Pagi itu terasa asing. Biasanya, jam segini aku akan menerima notifikasi pesan singkat yang isinya sederhana namun cukup untuk menghidupkan hari: âHari ini kamu sibuk apa? Siapa tahu mau bertemu nanti sore.â Tapi hari ini, ponselku bungkam. Layarnya hitam, memantulkan wajahku yang kian pucat.
Aku membukanya, mengetikkan huruf âAââsebut saja wanita itu demikianâpada kolom pencarian kontak. Nihil. Aku mengulanginya berkali-kali, mengusap layar hingga panas, namun nama itu seolah menguap dari memori digital ponselku. Tidak ada riwayat panggilan, tidak ada untaian pesan WhatsApp yang berbulan-bulan kami jalin. Seolah-olah jemariku tak pernah menyentuh layar untuk mengetik namanya.
A adalah teman masa kecilku. Kami terpisah oleh jarak dan waktu selama belasan tahun sebelum akhirnya takdirâatau setidaknya apa yang kuyakini sebagai takdirâmempertemukan kami kembali lewat algoritma media sosial beberapa bulan yang lalu. Foto profilnya yang sedang duduk dan tersenyum menjadi pintu masuk bagi obrolan panjang yang tak pernah usai. Hubungan kami mekar kembali, lebih kuat dari sekadar memori masa kecil.
Pagi itu, kepanikan mulai merambat di tengkukku. Aku membuka Instagram, mencari akunnya. Kosong. Akun itu tidak ditemukan. Aku mencari di mesin pencari, mengetik nama lengkapnya, berharap muncul setidaknya satu jejak digitalâsebuah tugas akhir mahasiswa di sebuah kampus, profil profesional, atau apapun. Namun, internet yang biasanya merekam segalanya, kali ini bungkam seribu bahasa. Nama itu tidak terindeks di mana pun.
Aku ingat satu hal: sebuah foto yang dia unggah di Instagram. Di sana A berpose bersama seorang perempuan yang ia sebut sebagai teman kantornya. Aku beruntung masih mengingat nama perempuan itu. Lebih tepatnya nama akun Instragram-nya. Setelah bersusah payah mencarinya, aku berhasil menghubunginya lewat pesan langsung.
âMaaf, aku teman A. Aku pernah lihat kamu dalam postingan fotonya. Kamu tahu A ada di mana? Aku kehilangan kontak dengannya,â tulisku.
Jawabannya datang sepuluh menit kemudian, dingin dan mematikan. âA? Siapa? Saya rasa Anda salah orang. Saya tidak pernah punya teman dengan nama itu.â
Duniaku mulai bergetar. Aku mulai mempertanyakan kewarasanku. Jangan-jangan aku sudah ada dalam fase tak dapat membedakan realita dan khayalan.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar kunci mobil. Aku menuju sebuah sekolah tempat ia mengaku bekerja sebagai guru SMA. Aku berdiri di depan meja resepsionis dengan napas memburu.
âSaya mencari A. Dia guru di sini,â kataku pada petugas.
Petugas itu tersenyum sopan, jemarinya menari di atas kibor. âMaaf, Pak, kami tidak memiliki guru atau karyawan administrasi dengan nama itu.â
âTidak mungkin! Saya pernah lihat Ibu A menggunakan lanyard dengan kartu identitas guru di sekolah ini,â seolah apa yang sejatinya hanya aku yang lihat itu dapat meyakinkan si petugas untuk mengakui kehadirannya.
Petugas itu menatapku dengan tatapan kasihanâtatapan yang biasa diberikan orang normal kepada seseorang yang sudah kehilangan akal sehat. âMungkin Bapak salah sekolah. Di daerah ini banyak SMA lain.â
Puncak dari keganjilan ini membawaku ke sebuah apartemen, tempat yang selama tiga bulan terakhir menjadi saksi bisu kebersamaan kami. Aku bahkan masih ingat nomor kamarnya.Â
Aku menghampiri ruang pengelola apartemen dengan keringat dingin yang membanjiri kening.
âKamar xxx. Atas nama A,â kataku pada seorang wanita di balik meja administrasi.
Wanita itu memeriksa catatan komputer, lalu menggeleng. âKamar xxx unitnya milik orang yang sekarang tinggal di Singapura, Mas. Unit itu belum pernah laku disewakan. Kamarnya masih kosong melompong. Masih gres lantai betonnya.â
âTidak mungkin! Saya menginap di sana akhir pekan lalu! Saya masih ingat kamarnya yang ukuran studio. Ada rak buku, meja belajar, dan ranjang yang dipepetkan ke tembok berkaca. Ayo kita buktikan,â ucapku setengah menghardik.
Wanita itu berdiri, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. âKalau Mas tidak percaya, mari kita lihat sendiri. Saya punya kunci induknya.â
Kami naik ke lantai kamar itu berada. Sepanjang lorong, jantungku berdentum seperti genderang perang. Wanita itu membuka pintu kamar. Begitu pintu berayun terbuka, duniaku runtuh seketika.
Di dalam sana hanya ada kekosongan yang menyesakkan. Tidak rak buku, ranjang, bahkan tembok yang tertanam kaca. Hanya ada debu yang menari-nari ditiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Lantainya kasar, beton abu-abu tanpa ubin. Tidak ada bekas kehidupan sama sekali. Ruangan itu mati.
Aku merosot ke lantai beton yang dingin itu. Tanganku meraba saku, menemukan selembar kertas kecil yang kusam. Itu adalah struk yang lupa aku keluarkan dari sakuku. Struk dari restoran yang kami sambangi terakhir kali untuk makan malam.
Jika A tidak pernah ada, lantas mengapa dalam struk ini porsi yang tersaji seperti untuk makan dua orang? Jika ia hanya bayangan di kepalaku, mengapa duka yang kurasakan ini begitu nyata hingga dadaku terasa sesak seolah dihimpit beton apartemen ini?
Aku menatap wanita dari kantor pengelola itu dengan pandangan kosong. Ia memandangku seolah aku adalah hantu. Dan mungkin, di dunia yang telah menghapus keberadaan A, memang akulah yang kini menjadi hantuâseorang pria yang hidup dalam memori tentang seseorang yang diputuskan oleh semesta untuk tidak pernah dilahirkan.
Aku keluar dari gedung itu dengan langkah gontai. Senja mulai memadamkan hari seperti waktu menghilangkan A dari ruang dan waktuku. Di luar sana, orang-orang berjalan terburu-buru, dunia tetap berputar seolah tidak ada satu nyawapun yang baru saja dihapus dari dunia. Aku merogoh ponselku sekali lagi, berharap keajaiban muncul. Namun, layar itu tetap bersih. Tidak ada A. Tidak pernah ada A. Hanya ada aku dan sisa aroma tubuhnya yang perlahan-lahan hilang ditelan polusi kota.