“Semua yang ada dalam hidup kita adalah ladang amal”
Manusia kadang saling menilai. Membandingkan takdir masing-masing kemudian mencari siapa yang paling beruntung dalam hidup. Padahal hidup itu seperti gunung es. Apa yang nampak hanya secuil dan mungkin hanya 10% dari yang tidak tampak.
Maka ada baiknya kita kembali pada hakikat, bahwa semua yang ada dalam hidup seseorang adalah ladang amal bagi pribadi masing-masing. Kita tidak pernah dapat memilih cobaan mana yang akan datang. Tapi kita bisa memilih, ke arah mana hidup kita akan berjalan.
Seperti hari ini. Tepat tiga hari sebelum saya berangkat ke Google Singapura, ibu saya mendadak pingsan. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter bilang bahwa Ibu saya terkena mioma uterus stadium tiga. Saya akhirnya memutuskan untuk merawat ibu dan membatalkan kontrak saya dengan Google.
“Lo gila ya Cak? Mestinya kan lo berangkat ke Singapore sekarang? Lo nyari kerjaan itu susah”
“Ibu gue lagi sakit. Gue harus ngerawat beliau”
“Tapi kan ada adek lo Cak. Ntar kalo lo berhasil, lo kan bisa ngirim duit ke rumah buat orang tua lo”
Awalnya saya hendak memilih logika yang dilontarkan kawan saya. Tetap berangkat ke Singapura. Ibu dirawat dua adik saya dan saya mengirim uang yang banyak untuk biaya pengobatan ibu dan biaya sekolah kedua adik-adik saya. Tapi di saat-saat seperti ini, ketika tidak ada satupun laki-laki di rumah, saya harus mengerti bahwa tanggung jawab seorang anak laki-laki adalah menjadi tulang punggung keluarganya. Menafkahi keluarga, menjaga dan mendidik adik-adik saya hingga mereka menikah.
Pekerjaan bisa dicari lagi. Tapi kewajiban ini tidak bisa dilepaskan begitu saja.
Hidup adalah ladang amal. Dan perjalanan hidup kita hanyalah perpindahan dari satu ladang amal ke ladang amal yang lain.
Kata-kata itu yang diucapkan almarhum ayah saya ketika saya masih kecil. Ayah saya, seorang PNS golongan tiga yang menghabiskan seluruh waktunya untuk beramal.
“Ayah kenapa nggak kerja di perusahaan minyak aja sih? Kan gajinya besar?”
“Ladang amal ayah di sini Cakra. Lagipula meskipun ayah kerja di sini, rezeki kita cukup kan”
“Tapi teman-teman ayah kan sukses semua”
Ayah saya tertawa dan menjelaskan kepada saya tentang makna kesuksesan yang baru bisa saya cerna hari ini. Dulu ayah saya juga pernah diterima di perusahaan minyak. Namun nenek saya tidak mengizinkan karena nenek tidak mau ditinggal jauh. Ayahpun memilih untuk tetap tinggal. Menjadi PNS di lingkungan pemprov Jawa Timur serta menjadi guru ngaji di sore hari. Apakah ayah saya kurang fighting spirit sehingga harus menyerah pada titah ibunda? Apakah ayah saya bukan orang yang memahami bahwa seorang muslim sebaiknya kaya agar bisa beramal?
Ayah saya sangat memahami itu. Beliau berikhtiar untuk memberi nafkah terbaik bagi keluarganya. Namun bila di luar sana ada banyak rekan kuliah ayah yang lebih kaya dari ayah saya, itu berarti Allah mentakdirkan demikian. Bukan karena ayah saya malas. Bukan karena ayah saya tidak beruntung.
“Harta yang baik adalah harta yang dikelola orang shalih Cak. Itu yang harus menjadi motivasi kamu dalam berbisnis. Tapi kelak kalo Allah belum mentakdirkan kamu kaya, jangan pernah kehilangan kreatifitas dalam beramal. Dan jangan pernah membandingkan takdir kamu dengan takdir orang lain”
Saya berdoa untuk ayah. Setiap mengingat beliau, hati saya selalu rindu. Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk dididik oleh laki-laki shalih seperti beliau. Hari ini sebenarnya seperti mimpi. Seminggu lalu juga seperti mimpi. Jantung saya rasanya berhenti berdetak ketika saya mendapat kabar bahwa saya lolos rekruitmen Google yang njelimetnya minta ampun. Hari ini saya harus dengan lapang dada melepas semua kesempatan ini dan merubah kembali road map hidup saya. Dulu saya berharap bisa bekerja di Google tiga sampai lima tahun untuk tahu budaya kerja di sana lalu melanjutkan sekolah bisnis di MIT kemudian menjadi pengusaha. Sekarang?
Saya harus merawat ibu dan mencari kerja di Surabaya. Selanjutnya? Saya harus bersemedi terlebih dahulu untuk menentukan kelanjutan hidup saya. Apakah tahun depan mencoba ke Google lagi? Atau mengambil master untuk menjadi dosen? Banyak pilihan. Tapi dengan hati yang setengah kecewa, setengah melayang, saya belum bisa memutuskan apa-apa.
Keputusan ini, bila dijalankan dengan ikhlas pasti diganti dengan pahala yang baik.
Handphone saya berbunyi. Ada nama Alfin di sana.
“Assalamualaikum Ustadz Cakraaa. Tante Ratna sakit? Gimana kondisinya?”
“Waalaikumussalam. Iya Ibu sakit. Gue di Dr Soetomo. Alhamdulillah kondisi beliau membaik tapi masih belum sadar”
“Barusan gue putusin enggak. Gue kerja di rumah aja. Sambil nungguin Ibu sama jagain adek-adek gue”
“Moga keikhlasan lo diganti sama yang lebih baik Cak. Terus habis ini lo mau ngapain? Lo udah ada biaya buat Tante Ratna?”
“Alhamdulillah ada BPJS sama tabungan gue. Tapi kayaknya gue harus cari projek di Surabaya Fin biar bisa kerja sekalian ngerawat ibu.”
“Ehm…..Kalo gue ngomongin kerjaan dalam kondisi kayak gini sopan nggak ya? Gue pengen jenguk Tante Ratna sambil ngobrol sama lo tapi ini masih di Jakarta”
“Wkwkwk….Dasar Alfiin….Iya nggak apa-apa Fin. Gue seneng kalo lo mau nawarin kerjaan ke gue”
“Iya Cak. Gue ada projek sama Pemkot. Gue pengen lo jadi Business Ownernya. Development Team yang lain udah siap. Insya Allah orangnya cekatan jadi lo nggak berat kerjanya”
“Anytime Cak. Lo punya ladang amal ibu lo. Gue punya ladang amal temen gue yang lagi ngerawat ibunya hoho. Meskipun kalo dipikir-pikir lagi, nyuruh lo kerja di tempat gue itu sebenernya bukan pertolongan. Lebih tepatnya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi gue bisa nikung Google? Wkwk. Orang kayak lo terlalu keren buat ditolong”
“Haha…Lo bakat banget ngambil hati orang Fin. Makasih banyak. Setidaknya tawaran lo bikin gue nggak repot muter-muter cari projek. Anyway, gue tunggu di rumah sakit”
“Insya Allah besok gue kesana. Take care Cak”