satu panggilan tidak terjawab
11 Oktober 18.22
Kaget, melihat ada satu panggilan tak terjawab. Dari orang yang pernah aku jadikan 10-12 tulisan dalam buku Daisy, nama yang ku sensor juga berarti bunga yang tumbuh di bukan April, seperti Daisy.
Ketika kutanya kenapa dan maaf tidak terangkat. Katanya Siri yang nelpon bukan dia. Sejujurnya jantungku hampir copot melihat dia menelpon, mau sejauh apapun sudah jaraknya, tetap ada perasaan khawatir, mau bagaimanapun keadaannya, dia pernah jadi orang yang aku perhatikan jadwal tidurnya.
Lucunya adalah ketika perjalanan pulang, aku salah belok. Malah lurus ketempat yang ga tau ujungnya apa. Lalu kemudian aku malah lewat ke tempat martabak yang pernah kita beli untuk Ayah dan Mama kamu.
Rasanya waktu langsung berjalan lambat, dulu kita sudah masuk gang perumahan kamu, akhirnya harus keluar lagi karena kita lupa membeli sesajen, apalagi ternyata aku laki laki pertama yang kamu bawa kerumah. Aku juga minder dan deg degan dulu, kita beli martabak, dua martabak, satu manis satu telor. Aku ingat sekali kamu memakai jas hujan merah ponco murah yang aku bawa, aku tidak pakai jas ujan karena memang tidak sehujan itu. Akhirnya kamu yang memintanya untukmu karena kata kamu, baju kamu putih dan pengennya pake jas ujan. Jas ujan yang akhirnya tidak pernah aku minta kembali itu, sangat terekam jelas dikepalaku, kamu berdiri seperti penguin mengenakannya, dengan tangan melebar kesamping dan kacamata yang ada titik hujannya juga makin lucu karena itu jas ujan ponco tidak sampai lutut. Senyummu melebar melihatku dan aku yang begumam dalam hati, "Lucu sekaliiiiii diaaa". Aku benar benar jatuh cinta saat itu.
Belum lagi percakapan percakapan di ruang tamu ketika kita sampai disana, karena memang aku adalah teman dari kakakmu. Kamu bilang "Yahhhh ada temennya Kaka." Walaupun habis itu kamu kita ledekin bareng bareng karena malu bilang kalau kamu membawa laki laki untuk pertama kali. Selepas pulang aku bilang "Semoga aku ga malu maluin yah...". Kamu berkata "Engga kok, aku seneng ngeliat kamu ngobrol sama Ayah sama Kaka." Aku benar benar ingin kamu bangga terhadapku.
Walaupun pada akhirnya kita tidak bersama, mungkin di kehidupan kita yang berbeda kita bisa lebih berani untuk bertahan lebih keras lagi. Dan aku yang yang lebih keras kepala lagi dan bilang kalau kita akan baik baik.
Depok, 11 Oktober 2025
Fajarul Ulum














