Subuh belum dimulai, tapi kami harus sudah bangun dan melanjutkan perjalanan. Jam 2 dini hari semua dibangunkan. Meski belum puas istirahat setelah perjalanan dari solo ke pontianak, tapi bis sudah menunggu. Setelah packing ulang, persiapan dan lain lain, sekitar jam 3 kami sudah berangkat. Berpamintan dengan teman teman dari untan, terutama dewi, tuan rumah yang sangat ramah. Barang barang kami ditaruh di atas bis. Aku tidak tega menaruh tas ku disana karna membawa leptop. Akhirnya ditaruh di bawah kaki kursi bis. Yah minimal aku bisa mengawasi tas ku sendiri. Selama perjalanan dari pontianak ke kartiasa, aku puaskan dengan online. Ya, di temajuk sana bahkan sinyal saja susah, makanya aku habiskan internetan di jalan. Bis kami sempat singgah sebentar di singkawang. Kota amoi julukannya. Kenapa demikian? Karena kota ini sebagian besar penduduknya adalah keturunan tionghoa, dan amoi itu sebutan untuk gadis gadis tionghoa. Sepanjang jalan pun terlihat banyak sekali kelenteng di seberang kanan. Yang membuat takjub dari perjalanan ini adalah, ternyata di sebrang kiri jalan adalah laut! Indah sekali pemandangannya. Aku semakin penasaran ingin segera melihat pantai di temajuk sana yang katanya indah indah. Menyesallah teman teman yang selama perjalanan tidur. Tidak menikmati indahnya matahari terbit di laut. Jam 10 kami harus berganti bis. Karena sambas dan penyebrangan sudah bukan trayek bis nya lagi. Berganti kendaraan adalah salahsatu momok bagi kami. Memindahkan barang sebanyak itu, kalau harus jujur malas sekali. Tapi di sana lah letak kekompakan kami diuji. Saling bekerjasama memindahkan barang, saling memahami untuk membawakan barang satu sama lain, dan tidak egois mementingkan barangnya sendiri. Yang tidak aku bayangkan adalah ternyata jalan semenjak pergantian bis sampai penyebrangan pertama sangat tidak mulus. Sebenarnya dari pontianak pun tidak begitu mulus. Berkali kali aku terlonjak dari kursi karna bis menghantam lubang lubang dan gunungan macam polisi tidur di setiap jembatan. Ditambah pula aku duduk paling belakang, paling terasa setiap kali ada lubang yang dihantam. Di bis kedua, untungnya aku duduk di tengah. Tapi tetap saja dengan jalan yang semakin parah, benturan tidak terhindarkan. Untungnya sampai penyebrangan pertama tidak terlalu jauh. Satu jam lebih tergoncang2 dalam bis kecil, sudah lebih dari cukup buat kami. Untungnya tidak ada yang sampai mabuk. Kalaupun iya pasti mabuk yang spesial, dalam rangka menembus belantara kalimantan. Pasti takkan terlupakan untuk berpuluh puluh tahun ke depan hehe Aku tidak pernah membayangkan akhirnya menyebrangi sungai kalimantan yang sangat besar untuk pertamakalinya. Walaupun hanya menaiki kapal kecil, sampan bermotor lebih tepatnya, tapi sensasinya menyenangkan sekali. Bergoyang goyang, ber selfie ria, menikmati pemandangan sekitar, sungguh mengasyikan. Sayangnya, ternyata tidak lama. Hanya 10 menit saja. Setelah itu, kembali lagi kami harus mengangkut barang barang untuk dipindah ke angkutan berikutnya. Yang mana, di angkutan ini lah puncak keseruan terjadi. Angkutan terakhir kami jatuh pada truck kuning dengan tempat duduk berhadapan di bak nya. Pertama tama kami harus mengatur dengan orang se banyak ini, dan barang bawaan yang lebih banyak lagi, agar bisa muat. Akhirnya barang barang kami taruh tengah, bertumpuk tumpuk dengan dasar koper koper. 8 lelaki duduk di bangku kanan, 4 perempuan di kiri, dan 3 perempuan di depan. Entahlah bagaimana mereka berbagi tempat duduk sekecil itu untuk 3 orang. Satu jam awal semuanya menyenangkan. Sambil menikmati pemandangan, kami bercanda canda. Ada saja bahan untuk dibercandakan. Yang paling epik adalah bercandaan "gak tahu diri" nya mas hanafi. Jadi setiap ada pernyataan atau perbuatan yang lucu dari kami selalu dikomentari: gak tahu diri, ra jelas. Aku juga ada bahan. Waktu di bis pertama, ada ibu ibu duduk di antara aku dan mas hanafi di belakang. Aku berada di paling pojok. Nah, dan kursi yang aku duduki entah rusak atau bagaimana, dia otomatis tertekuk sandarannya. Jadi harus ditahan punggung agar bisa lurus. Tapi setiap ada lubang yang dilibas, pasti aku terlontar ke depan, dan kursinya ikut tertekuk. Dalam perjalanan, si ibu dengan anaknya yang digendong itu tertidur, dan kepalanya menyender ke samping kanan, ke kursi yang aku duduki. Suatu saat ada satu guncangan di bis, dan seperti biasa aku terlontar. Yang tidak aku sangka, ternyata si ibu tadi tetap pulas tidur dan kepalanya makin miring ke kanan. Otomatis kepala si ibu ini masuk ke celah antara belakang kursiku dan bagian belakang bis. Aku belun tau ini saat aku terlontar dan kursiku tertekuk. Saat aku bermaksud meluruskan sandaran, tiba tiba aku merasa ada yang empuk dan mengganjal di belakang. Aku penasaran benda apa itu. Setelah aku lihat, ternyata kepala si ibu yang sebagian masuk celah celah dan terhimpit. Anehnya, dia tetap pulas dan tidak menyadari. Alamak! Untung aku tidak sedang bersemangat, kalau iya, bisa gepeng itu kepala si ibu. Ckck Sekitar dzuhur kami singgah ke rumah bibi nya dewi. Alhamdulillaah setelah lebih kurang 8 jam perjalanan, akhirnya bisa meluruskan kaki sejenak makan siang. Dari sini pun kami berpisah denga kawan dari untan yang menemani perjalanan dari pontianak. Berdua mereka pulang naik motor. Kuat sekali. Padahal jaraknya bisa lebi dari solo purwokerto, dan mereka bolak balik. Luar biasa. Tidak lama setelah perjalanan di mulai kembali, akhirnya sinyal internet total hilang. Dan hanya satu operator yang bertahan, tak lain dan tak bukan telkomsel. Terimakasih telkomsel. *promosi lagi* Dan jalan aspal pun berganti jalan tanah yang menantang. Seperti offroad. Kami yang duduk di belakang seperti terombang ambing, setiap ada lubang yang dihantam semuanya terlonjak. Berkali kali. Tapi kami semua malah seperti kegirangan setiap kali terlonjak. Malah sambil bercanda canda. Pernah saking kerasnya, sampai bangku yang aku duduki lepas. Dan perlu kami terpaksa berhenti untuk memasangnya kembali. Jalan ini disebut jalan jahat. Bagaimana tidak, jalan tanah, yang licin, banyak kubangannya, dan setiap beberapa meter ada bagian yang terlalu lembek untuk dilewati hingga bisa menghisap ban truck kami. Tapi disinilah keseruan benar benar kami rasakan. Bunyi mesin yang sekuat tenaga keluar dari lubang yang dalam, kemiringan yang seringkali membuat panik, dan ketenangan bapak supir, lengkap semua. Sampai pada satu titik, perhitunga pak johani, dang supir tidak benar benar tepat. Jalan yang kami lewati benar benar dalam. Truck tidak kuat, satu ban terjebak dan tidak bisa keluar, dan memaksa kami turun untuk membantu mendorong. Akhirnya semua benar benar kotor. Alas kaki kami lepas. Yang perempuan membantu doa. Dengan beberapa kali dorongan, dan teriakan allaahu akbar dari ardyan (yang entah bagaimana terdengar lucu sampai semua tertawa) truck bisa lewat. Yeah, satu rintangan kami taklukkan. Beberapa menit kemudian, kembali lagi ban truck selip. Tapi kali ini kami tidak mendorong ke depan, malah mundur agar truck bisa bermanuver. Dengan bantuan kayu, dan dorongan ramai ramai, truck bisa terselamatkan. Jangan tanya kondisi di dalam bak seperti apa. Macam kapal pecah. Semua barang berantakan. Walaupun kami semua melihat, tapi tidak kami hiraukan. Semua fokus bagaimana truck bisa keluar dari jebakan betmen dan mengantarkan kami selamat sampai tujuan. Hari mulai malam dan tanda tanda akan sampai belum juga terlihat. Semua sudah kelelahan. 14 jam yang penuh dengan guncangan, rintangan, dan keajaiban, menguras tenaga kami. Beberapa menit setelah itu akhirnya kami menemukan titik terang, jalan tanah telah berganti jalan aspal. Yang artinya sebentar lagi kami akan sampai. Kami melewati tugu garuda. Cukup megah dan menjulang untuk ukuran desa temajuk yang sederhana ini. Jam 18 lebih akhirnya kami benar benar sampai. Truk berhenti di tengah desa. Gila, seru, dan mengesankan. Begitulah perjalanan kami. 15 jam, waktu yang sama jika naik kereta dari jakarta ke malang. Kami lewati semua. Benar benar perjalanan tak terduga. Bersama teman teman yang akan berjuang satu bulan ke depan selama kkn di desa temajuk. Banyak pelajaran yang akhirnya kami dapatkan. Lebih dari itu, chemistri telah kami bangun selama perjalanan. Jika ingin mengetahui sifat seseorang, ajaklah ia dalam sebuah perjalanan. Niscaya akan terlihat semuanya. - katanya Temajuk, 10 januari 2016