-ada hal yang selalu aku ceritakan, ada hal yang selalu aku dambakan Tapi tetap saja temui kata "Bukan", selalu hati berteriak "Jangan". Kecewa menjadi teman.
Lamunan mulai mendayungkan lalu lalang kenangan dalam pikiran. Berharap Al-Haqq menetapkan semua keinginan. Dengan sadar ia mencoba -melawan- Tuhan.
Di persimpangan ia bertemu seseorang yang selalu mengabadikan pemandangan.
-menawan -begitu mengesankan~
Tanpa disadari dia terjebak obrolan, terlenakan rayuan iblis, yang berakhir kekecewaan. Seolah tak berdarah, seolah memiliki nyawa sembilan, ia berpura-pura kuat penuh luka kegirangan. Dengan gontai kaki yang terluka parah, ia terus mencari dan mencari pertolongan pada setiap masa.
Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan seniman jalanan.
Tanpa basa basi, cing cong sana sini. Dengan merah di pipi, lisannya mulai bersuara menanyakan maksud diri.
"bersediakah kau membantuku?" (Ucap sang gadis)
Terkejut seniman itu sambil menjawab
"Maaf, Jarak terbentang tak mengizinkan bahagia, dan disini banyak yang harus saya jaga"
Berpasrah ia (gadis itu), tapi tak terasa begitu kecewa seperti persimpangan pertama.
ia merangkak melanjutkan jejak cerita. Di depan toko roti -Alih-alih istirahat-
ia tertawan oleh penyair dengan suara indah di sebuah gang, gadis ini tak bisa memalingkan pandangan.
Begitu indah -membuat ia menyerah pada Sang Maha Penentu Arah. Seketika ia tersungkur dengan kaki yang hampir babak belur.
"Ya Rabb, aku tak tau harus bagaimana kali ini, sungguh aku tak tau" berkalikali berharihari tak ia palingkan kedua bola matanya.
Namun semua berakhir tragis, penyair itu mendadak bisu, membuat menunggu dan melemparinya dengan secuil kartu -tak kuharapkan kau menatapku!- kira-kira begitu pengungkapan penyair pada pagi yang mulai membiru. Anehnya kali ini gadis itu tak benar-benar kecewa
Satu kata yang keluar dari mulutnya -Alhamdulillah-
Setelah ia tanyakan lebih jauh lagi ke dalam diri sendiri, ia menemukan jawaban yang begitu mengesankan.
-detak kencangmu, semua keraguanmu, semua gelisahmu, sudah di Jawab, wajar kau berkedip kecewa, bukankah kau semakin menyadari bahwa Semua yang kau tuangkan beberapa waktu lalu sudah Allah buktikan-
"Aku bahagia ketika keinginanku dikabulkan, tapi aku lebih bahagia ketika keinginanku tak terkabulkan (Karena itu keinginan Ar-Rahman), bukan sama sekali bukan, Tuhan tak bermaksud mematahkan tapi Dia menyiapkan yang paling terbaik dari setiap kebutuhan"
Gadis itu teringat celetup diri sendiri, lega sekali hatinya hari itu, beberapa waktu dia berhasil bersyair melalui penyair itu. Berterimakasih ia pada penyair di Gang sepi, ia berharap sang penyair menemukan dambaan terbaik yang telah di persiapkan Tuhan -Suatu hari nanti.
Hingga kaki kanannya berhasil dia obati dengan kelegaan, kali ini dia tak merangkak, dia sudah bisa berjalan satu kaki, dengan tongkat penopang sebelah kiri. Dan dia menyadari tempat pulang di bumi adalah Rumah Sendiri.
Letih ia berjalan, menyusuri setiap masa renjana, beristirahat ia di sebuah pelabuhan, dia di hampiri seseorang -yang ternyata sudah lama ia kenal.
Gadis itu mengobrol panjang lebar, menceritakan setiap kejadian yang teralami, sampai lupa waktu, terasa nyaman dan begitu menenangkan
Seseorang itu sosok yang pandai mendengarkan, Pandai memberi tanya dan menyimpulkan dengan nama Tuhan.
Yaaa, gadis itu terjebak lagi.
Kali ini ia ingin semua berakhir disini, cukup satu orang disisi dan menemani ia pulang ke rumah sendiri.
Haaah! Menghela nafas, saat ia menanyakan tentang sebuah keseriusan, ternyata seseorang itu sedang menuju ke rumah yang telah ia pilih menlanjutkan penjalanan ke masa depan.
Gadis itu kembali menyusuri jejak kaki meninggalkan seseorang "ternyaman" yang telah menaiki kapal persiar dengan tujuan berlawanan.
Di perjalanan ia tersadar, "Apapun yang terbaik untuk hidup kita tak akan pernah melewatkan kita, dan apapun yang melewatkan kita berarti bukan yang terbaik untuk hidup kita, yang perlu kita lakukan berusaha menjadi baik dengan niat Ridho Ar-Rahman".
Gadis itu telah melalui perjalanan mengesankan, dengan banyak pelajaran, dan akhirnya ia memilih beristirahat untuk menyembuhkan hati dan semua luka secara perlahan.
Sambil memaknai setiap hikmak ketika Tuhan berkata "Bukan" dan "Jangan".