kita tidak perlu bersusah payah untuk ikhlas melepaskan sebab sejatinya kita tidak pernah benar-benar memiliki. perjuangan menuju ke dan berjalan di atas keikhlasan tidak pernah soal memiliki atau melepaskan, tetapi selalu soal menerima.
saat kita lahir ke dunia ini, ayah dan ibu begitu bahagia bukan karena ayah dan ibu memiliki buah hati, melainkan karena ayah dan ibu menerima amanah Allah untuk mendidik dan mendewasakan seorang penerus garis bakti–laki-laki untuk ibunya, perempuan untuk suaminya kelak.
saat kita tumbuh besar, ayah dan ibu begitu bangga bukan karena memiliki anak-anak yang hebat, melainkan karena ayah dan ibu menerima segala yang melekat pada kita. yang baik dari diri kita disebut-sebutkannya. yang kurang baik dari diri kita tidak sekadar ditutupinya, tetapi juga diperbaikinya.
ayah dan ibu telah meneladankan kepada kita tentang ikhlas menerima. seperti menerima bahwa segala hal dalam hidup adalah pilihan yang bukan memilih atau dipilih, melainkan yang dipilihkan oleh Allah: lahir kita, mati kita, rezeki kita, jodoh kita. seperti menerima bahwa inti hidup adalah perjuangan bukan pemenangan.
kata ibu, pada saatnya kita akan belajar bahwa perjuangan terbesar yang pasti kita temui adalah menerima, bukan memiliki atau melepaskan. perjuangan memiliki atau melepaskan hanya terjadi sesekali, sedangkan perjuangan menerima terjadi dalam setiap waktu.
hanya dalam hitungan hari, ayah dan ibu akan melepaskan saya. sangat nyata dalam benak saya pesan-pesan tentang pernikahan dari keduanya. bahwa ilmu dunia adalah meminta dan memiliki, sedangkan ilmu akhirat adalah memberi dan melepaskan. bahwa menikah akan banyak mengajarkan kita tentang ilmu akhirat (mungkin itu pula mengapa menikah adalah separuh agama, sebab banyak sekali ilmu akhirat yang diajarkannya), terutama melepaskan yang terberat: melepaskan anak-anak perempuan.
tentu saja saya akan merindukan cium ibu setiap membangunkan saya pagi-pagi, apalagi sholat di saf setelah ayah bersama keluarga. tak apalah, biar rindunya nanti dilebur ke dalam doa. sudah saatnya saya mengamalkan ilmu ikhlas menerima seperti yang selama ini ayah dan ibu teladankan.
insyaAllah, garis bakti saya akan berpindah kepada seseorang yang dipilihkan Allah. doa ayah untuk kami sungguh sederhana, “semoga kalian saling menerima.“
sebab sakinah–ketenteraman jiwa–datangnya karena saling menerima. mawaddah–hilangnya cela–datangnya karena saling menerima. rohmah–kasih sayang–datangnya karena saling menerima.
seperti ikhlasnya ayah dan ibu menerima untuk memiliki saya serta untuk melepaskan saya–seperti itulah saya ingin ikhlas menerima yang dipilihkan oleh Allah untuk saya. juga yang paling utama, ikhlas menerima diri sendiri yang akan bersamanya.
terima kasih, ibu. terima kasih, ayah.
mbak uti tidak akan bisa berhenti bersyukur, dipilihkan Allah menjadi anak ayah dan ibu.