"Minggu depan aku berangkat ke Solo ya. Sebelum pergi, aku temuin kamu dulu." Katamu melalui pesan telegram yang kubuat berbeda dering notifikasinya dari yang lain.
Aku membuka mesin pencari untuk tahu sejauh apa jarak Tangerang-Solo sebagai tindakan spontan. Aku menemukannya, entah mengapa tanganku gemetar dan merasa sudah kehilangan bahkan sebelum kamu pergi. Tidak sampai ribuan, hanya 603 KM kata Google. Tapi cukup membuatku kebingungan ketika kelak aku ingin ditemani. Mataku berembun dan hatiku kesal. Namun tidak seharusnya aku membenci pesanmu saat itu, karena cepat atau lambat kamu pasti pergi juga, dan aku tahu itu. Tetapi tetap saja, kenyataan bahwa aku akan ditinggalkan membuat lemas sekujur tubuh.
Mudah-mudahan tidak lama, karena menurut hitunganku kamu akan kembali dalam 1,5 tahun untuk menyelesaikan pendidikan magister itu. Alasanmu pergi sama sekali tidak aku permasalahkan, karena itu salah satu target hidupmu selain aku. Aku percaya aku ada gilirannya dalam masa depanmu. Iya kan? Sekarang aku hanya perlu menggunakan sebagian waktuku untuk bersabar.
Meski sempat lega saat pandemi menunda keberangkatanmu, sehingga satu semester kemarin bisa kamu lakukan tanpa harus semakin menjauh dariku, proses hidup tetaplah jalan panjang yang tidak pernah bisa diprediksi kapan akan bertemu lubang dan belokan tajam. Seperti aku yang harus siap menerima dirimu tumbuh lebih dewasa dengan tanggung jawab yang bertambah kapan saja, begitupun kamu padaku. Kita berdua akan berubah dan hubungan ini akan menjadi penyertanya.
Perpisahan memang tidak pernah terasa nyaman, kamu pun menepati janji untuk berpamitan. Aku ingin membuat momen berpamitan itu berlangsung lambat, kita berjalan dengan pelan di bawah panasnya langit Tangerang. Aku berbicara banyak hari itu tentang aturan main LDR yang akan kita jalani nanti, kita juga sempat membahas konsep pernikahan impian, akan menjadi kenyataan kalau budgetnya cukup katamu. Kita membayangkan berapa kali berganti kostum saat resepsi nanti, andaikan saja tiga, warnanya cukup hitam, putih dan abu-abu yang menjadi kesepakatan kita.
Hari semakin sore, dan kamu tetap harus pergi. Tawa renyahku yang tidak berhenti sedari tadi berganti hening dengan kepala tertunduk. Kini aku sedang menyembunyikan bulir air yang mungkin saja menetes ketika mengedipkan mata di hadapanmu. Kamu sadar dengan keheningan yang kubuat, kamu juga sudah hafal bagaimana aku menangis diam-diam. Kamu menepuk-nepuk kepalaku dan mengatakan, "Jangan sedih dong, bulan depan juga aku pulang. Pulang ke kamu. Tunggu aku ya." Ucapan itu hanya membuatku semakin semangat untuk menangisi kepergianmu.
Kamu merogoh saku celanamu, seperti berusaha menemukan sesuatu. “Ah, ini aku punya matcha buat kamu, tapi lupa kasih hehe sampe udah meleleh.” Kamu mengeluarkan sebatang matcha kesukaanku dari celana jeans yang sudah tak berbentuk karena teriknya matahari siang itu, ketika menaiki angkutan umum dalam perjalanan mengantarmu.
Kamu selalu berbuat hal manis dalam keadaan apapun. Aku sambut matcha darimu dan aku bilang terima kasih, sebelum akhirnya aku kembali memalingkan wajah dan menyembunyikan bibirku yang bergetar karena menangis dibalik masker yang kukenakan ke arah jendela yang terbuka lebar. Dan kamu kembali menepuk lututku sebagai usaha menenangkan.
Meski kamu harus pergi, aku akan tetap berterima kasih karena sudah melibatkanku dalam daftar yang sedang kamu upayakan. Aku mendukungmu sepenuhnya, sekecil-kecilnya dukunganku kini adalah doa. Semoga dalam perjalanannya nanti kamu tidak menemui kesulitan yang berarti, dan tetap dikelilingi orang-orang baik ketika berada jauh dariku. Doakan aku juga agar tidak sering menangis karena kehilangan teman baik sepertimu. Karena aku tidak bisa lagi spontan menghampirimu mengingat ongkos yang mahal dan waktu perjalanan yang lama hehe