Bertahan di suatu tempat yang tak pernah menjadi pilihanmu, tak mudah. dan ini, kedua kalinya untukku.
Dulu aku bertanya dalam diri, aku berhenti atau terus bertahan? Aku berpikir, apa jadinya jika aku berhenti? Tentu dunia tetap akan berjalan, hilangnya aku takkan pernah menjadi kerugian, siapalah aku melainkan manusia yang terkurung dalam jenuhnya pikiran.
Aku berhenti, akulah yang rugi tentang masa depan. Tetapi, jika tetap seperti ini, aku bak manusia bernapas namun penuh kegelapan. Apa yang harus kulakukan?
Dulu, warna yang terlihat ialah hitam, putih dan abu. Sekarang? Entahlah.
Pada faktanya, proses mendewasa serta menerima tak pernah mudah. Tiap manusia memiliki kisahnya, tiap kita memiliki jatuh bangun yang tentu sudah tertulis. Tak pernah mudah.
Delapan miliar jiwa. Tuhan, kenapa aku tetap merasa sendiri? Aku lelah. Aku ingin istirahat.
Kata mereka, hidupku mudah. Kata mereka, hidupku nyaman. Kata mereka, hidupku indah. Kata mereka, hidupku bahagia. Terima kasih Tuhan, kala itu kau membuatku tak terlihat menyedihkan.
Kali ini aku tak memilih untuk berhenti, pun tak berusaha berhenti layaknya kala itu. Kini, aku ingin mencoba beralih, namun aku ditentang. Pandangan manusia masih terlihat menyeramkan.
Tuhan, aku terpaksa. Tolong mudahkan.
Tuhan, aku terpaksa. Tolong jangan tinggalkan.
Tuhan, aku terpaksa. Tolong kuatkan.
Tuhan, aku terpaksa. Tolong sabarkan.
Tuhan, tolong aku hingga rasa tertekan yang ada, kelak menjadi syukurku yang paling tinggi.