sampai cari satu lagi, rencananya sekalian buat investasi. Saya dapat di daerah Cibubur. Sepeda itu sering dipakai Ibu jalan-jalan sampai sekarang. Sementara Da Bike yang pertama sudah saya jual ke teman.
Sebelumnya saya juga jual si Premier 5.0 ke om saya karena jarang dipakai sejak saya pindah Depok untuk kuliah S2. Saya kira mulanya di Depok asik buat sepedaan. Ternyata, alamak, Jalan Margonda itu kerasnya bukan main. Kuku sepupu saya saksinya, ia copot dihantam motor di lampu merah. Saya urungkan niat bersepeda di Depok untuk sementara waktu.
Covid-19 membuat saya rajin di rumah dan menggendut. Saya harus olahraga. Rasa rindu bersepeda pun terus menghantui dari grup whatsapp bapak-bapak itu. Saya putuskan jual si Da Bike pertama, lalu menggantinya dengan sepeda baru. Tadinya saya berpikir beli MTB modern sekalian yang full suspensi, biar gilas semua jalur. Waktu main ke bengkel malah ditawari MTB lawas, Diamondback merknya. Iseng-iseng saya coba, kok enak juga.
Geometrinya pas dengan badan saya. Tidak terlalu menunduk, grupsetnya juga tokcer, pakai Deore XT. Dengan grupset ini segala tanjakan bisa saya libas, pikir saya. Framenya chromoly, besi yang lentur dan dapat dimodifikasi. Mas Mugi, montir bengkel, meracuni saya untuk diupgrade seperti MTB modern, menggunakan discbrake. Saya tergiur. Bukan hanya itu, wheelsetnya juga saya ganti dengan ban yang asik di aspal dan tanah.
Lihat-lihat, di media sosial, sepeda MTB 26 inci seperti ini sedang naik daun, mungkin sama seperti sepeda fixie di tahun 2010-an. Orang-orang banyak memodifikasinya menjadi commuter bike, dengan keranjang atau rak tambahan untuk bawa barang di bagian depan. Warna, kabel, komponennya semua bisa disesuaikan selera. Punya saya dicat ulang warna biru. Saya coba kombinasi dengan putih, karena sudah kadung beli rak depan yang warna itu.
Sepeda ini saya pakai hampir setiap hari dalam seminggu terakhir. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya sepeda ini tembus angka lebih dari 60km. Sejauh saya pakai, ternyata nyaman sekali. Saya ketagihan dan penasaran, apakah bakal tembus 100km? Entahlah. Sepeda ini istirahat dulu karena saya mau pergi lama untuk riset tesis. Pastinya saya akan rindu berkeliling kota bersamanya. Juga sama si Marin abu-abu, teman mainnya dia :)
Tertinggal di Department Store
Kita berangkat dan pulang naik astrea legenda. Padahal kakiku belum jejak betul, belum punya SIM, masih kelas dua SMP. Kalau tidak salah, tempat parkir motor Bintaro Plaza saat itu tak jauh dari sudut tikungan tempatku meninggalkanmu, di dekat Department Store tempat kita berbelanja sebelumnya, Cahaya namanya.
Saya lupa apa sebabnya. Sepertinya lantaran Ibu yang belanja tidak selesai-selesai (memang begitu biasanya, sangat detail keperluan yang dibeli sampai menghabiskan waktu banyak), dan itu membuat saya kehabisan rasa kesabaran. Sedikit nada tinggi terucap. Darah sudah mendidih ke ujung kepala, letih, marah, dan ingin rasanya ia menurutiku untuk pulang. Tapi saya salah, ia masih butuh waktu, dan diam.
Saya tak mau kalah begitu saja. Saya protes dengan berjalan di depannya, tanpa kata-kata. Semakin lama semakin jauh. Sampai di luar, saya sudah di seberang jalan, sementara Ibu masih di trotoar Departemen Store.
Sepuluh menit berlalu, saya menunggunya di motor, tak datang juga. Saya kembali. Ia menangis di pinggir trotoar. Tak sanggup mengangkat plastik-plastik belanjaan yang berat. "Sana pergi, Ibu naik angkot saja", katanya. Saya sadar, sedihnya tidak main-main rupanya. Saya menyesali perbuatan yang sia-sia dan konyol itu. Sejak saat itu, untuk kesekian kalinya, saya kalah dengan diri sendiri.
--
Ibu tentu bukan orang pendendam. Ia tetap pulang bersama saya. Dan itu bukan kali pertama ia menangis karena perbuatanku.
Pernah satu ketika ia membuat banyak bungkusan ciki dan cemilan di hari ulang tahunku, untuk dibagikan ke teman-teman di kelas waktu SD. Saya mahfum, kapasitas ekonomi keluarga kami masih pas-pasan ketika itu, tapi dirinya tetap tanpa pamrih melakukan itu. Saat pulang sekolah, saya lupa apa penyebabnya, saya berselisih lagi. Dia marah, menangis, dan berkata, "Kurang tau terima kasih. Uang Ibu habis untuk ulang tahunmu".
Di hari yang lain, Ibu pernah cerita dirinya disuruh turun ayah dari mobil karena berselisih paham. Hampir ditabrak dirinya. Ia pun pergi, dari depan komplek, ke Bandung, ke makam orang tuanya. Saya di Surabaya tidak tahu menahu soal itu, saat itu. Saya membayangkan perjalanannya, dari depan rumah, naik angkutan kota ke tempat travel, sambung angkot lainnya ke makan yangti dan yangkung di Caringin, Bandung. Perjalanan pendek itu pasti terasa panjang, selama ia dirundung sedih.
Bukan Ibu namanya kalau bukan pemaaf. Sampai hari ini ia masih gedabrukan di dapur, menyiapkan buka puasa Ayah, menyekolahkan anak dari kakakku, dan masih rela menampung diriku yang sudah kadung dewasa. Ia tidak pernah pergi, betapapun disakiti.
Terima kasih Ibu, memberi contoh menjadi seorang penerima dan pemaaf. Sepertinya jalanku masih jauh untuk bisa jadi seperti dirimu.
Batavia
Duapuluh lima kilometer ke timur Jalan Raya Pos sampai ke Batavia, kota yang dibangun Jan Pietersz Coen. Pada mulanya Batavia adalah benteng yang dibangunnya dan diresmikan pada 12 Maret 1619 untuk kemudian menghapus lagi nama tersebut. Tidak lebih dari 12 bulan kemudian, pada 30 Mei 1619 Kompeni Belanda di bawah Coen menyerbu istana Adipati Jayakarta dan diberitakan dengan kerugian hanya seorang serdadu tewas. Dengan demikian, berdasarkan hukum perang, Jayakarta menjadi milik Kompeni Belanda. Dalam perkembangannya kemudian Batavia menjadi ibukota kerajaan dunia Belanda di Asia dan Afrika, mengakhiri pelayaran liar (wilde vaart) Kompeni, karena sekarang telah ada tujuan yang pasti. Yang dinamai Batavia semasa Coen adalah Jakarta Kota dewasa ini, yakni Kodya Jakarta Utara tanpa Kepulauan Seribu.
Kota Batavia dibangun menurut pola kota Belanda dengan sejumlah kanal, jalan raya, dan gedung. Tenaga kerja diambil dari tawanan perang dan budak belia, dan orang-orang Tionghoa yang diculiki dari pantai selatan Tiongkok. Orang-orang Tionghoa inilah yang kemudian dengan jiwanya yang lebih mandiri dan merdeka serta kerajinannya yang luarbiasa berhasil meninggalkan statusnya sebagai pekerja paksa menjadi pengusaha dan pedagang, menguasai sektor ekonomi masyarakat Batavia. Kompeni Belanda sendiri merasa iri dan jengkel terhadap keberhasilan mereka.
Sejumlah bangunan megah Kompeni Belanda masih tersisa sampai sekarang. Dalam satu tahun setelah menguasai Jayakarta, Coen telah mendatangkan 800 orang Tionghoa untuk usaha pembangunannya. Dengan berhasilnya Belanda menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, yang berarti juga berhasil membuatnya jadi bandar internasional dan bandar pengumpul komoditi, pada perpindahan pedagang-pedagang dari pelabuhan-pelabuhan kecil ke sini, terutama para pedagang pengumpul Tionghoa.
Untuk keamanan Batavia, Coen membangun 4 benteng, masing-masing dinamai dengan nama-nama batu mulia. Maka penduduk menamai empat serangkai benteng kota tersebut: Kota Intan. Di selatannya, Coen membangun daerah permukiman. Ia bercita-cita membangun koloni Belanda dan hendak mendatangkan wanita-wanita Belanda untuk jadi isteri para serdadu dan pejabat Kompeni. Pihak Kompeni Belanda di Belanda menolak gagasan ini. Maka kota yang dibangunnya diisinya dengan imigran sukarela, terutama orang Tionghoa.
Kompeni Belanda sudah sejak lahirnya adalah sebuah usaha dagang. Langkah Coen menguasai Jakarta membuat Kompeni Belanda terlibat dalam usaha menguasai wilayah secara permanen. Dari sini muncul polemik sepanjang sejarah Kompeni Belanda atau VOC: apa yang penting untuk Kompeni? Berdagang atau berkuasa? Memang VOC lebih mudah mendapatkan keuntungan melalui perdagangan. Tapi berdagang saja tidak mungkin. Pertama karena raja-raja Pribumi, yang tak pernah melihat perkembangannya golongan menengah, belum mengerti makna perjanjian dagang. Mereka mendasarkan segalanya pada kekuasaan pribadi sebagai raja semata. Berdasarkan konsep kekuasaan, seseorang bisa menjadi raja karena memang dikodratkan menjadi raja timbullah anggapan, kekuasaan berasal juga dari kodratullah; jadi bebas dari tindak salah atau berdosa. Dalam persaingan internasional untuk mendapatkan komoditi antara Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis, yang berkembang jadi perebutan kekuasaan atas jalan pelayaran internasional, mudah dimengerti bila para raja Pribumi yang tidak mengenal aturan-aturan perdagangan mudah terbujuk untuk mengingkari perjanjian dan berupaya mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dari persaingan di antara empat bangsa Eropa tersebut. Untuk menyelamatkan kepentingan dagangnya, semua Kompeni asing tersebut memerlukan kekuatan militer dengan benteng-benteng setempat. Akibat kelanjutannya adalah penguasaan wilayah dan: penjajahan atas bangsa-bangsa produsen komoditi. Dengan kekuatan militer yang nisbiah sangat kecil, bangsa-bangsa Eripa dapat mengalahkan tentara kerajaan-kerajaan Pribumi yang tidak profesional. Dalam abad-abad selanjutnya dunia non-Eropa praktis telah terjajah oleh bangsa-bangsa Eropa. Dana dan daya dunia non-Eropa tersedot tanpa henti untuk kekayaan, kemakmuran, kekuatan, dan kemajuan Eropa.
Perang Dunia II mengakhiri perebutan jajahan atas bangsa-bangsa non-Eropa. Dan dengan usainya Perang Dingin yang memperebutkan keunggulan sistim politik dan ideologi, pada menjelang akhir abad 20, Eropa--kemudia meluas menjadi Barat--melakukan penjajahan baru atas bangsa-bangsa non-Eropa, non-Barat, melalui neo-kolonialisme: negara-negara non-Barat tetap diperlakukan sebagai perdagangannya, dan kekuasaan setempat diperlakukan sebagai satpam semata untuk menjaga kepentingan pasar mereka. Dan penduduk yang kini juga dinamai Dunia Selatan atau Dunia Ketiga, diperlakukan sebagai konsumen semata. Dunia Barat yang telah dibikin kaya, kuat, dan maju oleh Dunia Selatan tetap memegang kendali dunia. Dan dengan kekayaan, kekuatan, dan kemajuannya, mereka menjerat kurbannya dengan hutang luar negeri dan diharapkan sampai dunia kiamat, mungkin juga sampai setelah itu, di akhirat.
Penguasaan Coen atas Jayakarta, pendirian Batavia sampai dengan pembangunan Jalan Raya Pos, tak lain dari sarana babak sejarah ummat manusia Dunia Selatan sekarang untuk menjadi ladang dan tambang kemakmuran Dunia Utara. Nampaknya pembangunan Batavia yang menggunakan tenaga kerjapaksa multi-rasial tawanan perang bangsa-bangsa Asia dan multi-etnis tawanan perang dari Nusantara sendiri, merupakan prototip dari apa yang bakal terjadi selanjutnya dalam abad-abad kemudian. Dalam abad 18 Batavia sudah mendapat julukan “Ratu Timur” karena kemegahan gedung-gedungnya, kemakmuran penduduknya termasuk para budak-budak-belianya, dan jaringan perdagangan internasionalnya yang maha luas, dengan dukungan keperkasaannya di lautan. Tetapi dekat sebelum Daendels merombak tata-kekuasaan dan sub-sub sektornya, di Jawa terutama, korupsi yang terjadi dari pesekongkolan antara pejabat Eripa dan kaum feodal Pribumi telah membuat keropos kejayaan kolonial. Korupsi memang tindak kejahatan menurut hukum pidana Eropa. Celakanya tidak demikian bagi para penguasa Pribumi. Setiap orang dalam tata-susun feodal Pribumi yang vertikal itu merasa berhak mendapatkan upeti dari bawahannya, jadi bukan suatu kejahatan. Celakanya ada dari kalangan rakyat jelata yang merasa bersyukur bila dapat mempersembahkan upeti sampai di luar kemampuannya kepada para pembesarnya sendiri. Abdullah bin Muhammad Al-Missri, pengarang dalam bahasa Melayu, menulis memoar tentang semasa Daendels pada kurang lebih 1815, bahwa semua kekayaan dari bumi Jawa: “Harus sampai ke negeri Belanda, karena memang begitu, si opas menipu pegawai pelabuhan, yang menipu jurutulis kantor, yang menipu petor, dan petor menipu anggota Dewan Hindia, yang menipu Gubernur Jenderal, Gubernur Jenderal menipu majikannya Raja Belanda.” Pengarang berbahasa Melayu tulisan Arab tersebut memang cuma meledek korupsi yang terjadi sejak opas kantor sampai pada Gubernur Jenderal, korps pejabat Pribumi dan Eropa bersama-sama. Semua yang dikorup tak lain daripada dana dan daya rakyat kecil, petani. Dan betapa terkejutnya Inggris waktu mendarat di Jawa setelah kepergian Daendels pada 1809, bahwa petani Jawa hanya dapat menikmati seperempatbelas dari hasil panennya. Tiga belas perempatbelas adalah untuk membiayai tata-susun feodal Pribumi sendiri, kekuasaan kolonial, dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Dari sisa yang seperempatbelas itu untuk kepentingan pribadi dan keluarganya masih harus membayar mahal pad apara pemegang pah (pacht, pemborong-monopol) pasar, pejagalan, madat--bila si petani penghisap madat--dan sejumlah pah lain, termasuk jembatan-jembatan tertentu. Biasanya pemegang pah adalah orang Tionghoa, yang memperolehnya dari Kompeni melalui lelang. Dari Raja Belanda sampai Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal, Residen dan birokrasinya, Bupati sampai pamong desa terendah, semua hidup dari penghasilan petani. Jadi bagaimana petani Jawa bisa hidup? Orang Inggris menjawab sendiri: karena kesuburan tanahnya. Justru karena itu petani sebagai lapisan terbawah masyarakat tidak boleh menjadi bebas. Lebih buruk lagi setiap saat mereka terbuka terhadap pembunuhan. Dalam sastra babad Pribumi pembunuhannya yang terjadi atas klas feodal besar kesempatan tercatat di dalamnya. Tetapi pembunuhan terhadap lapisan bawah masyarakat tidak pernah tercatat nama mereka. Penindasan struktural atas masyarakat rendahan ini membikin para petani Jawa pasrah, apatis, tanpa pelindung. Bahkan untuk keselamatan mereka sendiri mereka harus membentuk sistim kepolisiannya sendiri, yang dibiayai dan dilaksanakan oleh mereka sendiri.
Bukan suatu kebetulan bila dalam salah satu pidatonya Bung Karno pernah menyatakan bahwa (kurang-lebih): petani kita belum pernah merdeka. Sayang tak kuingat lagi kapan dan di mana kata-kata tersebut diucapkan atau dituliskan. Pengamat Barat malah tak segan-segan menilai petani Jawa sebagai indolen.
Batavia berpenduduk multi-rasial dan multi-etnis sejak didirikan oleh Coen. Para tawanan perang tinggal di kamp-kamp tawanan yang terbahi menurut ras atau etniknya seperti: Kampung Bali, Kampung Jawa, Kampung Ambon, Kampung Bandan (mestinya: Banda), Kampung Arab, Kampung Koja, Kampung Melayu, Kampung Bugis. Sebagian budak-budak India yang dibebaskan Kompeni dinamai Mardijkers, sedang orang-orang Tionghoa ada yang berhasil menebus kebebasannya dan membangun Kampung Cina sendiri yang lebih terkenal dengan nama Pecinan. Kata kamp ini kemudian diserap dalam bahasa Melayu/Indonesia menjadi kampung.
Pergaulan antar-ras dan antar-etnik melahirkan lingua franca Melayu-Betawi, juga apa yang kelak dinamai seni dan budaya Betawi yang mempunya kecenderungan Tionghoa, terutama di bidang musik dan tari.
Waktu Batavia diserang oleh tentara Matraman pada 1628 dan 1629, budak-budak dan tawanan perang yang ikut membela Belanda mendapatkan pembebasan karena kesetiaannya. Walaupun dalam tentara Kompeni Belanda terdapat tak kurang-kurangnya serdadu Jepang bayaran, yang terkenal ganas dengan pedang samurainya tak pernah jelas apakah mereka kemudian jadi penetap di Batavia.
Baik, kita tinggalkan dulu Batavia dan kembali pada Daendels, yang diagungkan sebagai pembangun Jalan Raya Pos alias Jalan Daendels. Dialah yang memperluas Batavia lebih ke pedalaman. Waktu itu Batavia, yang terkepung oleh rawa-rawa pantai sangat tidak sehat. Dalam pembangunan pertama semasa Coen tidak kurang dari sepertiga kerja dari berbagai bangsa dan etnis tewas tersapu malaria. Untuk membuat Batavia menjadi sehat Daendels memerintahkan menghancurkan benteng-benteng Kota Intan agar kota mendapatkan hawa lebih segar. Perluasan ke selatan menggunakan wilayah Gambir, yang oleh Belanda dinamai Weltevreden. Ia membangun istana baru di seberang timur lapangan Banteng (terjemahan dari nama Belanda: Buffelveld) dengan kandang-kandang untuk kereta dan kudanya. Kandang ini sejak dasawarsa pertama abad 20 dipergunakan untuk tempat pencetakan dan penerbita Volkslectuur, yang lebih terkenal kemudian dengan nama Balai Pustaka.
Untuk menangkal serbuan Inggris tanpa ke benteng kota, ia pusatkan pertahanannya lebih ke selatan Weltevreden, ke Meester Cornelis, yang untuk waktu lama oleh penduduk Batavia disebut Mester, kemudian dinamai Jatinegara. Artinya bahwa jalan-jalan di Batavia semasa Daendels telah memenuhi syarat untuk pengangkutan militer dari Meester Cornelis sampai ke pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan terpusatnya militer di selatan Weltevreden, pembangunan besar-besaran pun mengikuti.
Sebagai seorang Napoleon Kecil barangtentu ia juga membawa mutiara Revolusi Perancis Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan). Nyatanya tidak demikian. Tak ada kebebasan, persamaan, dan persaudaraan disebarkannya di Jawa. Kalau ada sepercik kebebasan yang diberikan, hal itu hanya sebatas kebabasan beragama. Dan itu pun hanya mengenai agama orang Eropa, dan di sini berarti Katholik. Sebelum Daendels, ummat Katholik memang menghadapi banyak kesulitan dari pihak Kompeni Belanda. Soalnya Belanda yang Protestan pernah melancarkan perang 80 tahun. Mudah untuk mengerti, mengapa Coen menindas ummat Katholik yang taubat pada Protestan. Jadi kebebasan beragama yang diberikan Daendels di Jawa tak lebih artinya daripada pengakuan pada kehadiran Katholik. Bagaimana pun terbatasnya pekerjaan reform di bidang keagamaan ini bukan tidak penting.
Dalam masa pemerintahannya, Weltevreden ia sulap menjadi pemukiman, perkantoran sipil, maupun militer yang mempesonakan. Dan waktu itu ia meninggalkan Jawa, istana yang dibangunnya belum sepenuhnya selesai pemasangan atapnya. Sebagai bukti ia telah menularkan mutiara Revolusi Prancis, ia bangun gedung gereja Katholik yang besar, megah, menjulang tinggi, menurut tradisi Katholik Eropa.
Nama Batavia hapus dari peta sejarah pada bulan-bulan pertama pendaratan balatentara Jepang. Melalui keputusan pemerintah pendudukan Jepang, nama itu diubah menjadi Jakarta sesuai dengan keinginan kaum nasionalis. Semasa dasawarsa terakhir pemerintah kolonial, nama itu pun sudah dipergunakan secara sporadis oleh kaum nasionalis, tetapi yang paling gigih dan paling lama menggunakannya adalah lembaga pendidikan nasional Taman Siswa dan para lulusannya.
Dalam bulan Juni atau Juli 1942 setelah diperintahkan meninggalkan rumah keluarga, aku mulai tinggal di Jakarta. Sebagian besar hidupku pun kulewatkan di sini. Waktu datang untuk pertama kali aku terkesan pada keanggunan, kebersihan, dan keteraturan sisa-sisa kehidupan kolonial ibukota Negara Hindia ini. Rasanya jauh lebih beradab dari Surabaya. Tiga setengah tahun masa pendudukan militeris Jepang, Jakarta tak terurus lagi kebersihannya. Aspal jalannya pada terkelupas. Tak jarang bagian-bagian yang hancur karena sudah tak mampu lagi menanggung beban truk, tank, dan panser Jepang membuat susunan batunya porak-poranda. Jalur kiri-kanan badan jalan ditumbuhi ilalang berdebu yang cukup rapat dan tinggi. Dan pada bulan-bulan terakhir pendudukannya, tidak jarang pejalan kaki terhadang oleh mayat orang kelaparan, tanpa ada pertolongan oleh siapa pun dan dengan apa pun. Setiap orang terancam oleh nasib yang sama.
Jakarta sebagai kota Proklamasi mengalami kebangkitan dari kelesuan pendudukan Jepang pada Agustus 1945. Di luar dugaan penduduk yang kelaparan dan hanya memiliki sisa terakhir kekuatannya bersorak menyambut kemerdekaan nasionalnya sendiri. Sejak itu Indonesia memiliki nasion Indonesia. Namun Jakarta juga kota pertama-tama yang menanggung akibat Proklamasinya. Sekutu, di sini Inggris, pemenang Perang Dunia II, kemudian juga bersama Belanda, tidak bisa melihat bangsa yang ratusan tahun jadi sumber penghisapannya bangkit merdeka jadi dirinya sendiri. Juga sisa-sisa balatentara Jepang, yang tak bisa melihat bangsa yang begitu dalam dihinakannya, bangkit merdeka, keluar dari tangsi-tangsinya secara liar dan menyebabkan teror. Orang-orang Indonesia yang kelaparan dan setengah kelaparan, tanpa senjata perang, melawan dan dengan demikian revolusi fisik pecah, bangsa jajahan melawan para bekas majikannya. Dua tahun revolusi berkecamuk, dan aku sendiri kemudian mendarat di penjara Bukitduri sebagai tahanan Belanda. 1947! Sebagian kerjapaksa yang ditimpakan pad akami adlaah menyingkirkan kotoran peninggalan Jepang, membabati ilalang pinggiran jalan, lapangan Gambir, tangsi-tangsi militer, tempat penimbunan rongsokan alat perang, dari Jatinegara sampai Tanjung Priok.
--
Pramoedya Ananta Toer. (2005). Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. Hal.: 43-52.
Tangerang
Tangerang sebagai nama tempat adalah ejaan salah warisan Belanda. Semestinya ditulis dan diucapkan: Tanggeran.
Jalan Raya Pos dengan sejumlah tikungan ke tenggara dan timurlaut sejauh lebih dari 50 kilometer membawa orang sampai ke Tangerang. Wilayah ini pernah jadi pemusatan para pemberontak yang berhasil menggulingkan Ratu Fatimah, gadis Arab itu, dari kesultanan Banten. Pemimpinnya yang karismatik, Kyai Tapa, meluaskan perlawanannya terhadap kompeni Belanda sampai ke seluruh Priangan, dan untuk waktu lama mengusik tanampaksa kopi, darah hidup Kompeni.
Sampai dengan kemerdekaan nasional, penduduk lebih suka menamainya: Benteng. Memang perbentengan kuat pernah didirikan Kompeni untuk menghadapi Banten yang rakyatnya terus bergolak, dan dengan demikian melindungi Batavia. Semasa kolonial itu, pemerintah kolonial telah menjual tanah Tangerang kepada 70 orang tuantanah, kebanyakan Tionghoa. Sebagai akibatnya penduduk yang ikut terjual mendapat kewajiban lebih banyak daripada di tanah-tanah gubermen. Penduduk yang tak berdaya secara hukum menghadapi persekongkolan kolonial dengan tuantanah, melahirkan para jawara atau para jagoan sebagai kekuasaan tandingan, dengan aksi-aksinya, yang menurut ukuran hukum yang berlaku adalah kriminal. Mereka membentuk gerombolan-gerombolan yang mengganggu kemapanan kolonial dan tuantanah. Namun perlindungan pada tuantanah tetap lebih unggul berbanding para jawara dengan gerombolannya. Tradisi jawara tanpa tuantanah dalam era kemerdekaan nasional menjadi sumber kriminalitas.
Tanahnya yang datar dan subur saja menghasilkan beras, juga berbagai palawija, terutama kedelai. Ini membikin Tangerang jadi produsen kecap sejak jaman Kompeni, jaman Hindia Belanda, Jepang, sampai kemerdekaan Nasional. Kecap produksi sini juga dikenal sebagai kecap klas satu. Kenomor-satuan-nya menyebabkan Bung Karno bisa membikin ungkapan “ngecap” yang berarti mempromosikan diri sebagai yang nomor wahid.
Topi anyaman bambu telah membuat tempat ini terkenal di dunia. Pada 1887 saja Tangerang telah mengekspor topi 145 juta buah, terutama ke Perancis. Telah menjadi kebiasaan dalam kurun tersebut, topi Tangerang dipergunakan oleh para pekerja pelabuhan baik di Eropa maupun Amerika, dan terutama Amerika Latin. Sejak masa pendudukan Jepang, disusul Revolusi dan kemerdekaan nasional, industri topi bambu gulung tikar dan nampaknya takkan bangun lagi untuk selama-lamanya.
Tangerang dibelah oleh Ci Sadane. Konon dahulu sungai ini jadi perbatasan antara ksultanan Banten dengan kerajaan Jayakarta. Benteng yang didirikan Kompeni di sini dinamai Tangerang, yang menyebabkan mulai dari sini sampai ke muaranya Ci Sadaene dinamai Kali Tangerang. Belanda telah menggali kanal yang menghubungkan ibukota Tangerang melalui air dengan Ci Sadane dan Kali Angke di Batavia. Sepotong hidupku pernah habis di tempat ini. Dari Desember 1965 sampai Mei 1966. Dalam penjara pemuda, yang beberapa bagian daripadanya diperunakan tempat tahanan politik. Tanah milik penjara di luar tembok adalah tempat kami melakukan kerjapaksa bertanam sayuran khusus untuk menambah isi kantong komandan kamp. Di penjara ini sekali-dua kami dengar ramai-ramai tawur antara kelompok etnis pemuda kriminal kontra kelompok etnis pemuda kriminal lain yang diakhiri dengan sorak-sorai skore hasil tawuran. Satu-dua, atau dua-tiga. Dan itulah jumlah kurban terbunuh dalam tawuran. Di sini juga aku jadi saksi bagaimana teman-teman tapol dalam penjara ini menderita kelaparan. Jatah makan yang diberikan tidak mencukupi baik dalam kualitas maupun kuantitas sehingga pada waktu-waktu genting tertentu sehari bisa dua sampai tiga teman tapol meninggal. Sekali pernah enam teman mati dalam sehari. Kelaparan ini akibat korupnya birokrasi atau memang diterapkan sistim pembunuhan melalui pelaparan; bagi yang mati maupun yang ditahan, tak ada bedanya. Tapol, kematian, perampokan, pelaparan adalah salah satu metode untuk mendirikan Orde Baru. Yang penting dalam sejarah kemerdekaan nasional adalah bahwa di tempat inilah untuk pertama kali didirikan Akademi Militer semasa Revolusi masih pada tingkat awal. Dan sekarang Tangerang telah menjadi kota industri di samping perdagangan, juga kota pemukiman buruh dan birokrat yang bekerja di Jakarta. Maka lalulintas Tangerang-Jakarta termasuk terpadat di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada jam-jam masuk dan keluar kantor.
--
Pramoedya Ananta Toer, 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. Hal.:40-42.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
It is a choice and it's a vulnerable choice because in order to connect with you, I have to connect with something in myself that knows that feeling.
The truth is, we can not make something better through response. What make something better is connection.
Taking perspective of another person or believe in perspective of their truth, staying out of judgement, recognizing emotion of another people and communicating that. It is feeling with people.
That's what we should have, empathy.
(A note on empathy from Rene Brown)
Arsitektur dan Artikulasi Keseharian yang Terabaikan
Essai Tugas Akhir Kelas Arsitektur dan Keseharian
Jika kita percaya bahwa desain dan arsitektur tidak hanya berkontribusi untuk menyelesaikan masalah saja, tetapi juga untuk mempelajari, memahami, dan menyuarakan secara sadar bentuk-bentuk pemecahan yang sudah ada di dalam keseharian, maka proses mengartikulasi bisa jadi sama pentingnya dengan merancang. Tanpa arsitek dan perencana, ruang arsitektural nyatanya tetap diproduksi oleh warga melalui praktik spasial sehari-hari (Borden et all, 2001; Lefebvre, 1977). Pada praktik spasial sehari-hari itu tersirat hubungan timbal balik antara ruang, penghuni, kebutuhan, dan potensi kolektif (Yatmo & Atmodiwirjo, 2012:679). Mengartikulasikan praktik spasial sehari-hari berarti mendekatkan kembali arsitektur kepada dunia nyata—melakukan refleksi kritis resiprokal antara arsitektur dan hal-hal yang melekat dalam konteks di mana arsitektur itu berada—termasuk hal-hal di luar disiplinnya.
Meskipun terlihat sederhana, keseharian seringkali absen dari pengamatan arsitek. Rancangan arsitek-bintang yang terbit di media publikasi umpamanya, umumnya mengandalkan citra digital sebagai media komunikasi. Jatuh cahaya, tekstur permukaan, refleksi material, vegetasi di dalam dan luar bangunan, serta lingkungan sekitar bangunan digambarkan seideal mungkin dengan bantuan perangkat komputer, lebih banyak mengilustrasikan intensi arsitek ketimbang kontribusi bangunan terhadap keadaan eksisting. Akibatnya, kebiasaan warga, persoalan lingkungan hidup, efisiensi energi, pola konsumsi masyarakat, dampak pembangunan, dan kehidupan sosial sehari-hari malah kerap terabaikan.
Pada tahun 2016, sebuah artikel di halaman media Failed Architecture mengkritik budaya rendering pada media publikasi arsitektur (Minkjan, 2016). Mark Minkjan, penulis sekaligus pimpinan redaksi di media itu, berargumen bahwa rendering merupakan sisi buruk (ugly sides) dari arsitektur dan perkembangan kota yang sangat disukai media. Banjir visual dapat meningkatkan jumlah klik pada kanal media mereka. Rendering memang jitu memikat hati media dan klien. Masalahnya, pemanjaan visual semacam itu membuat publik malah lebih mudah mengasosiasikan arsitektur dengan kemewahan dan eksklusivitas, ketimbang isu-isu publik dan kehidupan sosial sehari-hari. Arsitektur pun menjadi semakin berjarak dengan persoalan sosial.
Saya tidak menyalahkan penggunaan rendering sepenuhnya, meskipun hal tersebut juga sering digunakan secara ugal-ugalan pada praktik profesi arsitek di Indonesia—setidaknya dari pengalaman saat menjadi arsitek junior di sebuah firma di Jakarta. Saya membaca persoalan yang lain: arsitektur memang bersifat abstrak sebelum terbangun. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuktikan hasil abstraksi hingga mewujud yang konkret. Oleh sebab itu, citra digital—sebagai satu dari sekian banyak bentuk artikulasi—dapat membantu klien dan masyarakat awam untuk memahami gagasan yang semula abstrak secara efektif.
Namun, penggunaan citra digital semata tanpa disertai pertanggungjawaban arsitek bisa jadi sumber masalah besar. Salah satu contoh kasus setahun terakhir misalnya, gambar arsitektur visitor center “Jurassic ‘Komodo’ Park”—rancangan Yori Antar di wilayah konservasi Pulau Rinca—viral memunculkan polemik di media sosial (CNN Indonesia, 2020). Dalam presentasinya yang tanpa disertai keterangan ukuran tapak bangunan, Yori membuat sebuah bangunan besar dari beton di wilayah habitat komodo. Yori berargumen bangunan itu memusatkan aktivitas turis ke satu titik, mengakomodasi fungsi-fungsi yang sebelumnya tersebar, dan menjaga vegetasi pohon eksisting. Dengan begitu habitat komodo tidak akan terlalu banyak terganggu, menurut Yori (Landscape Talk 11, 2020).
Di dalam imajinasi heroik arsitek, bangunan itu berkontribusi terhadap banyak hal: perekonomian lokal, habitat komodo, vegetasi eksisting, dan citra Indonesia di mata investor serta wisatawan mancanegara. Satu hal esensial yang nampaknya diabaikan adalah proses pembangunan. Unggahan foto-foto yang viral dari kelompok LSM kawan baik komodo menunjukan kondisi sehari-hari di lapangan selama proses konstruksi: pohon-pohon ditebang, kapal tongkang merapat, truk dan beko berlalu lalang, berhadapan dengan komodo (CNN Indonesia, 2020). Dari citra digital yang viral di media sosial, saya melihat kontras antara imajinasi yang heroik dan situasi yang sehari-hari.
Pada kasus ini, artikulasi keseharian yang lebih elaboratif sebetulnya bisa sangat membantu. Bukan sekedar dengan terburu-buru menjawab tantangan pemberi tugas, melainkan memahami—menggali ke dalam permukaan—terlebih dulu, apa saja potensi yang sudah ada di sana, mulai dari material yang tersedia, cara membangun warga lokal, karakteristik habitat komodo, hubungan masyarakat dengan komodo, dan lain sebagainya. Keseharian memberi sumber pengetahuan yang mengakar pada realitas yang natural. Bagaimanapun bentuk usaha proyek arsitektur merekayasa ruang hidup, keseharian selalu ada di sana dan kita akan tenggelam di antaranya (Till & Wigglesworth 1998:7)
Banyak pemikir yang memposisikan keseharian sebagai keadaan kontras terhadap yang bayangan ideal disiplin. Keseharian dikonsepsikan sebagai situasi yang ada “di sini” dan “saat ini” (Lefebvre, 1971:21-22), lahir dari manipulasi individu yang bersifat otonom (De Certau, 1980), anonim, dialektis, dan tidak dibentuk melalui resep baku (Harris, 1998:3). Jika arsitek berurusan dengan pekerjaan yang membutuhkan spesialisasi, keseharian justru menetap setelah seluruh pekerjaan spesialisasi itu selesai (Harris, 1998). Sekalipun proyek arsitektur sudah melalui proses kajian yang komprehensif, tentu saja tidak akan mampu mewakili keseluruhannya. Produksi arsitektural tidak selesai setelah proyek arsitektur selesai.
Don Norman dalam The Design of Everyday Things (1988) menguraikan kaitan antara pengetahuan di dalam diri manusia dengan pengetahuan yang ada di dunia nyata. Ketika kita berinteraksi dengan sebuah objek, pada dasarnya kita menghadapi dua buah ceruk dengan kedalaman yang berbeda, yakni ceruk eksekusi dan evaluasi. Eksekusi terkait bagaimana kita melakukan sesuatu, sedangkan evaluasi melihat apa yang terjadi setelahnya. Kedua proses ini terus berulang secara simultan, berelasi terhadap logika, pemaknaan, dan budaya dari pengguna objek tersebut. Setiap orang memiliki model respon, kebiasaan, dan refleksi yang berbeda-beda untuk melewati cerukan eksekusi maupun evaluasi, terpaut dengan pengetahuan dan kebiasaan masing-masing orang.
Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, saya berpraktik di bidang arsitektur non-perancangan. Saya mengkurasi, menulis, mendokumentasi, dan mengorganisir kegiatan pada persilangan bidang arsitektur dan seni rupa. Pengalaman dilatih sebagai arsitek profesional selama kurang lebih 3 tahun, ditambah pendidikan sarjana selama 4,5 tahun, mau tidak mau membentuk sudut pandang saya saat ini. Saya melihat bagaimana orang lain (di luar disiplin arsitektur) memahami arsitektur, juga sebaliknya, saya yang terlatih sebagai arsitek melihat mereka—pada kondisi sehari-hari.
Bagi saya secara personal, bermain di wilayah itu menantang saya untuk berada pada wilayah diskursus di antara persilangan beberapa hal. Pertama, arsitektur di persilangan antara yang akademik dan praktik. Saya menolak pandangan bahwa arsitektur adalah sebuah profesi yang hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan pasar. Arsitektur adalah sebuah disiplin yang merefleksikan sejarah bersama, keragaman sensibilitas estetika, dan bentuk-bentuk keidealan yang berbeda-beda. Kedua, arsitektur tidak hanya menubuh pada bangunan, tetapi juga teks, gambar, foto, bahkan performativitas (Butcher 2020:2). Secara spesifik, medium kuratorial memberi tempat bagi saya untuk memposisikan diri di antara berbagai tegangan yang ada, termasuk untuk mengartikulasikan keseharian.
Kerja kuratorial bukanlah sekedar menyusun konten pameran. Mengkurasi dapat dipahami sebagai proses riset, dengan melibatkan diri pada kerja investigasi, penjelajahan, dan refleksi secara kritis. Kuratorial dan proses riset (dalam beragam kemungkinan bentuk) dapat dilakukan secara beriringan satu sama lain, menjadikan pameran bukan sebagai hasil dari kurasi, melainkan bentuk artikulasi riset itu sendiri (O Neil & Wilson, 2015:12). Kuratorial dapat berupa praktik spasial kritis seperti yang diungkapkan Jane Rendell dapat menggabungkan berbagai pengetahuan baru yang belum pasti (Randell, 2007), atau sebagai urbanisme, seperti yang diungkapkan Hans Ulrich Obrist (2014:121) ketika dirinya mengerjakan proyek kuratorial lintas disiplin pertama kali bersama Hou Hanru, seorang kurator Asia, mengenai topik seni, urbanisme, dan megapolis Asia. Medium kuratorial memiliki keluwesan untuk bisa “mendayung di antara dua karang”, di antara yang akademis dan praktis, di antara yang arsitektur dan non-arsitektur, di antara yang heroik dan sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah pameran “Tanahku Indonesia” (2017) yang dikurasi oleh Yandi Andri Yatmo dan Paramita Atmodiwirjo. Pameran mengartikulasikan materialitas arsitektur dalam merepresentasikan keragaman budaya di Indonesia. Pameran ini merupakan bentuk resistensi terhadap tekanan universalitas material industri modern, seperti yang diungkapkan oleh kedua kuratornya (Yatmo & Atmodiwirjo, 2020). Lewat proses riset panjang mengenai budaya material, mulai dari teknik pengolahan, produk yang dihasilkan, perangkat peralatan, dan jenis-jenis tanah, pameran ini menunjukan bahwa setiap tanah di Indonesia punya potensi yang berbeda-beda. Teknik artikulasi di dalam pameran menggunakan artefak, diagram, teks, foto, dan rekaman video mempermudah publik untuk memahami konten data yang sangat kaya.
Pameran semacam ini sangat penting posisinya sebagai kritik terhadap praktik profesi arsitek yang cenderung “generik” dalam memperlakukan material di mana pun mereka berada. Dari pameran ini, kita bisa melihat bahwa ternyata arsitektur hanya perlu didekatkan kepada tanah di sekitarnya. Jika arsitek secara aktif melakukan hal itu, maka akan banyak potensi lokal, baik sumber daya manusia maupun material, yang terlibat di dalam siklus produksi arsitektur. Arsitektur pun menjadi tidak seragam.
Pada tahun 2020 lalu, dengan menggunakan medium kuratorial, saya juga berusaha mendekatkan diri pada praktik spasial sehari-hari pada tipologi rumah susun di Jakarta. Saya mengundang dua seniman yang tinggal di rumah susun untuk melakukan riset dan pameran bersama tentang pengalaman mereka berhuni di rumah susun, dalam kegiatan berjudul “Besar Kecil Sama Saja, Asal Nggak Sendiri” di ruru galeri. Saya berangkat dari pertanyaan sederhana: apa yang dapat kita pelajari dari Rumah Susun setelah lebih dari 30 tahun berdiri di Jakarta? Bagaimana cara mengartikulasikan pengalaman dan produksi ruang di rumah susun dari kacamata utuh penghuninya?
Selama enam bulan, saya dan kedua seniman bolak-balik ke rumah susun untuk merekam dan mengobservasi apa saja yang ada di sana dengan metode oto-etnografi. Dua seniman yang saya pilih punya latar belakang yang berbeda, satu lahir dan besar di Rumah Susun, satu lagi mengontrak. Dari mata mereka terekam siasat warga pada ruang yang intim, seperti mengulur seutas tali untuk berbelanja ke bawah, menjemur pakaian di antara lubang terhembus angin, merekayasa balkon menjadi dapur, berbagi makanan lewat jendela kamar, dan meringkas perabot di dalam rumah. Bentuk artikulasi di dalam pameran dibuat sesantai mungkin, dengan medium instalasi, foto, video, dan arsip. Bagi saya, kuratorial di sini punya keluwesan untuk masuk ke dalam bentuk-bentuk riset yang belum dilakukan baik di bidang akademik maupun praktik.
Selain itu, medium kuratorial juga membantu saya untuk melakukan riset arsip. Pada akhir 2019 lalu, di Desa Pesanggaran, Banyuwangi, saya menyelenggarakan pameran berjudul “Alas Dadi Kutho, Kutho Dadi Alas”. Pameran ini mempertemukan arsip arsitektur kamp interniran Jepang di desa itu, yang saya jadikan bahan untuk tesis, dengan ingatan warga. Saya menggunakan medium pameran sebagai metode elisitasi. Di sini saya belajar hal baru. Di desa, bagaimana pameran ditampilkan tidak lagi begitu penting. Warga yang datang melihat-lihat konten, lalu duduk bercerita tentang masa lalu. Saya tidak menjadikan pameran itu sebagai produk akhir, melainkan sebagai proses riset.
Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan terlihat. Ungkapan itu lah yang saya dapatkan selama mempelajari arsitektur dan keseharian di dalam kelas semester ini. Memang saya sadar, perlu kapasitas ilmu yang lebih untuk bisa konsisten melakukan praktik kuratorial sebagai medium artikulasi praktik spasial sehari-hari. Dalam pertemuan terakhir di kelas, saya mendapatkan kritik tentang pameran arsip arsitektur AMI yang dibilang bersifat eksklusif karena hanya dapat dinikmati oleh publik arsitektur saja. Saya sepakat dengan kritik tersebut, bahwa pamerannya untuk kalangan arsitek. Tetapi, pada pameran itu saya belajar pentingnya arsip arsitektur untuk membaca, mengkritik, merefleksikan, sebuah bentuk gerakan yang sudah ada di masa lalu. Bukan untuk memistifikasi arsip, tetapi untuk memposisikannya ulang terhadap apa yang ada hari ini.
Iklim profesi arsitektur di Indonesia kering dari kritik. Tulisan akademik dan kritik terlihat membosankan bagi publik. Sementara itu, keseharian tetap ada di sana, memberi ruang untuk kita pelajari. Dengan eksperimentasi bentuk-bentuk artikulasi dan kurasi, saya masih percaya ia bisa menjadi jalan tengah di antara dunia arsitektur kita yang membosankan.
---
Daftar Pustaka
Borden, I.et al. (Eds.) (2001). The Unknown City: Contesting Architecture and Social Space. Cambridge, MA: The MIT Press.
CNN Indonesia. (2020, October 25). Foto Komodo-Truk Viral, Walhi Kritik 'Jurassic Park' NTT. Retrieved January 10, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201026050916-20-562618/foto-komodo-truk-viral-walhi-kritik-jurassic-park-ntt
Hans Ulrich Obrist. (2015). Ways of Curating. Penguin Books.
Indonesia, C. (2020, October 25). Foto Komodo-Truk Viral, Walhi Kritik 'Jurassic Park' NTT. Retrieved January 10, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201026050916-20-562618/foto-komodo-truk-viral-walhi-kritik-jurassic-park-ntt
Jane Rendell, “Critical Spatial Practice: Curating, Editing, Writing,” in Issues in Curating Contemporary Art and Performance, eds. Judith Rugg and Michele Sedgwick (Bristol: Intellect, 2007).
LandscapeTalk11 - Beyond Landscape + Architecture Project. (2020, October 25). Retrieved January 10, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=huuA8VIQMzs&feature=youtu.be
Lefebvre, H. (1991). Critique of everyday life. London: Verso.
Matthew Butcher. (2020). Expanding Fields of Architectural Discourse and Practice: Curated Works from the P.E.A.R. Journal. London: UCL Press.
Minjan, M. (2016, February 15). What this MVRDV Rendering Says About Architecture and the Media. Retrieved January 10, 2021, from https://failedarchitecture.com/what-this-mvrdv-rendering-says-about-architecture-and-media/
Paramita Atmodiwirjo & Yandi Andri Yatmo. (2020): “Tanahku Indonesia”: On Materialscape as the Materiality of a Nation, Architecture and Culture, DOI: 10.1080/20507828.2020.1774850
Paramita Atmodiwirjo & Yandi Andri Yatmo. (2011). Communal Toilet as a Collective Spatial System in High Density Urban Kampung. ASEAN Conference on Environment-Behaviour Studies.
Paul O’Neil & Mick Wilson. (2015). Curating Research. London: De Appel.
Sarah Wigglesworth & Jeremy Till. (1988). The Everyday and Architecture. AD Classic.
Steven Harris & Deborah Berke. (1977). Architecture of the everyday. New York: Princeton Architecture Press.
Catatan di Kereta Amsterdam-Rotterdam, 2019
Bruekelen
10:14
6 derajat celcius
Sebuah pedesaan di kanan kiri jalur kereta api penghubung Amsterdam Central dan Rotterdam Central. Sapi-sapi berkeliaran di padang rumput musim dingin. Rumah-rumah berjauhan. SUTET. Truk-truk parkir siap mendistribusikan pangan ke daerah kota.
Saya salah naik kereta api. Seharusnya saya ambil intercity yang langsung mengarah ke Rotterdam tanpa berhenti di tiap stasiun. Tapi justru jalur memutar ini membawa saya pada pengalaman yang tidak perlu disesali.
Saya teringat saat naik kereta pertama kalinya bersama ayah dan kakak saya dari Jakarta ke Bandung. Suasana lansekap sawah di kanan kiri, diselingi rumah-rumah warga yang sederhana, jaringan listrik SUTET, diselingi dengan beton-beton infrastruktur di antaranya.
Belakangan naik kereta ke Bandung tak sebegitu menyenangkan lagi. Arus pembangunan infrastruktur yang deras berimbas pada teralihfungsinya lahan pertanian secara drastis. Saya juga ingat bagaimana Majalengka mendapatkan tantangan itu.
Kereta adalah ruang. Lansekap adalah batas. Kaca jendela adalah layar. Kita berada di antaranya. Kita mengenal dunia luar dari impresi di dalam ruang yang hangat, sementara di luar begitu dingin. Atau sebaliknya.
Baik di Argo Parahyangan maupun Sprinter, keduanya sama. Ruang kosong dengan barisan tempat duduk yang menghantarkan kita dari satu titik ke beberapa titik lainnya. Kita bertatap dengan orang di depan, dengan rasa canggung dan penasaran. Ingin memulai percakapan, namun nyaman dengan kesunyian.
Woerden 10:28
Parkir sepeda bertingkat di sisi stasiun. Sedikit orang menunggu. Sebagian besar berusia 45 tahun ke atas. Wajahnya kesepian. Apakah Eropa tak cukup memberimu teman? Yang bisa singgah di warung-warung kopi tanpa tujuan.
Gouda Goverwelle 10:36
Dua orang nenek-nenek bermantel hijau dan biru naik ke gerbong. Mencari tempat duduk. Di balik kaca, bangunan gedung tiga tingkat berdinding bata di sisi kanan dan pepohonan yang daunnya berguguran di sebelah kiri.
Wisata Dapur
Pagi tadi ada pemandangan yang berbeda di rumah. Ibu sangat bersemangat. Mau wisata katanya, karena ini hari terakhir libur mengajar. Dia memasak nasi, memesan lauk, dan mengemasnya dalam kotak-kotak penyimpanan makanan. Dia juga menyiapkan tikar untuk bersantai.
Mau ke mana? Tanyaku. Ibu mau ke pantai Anyer, lalu napak tilas ke rumah eyang kakung di Cilegon. Adik dan kakaknya diajak ikut sekalian, mereka berjanjian di rest area.
Sayangnya, aku tidak bisa ikutan lantaran ada tanggungan untuk dikumpulkan besok. Tapi dengan melihat Ibu bersemangat begitu, rasanya aku juga ikutan wisata.
Siang malam tanpa ibu terasa sepi. Di dapur ada makanan dan sisa-sisa cucian piring. Aku baru sadar, kehadiran ibu itu halus sekali di rumah. Aku tahu, kita lebih sering berinteraksi lewat jejak-jejak ini; hal-hal yang Ibu tinggalkan di dapur. Sampai kapan pun, dapur ini tetap jadi tempat kehadiranmu, Ibu. Sekalipun kamu tidak di sini lagi.
Selamat wisata, Ibu. Selamat tahun baru untuk kalian semua. Tahun yang menakutkan, tapi jangan lupa wisata.
Hampir di setiap persimpangan jalan, aku selalu berharap ada jalan memutar terjauh. Juga berharap laju mesin melambat selambat-lambatnya. Sehingga waktu berjalan pelan, dan kita hanyut pada sebuah perbincangan hangat yang sering kurindukan. Tapi biasanya kamu menghendaki sebaliknya.
Aku terlalu banyak minta pikirku. Bahkan dengan keterlaluan aku pun meminta dalam diri agar kamu meminta sesuatu dariku. Dengan begitu, seperti orang-orang lainnya, pastilah rasanya aku sedikit lebih bernilai.
Tapi, bagaimana tentang waktu yang kosong? Dosakah aku berharap padanya?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di jalan yang sama, akhir tahun lalu, kamu datang memanggilku yang sedang kelimpungan di antara waktu persiapan pameran. Kukira kamu butuh pertolonganku. Ternyata kamu mengajakku masuk ke dalam waktu jeda. Kamu bawakan bungkusan nasi goreng. Hatiku tersenyum.
Hari ini abang nasi goreng itu datang lagi saat aku sedang kelimpungan menempelkan kertas-kertas pameran. Kupanggil dirinya. Sama seperti akhir tahun lalu. Masuklah aku ke dalam waktu jeda itu. Lalu, hatiku tersenyum lagi.
28
Bulan lirih separuh di sepertiga malam terakhir. Hati mengkerut terendam air mata yang tak menetes. Dua puluh delapan, angka yang cukup untuk pinggang yang mulai sakit-sakitan, mata yang mulai memburam, tubuh yang mulai membengkak, dan perasaan takut yang terus menghantui.
Beberapa teman berhasil jadi “orang” di angka ini. Ada yang beasiswa ke luar negeri, ada yang usahanya mulai berkembang, ada yang jadi penulis ternama, ada yang jadi musisi sukses, ada yang sudah menulis buku, mengambil studi post-doktoral, ada yang jadi aktivis, dan ada yang mengambil posisi peran “bermanfaat” lainnya di lingkungan kehidupan yang lebih luas.
Sedangkan saya masih duduk di sini, di kamar mungil, di rumah orang tua saya, menumpang hajat, dengan kontribusi cekak ke keluarga, apalagi lingkungan yang lebih besar.
Tapi, dua puluh delapan tahun mengajarkan saya banyak hal pula. Dua puluh delapan tahun menuntun saya menemukan musik kesukaan, bacaan-bacaan mencerahkan, kegiatan-kegiatan menyenangkan, dan pandangan-pandangan yang meluaskan makna kehidupan.
Oleh karena itu, untuk memulai refleksi di permulaan tahun ini, saya mencatat ulang 28 pelajaran berharga selama 28 tahun hidup di bumi:
1. Diabaikan itu biasa-biasa saja
2. Berdamai dengan masa lalu, maafkan diri sendiri
3. Jujur pada kata hati
4. Berkata tidak itu tidak apa-apa
5. Berkata ya itu baik
6. Memberi lebih menyenangkan daripada menerima
7. Penolakan adalah umpan balik
8. Berjalan jauh tidak pernah merugi
9. Membaca lebih banyak menyadarkan bahwa kita sangat kecil
10. Orang-orang yang pernah singgah adalah yang membentuk kita hari ini, doakanlah mereka
11. Sendirian itu baik-baik saja
12. Berkolektif membuat saya mengenal diri lebih baik
13. Alam memberi banyak titipan, saya berhutang kepadanya
14. Selesaikan tanggung jawab apa pun yang terjadi
15. Hilangkan ekspektasi, jangan merasa istimewa
16. Saya bukan siapa-siapa
17. Percaya pada kemampuan diri
18. Percaya pada proses
19. Setiap jalan membuka jalan lainnya
20. Tujuan adalah pegangan
21. Berubah itu tidak apa-apa
22. Berterima kasih
23. Berkata jujur
24. Berlaku apa adanya
25. Berbuat baik pada sesama
26. Bertindak ikhlas
27. Sabar
28. Jangan sesali apa yang terjadi.
Meskipun tahun ini kali pertama saya terbangun dari tidur tanpa ucapan selamat, saya mau tutup semua buku catatan lama. Waktunya berbenah, sebab dunia baik-baik saja. Dan saya ingin menghirup udara pagi ini, perlahan-lahan, dalam senyap.
26 September 2020, 01:47