Terkadang, sering kali kita terduduk diam sendirian. Kemudian menyadari sesuatu yang ada di sekitar kita. Lalu kita mulai berpikir tentang, masa masa ramai dan mempertanyakan sekitar. Kadang kita juga tidak lupa menyadari beberapa hal kecil yang membuat kita berpikir betapa beruntungnya kita. Introspeksi, refleksi, kontemplasi, apapun itu namanya. Hal tersebut kadang terjadi secara tidak disadari dan tidak diniatkan. Kekosongan pikiran menyebabkan pikiran membuat-buat pikiran yang mengarakan kita menuju pikiran yang tidak pernah terpikirkan. Namun, jika melihat dari perspektif lain, psikoanalisis misalnya, jangan-jangan pikiran tersebut merupakan pikiran bawah sadar, mungkin unconscious atau subconscious, yang merebak. Sejauh ini, itu yang aku rasakan. Ditengah keramaian dan hal lainnya, ada yang muncul dari perasaanku. Jika Eka Kurniawan benar, dan ku pikir ia benar, "Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas". Namun, sepertinya, aku masih berhutang dan belum terbayar tuntas. Permasalahannya aku tak mengerti harus membayar pada siapa. Atau mungkin, aku tahu, tapi menolaknya. Lagi-lagi, aku hanya menganalisis perasaan. Memandang rasa dengan logika hanya seperti memandang seseorang dengan praduga. Malam ini, aku akan melepas pening dan kusut. Membiarkan diriku terjatuh dalam hening rasa. Rasa, aku milikmu sepenuhnya.


















