The Day I Realised That “I Am Not Okay” #1
Aku lupa tanggal itu tanggal berapa di bulan Maret. Yang kuingat dengan pasti adalah rasa marah, bersalah, sedih, kecewa yang berkecamuk tidak keruan. Sepulang bekerja, memikirkan bagaimana aku tak diterima ; di kantor, di rumah, di komunitas, di dalam hubungan. semua pesakitan dari bertahun lalu hingga saat itu berkumpul menjadi satu. Memukul semua memori didalam kepala dan saling berteriak, mengadu, berlomba untuk jadi yang paling pilu.
Aku ingat, hari itu aku meminta tolong. Bertanya pada teman-teman baikku yang tinggal dekat denganku. Namun, tetap saja, mereka bekerja, berusaha menyelesaikan prioritas dan tanggung jawab mereka. Lalu kubilang pada mereka “It’s okay, aku akan coba mengatasinya dulu sendiri”.
Yang kuingat, malam itu aku berakhir di lantai dengan tangan tersayat cutter. Saat pagi, aku baru sadar, sakit, perih, tadi malam yangkuingat hanyalah aku di lantai, menangis, meringkuk di kasur, menangis berteriak tapi tanpa suara, lalu hilang.
Teman-temanku menelepon pagi itu, mereka bertanya apakah aku baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa yang kamu pikirkan sampai kamu menjadi seperti itu?
Aku hanya menjawab “nggak tahu, aku sendiri juga nggak tahu aku ini kenapa”. Temanku memutuskan dan memaksaku 3 orang dari mereka (Indira, Sekar dan Calvin), bahwa aku harus segera ke psikiater, secepatnya.
Aku berpikir saat itu, psikiater? Apakah aku segila dan se’rusak’ itu sampai harus kesana? Apakah aku gila? Apakah ini mental illness? Masak sih? Dan aku memutuskan untuk ke psikiater hari itu juga, namun jadwal dokter sudah penuh. Aku memutuskan untuk ke salon, memotong pendek rambutku, mewarnai kukuku dengan warna biru dan menghubungi orang yang pernah kutaruh harapan besar padanya untuk bisa menyelamatkanku. Dia membawaku pergi hari itu ke studio, karena sore itu aku harus mengajar. Susah payah malam itu aku berusaha tertidur dan waras, yang kuingat, aku minum antimo 2 butir setiap malam agar bisa tertidur. Tapi tetap terbangun di tengah malamnya dengan baju basah berkeringat dan nafas yang tak beraturan.
2 hari kemudian (hari itu aku ingat adalah hari Kamis), aku pergi ke psikiater untuk pertama kalinya. Dan Dia menemaniku dari mendaftar sampai selesai. Aku bertemu dengan dokterku pertama kalinya. Beliau sangat baik dan keibuan, aku merasa nyaman, namun aku histeris di beberapa pertanyaan yang ia tanyakan. Aku ingat rasa itu, mual, jantung berdegup, mataku merah, ulu hatiku sesak, tanganku bergetar, hebat. Lalu beliau meresepkan obatku untuk pertama kali. Alprazolam dan beberapa obat racikan. Diagnosa petamaku anxiety disorder dan panic attack. Di pertemuan ketigaku dengan dokter diagnosaku menjadi 3 hal, anxiety disorder, panic attack dan depression. Aku harus menjalani 2 terapi CBT (Cognitive Behavioural Therapy) dan obat yang harus diminum setiap hari, harus rajin dan tidak boleh skip.
Aku hanya heran, terdiam dan bingung. Terlintas di pikiranku adalah “Wow, aku sampai harus seperti ini? Untuk menjadi baik-baik saja aku butuh obat dan semua ini?”
Marah? Ya. Kecewa? Ya. Sedih? Bukan main. Kenapa harus aku yang seperti ini? Kenapa aku tak bisa menyelesaikan sendiri? Kenapa harus butuh dokter? Tapi dokterku bilang “Mbak Ninit, untuk Mbak Ninit mengambil langkah dan mau kesini membutuhkan bantuan profesional adalah pencapaian untuk anda menjaga diri anda sendiri. Obat ini untuk menyeimbangkan senyawa kimia yang ada di dalam otak Mbak Ninit. Karena sudah membahayakan diri Mbak Ninit sendiri, makanya obat ini dibutuhkan untuk urgensi itu.” Aku hanya menjawab iya dan mengangguk, berusaha mencerna. Lalu beliau menjelaskan senyawa kimia di otak dengan sebuah botol, aku ingat, disana aku histeris dan tidak bisa mengontrol sensasi itu menyelimutiku.
Aku benci sensasi itu. Mereka suka datang tiba-tiba dan menyerangku tanpa ampun. Aku capek dan lelah ditawan pikiranku sendiri dan mereka. Mereka seperti tanpa ampun menghantuiku. Aku lelah, rasa ingin menyerah berkali-kali muncul. Menyakiti diriku sendiri sudah 4-5 kali terjadi dalam 4 bulan ini, dan itu semua kulakukan antara sadar dan tidak karena diserang mereka.
4 bulan aku berperang dengan kalian, akankah sampai kapan?